Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
21


__ADS_3

malam ini di ranjang rumah sakit sedang terbaring lemah seorang alisa. dokter memutuskan akan mengoperasi nya pagi hari. berbagai alat penopang kehidupan nya masih menghiasi anggota tubuh nya. ali masih menangis di luar ruangan ketika suara perawat mengejutkan nya.


"keluarga alisa !" panggil perawat itu.


"saya kakak nya, suster." jawab ali. ia segera bangkit menemui suster cantik yang berdiri di depan ruangan ICU.


"begini pak, kondisi alisa cukup stabil. jika sampai besok pagi kondisi nya masih bagus seperti ini, dokter akan segera melakukan tindak operasi. untuk itu, tolong segera di bereskan administrasi nya sekaligus tanda tangan persetujuan pihak keluarga. agar besok tidak perlu menunggu berkas persetujuan lagi." jelas perawat tersebut. ali sudah pasrah ia hanya mampu memberi anggukan sebagai jawaban. aan tidur di kursi tunggu dengan rebahan. ardi sudah terkapar pulas di atas lantai. ridho tidur dengan posisi duduk di kursi tunggu, ia memakai jaket tebal tangannya bersedekap di dada seolah menghalangi rasa dingin AC di rumah sakit ini. dengan langkah gontai ali membangunkan ridho pelan, ia tahu diantara teman teman alisa, hanya ridho yang masih cukup berfikir waras dalam situasi ini. ridho tergagap saat ali menyadarkannya.


"kenapa ? apa ? alisa.. alisa kenapa ?" cecar ridho panik. ia mengerjapkan matanya mengusir rasa ngantuk.


"nggak papa, besok alisa mau operasi. gue mau ke kasir dulu. selesaiin administrasi. tolong jaga alisa dulu ya." jawab ali. suara nya serak akibat banyak menangis.


"oh oke, oke. gue titip kopi ya.." ujar ridho sembari menguap lebar. ali mengangguk. ia melangkah menuju kasir dan menyelesaikan semua administrasi nya. setelah nya ia pergi ke masjid umum dekat kantin rumah sakit. ia sholat sunnah 2 rakaat. sambil menangis merayu Sang Maha Esa untuk kesembuhan alisa. entah berapa lama ia berdoa, hingga seseorang mengumandangkan adzan subuh, ia kembali berdiri menunaikan kewajiban nya. setelah nya barulah ia ke kantin membeli beberapa kopi siap minum, air mineral dan nasi uduk untuk sarapan dia dan teman-teman alisa. juga untuk sam, karena setelah sholat ali mengabarkan kondisi alisa kepada sam. meski belum ada balasan, setidak nya dia sudah menyiapkan sarapan untuk teman baru nya jika tiba-tiba datang dengan perut yang masih kosong.


"lama amat, lo beli kopi. naik haji dulu lo, bang ?" tegur ridho sambil membongkar plastik yang di bawa ali.


"cerewet, doain alisa dulu gue. semoga operasi nya lancar dan dia baik-baik aja." ketus ali.


"mmhhhh bau kopi.." ujar ardi dengan mata masih terpejam. tidak berselang lama terlihat ia menggeliat sebelum bangun membuka mata.


"mata merem tapi tau aja bau yang enak." sindir ridho sambil meminum kopi nya.


perawat kembali memberi informasi bahwa alisa akan di operasi pukul 8 pagi. tepat setengah jam sebelum operasi, sam datang. ia datang dengan menenteng biskuit dan minuman ringan untuk sarapan teman-teman beda usia nya.


"eh, udah pada sarapan ya ? sorry, gue telat, gue mampir ke gereja dulu tadi sebentar." ujar nya.


"nggak papa sam, ayok sarapan bareng." ajak aan pada sam.


"iya gue udah makan kok td di jalan. cuma roti sih tapi masih kenyang, nih gue bawain buat kalian juga." sam menyerahkan kantung plastik bertulis indoapril yang di bawa nya.


