Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
bab 9


__ADS_3

POV


ILHAM


Nama ku ilham nugraha. Anak dari pasangan Hendra


nugraha dan Lidya wulandari. Ibu ku hanya ibu rumah tangga pada umum nya dan


ayah ku punya beberapa toko material yang bisa di bilang lumayan maju.


Penghasilan nya juga fantastis, hasil menjalin kerjasama dengan beberapa


pemborong di ibukota. Pekerjaan ayah adalah sumber keuangan utama di keluarga


ku. Aku 3 bersaudara. Kakak ku, ryan nugraha usia nya baru menginjak 25 tahun.


Dia sudah menikah dan mempunyai seorang putri kecil yang cantik berusia 5


tahun. Istri nya juga seorang ibu rumah tangga, kakak ku sendiri memiliki usaha


dealer. Ntah bagaimana cerita nya dia bisa mendirikan sebuah dealer yang cukup


lumayan di Lampung. Dia juga menjalin hubungan kerjasama dengan sebuah


perusahaan motor ternama. Watak bisnis seperti nya menurun sepenuh nya pada


dia. Aku belum berminat seperti nya untuk mengikuti jejak mereka menjadi


pengusaha. Aku, masih terlalu takut gagal. Adik ku aisah, kini berusia 18


tahun. Ia sedang di sibukkan dengan kuliah dan bekerja sambilan menjadi model


wedding di sebuah wedding organizer. Meskipun ekonomi keluarga ku tergolong di


atas rata rata. Tapi, orang tua ku selalu mengajarkan tanggung jawab dan


mandiri. Selama menempuh pendidikan, semua kebutuhan dan apapun tentang uang


akan di tanggung orang tua. Tapi setelah selesai sekolah. Saat itu juga pundi


pundi uang kami akan di hentikan.


Dengan bekal sertifikat D3 komputer akuntansi aku


melamar kerja di bank syariah ini. Disini memang ada teman ayah yang menjabat


sebagai HRD. Namun, ayah sudah melarang nya untuk menerima ku kerja jika hasil


tes ku buruk. Meskipun aku adalah anak teman nya.


“kalau nilai ilham tidak layak untuk di terima,


atau memang tidak memenuhi standar. Ya, jangan di luluskan. Kerja itu karena


kualitas. Bukan the power of ordal.” ayah ku terkekeh saat aku tidak sengaja


menguping pembicaraan ayah ku di telepon. Begitulah ayah ku tidak pernah


memanjakan anak anak nya. Dia benar benar tau kapan harus memberi kapan harus


membiarkan.


“hari ini ayah denger kamu kata nya telat yak e


kantor. Kenapa ?” Tanya ayah ku saat aku ketiban apes motor mogok dan sial lagi


karena harus di bonceng alias. Sahabat ku yang luar biasa ajaib.


“iya yah, motor ilham mogok tadi di jalan. Kayak


nya busi nya mati kata nya.” Jawab ku pasrah. Ayah ku mengernyitkan dahi.


“kamu… ngerti mesin motor ?” Tanya nya heran. Mas


ryan yang kebetulan sedang menginap di rumah pun turut terkejut.


“hmm…. Bukan yah. Tadi pas mogok ilham ketemu temen


sekolah ilham. Terus kata nya mungkin busi nya mati.”


“oh.. kirain kamu ngerti soal mesin.”ujar mas ryan


terkekeh. Ayah tertawa “kamu mau belajar otomotif ham ?” Tanya ayh kemudian.


“nggak lah yah. Gak berminat ilham.” Jawab ku.


“terus sekarang motor mu kemana ?” Tanya ibu


“di bawa temen aku bu. Katanya kalo udah jadi nanti


di hubungi.” Jelas ku lagi


“kamu yakin temen kamu gak boong ? sekarang banyak


kasus pencurian banyak motif lho.” Ujar ibu.


“nggak lah bu. Itu temen deket ilham waktu SMA


kok.” Jawab ku lagi. ”Ya gak mungkin lah alisa mau ngambil tu motor. Kalo di


modif jadi apa mau nya dia, iya mungkin juga.” Batin ku.


“temen SMA mas ilham siapa yang bisa nge bengkel ?”


Tanya aisah penasaran. Ia menghentikan aktifitas nya scroll tiktok.


“alisa namanya.” Jawab ku


“ CEWEK ?!! ” ayah, ibu, aisah dan mas ryan pun


terkejut. Mbak anna, istri mas ryan bahkan tersedak saat sedang memakan


sepotong kue.


