
Malam belum berakhir tapi ali sudah gelisah dalam tidur nya.
Ali membuka mata nya. Suara alat-alat rumah sakit, bau obat terasa lebih
menguar di malam hari. Ali terduduk, ia ingin hari cepat berlalu agar alisa
lekas terbangun dan pulih seperti sebelum nya. Untuk saat ini, meski alisa
tampak baik-baik saja tapi semua kemungkinan tetap bisa saja terjadi.
“nggak tidur, li ?” Tanya sam dengan suara serak khas bangun
tidur. Rupa nya sam terbangun karena haus, terlihat ia langsung meneguk air
mineral kemasan di sebelah nya.
“nggak bisa tidur, bang .” jawab ali. Sam terkejut, sejak
kapan ali memanggil dia abang.
“abang ?” sam mengernyitkan dahi. Ali tersenyum. “umur lo
kan di atas gue, masa gue mau kurang ajar.” Ujar ali lagi.
“hehe, bukan karena lo lagi menolak gue secara halus kan.
Ya, kan gue lagi naksir alisa nih.” Kekeh sam. Sam bangkit ia berjalan menuju
ke arah tangga dimana pintu keluar rumah sakit berada.
“kemana ?” Tanya ali penasaran.
“cari angin.” Jawab sam tersenyum. Ali juga beranjak tapi ia
pergi ke ruangan alisa. Tidak tau lagi apa yang harus di katakan kepada adik
satu-satu nya yang terbaring lemah itu. “ayo, kita liat matahari besok pagi,
sa.” Ucap nya pelan lalu kembali mencium kening alisa sedikit lebih lama. Ada
hela nafas yang terasa sangat halus saat ali mendarat kan ciuman di kening
mulus itu. Hela nafas yang tidak ali sadari, karena dia sendiri setiap berjumpa
dengan alisa, melihat kondisi nya selalu menekan detak jantung nya,
menyingkirkan fikiran buruk. Menahan setiap ketakutan di setiap sudut perasaan
nya. Setelah puas memandangi wajah alisa, ali lalu pergi menyusul sam keluar.
Pemuda dengan kaos putih berwajah blasteran, dengan warna
mata abu-abu tampak duduk di taman rumah sakit sambil menghirup nikotin. Dia
lah sam, orang yang telah menjebloskan pembunuh keluarga nya yang sekaligus
jadi pelaku kecurangan dan kejahatan pada alisa. Sambil mengepulkan asap ia
membuka ponsel nya, tertuju pada satu pesan di aplikasi chat nya. Sebuah pesan
yang di nantikan selama sekian waktu. Pengacara nya memberi pesan bahwa sidang
untuk romeo dan damar akan di lakukan, semua bukti sudah lengkap. Pembunuhan
keluarga sam terbukti berencana, juga pembunuhan anjani. Pengacara kepercayaan
sam sudah membuat rencana pemberatan hukum, agar mereka di hukum mati, sesuai
seperti keinginan sam. Sam tersenyum puas menatap layar ponsel. Ali duduk
__ADS_1
berhadapan dengan sam, ia juga menyulut rokok nya.
“orang tua lo kalo boleh tau emang dimana, bang ?” Tanya ali
ia penasaran. Sam menatap langit dengan sendu.
“orang tua gue udah pulang tapi di sana.” Sam menjawab
sambil menunjuk langit.
“gue tau apa yang lo rasain, waktu alisa kecelakaan li.”
Sambung sam lagi. Sam lalu menceritakan kisah hidup nya yang pahit kepada ali.
“ini hp alisa yang kemaren di titip ke gue, alisa merekam kecurangan romeo di
sini, dia nggak kunci layar hp nya. Entah dimana kamera itu di pasang tapi
berkat kecerdasan dia, gue dapet bukti tambahan yang menambah rentetan panjang
kejahatan romeo dan bapak nya.” Sam menyerahkan ponsel alisa kepada sam.
“oh iya, beberapa kali nama ilham menghubungi alisa sejak
kecelakaan. Tapi gue biarin aja.” Ujar sam memberi informasi. Rahang ali
mengeras mengetahui bahwa kejahatan itu datang nya memang dari seorang pembunuh
bukan sekedar memperebutkan piala dan hadiah.
“gue turut berduka, bang. Semoga keluarga lo tenang di
sana.” Ucap ali. Ia ikut iba mendengar cerita kelam sam.
