Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
32


__ADS_3

“Astaghfirullah, dek !” Seru Ali saat mendapati gelas pecah


di lantai. Alisa melenguh lemah.


“Kepala ku sakit, Bang.” Ujar Alisa pelan.


“Minum dulu.” Dengan cekatan Sam menyodorkan gelas berisi


air yang baru di ambil nya dari dapur.


“Kamu minum obat nya dulu ya, dek.” Kata Ali kemudian. Ia


membantu Alisa meminum obat nya.


“Gue inget sekarang. Sam, hp gue sama Lo, kan ?” Tanya Alisa


dengan wajah yang pucat akibat menahan sakit sampai tak sadarkan diri.


“Iya, hp lo kemaren jadi barang bukti di kepolisian.” Jawab


Sam.


“Hai, Ilham.” Sapa Alisa. Ilham hanya tersenyum. Ia senang


Alisa sudah mengingat nya dengan baik, tapi, entah seperti nya untuk sekarang


Ilham tidak punya terlalu banyak harapan seperti sebelum nya. Melihat tadi


bagaimana Sam peduli pada Alisa, sebagai lelaki normal, tentu Ia tahu, Sam


punya rasa yang sama untuk Alisa, gadis yang selalu ingin di gapai nya sejak


sekolah dulu. Ilham melihat jam di ponsel nya “Sudah sore.” Batinnya.


“Mas, Alisa. Udah sore, aku pamit ya, soalnya Anisa mau ke


rumah sore ini.” Pamit Ilham.


“Anisa ?” Gumam Alisa. Ilham tersenyum “Iya Anisa temen


kerja aku, dulu dia juga pernah aku ajak kesini. Mungkin, kamu belum inget.


Nanti pasti kamu inget dia.” Jelas Ilham.


“Kenapa gue benci Anisa  mau kerumah Ilham ?” Bertanya Alisa dalam hati nya. Ia hanya mampu


tersenyum saat Ilham melangkah keluar dari kamar nya.

__ADS_1


“Gue punya kejutan buat lo.” Ujar Sam membuyarkan lamunan


Alisa. Ali terkejut, tapi ia memilih untuk memberi waktu pada Sam untuk lebih


mengenal adik nya itu.


Alisa terkejut saat sebuah kotak music kecil berpindah dari


tangan Sam ke tangan nya.


“Apa ini ?” Tanya Alisa.


“Buat kamu.” Jawab Sam tersenyum sendu.


Alisa membuka kotak cantik itu, ternyata apa yang di lihat


di dalam nya jauh lebih cantik dari kotak itu sendiri, sebuah kalung emas


berukir nama Alisa terpampang di sana. Sejenak Alisa tertegun dengan apa yang


di lihat nya.


“I..ini.” Gugup nya tak mengerti.


“Buat kamu.” Ujar Sam, kembali membuat alisa menganga. Ada sedikit


"Ta.. tapi aku.. aku.. aku nggak.." Alisa tergagu.


"Aku cuma ngasih kamu, nggak ada maksud apa-apa." Ujar Sam tersenyum. Membuat Alisa merasa kikuk.


"kamu, ada waktu nggak, Sa, hari ini ?" Tanya Sam.


Alisa mengernyitkan dahi.


"Waktu ? Untuk apa ?" Tanya Alisa bingung


"Aku mau ajak kamu keluar sebentar." Jawab Sam.


"Aku minta izin Bang Ali dulu, ya." Pinta Alisa.


"Udah gue izinin. pergi aja lo !" Seru Ali dari ruang kamar di Sebelah kamar Alisa. Alisa tersenyum kikuk menatap Sam. Tubuh Sam hampir bertubrukan dengan Ali saat hendak keluar kamar.


"Sam, tlg jagain adek gue ya, kalo lecet dikit, gue serahkan lo ke madam Srintil." Ujar Ali menakut-nakuti.


"Gampang, Alisa aman sama gue. yg bahaya itu elo, orang tua lo lagi gak ada, kalo tiba-tiba sri ke sini, tolong ladenin ya." Balas Sam.


Mendadak wajah Ali berubah sedikit pucat. pikirannya melayang pada kemungkinan yang belum tentu terjadi.

__ADS_1


Alisa mengulum senyum menatap wajah Abang nya yang sedikit takut itu.


