Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
29


__ADS_3

Ya, hati ali sudah menemukan setitik sinar yang mungkin bisa


di jadikannya tempat bersandar. Meski belum jelas liku perjalanan nya setidak


nya tempat yang di tuju sudah tampak. Pertemuannya dengan suster namira yang


menangani alisa waktu di rumah sakit kota S Nampak membekas di hati nya. Tanpa


sepengetahuan yang lain, malam sebelum dia menemui sam di taman ia memberanikan


diri meminta kontak whatsapp ke suster manis suku jawa itu. Bagai gayung


bersambut, suster namira juga memberi dengan mudah nya nomor hp yang dia


miliki, hingga sekarang ali sedang bertukar pesan dengan nya, saling mengenal


masing-masing.


“asik banget lah ya, sampe sepi bener kayak nya dunia.”


Sindir aan yang melihat ali masih fokus pada ponsel nya.


“betina mana sih, li ?” sam mendekat, ia penasaran dengan


tipe perempuan ali.


“bukan siapa – siapa.” Jawab nya sambil mengulum senyum dan


mengantongi ponsel nya sebelum jiwa kepo pejantan muda itu meronta. Di kamar


alisa kehebohan madam sri sedang terjadi melihat keluarga lengkap ilham dating


menjenguk, membuat mama alisa beberapa kali tersenyum kikuk dan meremas ujung


baju.


“assalamualaikum !” ucap keluarga ilham saat masuk ke kamar


alisa.


“waalaikum salam !” jawab yang di ruangan,


“Aduh, orang ganteng bertaburan. Cucok banget sih hari ini


!” suara cetar madam sri yang menampakkan wajah sumringah melihat ayah ilham


memasuki kamar di ikuti seluruh anggota keluarga yang lain. Pak hendra  sedikit terkejut melihat penampilan laki-laki


feminim di hadapannya.


“nggak apa-apa yah, udah jinak kok. Itu temen mama alisa.”


Bisik ilham lembut di telinga ayah nya.


Pak hendra mencoba tersenyum ramah. Alisa Nampak bingung


dengan kehadiran ilham dan keluarga nya. Ia merasa asing dengan keluarga ilham.


Setelah bersalaman aisah langsung menghampiri alisa yang sudah di rindukannya


beberapa hari ini.


“mbak alisa gimana keadaan nya ?” Tanya aisah pelan. Ia


meraih tangan alisa, hati nya begitu terenyuh, iba saat melihat kondisi alisa


yang tanpa rambut di hiasi dengan jahitan yang melintang di bagian kepala nya.


Ia tahan air mata yang sudah lebih dulu berurai di dalam hati nya agar tak


muncul di mata nya.


“aku baik-baik aja. Maaf tapi kamu siapa ya ?” Tanya alisa


bingung. Aisah tersentak, ia menoleh ke belakang dimana keluarga sedang duduk


berjajar dengan keluarga alisa, Nampak ilham juga mengerutkan dahi, bingung.


“benturan di kepala alisa cukup keras, ada beberapa memori


nya yang hilang, tapi kata dokter, insya Allah alisa akan kembali ingat lagi.”


Jelas mama alisa mencoba untuk tersenyum. Ibu lidya, mama ilham segera


beranjak. Ia berjalan ke ranjang alisa. Dengan senyum tulus seorang ibu, ia


meraih tangan alisa yang tidak di genggam aisah. “saya, ibu nya ilham, ini


aisah adik nya ilham. Dan yang disana ayah nya ilham. Kita pernah bertemu


beberapa kali, kamu juga pernah pergi dengan ilham dan aisah waktu itu, belum

__ADS_1


lama ini, kalian bertiga juga pergi ke panti asuhan untuk mengunjungi anak-anak


disana, waktu aisah ulang tahun.” Ibu ilham menjeda kalimat nya, ia menarik


napas, dan dengan senyum yang sama, ia mengusap lembut tangan alisa. “ nggak


apa-apa kamu nggak inget itu, jangan di paksa, nanti juga kamu inget lagi.” Ibu


ilham menghibur alisa.


“maaf tante, alisa lupa.” Ujar alisa merasa bersalah. Ibu


ilham yakin ada perasaan khusus yang di pendam ilham untuk alisa, begitu juga


sebalik nya  Meski ilham belum bercerita.


Ia sendiri pun sudah merasa alisa anak yang baik sejak pertama kali bertemu.


Ibu ilham masih mengusap punggung tangan alisa.


“mbak, nanti kalo mbak udah sembuh, kita main lagi ya. Kita


motoran berdua aja.” Ujar aisah menghibur alisa yang terlihat kaku menanggapi


ibu nya.


“kita pernah naik motor berdua ?” Tanya alisa heran.


“hehe, belum sih, baru rencana kita aja. Belum realisasi.”


Aisah nyengir menunjukkan deretan gigi nya.


“ehem.” Terdengar deheman mengancam dari ilham mendengar ide


aisah mengajak alisa berkendara roda dua.


“mas ilham sih nggak usah di ajak, dia nggak berani kebut.”


Bisik aisah di telinga alisa. Ibu ilham terkekeh mendengar ucapan anak gadis


nya.


“kebut ? ilham ?” alisa memejamkan mata sampai mengerutkan


dahi. Seperti nya ia mulai mengingat sesuatu.