“kalo boleh tau istri pembunuh itu di mana, bang ?” Tanya
ali.
laki laki lain saat romeo berusia 8 tahun, ibu romeo membawa adik nya romeo
yang waktu itu masih usia 3 tahun. Entah dimana mereka sekarang.” Jawab sam.
Tak terasa adzan subuh bergema di masjid rumah sakit. Ali
dan sam segera beranjak kembali ke ruangan tempat alisa di rawat. Orang tua dan
tiga serangkai teman alisa sudah bangun, mereka sedang meregangkan otot bersiap
untuk sholat subuh.
“biar saya aja tante yang jaga alisa, kalian sholat
berjamaah aja.” Ujar sam.
“kamu yakin nggak apa-apa jaga alisa sendiri ?” ayah ali
meyakinkan.
“iya, om.” Jawab sam pasti.
“hoaaamzzzz. Masih subuh udah start duluan aja, bang.”
Celetuk ardi yang langsung mendapat sentilan di mulut nya dari tangan aan.
“hem, kemaren lo marahin gue, sekarang nakal ya mulut lo.
Hem gentian.” Beberapa kali aan menyentil mulut ardi seolah membalas perbuatan
ardi kemaren.
__ADS_1
“aish, apaan sih lo, baskoro.” Ketus ardi menangkis sentilan
aan yang semakin gencar di mulut nya.
“eh kok bawa-bawa nama bapak maen nya.” Aan memasang muka
ketus.
“eh, eh masih subuh ini.” Lerai ali.
“sholat ayo sholat semua, kita doakan alisa segera sadar.” Ujar
ayah alisa mengajak mereka sholat subuh berjamaah di masjid rumah sakit. Tinggalah
sam sendiri, ia melangkah masuk ke ruang alisa.
“morning, strong girl. How about you today ?” sapa sam, yang
di jawab dengan keheningan alisa.
“jika, kamu izinkan, bolehkah aku mengenal mu lebih jauh
lagi. You know what, semenjak pertama melihat mu, aku seperti melihat anjani
dalam dirimu. Mungkin aku tidak akan bersanding dengan mu, tapi setidak nya aku
tidak kehilangan anjani untuk kedua kali nya, meski yang sekarang ku jaga
adalah diri mu. Oh ya, who is ilham ? seharian kemarin dia tidak berhenti
menghubungi mu. Ponsel mu terus bergetar di kantong celana ku, sampai aku sulit
sekali untuk tidur. Dan ketika aku terbangun dia malah berhenti membuat berisik
di ponsel kecil mu itu.” Sam terkekeh. “pasti kamu sangat special untuk nya,
karena seperti nya dia khawatir sekali.” Sam menatap wajah alisa yang tenang
dalam tidur nya.
“hari sudah berganti. Apa kamu tidak ingin memberi kami
kejutan ? wake up, strong girl. Ada banyak orang yang merindukan mu, dan….” Sam
menjeda kalimat nya.
“dan semenjak hari dimana aku bertemu keluarga mu, mereka
sangat hangat. Aku seperti menemukan keluarga baru disini.” Ucap sam sendu. “tunjukkan
padaku dunia mu yang indah itu, alisa. Agar aku tak lagi merasa kesepian.” Ujar
sam. Mata nya berkaca-kaca mengungkap kan betapa hampa hidup nya selama ini. Tinggal
dengan keluarga mike tidak membuatnya merasa sam seperti hidup dengan keluarga
nya sendiri. Budaya luar dan lokal begitu terasa bagi nya yang sudah terbiasa
hidup di Indonesia. Ia membuka ponsel nya, mengetik ini dan itu. “bangunlah,
al, aku punya hadiah untuk mu, satu hadiah adalah untuk anjani dulu belum
sempat aku memberikan nya tapi dia sudah meninggalkan aku. Dan satu lagi, sebagai
pelengkap milik mu nanti.” Sam memajukan wajah nya ke arah kening alisa namun
tertahan, dia menarik kembali wajah nya. “sorry.” Ujarnya pelan. Ia lalu
melangkah keluar ruangan.
__ADS_1
Hadiah apa ya yang mau di kasih sam ? hem… penasaran nggak
sih gaes ?? jangan bosan untuk terus dukung aku ya. Terimakasih semua nya.