Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
bab 34


__ADS_3

"aku setuju sama syarat dari kamu, tapi kamu aku mau anak ku ikut aku." ucap seseorang di ujung ponsel. seulas senyum terukir di 2 seorang wanita.


"oke, nanti aku kabari lagi, sekarang aku sibuk." jawab nya dan langsung mematikan sambungan telepon, mengecup lelaki yang menjadi teman tidur nya.


"aku akan merawat anak ku, tidak akan ku biarkan dia merasakan seperti aku." ucap seorang lelaki pada diri nya sendiri.


"kemaren itu temen kerja kamu, nak ?" tanya ibu nya ilham pagi itu.


"iya, bu. namanya anisa." jawab Ilham.


"cantik ya ? sopan juga anak nya. dia memang berhijab gitu setiap hari nya ?" tanya ibu nya lagi penasaran.


"iya dia memang hijab dari dulu kata nya. Ilham juga nggak seberapa tau, bu. cuma, menurut Ilham dia termasuk pinter, cepet nyambung, kalo di ajarin." jelas Ilham.


"kamu suka nggak ?" tanya ibu nya tiba-tiba, membuat Ilham mengerjapkan mata beberapa kali dan menelan makanan dengan susah payah. ia lalu meminum air putih di depannya untuk melegakan tenggorokan.


"bu, nggak semua yang berhijab itu baik loh. beberapa orang itu berhijab karena pekerjaan, karena mau pergi, karena ini karena itu." sahut si bungsu aisyah yang menyimak pembicaraan sedari tadi.


"anisa cantik, aisyah cantik, alisa juga cantik." ujar sang Ayah sambil tersenyum.


"kamu suka yang mana ?" ayah ilham melempar pertanyaan kepada Ilham.


"Ilham udah kesiangan ini, yah, bu. Ilham suka Aisyah aja. comel kayak kak ros." canda ilham beranjak dari duduk nya dan mengecup kepala adik nya dengan gemas, sebelum pembicaraan semakin jauh ia segera berpamitan kepada orang tua nya.


sekian waktu sudah berlalu, Alisa masih setia menggunakan hijab nya, semakin hari kesehatannya semakin membaik, rambut nya sudah mulai tumbuh meski masih menyerupai laki-laki, entah karena pengaruh hijab nya atau memang kepalanya terlalu keras terbentur, sikap bar-bar nya perlahan berkurang meski tidak sepenuh nya hilang.


"Assalamualaikum." sapa suara Ilham di depan rumah Alisa.


"Waalaikumsalam." jawab Alisa dan Ali bersamaan. mereka beranjak ke depan rumah.


"masuk, ham." ujar Ali mempersilahkan.


mereka duduk di ruang tamu, Alisa membuatkan minuman untuk tamu spesial nya.

__ADS_1


"hmmm, bang, Ilham mau ajak Alisa ke rumah, boleh nggak, bang ?" Tanya Ilham deg-degan.


"Boleh kalo Alisa nya mau. tanya Alisa dong mau apa nggak." jawab Ali sambil tersenyum. ketika Alisa hendak membuka mulut ponsel nya berdering "Sam." gumam nya. ia mengangkat ponsel nya saat itu juga.


"halo." sapa nya.


"Assalamualaikum." jawab suara di belahan negara lain itu.


"a... assalamualaikum ? kamu..." alisa ternganga.


"yes princess, aku muslim sekarang. seseorang mengajari ku agama dengan tulus, dan beruntungnya Allah menitipkan cinta padaku untuk nya." jelasnya denga suara renyah.


"secepat itu ?" tanya Alisa terkejut mereka baru berpisah 3 bulan lalu.


"nanti aku bawa dia ke indonesia, aku tau kamu penasaran, namanya nadira. akan ku kenalkan dia padamu." terang nya lagi.


"wow, ok, bisa kita telepon lagi, dirumah lagi ada Ilham, aku, aku ada perlu sama dia." ucap Alisa kikuk, yang di sebut namanya tersenyum kecut merasa tidak enak hati.


"Sam islam, dek ?" tanya Ali penasaran.


"iya, bang, dia juga udah ketemu jodohnya." jawab Alisa sumringah.


"wah, bisa double date nih." sorak Ali.


"hem, jadi...."


