
POV
ILHAM
Nama ku ilham nugraha. Anak dari pasangan Hendra
nugraha dan Lidya wulandari. Ibu ku hanya ibu rumah tangga pada umum nya dan
ayah ku punya beberapa toko material yang bisa di bilang lumayan maju.
Penghasilan nya juga fantastis, hasil menjalin kerjasama dengan beberapa
pemborong di ibukota. Pekerjaan ayah adalah sumber keuangan utama di keluarga
ku. Aku 3 bersaudara. Kakak ku, ryan nugraha usia nya baru menginjak 25 tahun.
Dia sudah menikah dan mempunyai seorang putri kecil yang cantik berusia 5
tahun. Istri nya juga seorang ibu rumah tangga, kakak ku sendiri memiliki usaha
dealer. Ntah bagaimana cerita nya dia bisa mendirikan sebuah dealer yang cukup
lumayan di Lampung. Dia juga menjalin hubungan kerjasama dengan sebuah
perusahaan motor ternama. Watak bisnis seperti nya menurun sepenuh nya pada
dia. Aku belum berminat seperti nya untuk mengikuti jejak mereka menjadi
pengusaha. Aku, masih terlalu takut gagal. Adik ku aisah, kini berusia 18
tahun. Ia sedang di sibukkan dengan kuliah dan bekerja sambilan menjadi model
wedding di sebuah wedding organizer. Meskipun ekonomi keluarga ku tergolong di
atas rata rata. Tapi, orang tua ku selalu mengajarkan tanggung jawab dan
mandiri. Selama menempuh pendidikan, semua kebutuhan dan apapun tentang uang
akan di tanggung orang tua. Tapi setelah selesai sekolah. Saat itu juga pundi
pundi uang kami akan di hentikan.
Dengan bekal sertifikat D3 komputer akuntansi aku
melamar kerja di bank syariah ini. Disini memang ada teman ayah yang menjabat
sebagai HRD. Namun, ayah sudah melarang nya untuk menerima ku kerja jika hasil
tes ku buruk. Meskipun aku adalah anak teman nya.
“kalau nilai ilham tidak layak untuk di terima,
atau memang tidak memenuhi standar. Ya, jangan di luluskan. Kerja itu karena
kualitas. Bukan the power of ordal.” ayah ku terkekeh saat aku tidak sengaja
menguping pembicaraan ayah ku di telepon. Begitulah ayah ku tidak pernah
memanjakan anak anak nya. Dia benar benar tau kapan harus memberi kapan harus
membiarkan.
“hari ini ayah denger kamu kata nya telat yak e
kantor. Kenapa ?” Tanya ayah ku saat aku ketiban apes motor mogok dan sial lagi
karena harus di bonceng alias. Sahabat ku yang luar biasa ajaib.
“iya yah, motor ilham mogok tadi di jalan. Kayak
nya busi nya mati kata nya.” Jawab ku pasrah. Ayah ku mengernyitkan dahi.
“kamu… ngerti mesin motor ?” Tanya nya heran. Mas
ryan yang kebetulan sedang menginap di rumah pun turut terkejut.
“hmm…. Bukan yah. Tadi pas mogok ilham ketemu temen
sekolah ilham. Terus kata nya mungkin busi nya mati.”
“oh.. kirain kamu ngerti soal mesin.”ujar mas ryan
terkekeh. Ayah tertawa “kamu mau belajar otomotif ham ?” Tanya ayh kemudian.
“nggak lah yah. Gak berminat ilham.” Jawab ku.
“terus sekarang motor mu kemana ?” Tanya ibu
“di bawa temen aku bu. Katanya kalo udah jadi nanti
di hubungi.” Jelas ku lagi
“kamu yakin temen kamu gak boong ? sekarang banyak
kasus pencurian banyak motif lho.” Ujar ibu.
“nggak lah bu. Itu temen deket ilham waktu SMA
kok.” Jawab ku lagi. ”Ya gak mungkin lah alisa mau ngambil tu motor. Kalo di
modif jadi apa mau nya dia, iya mungkin juga.” Batin ku.
“temen SMA mas ilham siapa yang bisa nge bengkel ?”
Tanya aisah penasaran. Ia menghentikan aktifitas nya scroll tiktok.
“alisa namanya.” Jawab ku
“ CEWEK ?!! ” ayah, ibu, aisah dan mas ryan pun
terkejut. Mbak anna, istri mas ryan bahkan tersedak saat sedang memakan
sepotong kue.
