Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
bab 15


__ADS_3

“kenapa ?” Tanya ilham


“o..oh nggak apa-apa. Hmm oke iya tanggal 15. Pagi


kan ?” alisa dengan gugup memastikan.


“kalo sekiranya nggak bisa ya jangan di paksa.”


Ucap ilham lagi. Alisa merasa tidak enak hati dengan aisah. Akhirnya ia


menyetujui ajakan aisah dan ilham. Ia menarik napas berat setelah menerima


telepon.


……..


Sekitar setengah 6 sore aan dan ardi datang membawa


motor yang akan di jadikan kendaraan balap di lintasan.


“lho, lho, ini apa ini ? kok motor ini ke sini lagi


? padahal udah lama lho nggak kesini. Alisa mau balapan lagi ?!” seru mama


alisa sambil membawa cemilan keripik singkong buatannya ke garasi. Aan dan ardi


saling pandang. Mereka bingung dan juga takut di marah mama alisa.


“mama ini kalo udah liat motor begini, pikirannya


balapan aja. Ini motor mau di servis ma, kalo nggak di servis nanti karatan


nganggur, kan, sayang ma.” Jawab ali. Ia baru bergabung di garasi dengan


membawa sekardus kecil kaleng kaleng pylox untuk mengecat motor nya. Di


belakang ali ada alisa yang membawa es teh se teko penuh. Dan beberapa gelas di


nampan. Masih ada waktu 15 hari lagi untuk mereka modifikasi motor dan latihan.


Mama alisa meletakkan keripik di lantai di dekat es


yang di buat alisa.


“bener ya Cuma servis, awas kalo balapan lagi.”


Ancam mama alisa ikut duduk di garasi.


“emang kenapa sih, ma kalo alisa balapan ? kan


dapet duit, ma ?” Tanya alisa penasaran. Ia duduk di dekat kaki mama nya yang


duduk di atas kursi plastic


“kan kamu cewek, lagian balapan tu bahaya. Mama gak


bisa bayangin kalo pas lagi balapan jatoh gitu, ih serem. Kayak di tv itu.


Sampe ada yang meninggoy kan.” Kata mama nya.


“widih, meninggoy.” Aan yang sedang membongkar


motor tertawa kecil mendengar ucapan mama alisa yang seperti anak jaman now.


“haha gini, gini mama gue gaul tau. Belum tau aja


isi tiktok nya. Postingannya. Fyp terus, iya nggak, ma ?” goda ali menaik


turunkan alis tebal nya.


“iyalah, usia tu soal angka. Jiwa tetep muda.” Ujar


sang mama ikut terkekeh.


“ngeri juga ya, bang. Ini kalo abis ini, terus


tante kepikiran ikut balapan gimana coba.” Canda ardi. Wajah nya di buat


seserius mungkin.


“gak apa-apa, bokap gue nanti yang jadi mekanik


nya.” Ujar alisa yang langsung mendapat jitakan di kepala dari mama nya.


“haha, ya abis mama segala pake kata meninggoy.


Meninggal gitu lho..” kata alisa lagi.

__ADS_1


“halah, bilang aja kamu takut kalah saing kalo mama


nya gaul. Iya, kan ?” mamanya mencebik.


“dih, absurd banget ya keluarga ini.” Ali tersenyum


lebar mendengar debat mama dan alisa.


“udah, ah, mama mau masuk dulu. Mau siapin makan


malem. Nanti kalian kalo udah selesai, cuci tangan terus makan bareng ya.


Jangan lupa sholat udh deket magrib ini.” Mama alisa mengingatkan.


“oke, cantik !” seru mereka berempat kompak lalu


tertawa. Mama alisa tersipu mendengar candaan anak-anak muda itu. Ia segera


masuk bersiap untuk sholat magrib dan menyediakan makan malam. mbkmjkhkyijuhSelesai


makan malam, para anak muda kembali berkumpul di garasi, mereka masih memasang


apa-apa yang di perlukan untuk balapan bulan depan.


Hari berganti dengan cepat waktu lomba sudah


sebentar lagi. Alisa masih merahasiakan rencana nya iuikut acara ulang tahun


aisah dari teman teman nya juga merahasiakan balapan dari orang tua nya. dia


masih bingung untuk memberitahukan hal itu. Teman temannya pasti melarang dia


ke panti asuhan, karena untuk pertandingan semua sudah siap dari segi biaya dan


penginapan. Ridho sudah mengatur penginapan untuk mereka berlima di rumah teman


ridho.


……..


“malem ini kita berangkat dari rumah gue.” Ujar


ridho kepada teman nya. Gue udah hubungin Samuel buat nyiapin tempat nginep


buat kita di sana, dan semua keperluan kita selama seminggu.


“gue udah bilang sama mama sama ayah, sa. Mau


sana. Gue udah bilang sama reza buat bialng ke ortu, kalo mereka ngecek ke


reza.” Ujar ali.


