Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
28


__ADS_3

Di garasi sam dan ali masih terlibat obrolan ringan tentang


pekerjaan dan lain nya. Sedikit tentang kehidupan pribadi sam yang menyakitkan.


Sementara itu, ketiga pemuda yang habis di kerjai mereka berdua, Nampak


terengah-engah berlari ke arah mereka.


“gila ya, hosh, hosh… !” ucap aan dengan nafas yang memburu.


kedua temannya juga sampai di garasi dengan keadaan yang sama.


“nggak kira-kira. Ya Allah, liat lucinta luna masih enak ya,


artis. Lah ini ? astaghfirullah.” Ucap ardi yang nafas nya sudah berangsur


tenang.


PLAK ! 5 jari yang menempel di bahu ardi mengejutkan dirinya


yang memang masih merasa ngeri melihat cewek jadi-jadian yang hamper mirip mimi


peri itu.


“Allah, pait pait pait pait.” Ucap ardi sambil memejamkan


mata.


“heh, bokap gue tuh.” Ujar ali sambil terkekeh.


“emh, Ya Allah, om. Ngagetin aja.” Ujar ardi dengan keringat


yang mulai membasah di kening nya.


“gila emang kalian itu, parah.” Ridho ikut menggerutu. Ia


menyelipkan sebatang rokok mild ke bibir nya yang merah alami itu. Wah ridho


memang sedikit lebih tampan dari kedua temannya. Dengan otot kekar yang tampak


meliuk di lengan nya. Kulit nya tidak putih,namun  lebih ke kuning langsat. manis dan tampan


adalah dua kata yang pantas di sematkan untuk nya.


“makanya sedari awal tetangga kita datang, ayah Cuma ngurung


diri di kamar. Bukan tidak menghargai, tapi tau sendiri jeng amira sama teh


anis itu. Kalo soal gibah sih, ayah nggak seberapa, tapi, lirikannya itu loh.


Bikin salah paham.” Ayah ali menarik kursi plastic yang ada di garasi itu. Ia


duduk dengan santai nya.


“bikin kopi, li.” Perintah nya kemudian setelah menyandarkan


bahu nya di sandaran kursi.


“oke, ayah.” Ucap ali yang langsung menuruti perintah ayah


nya. Jangan Tanya ali masuk rumah lewat mana, tentu saja lewat garasi mobil,


dan langsung menuju dapur lewat pintu belakang. Dan kembali dengan beberapa


gelas kopi dengan jalan yang sama.


“kok, om tau alisa kecelakaan di kota S kemaren ?” Tanya


ridho penasaran. Ia penasaran sejak awal, bagaiman orang tua nya alisa bisa


mengetahui kejadian yang terjadi jauh dari lokasi rumah.


“emang kalian kira acara kalian itu acara komplek. Acara


besar seperti itu pastilah masuk social media, banyak liputannya. Om tau dari

__ADS_1


youtube. Lagian, kan kamu biasanya yang suka merekam kegiatan latihan balap


atau balapan alisa masuk deh abis itu di aplikasi hitam dengan kata-kata yang


menggalau itu.”


“wow update juga ya om ini.” Ujar sam heran.


“dari siapa yah ?” Tanya ali. Ayah ali mengangkat sebelah


alis nya.


“apa nya ?” Tanya ayah nya balik.


“ayah tau semua itu ?? Setau ali, ayah nggak main sosmed deh


selain facebook. Kalo youtube kan biasanya urusan kerjaan tuh yang di up ke


youtube. Udah kayak apa gitu. Seleb youtube.” Canda ali. Ia menjelaskan


pertanyaan nya. Memang selama ini ayah nya tidak begitu bermain gadget selain


urusan kerja, chat grup misal nya, saling bertukar pendapat dan informasi. Ayah


nya menyeruput kopi buatan ali yang di letakkan di atas etalase di belakang


nya.


“menurut kamu dari siapa ?” Tanya ayah nya lagi.


“madam sri ya om ?” gurau sam membuat mereka tertawa dan


bergidik geli.


“ambil aja tuh, madam sri buat kamu. Itung-itung ngurus yang


langka.” Jawab ayah ali.


“haha, untung nya nggak seiman om.” Sam terkekeh.


mendengar pun ikut terkekeh.


