Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
bab 1


__ADS_3

“healah, ini motor pakek mogok lagi.” Gumam seorang


laki-laki tampan berkulit putih usia 21 tahun. Ia menghela nafas gusar sembari


menurunkan standar motor nya yang tiba tiba mogok di jalan. Ia turun dari motor


nya dan membuka jok motor. Mengecek kembali apakah ia lupa mengisi bahan bakar


kendaraan nya.


“huh, bensin nya full lagi. Jelas gak tau ini apa


penyakitnya.” Gumam nya frustasi. Dia mencoba menghidupkan motor matic nya


dengan engkol. Tetap saja motor matic tersebut anteng tidak menunjukkan


tanda-tanda kehidupan.


“ya Allah ada-ada aja sih ini. Hiks. Mana udah tambah siang


lagi.” Gumamnya lagi. Lalu ia mengeluarkan benda pipih dari saku celananya.


“Assalamualaikum ris.” Sapanya.


“wa alaikum salam, ham. kamu dimana ? udah siang kok belum


dateng ?” terdengar suara laki-laki ramah di ujung telepon.


“motor ku mogok di jalan arah kantor. Ada yang bisa tolong


susulin nggak ?” Tanya ilham sambil sesekali mengusap peluh di wajah karena


teriknya matahari.


“walah ham, ham siapa yang mau nyusulin jam segini. Ini lho


udah jam 9. Setengah jam lagi kita kan ada rapat.” Jawab aris, laki laki yang


di telepon ilham.


“ya udah deh kalo gitu tolong izinin aku ya, aku telat, aku


musti ke bengkel dulu ini. Mana sekitar sini gak ada bengkel lagi. “ keluh


ilham membuang nafas kasar berkali kali.


“oke. Sorry banget ya, ham.” Jawab Aris


“iya gak apa-apa. Ya udah, Assalam mualaikum.” Ilham


mengakhiri teleponnya. Dia mencoba menghidupkan motor kembali. Beberapa kali


Nampak seperti hidup sebelum akhirnya mati lagi. Keringat nya kini sudah


membasahi kemeja putih nya.


“kenapa mas motornya ?” tiba tiba seorang cewek dengan


rambut di cat coklat turun dari motor matic juga. Ia turun dari motornya sambil


menghampiri ilham yang hendak mendorong motor.


Ilham melirik sekilas. “lah, sekalinya ada yang nanya malah


cewek. Kampret.” Ucap hati nya kesal.


“mogok mbak.” Jawab ilham singkat.


“boleh saya bantu ?” Tanya cewek itu lagi. Ilham langsung


menoleh memperhatikan cewek itu. Perawakannya langsing dengan kulit kuning


langsat khas jawa. Rambut nya sepunggung dengan highlight warna coklat terang.


Dengan kaos oblong hitam dan celana jeans biru pendek serta tas selempang


berwarna hitam. Sangat sederhana di tambah sandal jepit hitam polos menempel di


kakinya.


“motor ku mogok. Kamu bisa bantuin ?” Tanya ilham kemudian.


Ia merasa ragu dengan cewek di depannya.


“lo raguin gue ?” sarkas cewek itu sambil mengangkat dagu


nya.


“bentar deh.” Ilham mengerut kan keningnya sambil menunjuk


ke cewek di depannya. Yang di tunjuk malah senyum senyum.


“kamu Alisa kan ?! anak rohis di SMA harapan bakti dulu ?


yang suka baca buku itu kan ?!” seru ilham. Cewek itu tertawa.


“hahaha iya gue Alisa. Masih inget aja lo.” Jawab alisa. Ia


lalu hendak menepuk punggung ilham. Spontan ilham menghindar


“eeehhh bukan muhrim.” Sahut ilham sambil tersenyum kikuk.

__ADS_1


Alisa menggeleng sambil tersenyum “liat gue tanpa dosa juga


zina mata tau. Bisa nya sekarang lo bilang bukan muhrim.” Alisa terkekeh.


“ya udah sini motor lo biar gue cek dulu.” Alisa lalu


melewati ilham. Dia berjongkok di dekat motor ilham. Memperhatikan rangkaian


mesin di depannya. Lalu berdiri mencoba menghidupkan beberapa kali. Namun


gagal. Kemudian berjongkok lagi. Dia mencoba mengecek busi motor tersebut.


Mengotak atik sebentar lalu berdiri lagi.


“lo ada busi cadangan nggak ? sama kunci busi ?” Tanya alisa


Di Tanya begitu ilham langsung nyengir kuda “aku gak tau


kunci busi. Kalo busi sih tau Cuma gak ada cadangan juga.” Jawab nya


Alisa menarik napas dan tersenyum.  “tapi lo ada kunci kunci kan ? bawaan motor


deh paling nggak.” Tanya alisa lagi.


“ada sih di bagasi jok motor.” Jawab ilham.


“ya udah keluarin deh. Gue ambil busi cadangan dulu.


kayaknya masih ada di bagasi jok motor gue.” Alisa lalu melangkah kea rah


motornya yang tidak jauh dari motor ilham. Dia mengambil busi yang ada di


bagasi jok motor.


Alisa berjongkok lagi mencari kunci busi yang akan di


gunakannya. “ada yang ketinggalan di dalem gak nih ?” Tanya alisa.


“gak ada sih. Tadi udah aku keluarin semua.” Jawab ilham


lagi. “besok aku belajar bengkel deh. Malu banget sumpah kok lebih ngerti cewek


daripada aku.” Batin ilham


“ck ini gak ada kunci busi. Kunci busi gue juga ketinggalan


di rumah temen.” Gumam alisa.