"oh iya, aku siap-siap dulu ham, nanti kita berangkat." putus Alisa kemudian.


orang tua Alisa sedang pergi keluar kota, kali ini mereka pergi agak lama, selain kunjungan dinas, mereka juga akan mengunjungi keluarga nya yang berada di sekitar kota tersebut.


Alisa nampak cantik dengan gamis polos warna abu-abu muda. Alisa sadar bahwa perasaan nya untuk Ilham buka sekedar tentang persahabatan, lebih dari itu, Alisa mencintai Ilham. meski kata-kata itu tidak terucap jelas, tapi sikap kedua nya sudah menunjukkan tentang perasaan mereka satu sama lain.


"aku yang bawa motor." sahut Alisa.

__ADS_1


"oh nggak bisa, aku bawa mobil hari ini."


jawab Ilham cepat.


"nggak masalah, aku bisa kok bawa mobil." balas Alisa lagi.


"Denger ya, Alisa Maharani. kita harus sampe kerumah dalam keadaan jantung yang masih berdetak sehat, jadi jangan macem-macem." ujar Ilham terdengar suara nya di buat segalak mungkin. Alisa terkekeh dia selalu suka dengan ekspresi Ilham setiap kali Alisa menggoda nya sejak mereka masih sekolah. Alisa merasa sudah kenal dengan keluarga Ilham, jadi ia tidak merasa gugup sama sekali untuk bertemu. mereka tidak pernah mengungkapkan cinta atau perasaan seperti umumnya pasangan lain, mereka hanya menjalani persahabatan dan menjaga hati masing-masing. tak terasa mereka kini sudah sampai di halaman rumah Ilham. terdengar suara orang sedang mengobrol di ruang Tamu.


"Assalamualaikum !" seru salam keduanya, menghentikan pembicaraan orang di dalam rumah.


"waalaikumsalam !" jawab mereka


"Mbak Alisaaaa !!" aisyah berseru, dia berlari menghambur ke pelukan Alisa.


"mas nggak di peluk ini." goda Ilham pada adik nya.


"ih, apaan sih, ketemu mas kan tiap hari ketemu mbak Alisa kan momen langka." aisyah mencebik. aisyah melepas pelukannya dan langsung membawa Alisa masuk ke dalam rumah.


" mbak di rumah ada mas ryan, mbak anna sama riana. yuk, aku kenalin." kata Aisah. ketika melangkah masuk Alisa terkejut karen tidak hanya orang yang tadi di sebutkan aisah yang ada di dalam, tetapi anisa juga turut hadir di antara mereka.


"Mas ryan, calon istrinya Mas Ilham nih, mbak Alisa !" seru Aisah dengan bangganya. belum selesai rasa terkejut Alisa karena Anisa, sekarang dia lebih terkejut lagi dengan penuturan Aisah, wajah nya memerah menahan malu, ingin rasanya ia menghilang saja sekarang. semua mata menatap Aisah dengan pikiran masing-masing. lalu beralih menatap Alisa, Alisa hanya tersenyum kaku. ia berusaha melepas tangannya dari rangkulan aisah, namun Aisah memegang erat seolah Alisa adalah milik nya.


"mulut nya Aisah laknat juga ternyata, kampret." umpat nya dalam hati.


"Iya, kan, mas ?" ilham yang baru saja keluar dari kamar mandi hendak bergabung di tanya tiba-tiba oleh aisah. tentu aja dia bingung. ia duduk di sebelah ryan.


"calon istri mu cantik banget." ucap ryan berbisik pada Ilham


"ca... calon, calon apa, apa, gimana ?" Ilham nampak syok mendengar suara di sebelah nya.


"sini Alisa, gimana kabar kamu, nak ?" tanya ibu Alisa ia bangkit menghampiri Alisa dan mendudukan alisa di sebelah nya.


"alhamdulillah baik, bu. sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelum nya." jawab Alisa yang masih jedag jedug jantung nya. ibu Alisa mulai memperkenal kan ryan dan Anna, mereka menyambut hangat seorang Alisa. Anisa tiba-tiba merasa tersingkir. ia geram dengan keberadaan Alisa terlebih saat aisah memperkenal kan Alisa sebagai calon istri Ilham. ia mengeluarkan ponsel nya dan mulai memberi perintah pada seseorang.

__ADS_1


__ADS_2