Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
bab 17


__ADS_3

Pagi ini cuaca begitu cerah di garasi yang berantakan, alat


modifikasi masih tercecer di beberapa bagian. Beberapa anak muda terlihat


sedang sarapan bubur ayam yang di beli di depan rumah. Beberapa yang lain masih


menunggu di siapkan bubur ayam nya oleh pedagang yang sedang mangkal di depan


rumah sam, sapaan akrab Samuel.


“bubur, sa.” Samuel menyodorkan semangkuk bubur pada alisa


yang duduk terpisah dari 4 temannya yang sedang melancarkan aksi mogok ramah


pada nya.


“makasih.” Ucap alisa tersenyum kecil, ia mengambil mangkok


dari tangan sam dengan hati hati.


“kok, lo tau nama gue ?” Tanya alisa saat samuel makan bubur


di sebelah nya.


“ridho yang kasih tau, kemarenan waktu dia chat, dia bilang


siapa –siapa aja yang ikut. Alisa kan gak mungkin nama cowok ya ?” sam terkekeh


sambil meniup bubur ayam panas nya. Alisa tersenyum mendengar nya. Sedikit


hiburan.


“gue terlambat banget ya ?” alisa tersenyum kecut.


“kemaren masih latihan aja, buat tau medan nya seperti apa.


Hari ini baru lomba yang sebenernya. Juga, kemaren biar tau aja siapa yang jadi


lawan di arena.” Jelas sam. Raut wajah nya tiba-terlihat sedikit berubah.


“sa, kalo nanti lo nggak menang, nggak usah di jadiin beban


ya. Gue yakin, mereka pasti ngerti.” Ucap Samuel serius. Alisa mengernyitkan


dahi.


“kenapa ?” Tanya alisa heran.


“nggak papa. Lo fokus aja di balapan, seandainya kondisi nya


tidak memungkinkan untuk menang, tolong lo jangan memaksakan.” Jawab sam.


“tenang aja kali, sam. Gue udah biasa balapan kok. Walaupun


gue cewek, gue biasa menang. Jangan ngremehin gue gitu lah.” alisa lalu


berdiri, ia meminta mangkok sam yang juga sudah tandas, sama seperti milik nya


untuk di kembalikan ke tukang bubur ayam.


“nih, udah gue bayarin sekalian tadi.” Sam memberikan


mangkok nya.


“bukan nya gitu sa, tapi kan, lo nggak latihan kemaren.


Lo..”


“gue pasti menang, sam. Gue harus menang untuk nebus


kesalahan gue kemaren.” Potong alisa cepat. Lalu melangkah meninggalkan sam


yang menggeleng pelan ke arah ali cs. Di tempat yang tidak jauh dari sam, ali


dan ke tiga teman alisa, baru selesai sarapan. Wajah mereka terlihat sedang


berpikir. Namun tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Alisa berjalan ke


arah motor yang nanti akan di gunakannya bertanding. Sebelum turun balapan, dia


bisa membuat waktu khusus untuk berdua dengan kendaraan yang akan di pakai nya.


Untuk meredam ketegangan dalam diri nya. Melihat itu, ali beranjak, ia memendam


semua rasa kesal nya dan mendekati alisa. Ia menepuk pundak alisa pelan.


“gue nggak mau tau lo kemaren kemana dan kenapa.” Ia menjeda


kalimat nya untuk menarik napas berat dan menghembusnya. “tapi, kalo nanti lo


nggak menang. Kita udah cukup seneng sampe ke sini. Gue gak mau lo


kenapa-napa.” Ujar ali kemudian.


“emang kenapa sih ? tadi sam ngomong gitu. Sekarang, lo juga


ngomong gitu. Emang ada apa ?” Tanya alisa gusar. Ia bingung. Ia sudah terbiasa


balapan, luka balapan bagi nya hanya hal kecil, biasa menurut nya.