“ya udah kalo gak bisa juga gak pa pa kok.” Ilham tersenyum


“udah gampang. Lo mau kemana ?” Tanya alisa sambil


mengeluarkan ponsel nya.


Alisa masih mengetik di layar ponsel. Tak lama kemudian nada


dering pesan masuk berbunyi di ponsel nya.


“cek cek pesan di terima. Tunggu di tempat. Gue otw sama


aan.” Terdengar pesan suara di ponsel alisa


“ya udah tunggu bentar. Nanti gue anter ke tempat kerja lo,


motor lo biar di bawa ke rumah gue. Ntar kalo udah gue benerin gue anter ke


tempat kerja lo.” Kata alisa lagi.


“yang bawa siapa ?” ilham bingung


“ada temen gue. Udah gue minta tolong ke sini tadi. Tenang


aja gue tanggung jawab. Nanti gue sharelok alamat gue. Simpen aja no lo di


sini.” Alisa menjelaskan lalu menyodorkan ponselnya untuk menyimpan kontak


ilham.


Mereka menunggu teman alisa di bawah pohon rindang di tepi


jalan yang ada di situ. Mereka sama sama terdiam. Alisa sibuk dengan gadgetnya


dan ilham tidak tau harus mulai bicara darimana. Suara kendaraan yang lewat


menjadi back sound mereka untuk saat ini.


“alisa.” Panggil ilham memecah keheningan. alisa menoleh


“ya.” Jawabnya


“hmmmm…….” Gak jadi deh. Ilham tersenyum canggung. Alisa


kembali bermain ponsel sambil menunggu temannya


“kamu….”


“woy ! mana yang mau di bawa ?” tiba  tiba ardi dan aan teman alisa yang hendak


membantu sudah ada di dekat mereka.


“tuh matic biru. Punya temen gue nih, ilham. bawa aja ke

__ADS_1


rumah gue, nanti biar gue garap di rumah. Gue mau nganter dia gawe dulu.” jawab


alisa.


Ardi mengulurkan tangan ke ilham “Ardi bang. Yang punya


wilayah.” Ardi memperkenalkan diri dengan gaya somplak nya.


“ilham” jawab ilham menjabat tangan ardi sambil tertawa.


“aan.” Aan pun menjabat tangan ilham.


Selesai urusan perkenalan, mereka pun berpisah. Alisa


mengantar ilham ke tempat kerja nya ardi dan aan membawa motor ilham ke rumah


alisa.


Xxxxxxx


“lo kerja di mana ?” Tanya alisa agak keras


“di bank Syariah deket batas kota.” Jawab ilham


“brenti deh.” Kata alisa lagi membuat ilham terkejut.


“brenti ? maksudnya ??” pikiran ilham berkecamuk. “baru juga jalan.” Batin nya.


Ilham pun menghentikan motor di pinggir jalan.


“tukeran.” Kata alisa memberi isyarat dengan tangannya untuk


bertukar posisi


“hah ?” ilham melongo


“ya udah tuker aja. Kamu kerja di sana tu jauh masih


setengah jam lagi perjalanan. Ini udah jam 10 lewat hamper setengah 11. Kamu


mau sampe sana sore keburu pulang orang orang.” Jelas alisa. Ilham pun menurut


kini posisi nya ilham lah yang di belakang sementara alisa membawa motor di


depan.


“inget ya ham. Kita bukan muhrim.” Kata alisa sambil


mengikat rambut nya.


“ALISAAAAAAAAAA !!!!!! AKU BELUM MAU MATI !” teriak ilham


panic. Tangannya sudah tidak lagi memegang bagian belakang motor tapi memeluk


alisa sangat erat sampai alisa beberapa kali harus memukul tangan ilham agar


sedikit lebih kendor.


“kekencengan ham, gak bisa napas gue. Kalo gini gue yang


mati bukan elo !” teriak alisa lagi karena suaranya harus bersaing dengan angin


dan suara motor yang knalpot nya sudah di modifikasi.


“astaghfirullah aladzim. Astaghfirullah aladzim.” Ilham


mengulang istighfar nya terus menerus sampai alisa mengerem motornya tepat di


halaman parker gedung bertingkat yang dijadikan tempat kerja ilham.


“hoy, udah sampe nih.” Alisa menepuk nepuk pelan tangan


ilham yang masih menempel di pinggang langsing alisa. Bahkan sekarang tangan


tersebut sedang gemetar. Ilham turun dengan kaki yang lemas dan tangan yang


tremor. Alisa membantu nya berdiri setelah menurunkan standar motor.


“eh eh. Nih lihat.” Alisa menyodorkan ponsel ke arah ilham.


waktu menunjukkan pukul 10.45. waktu yang seharusnya di tempuh 30 menit


berhasil di pangkas jadi 15 menit.


Ilham diam. Wajah nya masih tampak pucat. “ham ham baru 80km


udah pucet.” Canda alisa . ia tertawa menertawai cowok yang kini berjongkok di


depannya sambil menenangkan detak jantung nya. Wajahnya sungguh berantakan dan


alisa memandang nya seolah itu adalah pandangan yang lucu bgt. Perlahan ilham


kembali tenang. Ia bangkit berdiri, sedikit membenahi penampilan nya yang


kacau. Lalu menatap alisa dingin


“makasih.” Ujarnya tetap dingin lalu melangkah pergi. Alisa


yang baru membuka mulut hendak menjawab segera terdiam. Ia bingung. “ilham marah


?” Tanya nya dalam hati. Berpikir sebentar memicingkan mata lalu mengendik kan

__ADS_1


bahu tidak peduli. Kembali memakai helm nya dan langsung menuju pulang kerumah.


__ADS_2