
Di garasi sam dan ali masih terlibat obrolan ringan tentang
pekerjaan dan lain nya. Sedikit tentang kehidupan pribadi sam yang menyakitkan.
Sementara itu, ketiga pemuda yang habis di kerjai mereka berdua, Nampak
terengah-engah berlari ke arah mereka.
“gila ya, hosh, hosh… !” ucap aan dengan nafas yang memburu.
kedua temannya juga sampai di garasi dengan keadaan yang sama.
“nggak kira-kira. Ya Allah, liat lucinta luna masih enak ya,
artis. Lah ini ? astaghfirullah.” Ucap ardi yang nafas nya sudah berangsur
tenang.
PLAK ! 5 jari yang menempel di bahu ardi mengejutkan dirinya
yang memang masih merasa ngeri melihat cewek jadi-jadian yang hamper mirip mimi
peri itu.
“Allah, pait pait pait pait.” Ucap ardi sambil memejamkan
mata.
“heh, bokap gue tuh.” Ujar ali sambil terkekeh.
“emh, Ya Allah, om. Ngagetin aja.” Ujar ardi dengan keringat
yang mulai membasah di kening nya.
“gila emang kalian itu, parah.” Ridho ikut menggerutu. Ia
menyelipkan sebatang rokok mild ke bibir nya yang merah alami itu. Wah ridho
memang sedikit lebih tampan dari kedua temannya. Dengan otot kekar yang tampak
meliuk di lengan nya. Kulit nya tidak putih,namun lebih ke kuning langsat. manis dan tampan
adalah dua kata yang pantas di sematkan untuk nya.
“makanya sedari awal tetangga kita datang, ayah Cuma ngurung
diri di kamar. Bukan tidak menghargai, tapi tau sendiri jeng amira sama teh
anis itu. Kalo soal gibah sih, ayah nggak seberapa, tapi, lirikannya itu loh.
Bikin salah paham.” Ayah ali menarik kursi plastic yang ada di garasi itu. Ia
duduk dengan santai nya.
“bikin kopi, li.” Perintah nya kemudian setelah menyandarkan
bahu nya di sandaran kursi.
“oke, ayah.” Ucap ali yang langsung menuruti perintah ayah
nya. Jangan Tanya ali masuk rumah lewat mana, tentu saja lewat garasi mobil,
dan langsung menuju dapur lewat pintu belakang. Dan kembali dengan beberapa
gelas kopi dengan jalan yang sama.
“kok, om tau alisa kecelakaan di kota S kemaren ?” Tanya
ridho penasaran. Ia penasaran sejak awal, bagaiman orang tua nya alisa bisa
mengetahui kejadian yang terjadi jauh dari lokasi rumah.
“emang kalian kira acara kalian itu acara komplek. Acara
besar seperti itu pastilah masuk social media, banyak liputannya. Om tau dari
__ADS_1
youtube. Lagian, kan kamu biasanya yang suka merekam kegiatan latihan balap
atau balapan alisa masuk deh abis itu di aplikasi hitam dengan kata-kata yang
menggalau itu.”
“wow update juga ya om ini.” Ujar sam heran.
“dari siapa yah ?” Tanya ali. Ayah ali mengangkat sebelah
alis nya.
“apa nya ?” Tanya ayah nya balik.
“ayah tau semua itu ?? Setau ali, ayah nggak main sosmed deh
selain facebook. Kalo youtube kan biasanya urusan kerjaan tuh yang di up ke
youtube. Udah kayak apa gitu. Seleb youtube.” Canda ali. Ia menjelaskan
pertanyaan nya. Memang selama ini ayah nya tidak begitu bermain gadget selain
urusan kerja, chat grup misal nya, saling bertukar pendapat dan informasi. Ayah
nya menyeruput kopi buatan ali yang di letakkan di atas etalase di belakang
nya.
“menurut kamu dari siapa ?” Tanya ayah nya lagi.
“madam sri ya om ?” gurau sam membuat mereka tertawa dan
bergidik geli.
“ambil aja tuh, madam sri buat kamu. Itung-itung ngurus yang
langka.” Jawab ayah ali.
“haha, untung nya nggak seiman om.” Sam terkekeh.
mendengar pun ikut terkekeh.
