Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
bab 5


__ADS_3

Pukul 23.00 sepasang mata masih jernih menatap buku di


tangan nya di garasi. Teman teman nya masih asyik bermain gitar sambil


bersenandung kecil membunuh sepi nya malam. Alisa sesekali mata nya berkaca


kaca membaca setiap baris tulisan di novel dengan sampul bergambar senja


berjudul second hurt. Beberapa kali terdengar alisa terisak.


“gorengan, gorengan !” seru ali yang baru tiba dari stiker


cutting milik nya. Ya ali sudah punya usaha sendiri untuk membiayai hidup nya


lulusan D3 komputer urusan desain grafis dan cetak cetak bukan hal sulit untuk


nya. Koneksi teman temannya juga banyak sehingga usahanya berkembang dengan


cepat. Untuk sekarang dia sudah punya 1 cabang di luar kota yang dia percayakan


pada sepupunya di daerah tersebut.


“sst kenapa tu adek gue ?” Tanya ali pelan pada ridho yang


bermain gitar setelah mencopot knalpot di motornya.


“gak tau. Daritadi begitu. Lagi merenungi dosa kali bang.”


Jawab ridho cuek. Teman teman yang lain pun enggan mengganggu. Pasal nya


menurut mereka sejak mereka datang jam 21.30 tadi, alisa sudah ada di garasi


dan membaca buku itu. Awal nya mereka melihat alisa tersenyum senyum. Lama lama


alisa sesekali menangis. Mereka tidak ada yang bertanya hanya sekedar menyapa


dan alisa menanggapi nya dengan singkat. Begitu serius nya alisa dengan novel


duka itu.


“dek, gorengan dek. Baca novel mulu lo. Jauh dari jodoh tau


nggak.” Ali menawarkan makanan yang di bawanya pada alisa. Di garasi itu ada


ridho, dan ardi.


Alisa menoleh dengan mata yang basah “iya, bang.” Ia


menjawab pelan. Menutup buku nya lalu beranjak. Mengambil satu gorengan berikut


dengan cabe rawit nya.


“enak, bang.” Komennya saat sudah memakan 5 gorengan sampai


sendawa.


“astaghfirullah aladzim. Laper apa doyan sa ?” Tanya ardi


sambil menggelengkan kepala.


“gue sih makan dua juga udah kenyang.” Sahut ali


“gue Cuma makan dikit tadi bang pas makan malem. Keburu mau


baca novel. Eh si kampret, novel nya malah menyedihkan. Terkuras deh energi


makan yang gak seberapa tadi.” Jelas alisa.


Sementara di sebuah rumah yang lain nya seseorang sedang


uring uringan. Ia menutup buku nya dengan kasar dan langsung menaruh nya di


meja yang agak jauh dari tempat tidur nya.


“fiksi sih fiksi, tapi kalo 18 pluS-plus gimana mau


bacanya.” Ucap ilham dengan wajah memerah. Menahan malu di dalam kesal nya.


Buku sampul putih dengan judul terdampar di desa seribu wanita ia letakkan


begitu saja. Ia pun segera mencoba tidur. Berharap tidak lagi menemukan buku


itu pagi hari nanti. Ilham adalah cowok alim yang menjauhi segala hal berbau


dosa. Tidak merokok, tidak minum-minuman keras dan tidak pacaran. Ketika ia


menemukan seorang yang di anggap nya tepat ia akan mengajak perempuan itu


menikah. Tapi harapan nya malam ini untuk tidak menyentuh buku yang di pinjam


nya dari alisa tinggal harapan. Hatinya bimbang. Ingin tidur tapi penasaran


bagaimana kelanjutan cerita itu


.


……………


“jadi, tadi sore ilham kesini sa ?” Tanya ali.


“iya bang. Eh udah wangi gue malah di siram sama suwardi. Di


kira gue kesurupan. Gila gak tu ?” gerutu alisa mengingat kejadian tadi sore


“hahahaha padahal kalo ketemu setan, lo yang bikin setannya


kesurupan ya.” Ridho menimpali


“enak aja, bacot lo kalo ngomong. Ngomong apa nggonggong lo


?” alisa melempar sandal ke ridho.


“terus, lo pinjemin buku yang mana ?” ali penasaran. Dia tau


beberapa novel koleksi alisa ada 18 plus-plus nya yang tentu saja di simpan


rapi tanpa sepengetahuan orang tua nya.


