
“dek ! bangun, dek ! alisa !” ali
mengguncang tubuh alisa yang lemas tanpa tenaga. Sam ikut panik, pihak medis
dari panitia segera memberikan pertolongan.
“dek, ayo kita pulang. Please,
sa, buka mata lo. Kita pulang sekarang. Jangan bikin gue takut. Ayok, sa.” Ali
sudah tidak lagi menahan air mata. Habis sudah energi nya, ia tidak lagi gengsi
atau malu untuk menangisi adik perempuan satu satu nya, yang cerewet, absurd
dan selalu mengacak acak isi kamar nya. Perawat segera membawa ke ruang IGD, berbagai
alat bantu nafas, detak jantung, dan pengukur tekanan oksigen dalam darah juga
sudah di pasang, para tenaga medis melarang ali dan teman teman nya yang mengantar untuk masuk. Mereka sedang
melakukan pemeriksaan tentang seberapa parah luka alisa.
Sekian menit menunggu di depan
pintu rasanya seperti pengadilan akhirat. Sangat menegangkan. Belum ada
tanda-tanda dokter akan keluar dari dalam. Ali duduk dengan menutup wajah di
ruang tunggu dengan mata dan hidung merah, akibat menangis sedari tadi. Ridho
terlihat beberapa kali merapalkan doa, menenangkan batinnya sendiri, aan dan
ardi menunduk dalam, ada bulir bening yang menetes dari mata ardi, mereka
menyesal telah menyalahkan alisa bahkan sebelum bertanding. Sam masih memegang
ponsel alisa dengan erat. Tidak lama ponsel nya sendiri berdering. Ia melangkah
menjauh mengangkat telepon. Wajah nya Nampak serius berkali kali ia melirik ali
yang tak jauh dari tempat nya berdiri. Setelah beberapa menit ia menutup
telepon dan kembali berdiri di dekat pintu IGD.
Setiap menit menunggu seperti
siksaan bagi ali. Setelah 1 jam beberapa dokter dan tenaga medis lain di dalam,
akhir nya pintu terbuka. Dr bagus setio aji. Nama yang tertulis di nametag nya
memanggil keluarga pasien. Ali langsung berdiri menghampiri, apapun kata dokter
ia akan siap mendengarkan.
“saya kakak kandung nya dok.”
Ujar ali. Dokter tersebut sedikit membenahi kacamata nya yang miring. Ia
menghela nafas berat sebelum mulai menjelaskan.
“sayatan di tangan dan kaki nya
cukup dalam, tapi kami sudah mengatasi pendarahan nya dan sudah menjahit nya.
Benturan di kepala nya juga cukup keras, sehingga ada pendarahan di kepala nya.
Malam ini kami akan menyiapkan operasi untuk menghentikan pendarahan nya.
Semoga pendarahan yang terjadi masih tergolong ringan mengingat dia masih
bertahan sampai menyelesaikan pertandingan nya. Setelah ini dia akan langsung
__ADS_1
di pindahkan ke ruang ICU untuk mendapat penanganan lebih intensif.” Jelas
dokter bagus yang menangani alisa.
“boleh kami melihat pasien, dok
?” Tanya sam mewakili teman teman nya.
“silahkan, tapi gantian ya. Dan
tolong jangan lama lama, karena pasien masih butuh istirahat.” Jawab dokter
bagus lagi. Ia tersenyum ramah pada kelima pemuda itu lalu melangkah pergi.
Bersamaan dengan itu 2 orang perawat laki-laki membawa bed dimana alisa
tertidur pulas dalam sakit nya menuju ke lantai atas di rumah sakit itu. Di
ruang ICU. Ali mengikuti dengan masih bercucur air mata. Orang pertama yang
masuk ke ruang alisa adalah aan dan ardi.
“maafin gue, sa. Harus nya gue
gak egois dan ambisi untuk menang. Maaf,sa. Gue harap lo masih mau jadi temen
gue.” Ujar aan dengan air mata mengalir.
“gue juga, sa. Gue… gue.. nyesel
hiks hiks… gue nyesel udah marah-marah sama lo. Huhuhu..” ardi menangis di
ruang ICU.
