Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
bab 8


__ADS_3

Satu minggu sudah belalu sejak kejadian bongkar lemari.


Sekarang alisa sudah coba mulai memakai baju atau kaos yang ukuran nya pas


dengannya. Namun dia masih enggan memakai aksesoris meski hanya sekedar anting


anting. Make up juga belum. Sandal jepit dan sepatu kets juga masih jadi


favorit nya. Dia juga mulai melakukan pekerjan rumah meski masih yang ringan


ringan sekedar menyapu atau menyiram bunga. Seperti yang akan dia lakukan


sekarang.


Beberapa hari belakangan mama nya sering berada di rumah


setelah jam makan siang sekedar untuk membantu alisa belajar. Saat ini mama


alisa sedang membuat kue donat di dapur. Alisa masih enggan dengan urusan


dapur. Jadi, dia memilih pekerjaan lain nya. Terdengar suara motor Ali yang


baru pulang dari tempat kerja nya. Ia langsung memarkirkan motor nya di garasi.


“assalam mualaikum anak gadis.” Godanya sambil merentangkan


tangan ke arah alisa.


“gue siram lo bang, deket deket gue.” Jawab alisa ketus.


“ckckck masih dendam aja, anak gadis.” Ali tersenyum.


TIN TINNN !!!!! suara klakson motor yang sudah di modifikasi


dengan menambah pengeras suara, seketika membuat berisik halaman rumah alisa.


Aan dan ridho turun dari motor dan berjalan menuju garasi.


“anybody home ?!” teriak aan melongok ke dalam garasi.


“nah ini dia.” Ujar ali pelan.


“wey !!” ali memanggil mereka. Sontak yang di panggil


langsung menoleh. Alisa yang masih berdiri di depan ali merasa salah tingkah.


“hancur aku, hancur…”  ucap nya dalam hati.


Aan dan ridho mendekati ali. “EH, LAH JABANG BAYI !! OPO


KIIIIIIHH ?!!!” seru aan terkejut sambil menirukan kalimat youtuber jawa yang


sering membuat konten lucu. Ia sangat terkejut dengan penampilan alisa.


“ckckck. Gawat ini gawat.. hadeuh. Sakit adek mu bang. Ya


Allah alisa. Udah minum obat tadi ?” ridho dengan wajah tegang dan polos nya


langsung bertanya tanpa dosa. Ali memegang perut nya yang sakit karena menahan


tawa.


“TEMEN LUCKNUT, JAHANAM KALIAN. AAAARRRGGGGGHHHH…….!!” Alisa


menyemprotkan air dari selang ke mereka bertiga yang sedang tertawa melihat


diri nya. Napas nya memburu. Kesal sekali. Andai bukan ayah yang meminta, nggak


sudi dia bepenampilan gini. Entah lah di pandangan mereka seperti apa padahal


alisa hanya memakai baju warna kuning cerah dengan sedikit motif bunga di


bagian lengan nya yang memang berbentuk Sabrina. Di padu dengan rok selutut


dengan warna senada.


Aan dan ridho langsung berlari ke garasi sambil tertawa. Ali


lari masuk kerumah untuk membersihkan diri. “mama !! anak gadis ngamuk !” adu


nya. Alisa menghentak kaki kesal. Lalu melanjutkan pekerjaan nya menyiram


bunga.


“ehem.. kopi mbak kopi !”aan berseru dari garasi. Mendengar


itu alisa cuek tidak menanggapi.


“kopi comberan ntar


gue bikin buat lo.” Ucap alisa dalam hati. Ia melirik aan dengan sinis.


Yang dilirik langsung mundur teratur masuk garasi.


Rencananya sore ini aan dan ridho akan stay di garasi alisa untuk


memasang knalpot yang waktu itu ia cod. Mereka masih asik mengotak atik


motornya saat alisa berjalan ke arah mereka. Dia sudah selesai dengan pekerjaan


nya.


“kopi geh. Masa iya, tamu di anggurin.” Ridho merajuk sambil


tetap fokus ke motor nya.


“MALASSSS…” sahut alisa.


“gue bikin sendiri nih.” Ujar ridho pura pura marah. Aan


melirik ke alisa sebentar.


“Ya Allah orang pelit idup nya sempit.” Celetuk aan.


“bodo amat.” Sahut alisa. Ia menghidupkan musik cover


yastami berjudul maafkan aku.