“terdampar di desa seribu wanita.” Ucap alisa sambil menggerak


kan tangan nya ke atas kepala membentuk setengah lingkaran. Suara nya di buat


se dramatisir mungkin. Ia menaik turunkan alis nya sambil melirik ali.


Mendengar itu ali yang sedang minum langsung menyemburkan air di mulut nya.


“HAHAHAHA gila. Parah lo, sa. Cowok kalem gitu lo kasih buku


bacaan keras. Mabok dah tu anak orang.” Ali menggelengkan kepalanya. Tidak


habis pikir alisa akan meminjam kan buku dengan cerita erotis yang lumayan.


“eh pinjem gue buku nya, Penasaran gue.” Pinta ardi dengan


wajah tengil nya.


“gak gak. Jangan, jangan. Bahaya bisa rusak anak orang. Lo


lagi mau pdkt sama anak mpok ipah kan lo.” Ucap ridho membuat mereka melotot ke


arah ardi


“ckckckck” ali dan alisa berdecak sambil menggelengkan


kepala.


“doyan lo ?” celetuk ali heran.


“eh, anak mpok ipah kan udah gak segel. Baek-baek lo, ntar


dia tekdung hamidun sama siapa, lo lagi yang di suruh jadi bapak nya.” Alisa


menasehati


“jadi kalo hamidun tekdung, ntar nama lo ada tu di gulungan


kertas dalem gelas. Di kocok kayak arisan.” Ridho tertawa membayangkan nasib


buruk temannya yang belum tentu terjadi. Sudah jadi rahasia umum bahwa riska,


anak mpok ipah sering berganti ganti pasangan. Bahkan beberapa tetangga menduga


gadis yang berumur 21 tahun itu bekerja sebagai PSK. Karena sering pulang pagi,


bahkan beberapa hari tidak ada di rumah dan pulang dengan orang dan kendaraan


yang berbeda-beda.


 “maen kartu yuk. Pas


nih ber 4.” Ajak ardi. Dia melangkah mengambil tumpukan kartu remi di etalase.


“yang kalah makan ampas kopi, nongkrong sambil pake helm


ya.” Alisa memberi ide.


“beuh gila, banyak amat hukuman nya.” Protes ridho


“ya biar seru lah.” Ujar alisa lagi


“nanti nangeesss !” seru cowok cowok itu kompak sambil


tertawa.


Akhirnya mereka membunuh malam dengan bermain kartu remi


sampai pagi. Entah berapa kali mereka saling bergilir mendapat hukuman. Meski


kehidupan para remaja tanggung ini terlihat urakan tapi mereka tidak bermain


dengan minuman keras, obat terlarang apalagi **** bebas. Mereka juga meski


bolong-bolong tetap melaksanakan sholat 5 waktu.


Kukuruyuuukkk !!


Suara ayam menjadi tanda subuh segera tiba.


“jam 4 gais. Gilaaa….” Ucap alisa sambil meregangkan tangan

__ADS_1


ke atas lalu berdiri dari duduk nya.


“bubar bubar !” seru ali membereskan kartu yang berserak.


“jangan tidur lagi dek. Subuhan lo. Udah berapa abad coba lo


gak subuhan. Mau jadi pengantin nya firaun lo di neraka.” Ucap ali mengingat


kan.


“aamiin !” sahut ardi dan ridho kompak sambil tertawa


Alisa mendelik “sialan kalian.” Ucap alisa. ia melangkah


masuk hendak bersiap siap untuk sholat subuh. Mama dan ayah alisa juga sudah


bangun. Alarm nya akan selalu berbunyi jam 4 pagi sehingga akan cukup waktu


untuk mempersiapkan semuanya.


“sholat, sa.” Tegur mamanya saat melihat alisa melangkah


menuju kamar.


“iya, ma.” Jawab alisa yang berjalan sambil terkantuk


kantuk.


JEDUG !!


“astaghfirullah aladzim !” seru mama alisa kaget. Ia segera


berlari keluar kamar dengan di ikuti ayah alisa. terlihat alisa berdiri di


depan tembok di samping pintu kamar nya yang tertutup.


“kamu ngapain disitu, sa ?” Tanya ayahnya


“nyuci piring.” Jawab alisa singkat orang tua nya mendadak


bengong.


“KEJEDOT NI LHO YAH. SAKIIIITTTT !!! huhuhuhuhu….” Jawab


alisa lagi dengan emosi sambil membalik badan. Kening nya memar merah karena


beradu dengan tembok.