“gue bawa motor sendiri aja. Gak usah di bonceng.”


Kata alisa, membuat yang lain tercengang.


“kenapa ?” Tanya ali mengerutkan dahi.


“ya, gak papa bang, gue pengen bawa motor sendiri


aja. Kita berangkat jam berapa ?” alisa bertanya. Dia berusaha mengalihkan


kecurigaan abang nya. Pasal nya, selama ini jika bepergian balapan, alisa akan


di bonceng oleh alia tau salah satu teman nya. Agar tidak kelelahan di


perjalanan. Sehingga kondisi saat di lintasan ia akan stabil. Beda, jika dia


balap liar di sekitaran tempat tinggal nya, ia akan bawa kendaraan sendiri. Ali


tidak bisa begitu saja menerima alasan alisa. Dia paham adik nya seperti apa.


Se garang garang nya alisa, dia akan manja jika harus turn ke lintasan, kalo


perlu makan aja dia bisa minta di suapi. Ia akan menganggap diri nya bak ratu,


dewi fortuna yang akan membawa kemenangan telak bagi tim nya.


“elo, sedang tidak merencanakan sesuatu kan ?”


selidik ali memicingkan mata.


“udah to, yang penting, besok kita menang.” Jawab


alisa yakin.


“lo gak lagi rencanain hal curang, kan ? selama ini

__ADS_1


kita menang sportif lo, sa. Nggak pake curang curangan.” Ujar ardi.


“gak bakal curang. Gue janji kita bakal pulang bawa


uang 25 juta.” Alisa tersenyum meyakinkan.


“oke.” Jawab ali pasti.


…………


Malam di rumah ridho sangat riuh dengan suara 5


motor modifikasi. Mereka berbaris menyusun formasi, ali di depan sebagai


pemimpin, yang akan menjadi mata bagi teman teman yang lain, di ikuti oleh ardi


yang akan bergerak ke depan dan ke belakang sebagai sweeper atau pembersih


jalan untuk mereka berkendara, agar tidak mengganggu laju kendaraan yang lain.


Alisa di tengah, karena dia satu satu nya cewek yang bawa motor sendiri, jadi


dia akan dijaga dari depan dan belakang. Di belakang alisa ada aan dan ridho


yang akan membuat portal saat nanti mereka akan menyebrang di setiap


persimpangan yang di lewati, mereka juga bergantian dengan ardi untuk membantu


kendaraan lain melaju. Awal nya semua berjalan baik baik saja, alisa juga


terlihat beberapa kali bercanda dengan mereka. Beberpa kali ikut bertukar tukar


posisi, sampai saat mereka lengah. Alisa menghilang dari barisan. Mereka segera


berhenti memastikan alisa tidak jauh tertinggal dari rombongan.


“bang, adek lo kemana ?” Tanya aan khawatir.


“gak di angkat telpon nya.” Jawab ali, wajah nya


pucat. Dia takut terjadi sesuatu dengan alisa.


“ada chat nih, alisa !” seru ridho tiba tiba.


[lo semua lanjut perjalanan aja ke sana. Gue udah


simpen sharelok alamat yang gue comot dari ridho. Gue pastiin kita menang


besok, untuk sekarang gue ada urusan dulu.] chat alisa langsung pada inti nya.


“telpon nya gak aktif. Dia juga gak online.” Kata


ali lesu. Akhir nya dengan berat hati, mereka melanjutkan perjalanan tanpa


alisa.


Di kamar penginapan tidak jauh dari tempat tinggal


alisa, alisa sedang merebahkan tubuhnya di kasur empuk dengan sprei putih.


“sorry, tapi gue janji, kita pasti


menang besok.” Batin nya, ia lalu memejamkan mata.


Kruyuk kruyuk !!


“ck, ah, laper lagi gue, kebiasaan nih perut jam


segini. Hadeuh… makan apa ya ?” gumam alisa. Ia lalu mengantongi dompet dan


ponsel nya, di saku jaket oversize nya. Karena terburu-buru ia tidak sengaja


menabrak pasangan yang sedang mabuk. “heh, pake mata dong kalo jalan !” seru


cewek dengan baju minim yang terbuka di bagian dada.


“maaf, mbak.” Alisa tersenyum kecut sambil meminta


maaf, ia memperhatikan gadis mabuk itu yang sedang merangkul lelaki paruh baya


mungkin seusia ayah nya.


“apa liat-liat ?!” sentak gadis itu lagi sambil


berlalu. Karena mabuk ia tidak menyadari bahwa gadis tomboy di depannya adalah


alisa. Saingan berat nya untuk mendapatkan hati ilham. Ya, wanita itu adalah

__ADS_1


anisa. Ia sedang melakukan “kerja


sampingan”untuk dapat cuan.


__ADS_2