“wih, mellow amat lo. Tumben. Sakit beneran ni anak.” Canda


ridho.


“ngopi ngapa ngopi !” seru ali yang sudah mandi dan berganti


baju. Ia memakai kaos iwan fals yang di ambil nya dari alisa seminggu lalu. Ia


membawa 3 gelas kopi di atas nampan yang di bawa nya. Di belakang nya mama


alisa membawa kue donat hasil buatan nya.


“wow ! sarangbeo mama !” seru aan senang. Ia mengedipkan


sebelah mata sambil menunjukkan bentuk love dengan jari nya.


Bersamaan dengan itu mobil ayah alisa masuk halaman.


Langsung ke garasi. Ia turun dengan wajah lelah sambil menjinjing tas laptop


nya.


“waduh enak banget nih kayak nya ya nyore di garasi alisa.”


Sapa ayah nya ramah sesaat sebelum masuk rumah. Mama alisa yang sudah


menghidangkan makanan langsung mengikuti suami nya ke dalam rumah. Alisa masih


diam di atas kasur nya dengan buku novel di tangan nya. Di lihat dari lembaran


nya, seperti nya alisa sudah sampai di bab terakhir. Mungkin tinggal beberapa


lembar lagi buku itu akan selesai di bacanya. Buku yang di pinjam nya dari


ilham. Waktu membaca nya sekarang mulai berkurang karena harus terbagi dengan


pekerjaan rumah yang harus di kerjakan nya.


“dek, kamu gak mau donat ?” Tanya ali sambil melahap donat


dengan topping selai coklat di tangannya.


“nanti bang, tinggal 3 lembar lagi. Nanggung.” Jawab alisa.


“aaaaaaaahhhhhhhhh….” Aan mendesah  keras menikmati kopi dan donat buatan mama


alisa yang memang rasanya hmmmm mantap.


“sisain buat gue.” Sahut alisa ketus dengan mata masih focus


ke kertas di depan nya.


“apa ? abisin ?!” ujar ridho.


“asiaappp !!” sahut nya lagi dengan melahap donat nya.


Alisa langsung menutup buku dan melangkah mengambil donat


yang tinggal tersisa beberapa.


“hemmmmm…. Nyam nyam nyam.”  alisa makan dengan ekspresi seperti pembawa acara kuliner di tv.


“dek, dek. Liat ni.” Ali memamerkan kaos yang di pakai nya


membuat alisa terbelalak.


“ish, ya Allah kak. Baju gue. Ternoda sudah. Pulangin sini.”


Alisa merajuk, bibir nya maju ber centi centi.


“tidak akan ku serahkan pada kampret yang durhaka.” Ujar nya


menirukan kata alisa seminggu lalu.


“jiji sih bang.” Cibir aan tertawa. Ridho justru malah


berjoget dengan heboh nya berjalan kea rah ponsel alisa yang tergeletak dekat


speaker Bluetooth nya. Ia mengganti lagu nya dengan lagu lagu koplo jawa


koleksi dadri denny caknan. Penyanyi jawa yang sedang naik daun.


“Hik a hok e !! awak dewe tau nduwe bayangan mbesok yen wes


wayah omah omah aku moco Koran sarungan koe blonjo dasteran..” ridho turut


menyanyikan lirik nya menambah ramai situasi.

__ADS_1


“heh, lo tu ngimpi apa pakek baju baju beginian. Pake rok


pula ?” Tanya ridho sambil mengeluarkan sebatang rokok surya dan menyulut nya.


“ya biasa aja sih. Nama nya juga cewek. Wajar dong kalo gue


pake baju ginian.” Jawab alisa. Dia menahan malu, geli rasanya memakai baju


yang selama ini tidak pernah di sentuh nya. Bahkan di lirik pun tidak. Beberapa


baju yang feminim milik nya selalu dia sembunyikan di lemari ketiga.


“nih, mama bawain lagi kue nya.” Mama alisa ikut bergabung


dengan para anak muda itu. Ayah alisa juga ada di sana.


“wah, malem minggu ini ya. Kapan kita kemana ?”Tanya ayah


alisa dengan nada bercanda.


“dih, kapan kita kemana ? ayah kayak masih muda aja. Inget


umur yah.” Cibir ali, mama dan ayah nya terkekeh.


“tau ayah ni, udah pantes jadi mbah juga, tuh liat uban ayah


ke mana mana.” Ujar alisa. Mereka terkekeh.