“ini siapa juga yang narok tembok di sini ?!” omel nya lagi


sambil masuk ke kamar.


“emang dari dulu di situ kali, sa. Mata lo aja yang merem


pas jalan.” Ujar ali saat masuk ke rumah hendak bersiap sholat subuh. Ia


berjalan bersama ridho dan ardi.


“kalian mau sholat juga ?” Tanya ayah pada cowok cowok itu.


“iya yah.” Jawab mereka kompak.


“ya udah kalo gitu sholat di ruang tengah aja. Kita jamaah


bareng.” Ucap ayah.


Setelah bersiap siap dengan drama kecil mereka pun


melaksanakan sholat subuh berjamaah.


………


“ridho gimana kerjaan kamu di dealer motor itu ? masih


lancar ?” Tanya ayah saat mereka semua sarapan bersama. Mama alias mengajak


teman teman alisa untuk sarapan bersama.


“Alhamdulillah lancar om. Sekarang ridho jadi kepala mekanik


di sana.” Jelas ridho dengan senyum bangga.


“wah udah siap cari calon istri berarti kalo kerjaan udah


jelas.” Gurau mama menggoda ridho.


“nanti deh tante. Ridho masih pengen bebas.” Jawab ridho


sambil cengar cengir.


“nungguin anak mpok ipah dia te.” Celetuk ardi menahan tawa.


“lah bukan nya elo di yang pedekate sama si riska ?” skak


mat ali


“oooo semprul ! gue gak pedekate sama dia ya.” Bantah ardi


membuat mereka tertawa.


“ya ampun sampe mpok ipah pun di bawa coba ke meja makan.”


Mama alisa tertawa mendengar candaan segar mereka. Pagi ini rumah terasa ramai


menginap. Malah beberapa di antaranya sudah berkeluarga.


Ayah alisa pun bertanya ke teman teman alisa yang lain tentang


kesibukannya. Bukan tanpa tujuan ayah alisa menanyakan hal itu. Ia ingin agar


alisa juga termotivasi punya kesibukan seperti teman temannya.


“kalo kamu sa, kamu mau gimana untuk ke depannya nanti ?”


Tanya ayah nya.


Alisa diam sejenak, ia tampak ragu dengan jawabannya.


“alisa pengen punya bengkel sendiri yah.”


Jawab alisa. Ayah nya diam. Ia memandang lekat alisa sambil


meletakkan sendok di atas piring yang sudah kosong itu.


“kamu yakin ?” Tanya ayah nya. Mendengar ayah nya tidak


marah dan protes alisa sumringah.


“iya yah.” Yawab nya semangat sambil mengerjap senang.


“boleh ya ?” pinta nya lagi.


“kamu gak pengen kerja di toko mama aja. Toko mama ada 4


lho. Kamu bisa jadi bos langsung sa.” Ujar mamanya.


“nggak ah ma. Alisa mau bengkel aja. Nanti ardi juga bantu


alisa di bengkel kok yah. Aan juga kata nya kalo pas dia libur. Kalo ridho


alisa larang keras masuk bengkel. Nanti rusuh.” Jelas alisa terkekeh membuat


ridho manyun.


“serius amat lo sa. Gak mungkin lah gue mau gratisan bener


ganti oli nya. Ya walaupun kalo di kasih gue juga gak nolak sih.” Ridho nyengir


sambil meletakkan piring kotor nya di atas piring kotor yang lain yang akan di


cuci oleh mama alisa.


“ya udah sa, nanti kita bahas lagi. Ayah sama mama mau


berangkat kerja dulu keburu telat.” Kata ayah nya yang memang sudah rapi pagi


itu. Mama nya juga sudah selesai membereskan meja makan.


“ridho, ardi, nanti kalo mau makan siang semua tante tarok


di lemari ya.” Kata mama alisa memberi tau agar mereka tidak sungkan makan


dirumah. Jaga jaga kalo mereka di rumah alisa sampai sore.


“iya tante. Nanti kita langsung pulang kok tante soal nya


ridho kerja nanti.” Ujar ardi


“oke. Ali jangan lupa alisa kasih makan. Biar waras.” Mama


nya terkekeh sambil mengambil tas tangan di ruang tengah.