“Lo, cowok kok nangis nya kenceng
banget sih ?” protes aan sambil mengelap ingus nya dengan kaos yang di pakai
nya.
terus, nanti bisa jadi dia tambah cerewet. Jangan ini jangan itu. Mau ini mau
itu. Gue belum siap jadi babu nya mak lampir model dia huhuhu.” Jawab ardi
masih menangis.
“anjir lo huhu temen nggak ada
akhlak. Tapi bener juga sih, gue juga belom siap kalo itu. Huhuhu.. cepet
bangun ya, sa. Jangan mati. Lo hidup aja kita horror. Apalagi lu pisah sama
jasad, tambah mati kaku gue huhuhu…” aan menyahuti.
“aan emang goblok,sa dimana mana
kan, mati emang kaku ya, masa mati lari-lari. Huhuhu…” setelah meminta maaf dan
bergibah aan dan ardi keluar ruangan bergantian dengan ali dan ridho.
“dek, abang harus bilang apa ke
mama sama ayah. Abang mohon dek, bangun ya dek. Kamu harus kuat. Abang yakin,
kamu cewek tangguh, hebat. Abang janji dek, abang bakal penuhin permintaan kamu
selama hidup abang asal kamu bangun. Abang sayang kamu alisa maharani.” Ujar
ali di tengah tangis nya. Ali terus mengenang kebersamaan nya bersama alisa
selama bertahun-tahun.
__ADS_1
“maafin abang, abang udah gagal
jaga kamu. Abang… hiks.. abang bukan abang yang baik buat kamu. Hiks..” ali
masih menangis. Terlihat air mata yang sama juga mengalir dari ujung mata alisa
yang terpejam. Ali melihat itu dan mengusap nya.
“jangan nangis dek, abang yakin
kamu cewek kuat. abang janji, abang gak akan biarin romeo dan tim curang nya
itu berkeliaran. Abang janji dek. “ ali mencium kening alisa. Ia sudah tidak
bisa lagi menahan sesak di dada nya. Ia duduk di kursi tunggu di depan ruangan
menangis menumpahkan semua kekhawatiran dalam diri nya.
“al, gue cabut dulu. Ada yang
harus gue kerjain di luar. Sorry kalo gue gak bisa nemenin lo. Nanti kalo
urusan gue udah beres, gue balik ke sini lagi.” Ujar sam.
“oke, bro. thanks ya. Buat semua
nya.” Jawab ali menjabat tangan sam.
“alisa pasti sembuh. Tenang aja.
Lo doain aja buat dia.” Kata sam sebelum melangkah pergi.
……………
Di tempat lain, seorang pemuda
sedang frustasi karena gagal membawa tim nya membawa uang 25 juta rupiah. Tapi
setidak nya dia puas sudah mengalahkan cewek yang terkenal sering menang tiap
balapan. Dia sedang berkumpul dengan teman-teman nya menikmati miras dan barang
haram di sebuah kamar apartemen mewah. Sedang seru seru nya pintu di dobrak paksa
oleh beberapa orang. Mereka adalah polisi dari BNN yang memang sudah beberapa
lama mengintai, di antara mereka tampak sosok seseorang yang baru saja
berpamitan dengan ali di rumah sakit. Dia adalah sam, dengan kaos hitam dan
jaket kulit cokelat di padu celana dasar hitam. Lengkap dengan sepatu hitam
nya. Ia Nampak berbeda malam ini.
“hai, pengecut. Apa kabar ?”
Tanya nya mencengkeram dagu romeo yang sedang teler. Ia menepuk pipi romeo
beberapa kali, namun tetap saja pikiran romeo masih di awang-awang.
“habis ini gue pastiin selesai
hidup dan pamor lo, bangsat.” Desis sam, lalu membawa romeo beserta teman-teman
nya ke kantor polisi. Sesampai nya di sana rupa nya sudah ada beberapa orang
yang menanti kedatangan sam, mereka tampak kaget dengan apa yang terjadi.
“bangsat !” ucap seseorang dengan
wajah tegang.
__ADS_1