
Ya, hati ali sudah menemukan setitik sinar yang mungkin bisa
di jadikannya tempat bersandar. Meski belum jelas liku perjalanan nya setidak
nya tempat yang di tuju sudah tampak. Pertemuannya dengan suster namira yang
menangani alisa waktu di rumah sakit kota S Nampak membekas di hati nya. Tanpa
sepengetahuan yang lain, malam sebelum dia menemui sam di taman ia memberanikan
diri meminta kontak whatsapp ke suster manis suku jawa itu. Bagai gayung
bersambut, suster namira juga memberi dengan mudah nya nomor hp yang dia
miliki, hingga sekarang ali sedang bertukar pesan dengan nya, saling mengenal
masing-masing.
“asik banget lah ya, sampe sepi bener kayak nya dunia.”
Sindir aan yang melihat ali masih fokus pada ponsel nya.
“betina mana sih, li ?” sam mendekat, ia penasaran dengan
tipe perempuan ali.
“bukan siapa – siapa.” Jawab nya sambil mengulum senyum dan
mengantongi ponsel nya sebelum jiwa kepo pejantan muda itu meronta. Di kamar
alisa kehebohan madam sri sedang terjadi melihat keluarga lengkap ilham dating
menjenguk, membuat mama alisa beberapa kali tersenyum kikuk dan meremas ujung
baju.
“assalamualaikum !” ucap keluarga ilham saat masuk ke kamar
alisa.
“waalaikum salam !” jawab yang di ruangan,
“Aduh, orang ganteng bertaburan. Cucok banget sih hari ini
!” suara cetar madam sri yang menampakkan wajah sumringah melihat ayah ilham
memasuki kamar di ikuti seluruh anggota keluarga yang lain. Pak hendra sedikit terkejut melihat penampilan laki-laki
feminim di hadapannya.
“nggak apa-apa yah, udah jinak kok. Itu temen mama alisa.”
Bisik ilham lembut di telinga ayah nya.
Pak hendra mencoba tersenyum ramah. Alisa Nampak bingung
dengan kehadiran ilham dan keluarga nya. Ia merasa asing dengan keluarga ilham.
Setelah bersalaman aisah langsung menghampiri alisa yang sudah di rindukannya
beberapa hari ini.
“mbak alisa gimana keadaan nya ?” Tanya aisah pelan. Ia
meraih tangan alisa, hati nya begitu terenyuh, iba saat melihat kondisi alisa
yang tanpa rambut di hiasi dengan jahitan yang melintang di bagian kepala nya.
Ia tahan air mata yang sudah lebih dulu berurai di dalam hati nya agar tak
muncul di mata nya.
“aku baik-baik aja. Maaf tapi kamu siapa ya ?” Tanya alisa
bingung. Aisah tersentak, ia menoleh ke belakang dimana keluarga sedang duduk
berjajar dengan keluarga alisa, Nampak ilham juga mengerutkan dahi, bingung.
“benturan di kepala alisa cukup keras, ada beberapa memori
nya yang hilang, tapi kata dokter, insya Allah alisa akan kembali ingat lagi.”
Jelas mama alisa mencoba untuk tersenyum. Ibu lidya, mama ilham segera
beranjak. Ia berjalan ke ranjang alisa. Dengan senyum tulus seorang ibu, ia
meraih tangan alisa yang tidak di genggam aisah. “saya, ibu nya ilham, ini
aisah adik nya ilham. Dan yang disana ayah nya ilham. Kita pernah bertemu
beberapa kali, kamu juga pernah pergi dengan ilham dan aisah waktu itu, belum
__ADS_1
lama ini, kalian bertiga juga pergi ke panti asuhan untuk mengunjungi anak-anak
disana, waktu aisah ulang tahun.” Ibu ilham menjeda kalimat nya, ia menarik
napas, dan dengan senyum yang sama, ia mengusap lembut tangan alisa. “ nggak
apa-apa kamu nggak inget itu, jangan di paksa, nanti juga kamu inget lagi.” Ibu
ilham menghibur alisa.
“maaf tante, alisa lupa.” Ujar alisa merasa bersalah. Ibu
ilham yakin ada perasaan khusus yang di pendam ilham untuk alisa, begitu juga
sebalik nya Meski ilham belum bercerita.
Ia sendiri pun sudah merasa alisa anak yang baik sejak pertama kali bertemu.
Ibu ilham masih mengusap punggung tangan alisa.
“mbak, nanti kalo mbak udah sembuh, kita main lagi ya. Kita
motoran berdua aja.” Ujar aisah menghibur alisa yang terlihat kaku menanggapi
ibu nya.
“kita pernah naik motor berdua ?” Tanya alisa heran.
“hehe, belum sih, baru rencana kita aja. Belum realisasi.”
Aisah nyengir menunjukkan deretan gigi nya.
“ehem.” Terdengar deheman mengancam dari ilham mendengar ide
aisah mengajak alisa berkendara roda dua.
“mas ilham sih nggak usah di ajak, dia nggak berani kebut.”
Bisik aisah di telinga alisa. Ibu ilham terkekeh mendengar ucapan anak gadis
nya.
“kebut ? ilham ?” alisa memejamkan mata sampai mengerutkan
dahi. Seperti nya ia mulai mengingat sesuatu.