“siap ma.” Ucap ali yang mengantar mama nya ke depan bersama


alisa dan yang lain. Mendengar itu langsung alisa memukul lengan ali dengan


keras


PLAKK !!


“aw, sakit bego.” Ucap ali meringis kesakitan sambil


mengelus lengannya yang merah bergambar tangan alisa.


“sukur. Rese sih lo.” Ujar alisa manyun.


“mama berangkat ya assalamualaikum.” Ucap mama nya dari


dalam mobil


“wa alaikum salam.” Jawab mereka kompak.


“sa, kalo gitu gue sama ardi balik dulu deh. Udah siang.”


Pamit ridho kemudian.


“oke.” Kata alisa.


……………

__ADS_1


Ilham membawa buku novel alisa ke tempat kerja nya dia


berniat mengembalikan buku itu hari ini sepulang kerja. Dia akhirnya memutuskan


untuk menutup buku nya dan tidak akan meminjam buku lagi dari alisa. Tapi entah


kenapa di kerjai sebegitunya bukannya marah ilham malah tersenyum dan geleng


geleng kepala sendiri.


“alisa, alisa masih suka jail juga kamu.” Gumamnya


“assalam mualaikum mas ilham. Kok masih pagi senyum senyum


sendiri.” Sapa seorang gadis. Suara nya terdengar lembut dan ceria. Hijab


pashmina nya sangat serasi sekali dengan pakaian batik, seragam kerja yang ia


gunakan hari ini. Sepasang lesung pipi menambah manis senyumnya. Postur


tubuhnya tidak gemuk, juga tidak kurus sangat pas di pandang mata. Tutur kata


nya sopan menggambar kan wanita remaja yang beranjak dewasa tanpa beban.


“wa alaikum salam.” Jawab ilham juga tersenyum.


“nih buku yang mas ilham pinjemin berapa waktu lalu. Aku


udah baca semua. Sampai nangis nangis aku di buat nya.” Jawab anisa, gadis


cantik berhijab itu sambil terkekeh dan meletakkan buku novel dengan judul


ketika cinta bertasbih karya habiburrahman el shirazy.


“ya, emang sedih banget cerita itu sa. Kayak drakor drakor


yang sering kamu tonton.” Gurau ilham lagi. Saat ilham memanggil ‘sa’ rasanya


seperti alisa yang di hadapannya. Tapi segera ia tepis perasaan aneh itu dengan


istighfar di hati nya.


“assalam mualaikum anisa. Duh masih pagi udah dua dua an


nih.” Canda aris di meja kerja nya yang di belakang ilham. Usia aris Sahabat


ilham yang terpaut 2 tahun. Meski lebih tua aris. Tapi, ia tidak mau di panggil


mas, abang atau kakak oleh ilham. Alasannya dia bukan senior ilham. Jadi


panggil nama aja biar akrab. Begitu kata nya.


Aris juga sudah menikah 12 bulan lalu alias 1 tahun tapi


sudah di karuniai putri cantik yang berusia 6 bulan. Ayo…. Pasti pembaca


bingung dan langsung ngitung ya. Nikah 12 bulan, kok anak nya usia 6 bulan. 3


bulannya kemana tuh. Hehe


Ya tidak ada yang menjamin sebaik baik manusia, ketika nafsu


yang bebicara maka bayi nyicil adalah jawabannya. Ya, istri aris sudah hamil 3


bulan saat aris menikahi nya.


“mas aris mau di duain ?” canda anisa kemudian


“ih serem banget doa mu nis pagi pagi.” Ucap aris sambil


mengelus dada. Membuat anisa dan ilham tertawa.


“makanya ris, jangan sembarang ngomong. Ruangan serame ini


kok di bilang berduaan.” Ilham masih terkekeh. Sambil membuka file pekerjaan


nya di laptop di depan nya.


“tau nih mas aris. Pengen berduaan ma nisa kali, awas nis,


di jadiin istri kedua nya nanti.” Celetuk risma, wanita muda berusia 19 tahun,


bertubuh subur dan memakai kacamata. Ia tertawa meledek senior nya. Dia memakan


cemilan sambil bekerja menginput data nasabah.


Anisa masih tertawa “udah ah, nanti ada pak bos gak enak.


Gibah terus. Aku mau kerja lagi.” Pamit nya sambil kembali ke meja kerja nya.


Di sebelah risma. Agak jauh dari tempat ilham dan aris.


