Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
23


__ADS_3

Rambut alisa di cukur habis guna mempermudah para tenaga


medis mengatasi luka di kepala nya.alat bantu pernafasan dan lain-lain masih


terpasang. Wajah nya masih pucat pasi. Keluarga dan teman-teman alisa juga sam


mengikuti perawat yang mendorong brankar alisa. Sampai di depan pintu ruang


observasi mereka bergantian masuk. Orang tua alisa segera menjadi orang pertama


yang masuk menjenguk alisa di ruangan tersebut.


“alisa, ini mama nak. Cepet sembuh sayang. Mama yakin kamu


pasti kuat. Kamu bukan anak yang lemah. Mama sayang alisa.” Ujar mama nya


sambil berderai air mata. Mama mengenggam lembut tangan alisa.


“ayah yakin, anak ayah adalah anak yang tak terkalahkan. Alisa


pasti bisa melewati ini semua.” Ayah menimpali. Ia lalu mensejajarkan kepala


nya di samping telinga alisa dan berbisik pelan. “masih ada ilham yang menunggu


kamu di rumah.” Alisa masih diam, wajah nya tenang tidak ada reaksi apapun,


detak jantung nya masih berdetak normal. Setelah itu bergantian dengan sam yang


memang belum berbicara dengan alisa, sejak alisa masuk rumah sakit.


“hai, al, ini gue, sam. Banyak banget orang-orang dengan


cinta di sekitar lo. Jangan buat mereka patah hati dengan keadaan lo, al.” sam


menghentikan kalimat nya ia menarik nafas dalam dan tersenyum “gue, bangga bisa


kenal cewek, sekuat elo. Gue harap, lo bisa segera bangun, karena mungkin gue


juga mulai jatuh cinta sama lo, alisa.” Sam lalu mengecup tangan alisa, yang


sontak membuat 4 pria di belakang nya kaget setengah mati.


“what the..”


“sshhhhttttt..” aan tidak melanjutkan umpatan nya karena


tangan ardi yang sudah menutup mulut aan dengan rapat.


“huh, kenapa cinta anak muda begitu rumit.” Celetuk ardi


kemudian. Otomatis tangan ridho mendarat pelan di kepala belakang ardi.


“ih, sentuh-sentuh. Emang eyke cowok apose.” Ujar ardi yang


langsung di lirik tajam ali. Membuat nyali nya menciut dan mulut nya terkunci. Merka


melangkah mendekati sam dan alisa yang masih menutup mata.


“sorry.” Sam mengucap pelan, ia menatap ali ramah. Ali menepuk


pundak sam.


“sejak terakhir kali dia patah hati, dia belum menemukan


seseorang untuk hati nya. Dan sampai terakhir kali kesadaran nya, dia masih


jadi muslim yang baik. Meski, kelakuannya sedikit absurd.” Ujar ali sambil


berjalan kea rah mereka. Dia sadar, rasa cinta adalah hak setiap orang. Jadi tidak


ada alasan bagi nya untuk menghalangi perasaan sam. Apalagi Samuel juga seperti


nya pemuda yang baik walupun usia nya lebih tua.


“haha ridho patah hati nih, berat, berat udah saingan sama

__ADS_1


cowok yang belum tau siapa eh, nambah lagi, saingan sama bos sendiri.” Celetuk aan


lagi. Kali ini ardi langsung membekap mulut laknat aan dan membawa nya keluar


ruangan. Wajah ridho spontan memerah, ia terlihat salah tingkah di depan dua


orang yang usia nya lebih tua itu.


“gue Cuma kagum aja kok sama alisa. Dia cewek yang tangguh,


selalu berusaha tanggung jawab, ceria dan gak mudah menyerah gitu aja.” Ujar ridho.


Dia sadar begitu berat memenangkan hati alisa.


“gue juga udah cukup seneng jadi bestie nya.” Lanjut ridho


lagi dengan lapang dada.


“gak apa-apa kali, dho, kita saling deketin alisa. Toh kita


belum tau siapa pemenang nya, kan.” Ujar sam tersenyum ramah. Meski baru


bertemu, alisa sudah mendapat tempat khusus di hati nya yang pernah terluka


secara tragis. Ali menghela napas. “oke, alisa sayang. Cepatlah bangun, karena


ada tiga orang yang sedang berjuang dapatkan kamu, abang disini, siapa tau kamu


butuh bantuan abang untuk ambil keputusan.” Ali terkekeh lalu mengecup kening


alisa singkat. Hati nya sendu melihat keadaan alisa saat ini. Suara sepatu yang


beradu dengan lantai mendekati mereka. Seorang perawat cantik memasuki ruangan,


ia tersenyum ramah pada semua yang ada di situ.