__ADS_1


“lo nggak ikut latihan kemaren, di sana ada romeo, dia bakal


ikut tanding hari ini.” Ridho menjawab rasa penasaran alisa, ia mengalahkan ego


nya untuk marah dengan kepergian alisa kemaren.


Alisa tersenyum miring. “romeo ? sang juara jalanan, yang


pernah gue kalahin tahun lalu di balap liar itu ?” Tanya alisa


“dia di tim cobra. Romeo mungkin bisa lo kalahin lagi. Tapi


lo nggak tau gimana nekat nya orang- orang 35;di garasi cobra. Gue masih mau


pulang sama lo.” Kata ali lagi. Ia menahan sesak di dadanya. Tadi nya mereka


berniat merahasiakan hal ini dari alisa, tidak mau alisa berbuat nekat atau


kehilangan konsentrasi saat di lintasan. Tapi, menurut ridho, alisa berhak tau


siapa lawan nya. Tim cobra terkenal dengan cara curang, entah ada orang dalam


atau gimana, tapi setiap di protes tim lain, mereka selalu bisa mengelak,


karena tidak ada nya bukti yang mengarah pada mereka.


“kita tanding jam berapa ?”


Tanya alisa


“jam 4 sore.” Jawab ali.


“gue akan pulang bawa piala dan duit nya. Kasih gue waktu


sama si tampan gue. Oke ?! gue pastiin kita nggak sia-sia sampe sini.” Tegas


alisa dengan tenang. Ali keluar dengan ridho, teman teman sam yang semalam


menginap sudah pulang untuk menjalankan aktifitas masing-masing. Tinggal sam


dan teman-teman dari tempat tinggal alisa yang di situ. Mereka mengobrol,


mengungkap kekhawatiran masing-masing tentang sikap alisa. Terdengar


suara-suara berisik di garasi, alisa sedang memberi modifikasi tambahan.


Sekitar jam 2 siang, setelah makan siang, dia menunjukkan motor balap yang


sudah ia beri modifikasi tambahan. Ada tombol merah kecil rahasia di sekitar


stang gas motor nya, jika tombol itu dipencet, dari sisi step motor alisa akan


yang di gunakan alisa di sisi nya juga ada duri-duri halus hampir mirip motif


sepatu biasa, tapi tergores sedikit saja sudah pasti terluka. Duri duri halus


itu di tempelkan dengan cara di rekat jadi mudah di lepas setelah di gunakan.


“selamat bermain curang di jalan tim cobra.” Desis nya.


“lo gila, kita bisa di dis kalo pake cara gini !” seru aan,


dia terkejut alisa berbuat nekat.


“percuma kalo kita juga menang dengan cara curang. Mereka


pinter ngilangin jejak, sedangkan lo, malah terang-terangan pasang senjata di


step kayak gitu.” Ardi ikut berkomentar.


“udah nggak ikut latihan. Sekarang lo mau curang juga.


Mending kita kalah sa, tapi jujur. Daripada menang tapi curang.” Ujar ardi lagi


sinis. Alisa diam.


“kenapa ? lo sekarang udah kehilangan rasa sportif ya ?


takut kalah, takut pamor lo turun ?” sinis aan.


“makanya jangan sibuk sendiri sa, kalo lo bilang sanggup ayo


kita berjuang bareng, kalo emang lo, nggak niat-niat banget ikut, ya udah jujur


aja.” Lanjut aan lagi.


“jangan bilang iya, tapi terus mau curang.” Ardi


meninggalkan alisa yang menahan sesak di hati nya. Baru kali ini ia bermasalah


saat balapan.


“ini balapan terakhir kita, sa. Kita sepakat untuk itu. Tapi


kenapa jadi gini.” Aan juga beranjak mengikuti ardi. Mereka kecewa dengan apa


yang sudah alisa lakukan. Dengan menahan sejuta air mata yang menggenang alisa


langsung membawa motor nya melesat ke arah tempat pertandingan di adakan. Ali

__ADS_1


dan ridho gagal mencegah alisa pergi untuk kedua kali nya. Sam hanya terdiam di


tempat yang tidak jauh dari mereka berdebat. Dia sudah lebih dulu berhenti dari


berbagai jenis balap motor dan focus mengurus usaha pabrik yang di tinggalkan


orang tua nya. Tapi kali ini ia akan ikut menjadi tim mekanik alisa.