“Ciyeeee… masih pagi kali bu…” canda risma terkikik menggoda


anisa. Yang di goda tersenyum sambil menunduk. Di wajah nya terlihat rona merah


menggambarkan betapa riang nya hati nya siang.


Sejak awal bertemu ilham sebagai junior di bank syariah


tersebut hati anisa sudah tertaut pada sosok ilham. Pembawaannya yang tenang,


ceria dan mudah bersahabat. Semua menarik perhatian nya. Anisa bahkan sering


berandai andai jika suatu hari nanti bisa memenangkan hati nya.


Sore hari saat jam pulang kantor. Ilham sudah berniat akan


mengembalikan buku alisa hari ini. Ia berjalan kea rah parkiran motor di depan


nya anisa berjalan santai hendak memesan ojek online ketika tiba tiba seorang


lelaki berwajah tampan mendekati nya mendadak keringat dingin membasahi kening


anisa. Laki laki itu menyeringai menatap nya. Anisa ketakutan


“ngapain kamu disini ?” anisa bertanya dengan gemetar. Ia


mendekap tas tangannya di dadanya. Dan mulai berjalan mundur.


“jangan gitu dong nis, kan aku datang baik baik. Kok kamu


galak sih.” Ucap laki laki itu tersenyum miring dan terus berjalan mendekati


anisa


“aku Cuma mau Tanya aja sama kamu. Kemana..”


“mau pulang bareng nisa ?” Tanya ilham tiba tiba. Memutus


ucapan laki laki itu yang sepertinya akan menanyakan sesuatu. Wajah anisa sudah


pucat pasi. Bahkan sudah menggenang air mata di ujung mata nya.


Anisa mengangguk, dari wajahnya terlihat ucapan terima kasih


yang tidak di ucapkan. Ia bersyukur ilham datang di waktu yang tepat menolong


nya. Anisa langsung menghindari tatapan datar laki laki itu dan naik ke


boncengan motor ilham. Detak jantungnya yang tadi bertalu karena ketakutan kini


kembali berdebar karena jarak nya yang sedekat ini dengan ilham. Tak jarang


baju mereka bersentuhan saat tiba tiba ilham ngerem mendadak karena sesuatu di


jalan.


“yang tadi siapa nis ?” Tanya ilham kemudian, setelah di


rasa anisa cukup tenang.


“a.. aku gak ta.. tau mas.” Anisa tergagap menjawab nya.


Mungkin karena sebegitu takut nya.


“oke.” Jawab ilham menghela napas. Sebenarnya dia masih


penasaran siapa laki laki yang sudah membuat anisa setakut itu. Tapi toh itu


juga bukan urusannya.


“aku mau mampir dulu ke rumah temen. Kamu gak apa kan ikut


sebentar nanti langsung aku antar pulang setelah itu.” Ilham memberi tau anisa.


“temen ?!” seru nya terkejut. Ilham tersenyum, anisa melihat


senyum indah itu dari spion motor. Anisa bucin mati seperti nya sama ilham jadi


dilihat dari segi dan sudut manapun ilham tetap menarik di mata nya.


“tenang aja, temen ku cewek kok. Sama kayak kamu. Cuma beda


sedikit lah.” Jelas ilham. Menjelaskan sosok alisa membuat hati nya terasa


berbeda. Tidak ada yang tau kan sejak kapan temen bisa jadi demen hehe.


Anisa hanya membulatkan mulut nya sambil tersenyum. ‘temen ?


cewek ? huh, semoga beneran temen dan bukan pacarnya. Eh, ilham kan gak pacaran


hihi.’ Ucap nya dalam hati. Mendengar ilham akan menemui wanita lain membuat


hati nya terasa sedikit ngilu. Cepat cepat ia menepis pikiran yang akan membuat


nya mundur sebelum perang. No, anisa adalah wanita pantang menyerah yang selalu


mendapatkan apa yang ia mau dengan “kerja keras”. Ia juga selalu berpikir


positif dengan apa yang di hadapi nya. Meski kadang terlalu positif justru


malah mendapat hal yang gak positif positif amat sih.


Terimakasih untuk kalian yang sudah mau membaca tulisan ini.


Jangan lupa tinggalkan jejak komentar nya ya bestie biar aku selalu bias


memperbaiki setiap kekurangan kekurangan aku.

__ADS_1


Ambil sisi positif dari cerita ini yang negative jangan ya..


yuk dilanjut ke bab selanjut nya.


__ADS_2