
Rambut alisa di cukur habis guna mempermudah para tenaga
medis mengatasi luka di kepala nya.alat bantu pernafasan dan lain-lain masih
terpasang. Wajah nya masih pucat pasi. Keluarga dan teman-teman alisa juga sam
mengikuti perawat yang mendorong brankar alisa. Sampai di depan pintu ruang
observasi mereka bergantian masuk. Orang tua alisa segera menjadi orang pertama
yang masuk menjenguk alisa di ruangan tersebut.
“alisa, ini mama nak. Cepet sembuh sayang. Mama yakin kamu
pasti kuat. Kamu bukan anak yang lemah. Mama sayang alisa.” Ujar mama nya
sambil berderai air mata. Mama mengenggam lembut tangan alisa.
“ayah yakin, anak ayah adalah anak yang tak terkalahkan. Alisa
pasti bisa melewati ini semua.” Ayah menimpali. Ia lalu mensejajarkan kepala
nya di samping telinga alisa dan berbisik pelan. “masih ada ilham yang menunggu
kamu di rumah.” Alisa masih diam, wajah nya tenang tidak ada reaksi apapun,
detak jantung nya masih berdetak normal. Setelah itu bergantian dengan sam yang
memang belum berbicara dengan alisa, sejak alisa masuk rumah sakit.
“hai, al, ini gue, sam. Banyak banget orang-orang dengan
cinta di sekitar lo. Jangan buat mereka patah hati dengan keadaan lo, al.” sam
menghentikan kalimat nya ia menarik nafas dalam dan tersenyum “gue, bangga bisa
kenal cewek, sekuat elo. Gue harap, lo bisa segera bangun, karena mungkin gue
juga mulai jatuh cinta sama lo, alisa.” Sam lalu mengecup tangan alisa, yang
sontak membuat 4 pria di belakang nya kaget setengah mati.
“what the..”
“sshhhhttttt..” aan tidak melanjutkan umpatan nya karena
tangan ardi yang sudah menutup mulut aan dengan rapat.
“huh, kenapa cinta anak muda begitu rumit.” Celetuk ardi
kemudian. Otomatis tangan ridho mendarat pelan di kepala belakang ardi.
“ih, sentuh-sentuh. Emang eyke cowok apose.” Ujar ardi yang
langsung di lirik tajam ali. Membuat nyali nya menciut dan mulut nya terkunci. Merka
melangkah mendekati sam dan alisa yang masih menutup mata.
“sorry.” Sam mengucap pelan, ia menatap ali ramah. Ali menepuk
pundak sam.
“sejak terakhir kali dia patah hati, dia belum menemukan
seseorang untuk hati nya. Dan sampai terakhir kali kesadaran nya, dia masih
jadi muslim yang baik. Meski, kelakuannya sedikit absurd.” Ujar ali sambil
berjalan kea rah mereka. Dia sadar, rasa cinta adalah hak setiap orang. Jadi tidak
ada alasan bagi nya untuk menghalangi perasaan sam. Apalagi Samuel juga seperti
nya pemuda yang baik walupun usia nya lebih tua.
“haha ridho patah hati nih, berat, berat udah saingan sama
__ADS_1
cowok yang belum tau siapa eh, nambah lagi, saingan sama bos sendiri.” Celetuk aan
lagi. Kali ini ardi langsung membekap mulut laknat aan dan membawa nya keluar
ruangan. Wajah ridho spontan memerah, ia terlihat salah tingkah di depan dua
orang yang usia nya lebih tua itu.
“gue Cuma kagum aja kok sama alisa. Dia cewek yang tangguh,
selalu berusaha tanggung jawab, ceria dan gak mudah menyerah gitu aja.” Ujar ridho.
Dia sadar begitu berat memenangkan hati alisa.
“gue juga udah cukup seneng jadi bestie nya.” Lanjut ridho
lagi dengan lapang dada.
“gak apa-apa kali, dho, kita saling deketin alisa. Toh kita
belum tau siapa pemenang nya, kan.” Ujar sam tersenyum ramah. Meski baru
bertemu, alisa sudah mendapat tempat khusus di hati nya yang pernah terluka
secara tragis. Ali menghela napas. “oke, alisa sayang. Cepatlah bangun, karena
ada tiga orang yang sedang berjuang dapatkan kamu, abang disini, siapa tau kamu
butuh bantuan abang untuk ambil keputusan.” Ali terkekeh lalu mengecup kening
alisa singkat. Hati nya sendu melihat keadaan alisa saat ini. Suara sepatu yang
beradu dengan lantai mendekati mereka. Seorang perawat cantik memasuki ruangan,
ia tersenyum ramah pada semua yang ada di situ.