……………


Di tempat yang sudah di siapkan panitia, semua tim sedang


bersiap siap, mengecek kendaraan dan mengatur strategi kecepatan untuk menempuh


jarak 500 meter berbentuk oval. Begitu pun dengan tim alisa.


“sam, gue titip ponsel gue ya. Jangan lo buka-buka, banyak


20 plus-plus nya tuh.” Kata alisa ketus pada sam sambil menyerahkan ponsel


pintar nya.


“buset, masih sempet aja lo nyimpen begituan.” Ujar sama


bergidik. Alisa hanya tersenyum enteng lalu memakai helm dan perlengkapan


keamanan dirinya.


“gue  serius, sa.


Jangan paksain. Lebih baik kita kalah tapi nggak curang dan gak terluka


daripada menang dengan rasa malu dan sakit.” Pesan ali. Alisa tidak lagi


memperdulikan ali dan yang lainnya.


Di tengah laju kendaraan yang bertanding, alisa dan romeo


hanya terkikis sedikit jarak, sedikit lebih unggul alisa memimpin di depan. Saat


kendaraan tengah melaju kencang dan alisa focus tiba-tiba romeo sudah berada


tepat di sebelah alisa, dengan gerakan secepat kilat ia menggores lengan dan


kaki alisa dengan senjata tajam di tangannya. Reflek alisa yang merasakan perih


tidak bisa berkonsentrasi, ia terjatuh dan terseret kendaraan nya sendiri.


Gesekan antar besi motor dan aspal menimbulkan percikan, alisa masih


mencengkeram stang motor nya. Ia ikut berputar di tengah jalan, saat kondisi


masih kalut, dari arah belakang satu motor yang memang juga melaju kencang


dating, tidak siap dengan keadaan pembalap itu membanting stir ke kanan, karena


posisi alisa di kiri, namun sial, sebelah kaki yang masih menempel di step nya


menendang kepala alisa tanpa sengaja. Merasakan sakit yang teramat akhir nya


alisa terlepas dari motor nya. Pengendara sial itu terjatuh dan menjatuhkan


beberapa pengendara di belakang nya. Alisa terpental, dengan menahan segala


sakit. Ia berlari terpincang pincang ke motor nya, darah mengalir turun ke


leher, belum jelas bagian kepala mana yang terluka, beruntung helm yang di


pakai nya masih menutup rapat meski kaca nya retak. Darah juga mengalir dari


tangan dan kaki nya yang tersayat. Cepat ia meraih motor nya, menghidupkan lagi


lalu mengejar romeo yang berjarak cukup jauh, garis finish sudah terlihat


sedikit lagi, alisa masih terus berusaha mengikis jarak. ia nekat menarik gas


sedalam yang ia bisa, motor modifikasi ulang nya berlari di atas rata rata,


asap menyembur kuat dari knalpot nya seperti motor akan meledak jika di


paksakan. Dengan mata fokus, sekarang ia dan romeo sudah sejajar. Ia mengangkat


sedikit ban depan motor, dan langsung membanting nya ke depan dengan keras, ia


menggeblas ke garis finish dengan selisih waktu sekian detik dengan romeo.


Alisa menang. Ia langsung terjatuh dari motor nya. Motor nya langsung meleset


terlepas dari pengemudi nya. Alisa terjatuh tak bergerak dengan darah yang


masih mengalir merembes ke baju pelindung nya.


“ALISA !!!!” ali berteriak dengan air mata yang menggenang.


tidak mampu membayangkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.


Maafkan untuk semua kesalahan dan typo. Kesalahan karena


minim pengetahuan author. Terimakasih untuk semua yang sudah mendukung karya

__ADS_1


tulis ini.


__ADS_2