"weh repot-repot. makasih ya." sahut ardi sambil langsung mengambil kantung plastik dari tangan sam. mereka terkekeh geli melihat aan dan ardi saat bercanda membagi makanan seperti anak kecil. sedikit hiburan pagi itu.


"thanks bro." ujar ali tulus.


"it's oke. gue tau rasanya jadi lo. gimana alisa ?" tanya sam kemudian

__ADS_1


"dia operasi pagi ini." jawab ali. suara nya terdengar berat.


"semoga nggak parah dan alisa baik-baik aja." doa sam.


"aamiin." mereka mengaminkan dengan kompak doa dari sam.


"lo, ke gereja ngapain bang ?" tanya ardi polos.


"ya berdoa lah, bego. lo kira dia di gereja ngapain. jual maenan ?" ujar aan menoyor kepala ardi dengan gemas.


"berdoa kok di gereja ?" tanya ardi lagi masih belum paham. sam yang di tanya malah bingung. ia mengernyitkan dahi. "gue kristen ya jelas aja gue ke gereja." batin nya.


"ih, malu gue sumpah. punya kawan, udah makan paling banyak, tapi otak nya tetep yang paling bego." gerutu aan.


"sam itu kristen, ardianto mustopa. makanya dia ke gereja. dia mau berdoa sama Tuhan yesus. disini yang kepala nya mau di operasi alisa, kenapa jadi elo yang kayak nya gak punya otak sih. udah males banget lo mikir, sampe hal begitu doang pakek lo tanya." ucap aan lagi gemas.


"ya kan gue gak tau,makanya gue tanya." ujar ardi enteng.


"eh, babon kingkong, kemaren waktu kita baru masuk garasi lo udah ngasih tau gue ya, dho, ada salib sama lukisan bunda maria. masa' lo gak ngeh kalo sam kristen." ujar ridho ikut gemas.


"ya, kan gue gak tau. kemaren kan kita salam dia jawab salam juga. mana lancar lagi." kilah ardi. memang sam terbiasa mengucap salam ketika bertemu teman-temannya yang beragama muslim.


"itu namanya toleransi beragama, di. jadi, gue biasa ucap salam sama temen-temen gue yang muslim." jelas sam kemudian.


"nah dengarlah itu wahai jakun firaun yang biadab." ujar aan pada ardi.


"oh gitu. iya paham gue sekarang. kalo sam yang ngomong adem ya, beda bgt kayak ini sebelah, kobokan firaun." kata ardi sambil melirik ardi yang meledek.


"sabar.. sabar." aan mengelus dada.


“lo, masih belum kasih kabar keluarga lo ?” Tanya sam ke ali. Ali hanya menggeleng. Ia sudah


berhenti menangis sejak alisa di bawa ke ruang operasi, bagaimana pun juga, ia


harus menguatkan diri.

__ADS_1


“gue takut, gue


nggak tau mau ngomong apa.” Kata ali lagi.


Ponsel ali berdering,


sudah dari kemarin mama nya menghubungi ali, dan ali tidak menjawab telepon


nya.


“angkat dulu, li.


Nyokap lo pasti khawatir. Segimanapun lo nutupin kejadian ini, lo akan tetep


harus jujur nanti nya. Firasat seorang ibu juga nggak bisa di bohongi.” Nasehat


sam, ada rasa sakit saat dia mengucapkan kata ibu. Orang yang sangat ia


rindukan saat ini selain adik nya adalah orang tua nya. Ali berpikir, ia masih


menimang ponsel di tangannya. Sampai panggilan berhenti ia belum menemukan


kalimat yang pas untuk di ucapkan. Ponsel itu kembali berbunyi.


“assalamualaikum,


ma.” Sapa ali akhir nya. Namun, jawaban mama nya sungguh tak terduga.


“mama sama ayah


udah di kota S, kamu di rumah sakit mana ? gimana alisa ?” pertanyaan mama


alisa membuat detak jantung ali seolah berhenti. Ia terkejut, bagaimana sang


ibu bisa tau yang terjadi ?

__ADS_1


__ADS_2