“permisi, bapak, perkenalkan saya suster namira, saya yang
akan memantau perkembangan ibu alisa untuk selanjut nya.” Suster itu
“terimakasih, suster.” Sahut ali. Lagi-lagi suster tersebut
tersenyum, dia mencatat semua semua perkembangan alisa di catatan rekam medis
nya. “hem, maaf sebelum nya, tapi sebaik nya, ibu alisa jangan banyak di ajak bicara
dulu. Karena ibu alisa masih butuh istirahat.”
“iya, sus, sebentar lagi kami juga keluar.” Kata sam
kemudian.
“baik, terimakasih.” Ujar suster namira dengan ramah lalu
melangkah keluar. Suster cantik itu berpapasan dengan aan dan ardi yang kembali
masuk ruangan alisa.
“ckckck, gitar belanda bro.” ujar aan saat suster tersebut
sudah melintasi mereka.
“eh cobek firaun, dia gitar belanda, gak bakal sudi kenal
sama lo. Tau gak.” Ujar ardi gemas.
“kalo gue dapet, bagi dua ya kita.” Ujar aan seolah tidak
peduli dengan ejekan ardi.
“oke. Deal.” Ardi menjabat tangan aan dengan mantab. Emang kocak
dua sahabat alisa yang ini melawak tanpa kenal tempat dan keadaan. Dengan gemas
ali mengangkat kerah belakang dua pemuda tersebut dan menyeret mereka keluar di
__ADS_1
ikuti oleh ridho dan sam yang menggeleng heran.
ali melepaskan tangannya saat sudah berada di luar.
“apaan sih, bang ? kita belum ngobrol sama alisa nih. Kasian
alisa kalo sampe rindu sama kita berdua.” Cerocos ardi.
“yang ada alisa tambah mumet liat kelakuan lo berdua. Kalo alisa
sadar nih ya, pasti kalian udah di lakban mulut nya sama dia.” Ujar ridho.
“ciee belain.” Goda aan. Ridho melotot membuat aan segera
bersembunyi di balik tubuh ali yang lebih tinggi.
“ih, kalo gue mah udah gue jepret mulut laknat kayak gitu.” Ardi
mengompori.
“udah, udah. Ribut aja. Malu di liat keluarga pasien yang
lain.” Ali menghentikan perdebatan mereka.
“mama sama ayah kemana ya ?” Tanya ali.
“tadi katanya mau ke kantin sebentar, bang. Tapi kok belum
balik-balik ya.” Jawab ardi yang tadi memang tau kemana orang tua ali.
“kalo lo capek disini, gak apa-apa sam, lo pulang aja toh
dirumah sakit juga rame.” Ali merasa tidak enak karena terus merepotkan teman
baru nya.
“nggak apa-apa gue disini aja. Lagian gue di rumah juga
sendiri.” Kata sam lagi.
“emang orang tua lo, kapan balik kesini ?” Tanya ali. Sam tersenyum
getir.
“mereka masih lama balik nya.” Jawab sam singkat. Dari tempat
mereka duduk terlihat ayah dan mama alisa datang dengan sekantong makanan
ringan dan kue.
“nih, dimakan dulu cemilan nya.” Mama alisa memberikan
cemilan untuk mereka.
“iya, nungguin orang sakit, jangan sampai kita nya juga ikut
sakit.” Ayah alisa menambahkan.
Waktu berjalan sangat lambat bagi mereka yang sedang
menunggui kehidupan seseorang. Saat dini hari di sebuah ruangan tempat dimana
alisa di rawat, sebuah tanda-tanda kehidupan muncul, alisa menggerak kan ujung
kelingking nya. Meski lemah setidak nya itu adalah pertanda, sayang nya alisa
hanya terbaring sendiri, mereka yang menunggu sedang bermimpi di luar ruangan.
Hai-hai readers ku tersayang. Terimakasih atas support
kalian semua. Jangan lupa untuk koment dan like novel ini ya bestie. Oh iya, Alhamdulillah
banget nih, sekarang novel CDW (Cinta dua warna) udah di kontrak. Semoga ke
depannya, author semakin baik dalam penulisan ya. Terimakasih noveltoon,
__ADS_1
mangatoon dan semua pembaca. Love you all !!