
Pagi ini cuaca begitu cerah di garasi yang berantakan, alat
modifikasi masih tercecer di beberapa bagian. Beberapa anak muda terlihat
sedang sarapan bubur ayam yang di beli di depan rumah. Beberapa yang lain masih
menunggu di siapkan bubur ayam nya oleh pedagang yang sedang mangkal di depan
rumah sam, sapaan akrab Samuel.
“bubur, sa.” Samuel menyodorkan semangkuk bubur pada alisa
yang duduk terpisah dari 4 temannya yang sedang melancarkan aksi mogok ramah
pada nya.
“makasih.” Ucap alisa tersenyum kecil, ia mengambil mangkok
dari tangan sam dengan hati hati.
“kok, lo tau nama gue ?” Tanya alisa saat samuel makan bubur
di sebelah nya.
“ridho yang kasih tau, kemarenan waktu dia chat, dia bilang
siapa –siapa aja yang ikut. Alisa kan gak mungkin nama cowok ya ?” sam terkekeh
sambil meniup bubur ayam panas nya. Alisa tersenyum mendengar nya. Sedikit
hiburan.
“gue terlambat banget ya ?” alisa tersenyum kecut.
“kemaren masih latihan aja, buat tau medan nya seperti apa.
Hari ini baru lomba yang sebenernya. Juga, kemaren biar tau aja siapa yang jadi
lawan di arena.” Jelas sam. Raut wajah nya tiba-terlihat sedikit berubah.
“sa, kalo nanti lo nggak menang, nggak usah di jadiin beban
ya. Gue yakin, mereka pasti ngerti.” Ucap Samuel serius. Alisa mengernyitkan
dahi.
“kenapa ?” Tanya alisa heran.
“nggak papa. Lo fokus aja di balapan, seandainya kondisi nya
tidak memungkinkan untuk menang, tolong lo jangan memaksakan.” Jawab sam.
“tenang aja kali, sam. Gue udah biasa balapan kok. Walaupun
gue cewek, gue biasa menang. Jangan ngremehin gue gitu lah.” alisa lalu
berdiri, ia meminta mangkok sam yang juga sudah tandas, sama seperti milik nya
untuk di kembalikan ke tukang bubur ayam.
“nih, udah gue bayarin sekalian tadi.” Sam memberikan
mangkok nya.
“bukan nya gitu sa, tapi kan, lo nggak latihan kemaren.
Lo..”
“gue pasti menang, sam. Gue harus menang untuk nebus
kesalahan gue kemaren.” Potong alisa cepat. Lalu melangkah meninggalkan sam
yang menggeleng pelan ke arah ali cs. Di tempat yang tidak jauh dari sam, ali
dan ke tiga teman alisa, baru selesai sarapan. Wajah mereka terlihat sedang
berpikir. Namun tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Alisa berjalan ke
arah motor yang nanti akan di gunakannya bertanding. Sebelum turun balapan, dia
bisa membuat waktu khusus untuk berdua dengan kendaraan yang akan di pakai nya.
Untuk meredam ketegangan dalam diri nya. Melihat itu, ali beranjak, ia memendam
semua rasa kesal nya dan mendekati alisa. Ia menepuk pundak alisa pelan.
“gue nggak mau tau lo kemaren kemana dan kenapa.” Ia menjeda
kalimat nya untuk menarik napas berat dan menghembusnya. “tapi, kalo nanti lo
nggak menang. Kita udah cukup seneng sampe ke sini. Gue gak mau lo
kenapa-napa.” Ujar ali kemudian.
“emang kenapa sih ? tadi sam ngomong gitu. Sekarang, lo juga
ngomong gitu. Emang ada apa ?” Tanya alisa gusar. Ia bingung. Ia sudah terbiasa
balapan, luka balapan bagi nya hanya hal kecil, biasa menurut nya.