“uhuk.. uhuk… ce.. cewek k.. kok bisa nge.. uhuk


ngebengkel ?” Tanya nya sambil batuk batuk


“pelan pelan bunda.” Mas ryan menghampiri istri nya

__ADS_1


dan memberikan minum.


“iya mbak, dia emang beda dari yang lain.” Jawab


ku.


Prok prok prok ! ku lihat aisah sedang bertepuk


tangan sambil menggelengkan kepala.


“ckckck gak takut dekil dia ya mas kerja begitu.


Hebat loh dia.” Ujar aisah. Nampak kagum.


“gak semua yang kerja bengkel itu dekil kali dek.


Mas aja sebelum punya dealer, dulu juga pernah kerja di bengkel.” Bela mas ryan.


“iya sih, tapi, mas ryan kan cowok. Lah ini, cewek


mas. Bayangin coba.” Aisah masih terheran heran.


Menurut ku. Alisa memang beda. Jujur saja sudah


sejak lama aku memendam rasa untuk nya. Tapi, melihat sikap nya aku jadi kurang


percaya diri mendekati nya. Aku juga nggak mau, persahabatan yang sudah lama ku


jalin jadi berantakan.


Keesokan sore, aku ke rumah alisa mengambil motor


yang sudah selesai ia perbaiki. Awalnya, ku pikir dia sudah punya kekasih.


Ternyata, yang ku lihat di halaman kakak nya. aku jadi lega. Sejak bertemu


alisa karena motor ku mogok, aku ingin bertanya, apa dia sudah punya kekasih


atau keluarga sendiri. Tapi, tidak sempat pertanyaan itu terlontar, karena


teman teman nya sudah datang untuk membawa motor ku.


Dulu, meski di 1 ekskul yang sama. Circle


pertemanan ku dan dia jauh berbeda. Kami hanya bertemu karena hobi membaca dan


ekskul. Tampilan sederhana dan apa ada nya benar benar membuat ku… entahlah.


Sampai kapan aku harus menjadi teman nya. hanya namanya yang selalu hadir dalam


tiap sujud ku.


Alisa tidak pernah berubah sejak dulu penampilan,


hobi dan sikap nya. juga kejailannya yang astaghfirullah. Nyali ku benar benar


jauh dibawah dia saat dia harus mengantarku kerja waktu itu. Entah punya orang


dalem di akhirat atau gimana sampai bawa motor serasa terbang.


Kami bertukar buku seperti dulu saat sekolah, aku


buku, jenis buku apa pun akan di baca nya. bahkan, mungkin buku resep masakan.


Meski kemungkinan mencobanya hanya 0%, dia pasti akan membacanya.


“baca buku itu bukan berarti kita harus praktek isi


nya semua, atau jadi pedoman hidup, ham. Jadi, ya gak usah pilih pilih lah.


Yang kita butuh dari buku itu ya, ilmu, informasi dan hiburan.” Aku masih mengingat


jelas kata kata alisa dulu.


Buku dengan judul terdampar di negeri bidadari,


huh…. Ku pikir fiksi fiksi tentang negeri dongeng atau negeri ajaib. Ternyata,


jika saja bukan alisa yang mengerjai aku, mungkin sudah ku lempar buku vulgar


itu.


Ku bawa buku itu ke tempat kerja. Ku sembunyikan


rapat rapat di dalam tas ku.


“alisa, alisa masih suka jail juga kamu.” Gumam ku merasa geli, saat dia dengan percaya


dirinya memberi buku begitu  pada ku,


yang notabene aku  ini lawan jenis nya.


“assalam mualaikum mas ilham. Kok masih pagi


senyum senyum sendiri.” Ujar anisa membuyar kan lamunan ku.


Anisa, junior ku di kantor. Anak nya baik, ceria


dan supel. Sangat menyenangkan. Setau ku dia juga rajin beribadah. Tapi entah


kenapa kadang aku merasa kurang nyaman jika terlalu dekat dengan nya. namun,


untuk menjaga perasaannya aku tetap bersikap baik sewajarnya sama seperti ke


yang lain. Sedikit menjaga jarak sih, agar dia tidak berfikir jauh tentangku.


Sore ini aku berniat mengembalikan buku alisa tanpa


memberi tahu nya. saat di parkiran kantor aku melihat anisa sedang di dekati


seorang pria, aku lihat seperti nya anisa sedang ketakutan. Aku mencoba untuk


tidak ikut campur. Tapi, jika di perhatikan sepertinya anisa benar benar dalam


masalah.