“uhuk.. uhuk… ce.. cewek k.. kok bisa nge.. uhuk
ngebengkel ?” Tanya nya sambil batuk batuk
“pelan pelan bunda.” Mas ryan menghampiri istri nya
__ADS_1
dan memberikan minum.
“iya mbak, dia emang beda dari yang lain.” Jawab
ku.
Prok prok prok ! ku lihat aisah sedang bertepuk
tangan sambil menggelengkan kepala.
“ckckck gak takut dekil dia ya mas kerja begitu.
Hebat loh dia.” Ujar aisah. Nampak kagum.
“gak semua yang kerja bengkel itu dekil kali dek.
Mas aja sebelum punya dealer, dulu juga pernah kerja di bengkel.” Bela mas ryan.
“iya sih, tapi, mas ryan kan cowok. Lah ini, cewek
mas. Bayangin coba.” Aisah masih terheran heran.
Menurut ku. Alisa memang beda. Jujur saja sudah
sejak lama aku memendam rasa untuk nya. Tapi, melihat sikap nya aku jadi kurang
percaya diri mendekati nya. Aku juga nggak mau, persahabatan yang sudah lama ku
jalin jadi berantakan.
Keesokan sore, aku ke rumah alisa mengambil motor
yang sudah selesai ia perbaiki. Awalnya, ku pikir dia sudah punya kekasih.
Ternyata, yang ku lihat di halaman kakak nya. aku jadi lega. Sejak bertemu
alisa karena motor ku mogok, aku ingin bertanya, apa dia sudah punya kekasih
atau keluarga sendiri. Tapi, tidak sempat pertanyaan itu terlontar, karena
teman teman nya sudah datang untuk membawa motor ku.
Dulu, meski di 1 ekskul yang sama. Circle
pertemanan ku dan dia jauh berbeda. Kami hanya bertemu karena hobi membaca dan
ekskul. Tampilan sederhana dan apa ada nya benar benar membuat ku… entahlah.
Sampai kapan aku harus menjadi teman nya. hanya namanya yang selalu hadir dalam
tiap sujud ku.
Alisa tidak pernah berubah sejak dulu penampilan,
hobi dan sikap nya. juga kejailannya yang astaghfirullah. Nyali ku benar benar
jauh dibawah dia saat dia harus mengantarku kerja waktu itu. Entah punya orang
dalem di akhirat atau gimana sampai bawa motor serasa terbang.
Kami bertukar buku seperti dulu saat sekolah, aku
buku, jenis buku apa pun akan di baca nya. bahkan, mungkin buku resep masakan.
Meski kemungkinan mencobanya hanya 0%, dia pasti akan membacanya.
“baca buku itu bukan berarti kita harus praktek isi
nya semua, atau jadi pedoman hidup, ham. Jadi, ya gak usah pilih pilih lah.
Yang kita butuh dari buku itu ya, ilmu, informasi dan hiburan.” Aku masih mengingat
jelas kata kata alisa dulu.
Buku dengan judul terdampar di negeri bidadari,
huh…. Ku pikir fiksi fiksi tentang negeri dongeng atau negeri ajaib. Ternyata,
jika saja bukan alisa yang mengerjai aku, mungkin sudah ku lempar buku vulgar
itu.
Ku bawa buku itu ke tempat kerja. Ku sembunyikan
rapat rapat di dalam tas ku.
“alisa, alisa masih suka jail juga kamu.” Gumam ku merasa geli, saat dia dengan percaya
dirinya memberi buku begitu pada ku,
yang notabene aku ini lawan jenis nya.
“assalam mualaikum mas ilham. Kok masih pagi
senyum senyum sendiri.” Ujar anisa membuyar kan lamunan ku.
Anisa, junior ku di kantor. Anak nya baik, ceria
dan supel. Sangat menyenangkan. Setau ku dia juga rajin beribadah. Tapi entah
kenapa kadang aku merasa kurang nyaman jika terlalu dekat dengan nya. namun,
untuk menjaga perasaannya aku tetap bersikap baik sewajarnya sama seperti ke
yang lain. Sedikit menjaga jarak sih, agar dia tidak berfikir jauh tentangku.
Sore ini aku berniat mengembalikan buku alisa tanpa
memberi tahu nya. saat di parkiran kantor aku melihat anisa sedang di dekati
seorang pria, aku lihat seperti nya anisa sedang ketakutan. Aku mencoba untuk
tidak ikut campur. Tapi, jika di perhatikan sepertinya anisa benar benar dalam
masalah.