Perjalanan sore ini membuat Alisa sejenak melupakan perasaan nya tentang Anisa yang akan bertamu ke rumah Ilham. ia sendiri terkadang masih ragu atas perasaannya. benarkah ini cemburu ? apakah ia sudah mencintai Ilham, sahabat nya ? mereka melewati pusat perbelanjaan, nampak toko mama Alisa sedang ramai pengunjung. Melewati beberapa toko setelah nya akhirnya sepeda motor yang mereka tumpangi berhenti di area parkir sebuah toko yang besar. Dari dekorasi luar toko itu nampak terkesan vintage atau kuno, berwarna cokelat alami kayu-kayu hutan, bangunan nya terdiri dari 2 lantai, sebuah papan kayu cukup besar dengan rantai jadul yg menghiasinya membuat mata Alisa membelalak tak percaya. bukan, bukan masalah besar nya papan kayu atau rantai yang menggantung nya.


"ALISA MODE" nama dengan font besar yang menarik itu lah yang membuat matanya membesar terkejut dan menutup mulut nya dengan kedua tangan.


"sureprise." ucap Sam pelan di sebelah Alisa yang masih mengagumi bangunan sekaligus terkejut dengan pemandangan di depannya.


"Alisa ?" tanya nya tak percaya. Sam tersenyum, meski senyum nya begitu manis tapi kaca-kaca di matanya tak bisa menutupi luka hati nya.


"iya, aku membangunnya dari hasil kerjasama ku bersama mike, sepupuku. untuk Anjani." ucap nya. suaranya bergetar menyebut nama adik perempuannya.


"takdir berkata lain, dan disinilah kita sekarang, untuk mu. aku sudah sampaikan ke anjani, bahwa aku menemukan serpihan hati nya dalam diri mu. Anggap saja aku tak pernah membuat kata cinta antara kita. Anggap saja sekarang abang mu ada 2." Ucap Sam, tersenyum.


"Kamu menyerah ?" tanya Alisa merasa tidak enak.


"Aku tidak menyerah,Alisa. tapi bagaimana aku harus merebut mu dari Tuhan mu. sementara aku bukan orang jahat yang begitu tega merubah prinsip hidup seseorang." Lagi-lagi Sam tersenyum. senyum yang di usahakan semanis mungkin. Alisa menarik nafas, "Sorry.." ucapnya pelan. Suara mengaji di masjid di pusat pertokoan berganti adzan magrib, membuat mereka tersadar matahari sudah turun ke peraduan nya.


"Mau sampe pagi kita di luar gini ?" Tanya Sam membuat gadis cantik di depan nya terkekeh.


"Aku butuh tempat ibadah." ujar Alisa saat di dalam gedung.


"Ada masjid." sahut Sam.


"Aku mau disini." Kata Alisa.


"Aku kristen." Balas Sam, Alisa mengernyit. Sam tertawa kecil.


"Aku becanda Alisa, ruang ibadah di sebelah ruangan mu. ayo aku antar." ujar Sam. Alisa melupakan betapa sesak dadanya ketika nama anisa di sebut Ilham tadi di rumah.


"Mas, aku ada Tugas nih. bantuin ya." rengek gadis berhijab dengan tatap memohon.


"iya nanti mas bantuin, mas mau anter pulang temen mas dulu ya." ucap Ilham.


"ck, mbak anisa kan bawa motor sendiri, gimana nganterinnya ?" tanya Aisyah. ia menatap sebal kakak tampannya itu.


"dek, kok gitu ngomong nya ? mas Ilham kan nganter sebentar aja, pake motor sendiri. kasian lho, mbak anisa kan rumahnya lumayan jauh." tegur sang bunda nya lembut.


"anisa nggak makan dulu." ibu nya menawari.


"makasih tante, tapi keburu tambah malem. apalagi, mas ilham kan mau bantu aisyah buat tugas." jawab anisa.


"coba aja, mbak alisa nggak sakit. pasti mbak Alisa bisa anter mbak Anisa pulang. Mbak Alisa kan keren nggak takut kemana mana sendiri." gerutu aisyah, mengerucutkan bibir.


"utututu lucunya kalo uring-uringan gini. pengen karetin bibir nya deh." ujar Ilham gemas menangkup wajah adik nya.


Anisa tertawa melihat keakraban lelaki pujaan hati dengan adik nya itu. meski, dalam hati ia mengumpat kasar tidak karuan.

__ADS_1


__ADS_2