
Selesai makan alisa kembali ke kamar nya, sudah
hampir tengah malam, alisa masih belum bisa memejamkan mata. Ia gelisah,
memikirkan lomba besok dan juga pergi ke acara aisah. “huh, kenapa waktu nya
samaan sih.” Gerutu nya.
KRIIIINNNGGGGG !!!! alarm ponsel nya nyaring
terdengar. Alisa bangun untuk sholat subuh, ia lalu bersiap untuk keluar
sarapan.
Tring tring. Ponsel nya berbunyi. Muncul [esan dari
ilham di layar pop up. Alisa segera membuka ponsel nya.
Ilham : [gue jemput jam 8 ya, aisah majuin acaranya
jadi jam setengah 9. Soalnya catering udah siap.]
Alisa : [gak usah di jemput. Gue kerumah lo aja
bawa motor. Gue otw bentar lagi. Mau sarapan dulu]
Ilham : [oke.]
Ilham : [ciyeee, mau ketemu camer ya ?]
Alisa : [MATAMU !]
Ilham : [ini aisah mbak hehe.]
Membaca chat ilham barusan membuat wajah aisah
memerah. Ia mengepalkan tangan di depan wajah nya dengan mata memejam rapat.
“anjiiiirrr..” batin nya
mengumpat. Setelah sarapan alisa pergi ke parkiran tempat motor nya di parkir,
saat keluar dari parkiran, lagi-lagi ia bertemu anisa dengan dandanan menor dan
setelan rok mini ketat dipadu kaos crop dengan belahan dada rendah. Persis
wanita malam. Segera ia berlalu sebelum anisa melihat nya. Ia ingat bagaimana
anisa membentak nya semalam, sangat jauh berbeda saat ia berkenalan dengan
anisa beberapa waktu lalu di rumahnya.
Alisa
mematikan motor saat sudah mendekati halaman rumah ilham, jangan di Tanya dari
mana alisa tau rumah ilham, ia sudah memaksa aisah untuk meng sharelok rumah
ilham saat aisah meminjam ponsel ilham.
“assalamualaikum.”
Alisa mengucap salam di depan pintu rumah yang terbuka. Kali ini ia sangat
natural tidak memakai make up, karena tidak mungkin dalam kondisi semalam dia
meminta mama nya untuk menghubungi madam sri. Dengan penampilan sederhana dalam
balutan hijab, alisa tetap gadis cantik yang menggemaskan bagi seorang ilham.
“wa alaikumsalam.”
Ibu lidya menyahut. Segera ia memastikan siapa pemilik suara di depan pintu
rumah nya.
“loh, kirain
ustadzah mana yang ngucap salam, ternyata alisa to.” Ujar ibu lidya ramah
sambil menyalami alisa. Alisa tersenyum manis.
“hehe, iya
tante. Aisah nya ada, tante ?” Tanya alisa tanpa basa basi. Hati nya saat ini
__ADS_1
sedang bergemuruh di kejar waktu. Ia tidak tau apa yang terjadi di lomba sana.
Chat dan telepon dari teman-teman nya tidak di tanggapi nya sama sekali.
“aisah ? kira
tante, kamu kesini cari ilham.” Ujar ibu lidya tersenyum.
“ah, tante
mana ada, cewek nyamperin cowok, malu dong, te.” Canda alisa mengungkap
pendapat nya.
“aisah nya di
dalem masihan. Masuk dulu yuk.” Ajak ibu lidya. Alisa menurut ia mengekor dan
duduk di ruang tamu setelah di persilahkan ibu lidya.
“ayah, ada
tamu nih !” ibu lidya memanggil suami nya.
“ibu,
semangat banget manggil ayah.” Ujar pak hendra yang memasuki ruang tamu.
“loh, kamu
?!” pak hendra menyalami alisa di tengah rasa terkejut nya.
“ayah kenal
?” Tanya ibu lidya. Ilham dan aisah juga muncul bergabung dengan mereka di
ruang tamu.
“ini lho, bu.
Yang dulu pernah keserempet mobil ayah itu. Yang ayah ceritain.” Jawab pak
hendra. Ibu lidya tampak mengingat-ingat.
