
"ma... mama.. mama tau ?!"
tanya ali gugup menjawab pertanyaan mama nya.
"cepat, ali !" seru mama
nya panik.
"rumah sakit dirgantara,
ma." jawab ali lesu. sambungan telepon langsung terputus. mama dan ayah
yang panik langsung menuju ke rumah sakit tempat alisa di rawat. mereka memakai
taksi online yang di pesan via aplikasi. Kondisi jalanan yang tidak terlalu
padat, membuat ayah dan mama cepat sampai di lokasi rumah sakit. Ponsel ali
kembali bordering, kali ini ali tidak akan pernah mengabaikan ponsel nya lagi.
“assalamualaikum, ma.” Sapa ali.
“mama udah di lobi rumah sakit.”
Ujar mama nya singkat hingga lupa mengucap salam. Tanpa mematikan sambungan
ponsel ali langsung berjalan ke lobi menjemput kedua orang tua nya.
“maaf, ayah.” Ujar ali sambil
menyalami tangan kedua orang tua nya. Air mata kembali luruh di kedua pipi
tampan nya.
“ali…. Ali gagal jaga alisa, ma.
Maaf… maaf.” Ali terisak memeluk mama nya. Ia terus menangis di pelukan hangat
wanita yang sudah melahirkan nya. Mencari sedikit kekuatan di sana. Ayah nya
menarik nafas berat, ia tahu meski hamper setiap hari ali dan alisa sering
meneriaki satu sama lain, tapi rasa sayang mereka tidak main-main.
“sudahlah, ali. Ayo kita temani adik
mu sampai sembuh. Ayah yakin dia tidak selemah yang kamu pikir. Dia sudah
pernah jatuh berkali kali, kan ? bahkan saat ujian SMA dia harus sekolah
memakai tongkat karena tulang kering nya retak dan harus di gips. Apa kamu juga
ingat waktu dia bertengkar waktu kecil rebutan sepeda dengan Bianca, anak nakal
tetangga sampai kepala alisa harus di jahit, karena bocor di lempar batu. Dan
kamu sudah berencana menyeret Bianca di jalanan, tapi ternyata tulang hidung
Bianca retak karena tinjuan alisa.” Ayah nya mencoba meredam kekhawatiran diri
nya dan keluarga nya. Ia mencoba membangkitkan ingatan tentang alisa. Bahwa,
luka tidak pernah benar-benar merenggut nyawa nya.
“iya, yah. Mama yakin, alisa pasti
baik-baik aja. Menghadapi preman atau siapapun yang badan nya lebih besar pun
dia sanggup, kali ini pasti alisa akan kembali pada kita. Jika hanya
perban-perban kecil, itu sudah jadi kebiasaan nya juga, kan.” Mama menghela
nafas. Menghibur anak tertuanya.
“ayah, mama..” ali melepas pelukan
dan memandang wajah kedua orang tua nya, sebelum akhirnya ia menunduk dan
kembali terisak.
“a..alis..alisa… alisa di sabotase,
__ADS_1
ma. Tangan dan kaki nya di… di sayat waktu lomba, dan dia….. dia sengaja di
senggol motornya sampai alisa lepas kendali terus jatuh, huhuhu…” ali menangis,
“dia pendarahan di kepala, ma….
Hiks..” lanjut nya lagi. Dunia nya gelap mengingat kembali apa yang dokter
sampaikan. Orang tua ali seketika terdiam membeku di tempat nya berdiri.
“sudah, ayo kita tunggui alisa.”
Ajak sang ayah. Sekarang, tidak hanya wajah ali yang basah, air mata mama nya
pun sudah tumpah. Berkali kali ayah alisa memejamkan mata menguatkan hati.
Sampai di depan ruang operasi, terlihat teman-teman alisa masih menunggui.
Mereka terlihat ketakutan dan merasa bersalah pada orang tua alisa. Bergantian
menyalami tangan kedua orang tua alisa, tak terkecuali sam. Lalu sam
memperkenalkan diri nya sendiri dengan singkat. Sudah kurang lebih 4 jam sejak
alisa di bawa masuk ke ruang operasi. Lampu di depan pintu operasi masih
menyala merah, pertanda operasi belum selesai di lakukan. Kehadiran orang tua
nya tidak serta membuat ali berhenti mengkhawatirkan adik nya. Jauh di dalam
hati nya, dia masih mengutuk diri nya sendiri. Mereka yang cemas terus
melantunkan doa dalam hati masing-masing.