“usia kan angka ya yah ? yang penting tu jiwa nya masih


muda.” Aan bersemangat


“yang muda ini yah, belum ngerasain tua.”sahut ridho membuat


tawa semua orang berderai.


“loh, ya kalo mau cepet jadi orang tua, lah itu si riska


masih ada. Siapa kemaren yang kata nya mau jadi mantu nya mpok ipah ?” canda


mama alisa. Spontan pertanyannya membuat ketiga pemuda di situ langsung saling


tunjuk satu sama lain.


“hust,, gibah terus mama ini.” Ujar ayah masih tertawa


mendengar candaan segar. Tidak lama adzan magrib berkumandang. Mereka masuk ke


dalam rumah untuk segera menunaikan kewajiban. Alisa juga masuk ke dalam rumah,


tapi ia sedang libur sholat. Jadi lah ia hanya menunggu di ruang tamu sambil


scroll hp nya. Ia membuka status facebook di ponsel nya. Ada notifikasi


permintaan pertemanan di beranda nya. Akun dengan nama “anisa puspa” meminta pertemanan. Ia klik foto nya untuk melihat


profil nya. Tidak salah lagi ini adalah anisa teman kerja ilham yang di ajak ke


rumah nya beberapa waktu lalu. Di profil nya ada foto yang baru di unggah


beberapa jam yang lalu. Foto empat orang. Ada ilham dan anisa yang sedang


tertawa menghadap kamera. Caption yang di tulis nya cukup memberi isyarat bahwa


ia mengagumi sosok ilham.


"teman terbaik sejak kerja disini semoga selalu sehat dan


seperti ini aamiin." tulis nya. alisa pun menuliskan di kolom komentar "ciye......


temen apa demen nih ?" dengan emot tertawa. anisa sedang offline


jadi dia belum melihat komen tersebut. tapi tidak lama ada komentar baru yang


masuk dengan nama akun "risma sweety" "wkwkwk


baiks ya nis ya. sebaik apa ya. kok aku gak di baik baik in ya ??" di


foto itu anisa juga menandai akun risma,aris dan ilham. "dedek gemes


paling ganteng." akun dengan nama "ayah bujang" milik aris turut berkomentar. "dedek gemes ??? inget


anak istri mas." balas akun risma. mereka terus berbalas komen.


sedangkan alisa hanya sebagai penonton. "cinlok nanti lama lama. bahaya." akun


dengan nama "ilham nugraha" akhirnya muncul. "heleh,


aku apa kamu yang cinlok ?" tanya aris kemudian. pertanyaan aris


mulai menarik alisa. "aku sih kayak nya haha" balar ilham


dengan emot tertawa. "waduh berita panas gengs." akun


risma masih aktif berkomentar. "sudah ku dugong. akhir nya seorang


ilham akan mengakhiri masa lajang." sahut aris. "wah,


selamat ya. akhir nya."  alisa ikut berkomentar. "belom,


di ajak ta aruf aja belom. masih mau kenalan dulu hehe." ujar ilham.


“test drive dulu dong.” canda


menandai nama alisa di kolom balasan. Alisa tertawa melihat balasan ilham.


“kata nya laki baru di ajak ngebut dikit udah ngambek.” Gumam alisa.


“uluh uluh.. siapa tu ilham ?” Tanya aan mengejutkan


dari belakang alisa.


Alisa langsung berjingkat. “ngagetin aja sih lo.


Kepo.” Ketus alisa.


“balik yok.” Ajak ridho pada aan.a


“lah, kata nya mau nginep sini ?” Tanya ali yang


juga bergabung bersama mereka di ruang tamu.


“maleslah bang, adek mu selingkuh sama ilham.” Ujar


ridho dengan wajah yang di buat seolah olah kecewa.


“cih, cucuk mu dho kalo ngomong. Selingkah


selingkuh. Sejak kapan lo jadi cowok gue.” Sahut alisa berdecih. “gak ada juga


yang mau jadi cowok lo. Casing doang cewek. Kapan di buka.. hiiiiii…….” Ridho


bergidik


“kok sama. Gitu ya kan ?!” ujar aan


“iya.”timpal ridho. Membuat ketiga cowok tertawa


keras.


“makan dulu yok ridho, aan, ali alisa.” Ajak mama.


“iya ma.” Ujar alisa lalu beranjak bersama teman


teman dan abang nya. Sembari makan mereka bercakap cakap tentang banyak hal.