“dari temen-temen rumpi nya mama mu tuh, dateng nggak di


undang pulang bawa cemilan.” Ayah ali menjawab rasa penasarannya dan yang lain.


“salah dong, om. Dateng bawa gossip, pulang bawa gossip


baru.” Ralat aan.


“begitu syulit jadi tukang gibah, apalagi gibah enaak.” Ardi


berkata dengan nada lagu yang viral di aplikasi hitam.


“gibah enak, gibah dosa, bego. Kebanyakan ngitungin micin


nih. Orang mah ya, bego kebanyakan makan micin, kalo dia kebanyakan ngitung


micin. Udah lebih ini.” Sahut aan sambil menyeruput kopi yang mulai hangat.


“micin di itungin, kambing di itung, ketauan ada duit nya.”


Seloroh ridho sambil terkekeh.


“ya kan ngitung nya sama aan, besti gue. Iya nggak ?? kan


kita ngitung micin bareng.” Ardi merangkul pundak aan dengan senyum tanpa dosa.


“dih, ogah amat. Eh, cari duit baru ngajak-ngajak, bego kok


ngajakin orang. Lu aja sama keluarga lu yang metal sono.” Ejek aan melepas


rangkulan ardi. Suara tawa mereka di garasi terdengar sampai ke halaman depan.


Dimana sebuah mobil terparkir, terlihat baru tiba dan berisi beberapa manusia.

__ADS_1


“assalamualaikum !!” seru suara seorang laki-laki dewasa


dengan wibawa yang kentara.


“waalaikum salam.” Jawab ayah ali. Ia lalu beranjak menemui


tamu nya yang di rasa asing.


“maaf, cari siapa ya, pak ?” Tanya ayah ali dengan sopan.


“perkenalkan, saya hendra dan ini istri saya lidya, kami


orang tua nya ilham pak. Kami dengar alisa sedang sakit, makanya kami kesini,


hendak menjenguk alisa.” Pak hendra berkata terus terang tentang maksud


tujuannya datang. Setelah beramah tamah mereka pun masuk ke dalam rumah,


meninggalkan ali dan teman-temannya yang kembali bergosip tentang aisah.gadis


cantik adik nya ilham yang juga turut ikut menjenguk alisa.


“waduh, kalo gini sih berat ya, dho. Lo saingan sama si bule


jamur ini aja udah berat apalagi keluarga sultan spek ustad gitu ya. Riska aja


udah, ntar kita bagi tiga.” Ujar ardi yang di sambut langsung oleh jitakan


ridho tepat di dahi nya, sampai ia meringis.


“pikiran mu di, mangku purel ae.” Celetuk aan kesal. Namun


kesal nya membuat mereka yang mendengar tertawa ngakak.


“gak berat lah, kan gue sama alisa gak seiman.” Jawab sam.


“daritadi omongan lo iman aja masalah nya. Syahadat sini


sama gue. Biar seiman lo sama madam srintil itu.” Canda aan menanggapi omongan


sam.


Saat sedang asik mengobrol terlihat aisah berjalan setengah


berlari menuju mobil yang parker di depan garasi tempat mereka ngobrol.


Pandangan sam tanpa sadar terus tertuju pada sosok aisah yang cantik meski


dengan make up tipis sederhana. Selama berjalan di depan mereka aisah terus


menundukkan pandangannya.


“ukhti.. prikitiw.” Ujar aan lirih, saat aisah sudah masuk


kembali kerumah alisa. Rupanya dia mengambil ponsel nya yang tertinggal di


mobil.


“ukhti, ukhti. Mana mau ukhti kenalan sama titisan dajjal


kayak elo.” Ejek ridho. Yang di ejek justru malah menyugar rambut dan membuat


pose setampan mungkin, membuat yang lain jengah.


“sakit gigi lo, bang ali. Dari tadi diem aja.” Ujar ridho


saat melihat ali focus dengan ponsel nya.


“betina mana lagi sekarang ?” Tanya ridho enteng mengira ali


sedang beradu kata-kata dengan seorang wanita. Ya, benar saja, hati ali yang


dulu pernah terluka karena di tinggal kan, kini mulai melihat sebuah dermaga


baru yang mungkin bisa di jadikan tempat bersandar.

__ADS_1


__ADS_2