“oh, yang
“iya. Karena
ayah takut dia kenapa-napa. Kan, ibu tau sendiri, dari dulu ayah, paling takut
sama darah. Jadi, pas liat darah alisa kemana-mana, duh, ayah udah gak bisa
mikir lagi. Langsung bawa kerumah sakit, udah nggak lama pas mau lanjut
berangkat, eh, kumat deh.” Cerita pak hendra dengan terkekeh.
“maaf, pak,
bu, alisa nggak tau. Waktu itu alisa udah kesiangan jadi buru-buru. Maaf sekali
lagi.” Alisa tersenyum gugup.
“kok maaf ?
nggak apa apa, nak. Yah… namanya musibah, kan nggak ada yang tau ya.” Ujar bu
lidya tersenyum sambil merangkul pundak alisa, ada rasa nyaman menjalar dalam
hati alisa, saat tangan lembut ibu lidya menyentuh nya.
“iya, lagian
saya juga nggak kenapa kenapa kok.” Pak hendra menimpali ucapan istri nya.
“wah ! jodoh
emang nggak ada yang tau ya mas !” seru aisah dengan senyum lebar. Kata kata
nya mampu membuat dua wajah manusia muda itu merona, malu.
“ya, udah
ibu, ayah, ilham, aisah sama alisa berangkat dulu ya, nanti kesiangan.” Ujar
ilham.
__ADS_1
“buru buru
banget mas, pengen jalan sama mbak alisa.” Goda aisah lagi.
“apa perlu
ayah lamar sekarang juga alisa buat kamu ilham ?” Tanya pak hendra tiba tiba
“NGGAK !”
“IYA !”
Alisa dan
ilham menjawab kompak dengan jawaban yang berbeda membuat kedua nya salah
tingkah. Dan aisah sudah tertawa puas melihat ilham yang biasanya pendiam
menjadi sosok yang berbeda saat dengan alisa.
“ehm… ma…
maksudnya.. iya belum sekarang, yah.” Ralat ilham.
“belum ?
berarti akan ?” ibu lidya kini ganti yang bertanya. Alisa semakin meremas ujung
baju nya. Ia melipat bibir bawah nya ke dalam, bingung harus menjelaskan apa.
Selama ini ilham hanya sahabat nya. Jika ada rasa yang berbeda dalam hati nya,
itu mungkin hanya sebuah godaan yang nanti akan hilang seiring waktu.
“ck, ya nggak
gitu bu.” Ilham menggaruk pelipis nya yang amat sangat tidak gatal.
“assalam
mualaikum, bu, assalamualaikum, yah.” Dengan cepat ilham mengambil tangan orang
tua nya untuk di salami dan langsung keluar sesaat setelah orang tua nya
menjawab salam. Alisa meski gugup tapi juga melakukan hal yang sama. Dengan tawa
yang sangat bahagia aisah pun berpamitan. Kmetiga nya langsung menuju lokasi
panti asuhan yang sudah di rencanakan.
Rangkaian acara
selesai sekitar pukul 3 sore, setelah sampai di rumah ilham, alisa segera mohon
diri ke keluarga ilham dengan alasan harus pergi menyusul kakak nya yang sedang
mengunjungi usaha nya di luar kota.
Perjalanan yang
seharus nya bisa di tempuh dalam waktu 2 jam, karena padat nya jalan alisa
sampai mengulur waktu 1 jam lebih lama. Ia sampai di titik lokasi yang di
berikan oleh ridho semalam tepat pukul 7 malam. Ia memasuki halaman berpaving
blok dengan beberapa motor terpakir, 4 di antara motor-motor itu adalah milik
ali dan teman teman nya. Ia memarkir kendaraan nya di sebelah motor ali, lalu
melangkah masuk ke samping rumah yang seperti nya sebuah garasi tempat mereka
memodifikasi motor balap nya untuk lebih tangguh saat di lintasan.
“assalamualaikum.”
Sapa nya dengan hati berdebar.
“wa alaikum
salam.” Jawab mereka serempak, beberapa menoleh dan tersenyum ramah, termasuk
si pemilik rumah. Aan, ardi dan ridho justru melengos, tidak menanggapi
kehadiran alisa sama sekali. Ali langsung membuang kunci yang sedang di gunakan
__ADS_1
nya, ia melemparnya sembarang. Menatap tajam alisa, lalu berjalan keluar sambil
menyenggol pundak alisa dengan sengaja. Sampai alisa tersentak ke belakang.