Keluarga alisa keluarga yang hangat dan menyenangkan bagi banyak orang. Saat


makan malam itu lah mama alisa meminta alisa untuk mulai membantu pekerjaan


rumah yang lain yaitu mencuci baju dan mengepel rumah. Memang nyuci baju sudah


pakai mesin tapi untuk menjemur nya tetap pakai tenaga tangan.


“laundry aja sih ma.” Protes alisa membantu mama


nya membersihkan sisa makan malam.


“sekali kamu ketauan sama mama pake jasa


laundry,mama suruh kamu pakai rok sebulan.” Ancam mama nya. Tentu saja alisa


tidak mau hal itu terjadi. di minta pake rok seminggu sekali aja, rasanya nggak


karuan.


“sa, balik dulu ya !” pamit aan


“bagus ya lo, dateng laper. Kenyang pulang.” Ceplos


alisa


“oh iya dong. Kan kita kesini mau minta makan.” Balas


ridho


Alisa berjalan ke depan mengantar teman teman nya


pulang.


“motor gue bawa. Udah jadi nih.” Lanjut ridho lagi


“iya.” Jawab alisa. Ridho coba menghidupkan motor


nya. Suara berisik knalpot modifikasi langsung memenuhi seluruh halaman rumah.


Setelah itu mereka langsung pulang ke rumah masing masing.


Ponsel alisa berbunyi singkat. Ada pesan masuk.


Notifikasi nya menunjuk kan dari ilham.


Ilham : [sibuk gak ?]


Alisa langsung lari ke dalam kamar merebahkan diri


dengan posisi ternyaman di kasur nya. Ia tidak mau keluarga nya meledek lagi


jika tau ia sedang chat dengan ilham. Apalagi sampai berharap lebih menjodohkan


nya. Untuk saat ini alisa belum punya perasaan khusus terhadap siapa pun.


Sekalipun kebanyakan temannya adalah laki laki.


Alisa : [nggak. Knp ? mau ngajak balapan ?]

__ADS_1


Ilham : [GAK !]


Alisa : [wkwkwk serius amat. :p]


Ilham : [cari buku di bazar. Mau gak ?]


Alisa : [di mana ?]


Ilham : [di lap. Deket rumah aku. Kalo mau ntar aku


jemput. Kalo gak mau ya udah aku berangkat sendiri.]


Alisa : [acara apa emang tumben ada bazar.]


Ilham : [CEREWET ! mau apa nggak ?]


Alisa : [males. Lo galak. Ngamukan terus.]


Ilham : [ok. Dasar jadi jadian.]


Alisa : [astaghfirullah ilham mulut nya. Ckck]


Ilham : [tumben nyebut. Gak panas tuh ??]


Alisa : [lo ngajak gue beli buku apa ngajak


berantem sbnrnya ???]


Ilham : [kalo mau, aku jemput besok sabtu jam 7


malem. Aku yang bawa motor. Kalo mau ngebut bawa motor sendiri sana. Mau apa


nggak alisa maharono ???]


Alisa : [maharani. T_T nama gue maharani, bukan


maharono. Iya udah deal. Dpt buku gratis gak gue ?]


Ilham : [astaghfirullah. Nyusulin kamu aja itu udah


bolak balik plus nganterin pulang lagi masih malak buku gratis lagi. Gak ada


buku gratis. Pulang nya aku anter tapi isiin bensin.]


Alisa : [ dih, parah. Situ laki. Gak malu minta


bensin ma cewek ?]


Ilham : [halah, bilang aja gak ada duit. Makanya


kerja.]


Alisa : [waduh, menghina anda.]


Alisa : [sent a photo]


Alisa mengirim screenshoot isi rek nya yang


berjumlah 25jt rupiah.


Ilham : [alah paling hasil donasi. Wkwkwk]


Alisa : [kalo ada yang nafkahin ngapain kerja.]


Ilham : [kalo gak mau kerja, ngapain sekolah.]


Alisa : [sekolah tu cari ilmu bukan cari kerja.]


Ilham : [ilmu itu buat bekal hidup bukan buat


pajangan.]


Alisa : [dasar cowok pelit.]


Ilham : [dasar jadi jadian.]


Alisa : [gak jadi pergi.]


Ilham : [ok.]


Alisa : [awas kalo gak jemput gue.]


Ilham : [bensin pp]


Alisa : [sialan lo !!]