__ADS_1
“lo nggak ikut latihan kemaren, di sana ada romeo, dia bakal
ikut tanding hari ini.” Ridho menjawab rasa penasaran alisa, ia mengalahkan ego
nya untuk marah dengan kepergian alisa kemaren.
Alisa tersenyum miring. “romeo ? sang juara jalanan, yang
pernah gue kalahin tahun lalu di balap liar itu ?” Tanya alisa
“dia di tim cobra. Romeo mungkin bisa lo kalahin lagi. Tapi
lo nggak tau gimana nekat nya orang- orang 35;di garasi cobra. Gue masih mau
pulang sama lo.” Kata ali lagi. Ia menahan sesak di dadanya. Tadi nya mereka
berniat merahasiakan hal ini dari alisa, tidak mau alisa berbuat nekat atau
kehilangan konsentrasi saat di lintasan. Tapi, menurut ridho, alisa berhak tau
siapa lawan nya. Tim cobra terkenal dengan cara curang, entah ada orang dalam
atau gimana, tapi setiap di protes tim lain, mereka selalu bisa mengelak,
karena tidak ada nya bukti yang mengarah pada mereka.
“kita tanding jam berapa ?”
Tanya alisa
“jam 4 sore.” Jawab ali.
“gue akan pulang bawa piala dan duit nya. Kasih gue waktu
sama si tampan gue. Oke ?! gue pastiin kita nggak sia-sia sampe sini.” Tegas
alisa dengan tenang. Ali keluar dengan ridho, teman teman sam yang semalam
menginap sudah pulang untuk menjalankan aktifitas masing-masing. Tinggal sam
dan teman-teman dari tempat tinggal alisa yang di situ. Mereka mengobrol,
mengungkap kekhawatiran masing-masing tentang sikap alisa. Terdengar
suara-suara berisik di garasi, alisa sedang memberi modifikasi tambahan.
Sekitar jam 2 siang, setelah makan siang, dia menunjukkan motor balap yang
sudah ia beri modifikasi tambahan. Ada tombol merah kecil rahasia di sekitar
stang gas motor nya, jika tombol itu dipencet, dari sisi step motor alisa akan
yang di gunakan alisa di sisi nya juga ada duri-duri halus hampir mirip motif
sepatu biasa, tapi tergores sedikit saja sudah pasti terluka. Duri duri halus
itu di tempelkan dengan cara di rekat jadi mudah di lepas setelah di gunakan.
“selamat bermain curang di jalan tim cobra.” Desis nya.
“lo gila, kita bisa di dis kalo pake cara gini !” seru aan,
dia terkejut alisa berbuat nekat.
“percuma kalo kita juga menang dengan cara curang. Mereka
pinter ngilangin jejak, sedangkan lo, malah terang-terangan pasang senjata di
step kayak gitu.” Ardi ikut berkomentar.
“udah nggak ikut latihan. Sekarang lo mau curang juga.
Mending kita kalah sa, tapi jujur. Daripada menang tapi curang.” Ujar ardi lagi
sinis. Alisa diam.
“kenapa ? lo sekarang udah kehilangan rasa sportif ya ?
takut kalah, takut pamor lo turun ?” sinis aan.
“makanya jangan sibuk sendiri sa, kalo lo bilang sanggup ayo
kita berjuang bareng, kalo emang lo, nggak niat-niat banget ikut, ya udah jujur
aja.” Lanjut aan lagi.
“jangan bilang iya, tapi terus mau curang.” Ardi
meninggalkan alisa yang menahan sesak di hati nya. Baru kali ini ia bermasalah
saat balapan.
“ini balapan terakhir kita, sa. Kita sepakat untuk itu. Tapi
kenapa jadi gini.” Aan juga beranjak mengikuti ardi. Mereka kecewa dengan apa
yang sudah alisa lakukan. Dengan menahan sejuta air mata yang menggenang alisa
langsung membawa motor nya melesat ke arah tempat pertandingan di adakan. Ali
__ADS_1
dan ridho gagal mencegah alisa pergi untuk kedua kali nya. Sam hanya terdiam di
tempat yang tidak jauh dari mereka berdebat. Dia sudah lebih dulu berhenti dari
berbagai jenis balap motor dan focus mengurus usaha pabrik yang di tinggalkan
orang tua nya. Tapi kali ini ia akan ikut menjadi tim mekanik alisa.