“dari temen-temen rumpi nya mama mu tuh, dateng nggak di
undang pulang bawa cemilan.” Ayah ali menjawab rasa penasarannya dan yang lain.
“salah dong, om. Dateng bawa gossip, pulang bawa gossip
baru.” Ralat aan.
“begitu syulit jadi tukang gibah, apalagi gibah enaak.” Ardi
berkata dengan nada lagu yang viral di aplikasi hitam.
“gibah enak, gibah dosa, bego. Kebanyakan ngitungin micin
nih. Orang mah ya, bego kebanyakan makan micin, kalo dia kebanyakan ngitung
micin. Udah lebih ini.” Sahut aan sambil menyeruput kopi yang mulai hangat.
“micin di itungin, kambing di itung, ketauan ada duit nya.”
Seloroh ridho sambil terkekeh.
“ya kan ngitung nya sama aan, besti gue. Iya nggak ?? kan
kita ngitung micin bareng.” Ardi merangkul pundak aan dengan senyum tanpa dosa.
“dih, ogah amat. Eh, cari duit baru ngajak-ngajak, bego kok
ngajakin orang. Lu aja sama keluarga lu yang metal sono.” Ejek aan melepas
rangkulan ardi. Suara tawa mereka di garasi terdengar sampai ke halaman depan.
Dimana sebuah mobil terparkir, terlihat baru tiba dan berisi beberapa manusia.
__ADS_1
“assalamualaikum !!” seru suara seorang laki-laki dewasa
dengan wibawa yang kentara.
“waalaikum salam.” Jawab ayah ali. Ia lalu beranjak menemui
tamu nya yang di rasa asing.
“maaf, cari siapa ya, pak ?” Tanya ayah ali dengan sopan.
“perkenalkan, saya hendra dan ini istri saya lidya, kami
orang tua nya ilham pak. Kami dengar alisa sedang sakit, makanya kami kesini,
hendak menjenguk alisa.” Pak hendra berkata terus terang tentang maksud
tujuannya datang. Setelah beramah tamah mereka pun masuk ke dalam rumah,
meninggalkan ali dan teman-temannya yang kembali bergosip tentang aisah.gadis
cantik adik nya ilham yang juga turut ikut menjenguk alisa.
“waduh, kalo gini sih berat ya, dho. Lo saingan sama si bule
jamur ini aja udah berat apalagi keluarga sultan spek ustad gitu ya. Riska aja
udah, ntar kita bagi tiga.” Ujar ardi yang di sambut langsung oleh jitakan
ridho tepat di dahi nya, sampai ia meringis.
“pikiran mu di, mangku purel ae.” Celetuk aan kesal. Namun
kesal nya membuat mereka yang mendengar tertawa ngakak.
“gak berat lah, kan gue sama alisa gak seiman.” Jawab sam.
“daritadi omongan lo iman aja masalah nya. Syahadat sini
sama gue. Biar seiman lo sama madam srintil itu.” Canda aan menanggapi omongan
sam.
Saat sedang asik mengobrol terlihat aisah berjalan setengah
berlari menuju mobil yang parker di depan garasi tempat mereka ngobrol.
Pandangan sam tanpa sadar terus tertuju pada sosok aisah yang cantik meski
dengan make up tipis sederhana. Selama berjalan di depan mereka aisah terus
menundukkan pandangannya.
“ukhti.. prikitiw.” Ujar aan lirih, saat aisah sudah masuk
kembali kerumah alisa. Rupanya dia mengambil ponsel nya yang tertinggal di
mobil.
“ukhti, ukhti. Mana mau ukhti kenalan sama titisan dajjal
kayak elo.” Ejek ridho. Yang di ejek justru malah menyugar rambut dan membuat
pose setampan mungkin, membuat yang lain jengah.
“sakit gigi lo, bang ali. Dari tadi diem aja.” Ujar ridho
saat melihat ali focus dengan ponsel nya.
“betina mana lagi sekarang ?” Tanya ridho enteng mengira ali
sedang beradu kata-kata dengan seorang wanita. Ya, benar saja, hati ali yang
dulu pernah terluka karena di tinggal kan, kini mulai melihat sebuah dermaga
baru yang mungkin bisa di jadikan tempat bersandar.
__ADS_1