“mbak, mbak, mbak nggak apa-apa ? ma…maaf. Mbak.” Panggil


raut wajah alisa. Tangan aisah tiba-tiba di hempas, dan alisa mulai memegang


kepala yang terasa berdenyut. Ilham dan mama alisa seketika bangkit bersamaan


dan berjalan kea rah alisa.


“ah, kamu sih dek.” Ucap ilham kecewa.


“maaf.” Air mata aisah mulai menggenang.


“alisa.” Pamggil 2 orang ibu bersamaan, yang satu mengusap


tangan yang masih di genggam, sedang mama alisa mengusap punggung alisa.


“ma, ma…ma.” Ujar alisa terbata. Aisah masih menunduk dengan


air mata yang sudah berurai.


“iya, nak. Apa, kenapa ?” Tanya mama nya, mama alisa


khawatir, hanya saja menurut penjelasan dokter, memang sedikit ada rasa sakit


saat nanti alisa mulai mengingat satu persatu kejadian yang di alami, dan itu


adalah sebuah kondisi yang menunjukkan kesembuhan selama tidak sakit


berlebihan.


“motor, ugh.” Alisa mengerang masih berusaha mengingat.


“motor, dia, dia, ma, pa, abang.” Ulang alisa lagi


terbata-bata. Masih berusaha mengingat.


“yah, tolong panggil ali di garasi coba, yah. mungkin dia


tau sesuatu.” Kata mama alisa. Segera ayah alisa memanggil putra nya. Para


pemuda itu ikut memenuhi kamar alisa. Dengan menjaga jarak dengan madam sri


yang duduk tenang di tikar tentu nya.


“alisa.” Ali mendekati adik nya yang mulai tenang dengan

__ADS_1


mata terpejam itu.


“eungh.” Alisa melenguh lalu perlahan membuka mata.


“bang, motor, motor aku. Aku, cowok itu, cowok itu curang,


iya, bang. Iya, dia curang.” Alisa mulai mengingat kejadian dimana dia


terjatuh.


“tapi aku lupa, siapa dia. Aku belum inget wajah nya, bang.


Aku ikut lomba, tapi aku lupa. Aku belum inget.” Ucap alisa yang belum ingat


sepenuh nya.


“pelan-pelan aja. Nanti kamu pasti bisa inget lagi


semuanya.” Ujar sam yang juga turut berdiri di dekat ali. Alisa mengangguk


pelan, ia menerima segelas air putih yang di sodorkan mamanya. Lalu menarik


nafas menenangkan diri,


“jangan dipaksa, alisa. Nanti pelan-pelan kamu pasti inget


lagi.” Ujar mama alisa.


“mbak, maaf.” Aisah berucap sesenggukan. Tanpa di sangka


alisa justru malah memeluk aisah.


“aku belum inget cerita kita, tapi liat kamu sayang banget


sama aku, pasti cerita kita berkesan banget ya, sampai cewek alim kayak kamu


sayang banget sama aku.” Ucap alisa sambil melepas pelukannya.


“nanti aku ceritain kalo mbak alisa udah sembuh.” Ujar aisah


bersemangat dan kembali tersenyum. Setelah suasana kembali santai dan


mengobrol, mereka yang berstatus tamu pun pamit undur diri, tak terkecuali


madam sri, yang Nampak lebih jinak semenjak bertemu ayah nya alisa. Entah ilmu


apa yang dimiliki ayah alisa untuk menjinakkan makhluk labil itu.


“apa yang terjadi waktu itu ali ?” Tanya ayah ali saat semua


tamu sudah pulang kecuali sam dan aan cs.


Ali lalu menceritakan semua rentetan kejadian waktu itu dan


juga video dari kamera kecil yang di pasang alisa dan di sambungkan ke ponsel


alisa yang waktu itu di titipkan ke sam. Sam juga menceritakan, siapa, apa dan


bagaimana ia memenjarakan dan menghukum orang-orang sadis itu. Mama alisa yang


juga turut mendengarkan jadi terkejut dengan apa yang sudah di hadapi putri nya


beberapa waktu lalu.


“kamu yakin mereka nggak akan balas dendam, sam ?” Tanya mama


alisa khawatir.


“mereka akan di hukum mati karena pembunuhan berencana,


tante. Aku kehilangan keluarga karena mereka, anjani juga di bunuh dengan


begitu keji. Jika ada yang lolos hukuman salah satu dari mereka , sam akan


kejar sampai kemana pun.” Ujar sam dengan rahang mengeras dan air mata yang


berkumpul di netra nya. Ridho mengusap punggung rival nya tersebut, mencoba


memberi kekuatan mental di sana.


TRING !! suara notifikasi ponsel sam berbunyi. Muncul nama


sang pengacara yang menagani kasus orang yang baru saja di ceritakan sam. Membaca


apa yang di kirim si pengacara membuat mata sam membelalak terkejut.


Hai hai gaes, maaf ya author jarang update. Sejak kemarin-kemarin


author ada kesibukan yang amat sulit di tinggalkan. Nanti author usahakan rajin


update ya. Terimakasih untuk dukungan kalian dan noveltoon yang sudah menerima

__ADS_1


karya tulis ini. Jangan lupa jaga kesehatan di tengah gempuran sakit ya semua.


__ADS_2