“permisi, bapak, perkenalkan saya suster namira, saya yang


akan memantau perkembangan ibu alisa untuk selanjut nya.” Suster itu


“terimakasih, suster.” Sahut ali. Lagi-lagi suster tersebut


tersenyum, dia mencatat semua semua perkembangan alisa di catatan rekam medis


nya. “hem, maaf sebelum nya, tapi sebaik nya, ibu alisa jangan banyak di ajak bicara


dulu. Karena ibu alisa masih butuh istirahat.”


“iya, sus, sebentar lagi kami juga keluar.” Kata sam


kemudian.


“baik, terimakasih.” Ujar suster namira dengan ramah lalu


melangkah keluar. Suster cantik itu berpapasan dengan aan dan ardi yang kembali


masuk ruangan alisa.


“ckckck, gitar belanda bro.” ujar aan saat suster tersebut


sudah melintasi mereka.


“eh cobek firaun, dia gitar belanda, gak bakal sudi kenal


sama lo. Tau gak.” Ujar ardi gemas.


“kalo gue dapet, bagi dua ya kita.” Ujar aan seolah tidak


peduli dengan ejekan ardi.


“oke. Deal.” Ardi menjabat tangan aan dengan mantab. Emang kocak


dua sahabat alisa yang ini melawak tanpa kenal tempat dan keadaan. Dengan gemas


ali mengangkat kerah belakang dua pemuda tersebut dan menyeret mereka keluar di

__ADS_1


ikuti oleh ridho dan sam yang menggeleng heran.


ali melepaskan tangannya saat sudah berada di luar.


“apaan sih, bang ? kita belum ngobrol sama alisa nih. Kasian


alisa kalo sampe rindu sama kita berdua.” Cerocos ardi.


“yang ada alisa tambah mumet liat kelakuan lo berdua. Kalo alisa


sadar nih ya, pasti kalian udah di lakban mulut nya sama dia.” Ujar ridho.


“ciee belain.” Goda aan. Ridho melotot membuat aan segera


bersembunyi di balik tubuh ali yang lebih tinggi.


“ih, kalo gue mah udah gue jepret mulut laknat kayak gitu.” Ardi


mengompori.


“udah, udah. Ribut aja. Malu di liat keluarga pasien yang


lain.” Ali menghentikan perdebatan mereka.


“mama sama ayah kemana ya ?” Tanya ali.


“tadi katanya mau ke kantin sebentar, bang. Tapi kok belum


balik-balik ya.” Jawab ardi yang tadi memang tau kemana orang tua ali.


“kalo lo capek disini, gak apa-apa sam, lo pulang aja toh


dirumah sakit juga rame.” Ali merasa tidak enak karena terus merepotkan teman


baru nya.


“nggak apa-apa gue disini aja. Lagian gue di rumah juga


sendiri.” Kata sam lagi.


“emang orang tua lo, kapan balik kesini ?” Tanya ali. Sam tersenyum


getir.


“mereka masih lama balik nya.” Jawab sam singkat. Dari tempat


mereka duduk terlihat ayah dan mama alisa datang dengan sekantong makanan


ringan dan kue.


“nih, dimakan dulu cemilan nya.” Mama alisa memberikan


cemilan untuk mereka.


“iya, nungguin orang sakit, jangan sampai kita nya juga ikut


sakit.” Ayah alisa menambahkan.


Waktu berjalan sangat lambat bagi mereka yang sedang


menunggui kehidupan seseorang. Saat dini hari di sebuah ruangan tempat dimana


alisa di rawat, sebuah tanda-tanda kehidupan muncul, alisa menggerak kan ujung


kelingking nya. Meski lemah setidak nya itu adalah pertanda, sayang nya alisa


hanya terbaring sendiri, mereka yang menunggu sedang bermimpi di luar ruangan.


Hai-hai readers ku tersayang. Terimakasih atas support


kalian semua. Jangan lupa untuk koment dan like novel ini ya bestie. Oh iya, Alhamdulillah


banget nih, sekarang novel CDW (Cinta dua warna) udah di kontrak. Semoga ke


depannya, author semakin baik dalam penulisan ya. Terimakasih noveltoon,

__ADS_1


mangatoon dan semua pembaca. Love you all !!


__ADS_2