Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
18


__ADS_3

“dek ! bangun, dek ! alisa !” ali


mengguncang tubuh alisa yang lemas tanpa tenaga. Sam ikut panik, pihak medis


dari panitia segera memberikan pertolongan.


“dek, ayo kita pulang. Please,


sa, buka mata lo. Kita pulang sekarang. Jangan bikin gue takut. Ayok, sa.” Ali


sudah tidak lagi menahan air mata. Habis sudah energi nya, ia tidak lagi gengsi


atau malu untuk menangisi adik perempuan satu satu nya, yang cerewet, absurd


dan selalu mengacak acak isi kamar nya. Perawat segera membawa ke ruang IGD, berbagai


alat bantu nafas, detak jantung, dan pengukur tekanan oksigen dalam darah juga


sudah di pasang, para tenaga medis melarang ali dan teman teman nya yang  mengantar untuk masuk. Mereka sedang


melakukan pemeriksaan tentang seberapa parah luka alisa.


Sekian menit menunggu di depan


pintu rasanya seperti pengadilan akhirat. Sangat menegangkan. Belum ada


tanda-tanda dokter akan keluar dari dalam. Ali duduk dengan menutup wajah di


ruang tunggu dengan mata dan hidung merah, akibat menangis sedari tadi. Ridho


terlihat beberapa kali merapalkan doa, menenangkan batinnya sendiri, aan dan


ardi menunduk dalam, ada bulir bening yang menetes dari mata ardi, mereka


menyesal telah menyalahkan alisa bahkan sebelum bertanding. Sam masih memegang


ponsel alisa dengan erat. Tidak lama ponsel nya sendiri berdering. Ia melangkah


menjauh mengangkat telepon. Wajah nya Nampak serius berkali kali ia melirik ali


yang tak jauh dari tempat nya berdiri. Setelah beberapa menit ia menutup


telepon dan kembali berdiri di dekat pintu IGD.


Setiap menit menunggu seperti


siksaan bagi ali. Setelah 1 jam beberapa dokter dan tenaga medis lain di dalam,


akhir nya pintu terbuka. Dr bagus setio aji. Nama yang tertulis di nametag nya


memanggil keluarga pasien. Ali langsung berdiri menghampiri, apapun kata dokter


ia akan siap mendengarkan.


“saya kakak kandung nya dok.”


Ujar ali. Dokter tersebut sedikit membenahi kacamata nya yang miring. Ia


menghela nafas berat sebelum mulai menjelaskan.


“sayatan di tangan dan kaki nya


cukup dalam, tapi kami sudah mengatasi pendarahan nya dan sudah menjahit nya.


Benturan di kepala nya juga cukup keras, sehingga ada pendarahan di kepala nya.


Malam ini kami akan menyiapkan operasi untuk menghentikan pendarahan nya.


Semoga pendarahan yang terjadi masih tergolong ringan mengingat dia masih


bertahan sampai menyelesaikan pertandingan nya. Setelah ini dia akan langsung

__ADS_1


di pindahkan ke ruang ICU untuk mendapat penanganan lebih intensif.” Jelas


dokter bagus yang menangani alisa.


“boleh kami melihat pasien, dok


?” Tanya sam mewakili teman teman nya.


“silahkan, tapi gantian ya. Dan


tolong jangan lama lama, karena pasien masih butuh istirahat.” Jawab dokter


bagus lagi. Ia tersenyum ramah pada kelima pemuda itu lalu melangkah pergi.


Bersamaan dengan itu 2 orang perawat laki-laki membawa bed dimana alisa


tertidur pulas dalam sakit nya menuju ke lantai atas di rumah sakit itu. Di


ruang ICU. Ali mengikuti dengan masih bercucur air mata. Orang pertama yang


masuk ke ruang alisa adalah aan dan ardi.


“maafin gue, sa. Harus nya gue


gak egois dan ambisi untuk menang. Maaf,sa. Gue harap lo masih mau jadi temen


gue.” Ujar aan dengan air mata mengalir.


“gue juga, sa. Gue… gue.. nyesel


hiks hiks… gue nyesel udah marah-marah sama lo. Huhuhu..” ardi menangis di


ruang ICU.