Ilham terkekeh melihat chat nya dengan alisa. Dari


dulu alisa selalu gencar mengerjai nya. Ilham tidak pernah membalas bukannya


tidak berani, masa masa sekolah benar benar di habiskannya dengan berguna. Ia


hanya focus belajar. Bermain seperlu nya. Meski ilham dari golongan ekonomi


yang lumayan. Dia tidak lantas bersantai santai. Sekarang, dia sudah bekerja


sedikit ada waktu untuk bermain membalas setiap kejahilan alisa. Hati nya


sedikit berdebar saat mengajak alisa pergi mencari buku. Orang yang diam diam


sudah mencuri hati nya sebenarnya adalah alisa. Sejak ia mengenal alisa, ia


merasa alisa sedikit berbeda. Alisa selalu mencuri perhatian nya. Dia tidak


mudah tertarik dengan lawan jenis meskipun di sekelilingi oleh cowok dari


bermacam rupa, harta dan tahta. Alisa tidak suka cari rebut tapi dia juga tidak


takut jika di tantang berduel atau balapan. Beladiri yang di pelajari nya cukup


mampu untuk melindungi diri dan orang di sekitar nya. Meski begitu dia juga


termasuk anak yang sopan pada yang lebih tua dan peduli pada banyak orang. Satu


hal yang paling istimewa adalah, meskipun alisa sekolah nya terkesan main main


karena sering nya bolos. Tapi nilai nya tidak pernah kurang dari angka 8,9 dan


10. Sampai sampai guru dan teman temannya pun heran. Hobi membaca nya membawa


keuntungan sendiri, di saat teman temannya membuka buku ketika pelajaran di


mulai alisa sudah belajar memahami isi nya sejak pertama kali ia menerima dan


membuka lembaran buku nya. Jadilah ia anak yang berprestasi dengan angka


membolos yang lumayan. Alisa mengerucutkan bibir nya. “kampret si ilham. Mana


gue udah gak punya duit cash lagi.” Gumam nya. Ia lalu beranjak ke kamar abang


nya.


“eh abang ganteng , bagi duid adek cantik.” Rayu


alisa saat melihat ali rebahan di kasur kamar nya.


Ali mengernyitkan dahi. “lah emang duit lo abis ?”


Tanya ali.


“ada sih bang tapi di rekening. Males mau ngambil


nya ngantri di atm.” Ujar alisa


Ali menarik nafas ia mengeluarkan 300ribu


rupiah  untuk alisa.


“pinjem loh ini. Jadi tolong segera di kembalikan


ya.” Ali mengingatkan.


“iya lho. Tapi kok dikit banget. Lagi lah.” Bujuk


alisa.


“minjem, nawar lagi. Ini buat gue jatah malem


minggu sama Natasha. Tinggal gopek gopek nya ini. Sekarat udah dompet gue.”


Gerutu ali.


“emang lo mau kemana sih. Sama siapa ?” ali mulai


mengintrogasi.


“mau ke bazar buku sama ilham.” Jawab alisa


singkat.


“ciyeee pacaran ni.” Canda ali.


“pacaran apaan orang Cuma beli buku doang.” Ujar


alisa


“lagi sih bang. 2 lembaaaaarr aja.” Rengek alisa.


“nggak.” Ketus ali.


“minta mama sana bilang mau pergi sama mamas ilham


gitu. Pasti di kasih.” Ledek ali lagi.


“ck lo mah. Ntar halu mama sama ayah kemana mana


lagi. Padahal gue sama ilham Cuma temen doang.” Alisa masih seriusmenanggapi


ali. Dia benar benar tidak berminat menjalin hubungan serius dengan ilham.


Alisa pun keluar dari kamar ali. Ia berniat meminjam uang mama nya besok pagi.


Ia kembali ke kamar nya terlelap dengan gadget nya.


Maaf ya bestie, kalau bab 8 terkesan gak seru atau


gimana. Kondisi author lagi kurang bagus nih, mungkin karena cuaca dan sebagai


nya. Sebagai permintaan maaf ada sedikit bocoran nih untuk di bab selanjut nya


nanti. Nanti, alisa akan kerja loh. Hemm gimana ya perjalanan karir seorang


alisa maharani. Apakah semua orang bisa menerima dengan baik ? di tunggu ya di


bab selanjut nya. Terimakasih untuk kalian yang udah support author.

__ADS_1


__ADS_2