Aku menawari nya tumpangan untuk pulang, dia
langsung mengiyakan.
__ADS_1
“tapi aku mau mampir dulu tempat temen.” Ku jelas
kan pada nya jika aku akan mampir ke rumah alisa.
Mengingat alisa membuat ku bahagia. Mungkin aku
sudah jatuh terlalu dalam dengan perasaan ku sendiri. Astaghfirullah….
Saat alisa membuka pintu, aku sudah tau ia tidak
akan pernah merasa bersalah setiap ngerjain aku.
PLETAK ! ku pukul pelan kepala nya, agar dia tahu,
aku sangat tidak nyaman dengan buku nya yang membuat ku tidak bias tidur
semalaman. Alisa tertawa melihat ku marah, entahlah alisa ini makhluk Tuhan
sebelah mana. Ajaib banget buat aku. Setelah berbasa basi, alisa menanyakan
anisa yang berdiri diam saja memperhatikan kami. Aku hampir saja lupa
mengenalkan anisa.
Alisa malah meledek ku, bilang anisa calon istri. Gimana
bisa menominasikan cewek lain sebagai calon istri, sedangkan nama yang ku sebut
di setiap sujud hanya alisa maharani seorang.
Beberapa hari setelah kejadian motor dan buku, yang
ku harap itu menjadi takdir aku bertemu lagi dengan alisa. Hubungan kami terus
berlanjut di chat whatsapp. Meski, kadang hanya sekedar omong kosong. Kadang
juga tidak di balas oleh alisa, setidaknya, komunikasi kami tetap berjalan
baik. Kebetulan minggu depan ada bazar buku di dekat rumah. Aku mau ajak dia
berburu beberapa buku novel di sana. Aku juga akan mengajak aisah untuk
menghindari fitnah, bagaimana pun juga aku dan alisa bukan muhrim.
“dek, mau iku mas nggak, malem minggu besok ?”
Tanya ku pada aisah saat dia sedang asik main hp di kamar nya.
“kemana mas ?” dia balik bertanya.
“ke pasar malem di lapangan itu lho. Mas mau cari
buku tapi sama alisa. Takut ada setan dek, kamu mau gak nemenin mas.” Jawab ku.
Aku biasa terbuka dengan keluarga juga dengan kakak atau adik ku.
“oke. Tapi pajek aku, harum manis ya mas. 2.” Kata
adik ku senang.
“oke. Tapi, kalo 2, kamu gak takut sakit gigi ?”
Tanya ku.
“iiiiiiiiiiiiii……” aisah memamerkan deretan gigi
nya yang putih bersih terawat. Aku tersenyum dan mengusap kepala nya yang
tertutup hijab. Sebelum keluar dari kamar nya. aisah sudah rajin berhijab di
rumah sejak SMP. Dia hanya akan melepas hijab nya saat tidur.
POV
AUTHOR
Sejak setelah makan siang alisa di dalam kamar
tidak keluar sama sekali. Kamar nya sudah sulit di ceritakan. Semua baju hambur
di mana mana.
“assalam mualaikum.” Mama alisa mengucap salam.
“wa alaikum salam.” Jawab ali langsung membuka
pintu menyambut mama nya.
“loh, kok mama gak wa ali aja sih, biar ali jemput.
Mama pulang sama siapa ?” Tanya ali penasaran. Karena ayah alisa harus
berangkat keluar kota menemani camat yang sedang bertugas melakukan kunjungan.
“gak papa lah al. Sekali kali. Mama pulang naik
ojek online tadi.” Jawab mama sambil masuk ke dalam kamar untuk berganti baju.
Hari ini tidak ada tamu atau teman teman alisa yang kerumah, entah kebetulan
atau takdir.
“alisa mana, al ?” tanya mama setelah berganti
baju. Mama mengecek semua pekerjaan rumah alisa. Dan semua nya di kerjakan
dengan baik. Sepertinya alisa tidak terlalu susah untuk di ajari feminim.
“gak tau ma, dari abis makan siang gak keluar
kamar.” Jawab ali. Mama nya langsung berjalan kearah pintu kamar alisa yang
tertutup.
“sa, mama masuk ya !” ucap mama nya saat ketukan di
pintu tak kunjung dapat jawaban. Mama nya langsung membuka pintu
DAN……..
__ADS_1
JENG JENG……