“Lo, cowok kok nangis nya kenceng


banget sih ?” protes aan sambil mengelap ingus nya dengan kaos yang di pakai


nya.


terus, nanti bisa jadi dia tambah cerewet. Jangan ini jangan itu. Mau ini mau


itu. Gue belum siap jadi babu nya mak lampir model dia huhuhu.” Jawab ardi


masih menangis.


“anjir lo huhu temen nggak ada


akhlak. Tapi bener juga sih, gue juga belom siap kalo itu. Huhuhu.. cepet


bangun ya, sa. Jangan mati. Lo hidup aja kita horror. Apalagi lu pisah sama


jasad, tambah mati kaku gue huhuhu…” aan menyahuti.


“aan emang goblok,sa dimana mana


kan, mati emang kaku ya, masa mati lari-lari. Huhuhu…” setelah meminta maaf dan


bergibah aan dan ardi keluar ruangan bergantian dengan ali dan ridho.


“dek, abang harus bilang apa ke


mama sama ayah. Abang mohon dek, bangun ya dek. Kamu harus kuat. Abang yakin,


kamu cewek tangguh, hebat. Abang janji dek, abang bakal penuhin permintaan kamu


selama hidup abang asal kamu bangun. Abang sayang kamu alisa maharani.” Ujar


ali di tengah tangis nya. Ali terus mengenang kebersamaan nya bersama alisa


selama bertahun-tahun.

__ADS_1


“maafin abang, abang udah gagal


jaga kamu. Abang… hiks.. abang bukan abang yang baik buat kamu. Hiks..” ali


masih menangis. Terlihat air mata yang sama juga mengalir dari ujung mata alisa


yang terpejam. Ali melihat itu dan mengusap nya.


“jangan nangis dek, abang yakin


kamu cewek kuat. abang janji, abang gak akan biarin romeo dan tim curang nya


itu berkeliaran. Abang janji dek. “ ali mencium kening alisa. Ia sudah tidak


bisa lagi menahan sesak di dada nya. Ia duduk di kursi tunggu di depan ruangan


menangis menumpahkan semua kekhawatiran dalam diri nya.


“al, gue cabut dulu. Ada yang


harus gue kerjain di luar. Sorry kalo gue gak bisa nemenin lo. Nanti kalo


urusan gue udah beres, gue balik ke sini lagi.” Ujar sam.


“oke, bro. thanks ya. Buat semua


nya.” Jawab ali menjabat tangan sam.


“alisa pasti sembuh. Tenang aja.


Lo doain aja buat dia.” Kata sam sebelum melangkah pergi.


……………


Di tempat lain, seorang pemuda


sedang frustasi karena gagal membawa tim nya membawa uang 25 juta rupiah. Tapi


setidak nya dia puas sudah mengalahkan cewek yang terkenal sering menang tiap


balapan. Dia sedang berkumpul dengan teman-teman nya menikmati miras dan barang


haram di sebuah kamar apartemen mewah. Sedang seru seru nya pintu di dobrak paksa


oleh beberapa orang. Mereka adalah polisi dari BNN yang memang sudah beberapa


lama mengintai, di antara mereka tampak sosok seseorang yang baru saja


berpamitan dengan ali di rumah sakit. Dia adalah sam, dengan kaos hitam dan


jaket kulit cokelat di padu celana dasar hitam. Lengkap dengan sepatu hitam


nya. Ia Nampak berbeda malam ini.


“hai, pengecut. Apa kabar ?”


Tanya nya mencengkeram dagu romeo yang sedang teler. Ia menepuk pipi romeo


beberapa kali, namun tetap saja pikiran romeo masih di awang-awang.


“habis ini gue pastiin selesai


hidup dan pamor lo, bangsat.” Desis sam, lalu membawa romeo beserta teman-teman


nya ke kantor polisi. Sesampai nya di sana rupa nya sudah ada beberapa orang


yang menanti kedatangan sam, mereka tampak kaget dengan apa yang terjadi.


“bangsat !” ucap seseorang dengan


wajah tegang.

__ADS_1


__ADS_2