“gue keluar sebentar ya, bro.” sam
menepuk pundak ali yang masih tertunduk, duduk di sebelah nya. Ali mendongak,
tersenyum kecil.
“kemana, bang ?” Tanya aan
“nggak deh, nitip rokok ya, bang.”
Jawab aan. Ia mengeluarkan dompet dari saku celana nya yang langsung di tolak
oleh sam.
“simpen dompet lo, biar pakek duit
gue aja. Kalian kan tamu di rumah gue.” Jawab sam tersenyum ramah.
“makasih, bang.” Aan tersenyum
merasa tidak enak dengan teman baru yang ternyata juga atasan ridho. Ali lalu
melangkah kan kaki keluar, kedua orang tua ali juga berpamitan. Mereka hendak
melaksanakan sholat dzuhur di mushola rumah sakit.
“ali disini aja, yah. Nanti gentian
aja sholat nya.” Ujar ali yang mata nya sudah membengkak karena menangis terus
menerus. Orang tua ali pun segera pergi menuju mushola, mereka berdoa dengan
khusuk untuk kesembuhan anak gadis nya. Setelah sholat mereka kembali menunggui
alisa bergantian dengan ali,aan, ardi dan ridho untuk sholat. Saat hanya
berdua, sam kembali dari kantin ia membawa kantong plastik yang cukup besar
terlihat isi nya beberapa nasi bungkus, air mineral, dan makanan ringan sekedar
untuk cemilan.
“yang lain kemana, om ?” Tanya sam
pada ayah alisa.
“sedang sholat. Kamu nggak sholat
__ADS_1
nak ?” ayah alisa balik bertanya. Sam tersnyum, ia meletak kan kantong plastic
di dekat duduk orang tua alisa.
“saya kristiani, om.” Jawab nya.
“oh, maaf saya nggak tau.” Ujar ayah
alisa.
“nggak apa-apa om, wajah saya emang
islam able banget hehe.” Sam terkekeh. Ayah alisa juga tersenyum lebar.
“makan siang dulu, om, tante, sam
beli nasi padang di kantin. Tapi maaf kalo mungkin ada yang gak di suka, soal
nya, sam nggak tau.” Sam menawarkan makanan yang di bawa nya pada orang tua
alisa.
“iya, makasih ya, sam. Nanti tante
makan, tante masih menunggu kabar alisa.” Ujar mama alisa dengan mata
berkaca-kaca.
“alisa baik-baik aja, tante. Sam
yakin, dia gadis yang kuat.” Suara sam serak ketika mengatakan alisa gadis
kuat, sejenak ingatan nya melayang pada sosok anjani, yang lemah lembut.
“iya, ma. Makan lah dulu, nanti mama
sakit.” Bujuk suami nya. Terlihat dari ujung tangga ali dan teman-teman alisa
sudah kembali dari ibadah dan langsung bergabung dengan mereka. Sam segera
meminta mereka untuk mengisi perut karena sudah waktu nya makan siang. Dengan
segala bujuk rayu akhir nya mama alisa pun mau makan, meski hanya sedikit.
Bertepatan selesai makan siang.lampu ruang operasi yang tadi menyalah merah
berganti hijau, tidak lama mati dan seorang dokter keluar. Memanggil keluarga
alisa.
“saya orang tua nya, dok.” Ayah
alisa memperkenal kan diri.
“puji tuhan, pak, operasi anak bapak
berjalan lancar. Hasil ct scan tidak ada yang menunjukkan indikasi berbahaya,
pendarah di kepala nya juga sudah berhenti. Namun, untuk sementara kondisi nya
belum stabil, dia masih harus melewati masa kritis pasca operasi dulu. Baru
nanti kita lihat lagi perkembangannya.” Jelas dokter dengan name tag Antonius
tersebut.
Semua mengucap syukur, meski belum
sepenuh nya sadar, setidak nya keyakinan mereka untuk kesembuhan alisa sudah
bertambah persentase nya.
Terlihat 2 perawat mendorong brankar
yang berisi alisa di atas nya, mereka akan membawa alisa ke ruang observasi
terlebih dahulu, sebelum nanti nya di pindahkan ke ruang perawatan. Saat alisa
sudah sepenuh nya keluar dari ruang observasi, semua nya terkejut dengan penampilan
baru alisa. Dan itu, spontan membuat ali kembali menangis tersedu.
__ADS_1