“mbak, mbak, mbak nggak apa-apa ? ma…maaf. Mbak.” Panggil
raut wajah alisa. Tangan aisah tiba-tiba di hempas, dan alisa mulai memegang
kepala yang terasa berdenyut. Ilham dan mama alisa seketika bangkit bersamaan
dan berjalan kea rah alisa.
“ah, kamu sih dek.” Ucap ilham kecewa.
“maaf.” Air mata aisah mulai menggenang.
“alisa.” Pamggil 2 orang ibu bersamaan, yang satu mengusap
tangan yang masih di genggam, sedang mama alisa mengusap punggung alisa.
“ma, ma…ma.” Ujar alisa terbata. Aisah masih menunduk dengan
air mata yang sudah berurai.
“iya, nak. Apa, kenapa ?” Tanya mama nya, mama alisa
khawatir, hanya saja menurut penjelasan dokter, memang sedikit ada rasa sakit
saat nanti alisa mulai mengingat satu persatu kejadian yang di alami, dan itu
adalah sebuah kondisi yang menunjukkan kesembuhan selama tidak sakit
berlebihan.
“motor, ugh.” Alisa mengerang masih berusaha mengingat.
“motor, dia, dia, ma, pa, abang.” Ulang alisa lagi
terbata-bata. Masih berusaha mengingat.
“yah, tolong panggil ali di garasi coba, yah. mungkin dia
tau sesuatu.” Kata mama alisa. Segera ayah alisa memanggil putra nya. Para
pemuda itu ikut memenuhi kamar alisa. Dengan menjaga jarak dengan madam sri
yang duduk tenang di tikar tentu nya.
“alisa.” Ali mendekati adik nya yang mulai tenang dengan
__ADS_1
mata terpejam itu.
“eungh.” Alisa melenguh lalu perlahan membuka mata.
“bang, motor, motor aku. Aku, cowok itu, cowok itu curang,
iya, bang. Iya, dia curang.” Alisa mulai mengingat kejadian dimana dia
terjatuh.
“tapi aku lupa, siapa dia. Aku belum inget wajah nya, bang.
Aku ikut lomba, tapi aku lupa. Aku belum inget.” Ucap alisa yang belum ingat
sepenuh nya.
“pelan-pelan aja. Nanti kamu pasti bisa inget lagi
semuanya.” Ujar sam yang juga turut berdiri di dekat ali. Alisa mengangguk
pelan, ia menerima segelas air putih yang di sodorkan mamanya. Lalu menarik
nafas menenangkan diri,
“jangan dipaksa, alisa. Nanti pelan-pelan kamu pasti inget
lagi.” Ujar mama alisa.
“mbak, maaf.” Aisah berucap sesenggukan. Tanpa di sangka
alisa justru malah memeluk aisah.
“aku belum inget cerita kita, tapi liat kamu sayang banget
sama aku, pasti cerita kita berkesan banget ya, sampai cewek alim kayak kamu
sayang banget sama aku.” Ucap alisa sambil melepas pelukannya.
“nanti aku ceritain kalo mbak alisa udah sembuh.” Ujar aisah
bersemangat dan kembali tersenyum. Setelah suasana kembali santai dan
mengobrol, mereka yang berstatus tamu pun pamit undur diri, tak terkecuali
madam sri, yang Nampak lebih jinak semenjak bertemu ayah nya alisa. Entah ilmu
apa yang dimiliki ayah alisa untuk menjinakkan makhluk labil itu.
“apa yang terjadi waktu itu ali ?” Tanya ayah ali saat semua
tamu sudah pulang kecuali sam dan aan cs.
Ali lalu menceritakan semua rentetan kejadian waktu itu dan
juga video dari kamera kecil yang di pasang alisa dan di sambungkan ke ponsel
alisa yang waktu itu di titipkan ke sam. Sam juga menceritakan, siapa, apa dan
bagaimana ia memenjarakan dan menghukum orang-orang sadis itu. Mama alisa yang
juga turut mendengarkan jadi terkejut dengan apa yang sudah di hadapi putri nya
beberapa waktu lalu.
“kamu yakin mereka nggak akan balas dendam, sam ?” Tanya mama
alisa khawatir.
“mereka akan di hukum mati karena pembunuhan berencana,
tante. Aku kehilangan keluarga karena mereka, anjani juga di bunuh dengan
begitu keji. Jika ada yang lolos hukuman salah satu dari mereka , sam akan
kejar sampai kemana pun.” Ujar sam dengan rahang mengeras dan air mata yang
berkumpul di netra nya. Ridho mengusap punggung rival nya tersebut, mencoba
memberi kekuatan mental di sana.
TRING !! suara notifikasi ponsel sam berbunyi. Muncul nama
sang pengacara yang menagani kasus orang yang baru saja di ceritakan sam. Membaca
apa yang di kirim si pengacara membuat mata sam membelalak terkejut.
Hai hai gaes, maaf ya author jarang update. Sejak kemarin-kemarin
author ada kesibukan yang amat sulit di tinggalkan. Nanti author usahakan rajin
update ya. Terimakasih untuk dukungan kalian dan noveltoon yang sudah menerima
__ADS_1
karya tulis ini. Jangan lupa jaga kesehatan di tengah gempuran sakit ya semua.