Aku menawari nya tumpangan untuk pulang, dia


langsung mengiyakan.

__ADS_1


“tapi aku mau mampir dulu tempat temen.” Ku jelas


kan pada nya jika aku akan mampir ke rumah alisa.


Mengingat alisa membuat ku bahagia. Mungkin aku


sudah jatuh terlalu dalam dengan perasaan ku sendiri. Astaghfirullah….


Saat alisa membuka pintu, aku sudah tau ia tidak


akan pernah merasa bersalah setiap ngerjain aku.


PLETAK ! ku pukul pelan kepala nya, agar dia tahu,


aku sangat tidak nyaman dengan buku nya yang membuat ku tidak bias tidur


semalaman. Alisa tertawa melihat ku marah, entahlah alisa ini makhluk Tuhan


sebelah mana. Ajaib banget buat aku. Setelah berbasa basi, alisa menanyakan


anisa yang berdiri diam saja memperhatikan kami. Aku hampir saja lupa


mengenalkan anisa.


Alisa malah meledek ku, bilang anisa calon istri. Gimana


bisa menominasikan cewek lain sebagai calon istri, sedangkan nama yang ku sebut


di setiap sujud hanya alisa maharani seorang.


Beberapa hari setelah kejadian motor dan buku, yang


ku harap itu menjadi takdir aku bertemu lagi dengan alisa. Hubungan kami terus


berlanjut di chat whatsapp. Meski, kadang hanya sekedar omong kosong. Kadang


juga tidak di balas oleh alisa, setidaknya, komunikasi kami tetap berjalan


baik. Kebetulan minggu depan ada bazar buku di dekat rumah. Aku mau ajak dia


berburu beberapa buku novel di sana. Aku juga akan mengajak aisah untuk


menghindari fitnah, bagaimana pun juga aku dan alisa bukan muhrim.


“dek, mau iku mas nggak, malem minggu besok ?”


Tanya ku pada aisah saat dia sedang asik main hp di kamar nya.


“kemana mas ?” dia balik bertanya.


“ke pasar malem di lapangan itu lho. Mas mau cari


buku tapi sama alisa. Takut ada setan dek, kamu mau gak nemenin mas.” Jawab ku.


Aku biasa terbuka dengan keluarga juga dengan kakak atau adik ku.


“oke. Tapi pajek aku, harum manis ya mas. 2.” Kata


adik ku senang.


“oke. Tapi, kalo 2, kamu gak takut sakit gigi ?”


Tanya ku.


“iiiiiiiiiiiiii……” aisah memamerkan deretan gigi


nya yang putih bersih terawat. Aku tersenyum dan mengusap kepala nya yang


tertutup hijab. Sebelum keluar dari kamar nya. aisah sudah rajin berhijab di


rumah sejak SMP. Dia hanya akan melepas hijab nya saat tidur.


POV


AUTHOR


Sejak setelah makan siang alisa di dalam kamar


tidak keluar sama sekali. Kamar nya sudah sulit di ceritakan. Semua baju hambur


di mana mana.


“assalam mualaikum.” Mama alisa mengucap salam.


“wa alaikum salam.” Jawab ali langsung membuka


pintu menyambut mama nya.


“loh, kok mama gak wa ali aja sih, biar ali jemput.


Mama pulang sama siapa ?” Tanya ali penasaran. Karena ayah alisa harus


berangkat keluar kota menemani camat yang sedang bertugas melakukan kunjungan.


“gak papa lah al. Sekali kali. Mama pulang naik


ojek online tadi.” Jawab mama sambil masuk ke dalam kamar untuk berganti baju.


Hari ini tidak ada tamu atau teman teman alisa yang kerumah, entah kebetulan


atau takdir.


“alisa mana, al ?” tanya mama setelah berganti


baju. Mama mengecek semua pekerjaan rumah alisa. Dan semua nya di kerjakan


dengan baik. Sepertinya alisa tidak terlalu susah untuk di ajari feminim.


“gak tau ma, dari abis makan siang gak keluar


kamar.” Jawab ali. Mama nya langsung berjalan kearah pintu kamar alisa yang


tertutup.


“sa, mama masuk ya !” ucap mama nya saat ketukan di


pintu tak kunjung dapat jawaban. Mama nya langsung membuka pintu


DAN……..

__ADS_1


JENG JENG……


__ADS_2