……………
Di tempat yang sudah di siapkan panitia, semua tim sedang
bersiap siap, mengecek kendaraan dan mengatur strategi kecepatan untuk menempuh
jarak 500 meter berbentuk oval. Begitu pun dengan tim alisa.
“sam, gue titip ponsel gue ya. Jangan lo buka-buka, banyak
20 plus-plus nya tuh.” Kata alisa ketus pada sam sambil menyerahkan ponsel
pintar nya.
“buset, masih sempet aja lo nyimpen begituan.” Ujar sama
bergidik. Alisa hanya tersenyum enteng lalu memakai helm dan perlengkapan
keamanan dirinya.
“gue serius, sa.
Jangan paksain. Lebih baik kita kalah tapi nggak curang dan gak terluka
daripada menang dengan rasa malu dan sakit.” Pesan ali. Alisa tidak lagi
memperdulikan ali dan yang lainnya.
Di tengah laju kendaraan yang bertanding, alisa dan romeo
hanya terkikis sedikit jarak, sedikit lebih unggul alisa memimpin di depan. Saat
kendaraan tengah melaju kencang dan alisa focus tiba-tiba romeo sudah berada
tepat di sebelah alisa, dengan gerakan secepat kilat ia menggores lengan dan
kaki alisa dengan senjata tajam di tangannya. Reflek alisa yang merasakan perih
tidak bisa berkonsentrasi, ia terjatuh dan terseret kendaraan nya sendiri.
Gesekan antar besi motor dan aspal menimbulkan percikan, alisa masih
mencengkeram stang motor nya. Ia ikut berputar di tengah jalan, saat kondisi
masih kalut, dari arah belakang satu motor yang memang juga melaju kencang
dating, tidak siap dengan keadaan pembalap itu membanting stir ke kanan, karena
posisi alisa di kiri, namun sial, sebelah kaki yang masih menempel di step nya
menendang kepala alisa tanpa sengaja. Merasakan sakit yang teramat akhir nya
alisa terlepas dari motor nya. Pengendara sial itu terjatuh dan menjatuhkan
beberapa pengendara di belakang nya. Alisa terpental, dengan menahan segala
sakit. Ia berlari terpincang pincang ke motor nya, darah mengalir turun ke
leher, belum jelas bagian kepala mana yang terluka, beruntung helm yang di
pakai nya masih menutup rapat meski kaca nya retak. Darah juga mengalir dari
tangan dan kaki nya yang tersayat. Cepat ia meraih motor nya, menghidupkan lagi
lalu mengejar romeo yang berjarak cukup jauh, garis finish sudah terlihat
sedikit lagi, alisa masih terus berusaha mengikis jarak. ia nekat menarik gas
sedalam yang ia bisa, motor modifikasi ulang nya berlari di atas rata rata,
asap menyembur kuat dari knalpot nya seperti motor akan meledak jika di
paksakan. Dengan mata fokus, sekarang ia dan romeo sudah sejajar. Ia mengangkat
sedikit ban depan motor, dan langsung membanting nya ke depan dengan keras, ia
menggeblas ke garis finish dengan selisih waktu sekian detik dengan romeo.
Alisa menang. Ia langsung terjatuh dari motor nya. Motor nya langsung meleset
terlepas dari pengemudi nya. Alisa terjatuh tak bergerak dengan darah yang
masih mengalir merembes ke baju pelindung nya.
“ALISA !!!!” ali berteriak dengan air mata yang menggenang.
tidak mampu membayangkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Maafkan untuk semua kesalahan dan typo. Kesalahan karena
minim pengetahuan author. Terimakasih untuk semua yang sudah mendukung karya
__ADS_1
tulis ini.