Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
bab 16


__ADS_3

Selesai makan alisa kembali ke kamar nya, sudah


hampir tengah malam, alisa masih belum bisa memejamkan mata. Ia gelisah,


memikirkan lomba besok dan juga pergi ke acara aisah. “huh, kenapa waktu nya


samaan sih.” Gerutu nya.


KRIIIINNNGGGGG !!!! alarm ponsel nya nyaring


terdengar. Alisa bangun untuk sholat subuh, ia lalu bersiap untuk keluar


sarapan.


Tring tring. Ponsel nya berbunyi. Muncul [esan dari


ilham di layar pop up. Alisa segera membuka ponsel nya.


Ilham : [gue jemput jam 8 ya, aisah majuin acaranya


jadi jam setengah 9. Soalnya catering udah siap.]


Alisa : [gak usah di jemput. Gue kerumah lo aja


bawa motor. Gue otw bentar lagi. Mau sarapan dulu]


Ilham : [oke.]


Ilham : [ciyeee, mau ketemu camer ya ?]


Alisa : [MATAMU !]


Ilham : [ini aisah mbak hehe.]


Membaca chat ilham barusan membuat wajah aisah


memerah. Ia mengepalkan tangan di depan wajah nya dengan mata memejam rapat.


“anjiiiirrr..” batin nya


mengumpat. Setelah sarapan alisa pergi ke parkiran tempat motor nya di parkir,


saat keluar dari parkiran, lagi-lagi ia bertemu anisa dengan dandanan menor dan


setelan rok mini ketat dipadu kaos crop dengan belahan dada rendah. Persis


wanita malam. Segera ia berlalu sebelum anisa melihat nya. Ia ingat bagaimana


anisa membentak nya semalam, sangat jauh berbeda saat ia berkenalan dengan


anisa beberapa waktu lalu di rumahnya.


Alisa


mematikan motor saat sudah mendekati halaman rumah ilham, jangan di Tanya dari


mana alisa tau rumah ilham, ia sudah memaksa aisah untuk meng sharelok rumah


ilham saat aisah meminjam ponsel ilham.


“assalamualaikum.”


Alisa mengucap salam di depan pintu rumah yang terbuka. Kali ini ia sangat


natural tidak memakai make up, karena tidak mungkin dalam kondisi semalam dia


meminta mama nya untuk menghubungi madam sri. Dengan penampilan sederhana dalam


balutan hijab, alisa tetap gadis cantik yang menggemaskan bagi seorang ilham.


“wa alaikumsalam.”


Ibu lidya menyahut. Segera ia memastikan siapa pemilik suara di depan pintu


rumah nya.


“loh, kirain


ustadzah mana yang ngucap salam, ternyata alisa to.” Ujar ibu lidya ramah


sambil menyalami alisa. Alisa tersenyum manis.


“hehe, iya


tante. Aisah nya ada, tante ?” Tanya alisa tanpa basa basi. Hati nya saat ini

__ADS_1


sedang bergemuruh di kejar waktu. Ia tidak tau apa yang terjadi di lomba sana.


Chat dan telepon dari teman-teman nya tidak di tanggapi nya sama sekali.


“aisah ? kira


tante, kamu kesini cari ilham.” Ujar ibu lidya tersenyum.


“ah, tante


mana ada, cewek nyamperin cowok, malu dong, te.” Canda alisa mengungkap


pendapat nya.


“aisah nya di


dalem masihan. Masuk dulu yuk.” Ajak ibu lidya. Alisa menurut ia mengekor dan


duduk di ruang tamu setelah di persilahkan ibu lidya.


“ayah, ada


tamu nih !” ibu lidya memanggil suami nya.


“ibu,


semangat banget manggil ayah.” Ujar pak hendra yang memasuki ruang tamu.


“loh, kamu


?!” pak hendra menyalami alisa di tengah rasa terkejut nya.


“ayah kenal


?” Tanya ibu lidya. Ilham dan aisah juga muncul bergabung dengan mereka di


ruang tamu.


“ini lho, bu.


Yang dulu pernah keserempet mobil ayah itu. Yang ayah ceritain.” Jawab pak


hendra. Ibu lidya tampak mengingat-ingat.


“oh, yang


“iya. Karena


ayah takut dia kenapa-napa. Kan, ibu tau sendiri, dari dulu ayah, paling takut


sama darah. Jadi, pas liat darah alisa kemana-mana, duh, ayah udah gak bisa


mikir lagi. Langsung bawa kerumah sakit, udah nggak lama pas mau lanjut


berangkat, eh, kumat deh.” Cerita pak hendra dengan terkekeh.


“maaf, pak,


bu, alisa nggak tau. Waktu itu alisa udah kesiangan jadi buru-buru. Maaf sekali


lagi.” Alisa tersenyum gugup.


“kok maaf ?


nggak apa apa, nak. Yah… namanya musibah, kan nggak ada yang tau ya.” Ujar bu


lidya tersenyum sambil merangkul pundak alisa, ada rasa nyaman menjalar dalam


hati alisa, saat tangan lembut ibu lidya menyentuh nya.


“iya, lagian


saya juga nggak kenapa kenapa kok.” Pak hendra menimpali ucapan istri nya.


“wah ! jodoh


emang nggak ada yang tau ya mas !” seru aisah dengan senyum lebar. Kata kata


nya mampu membuat dua wajah manusia muda itu merona, malu.


“ya, udah


ibu, ayah, ilham, aisah sama alisa berangkat dulu ya, nanti kesiangan.” Ujar


ilham.

__ADS_1


“buru buru


banget mas, pengen jalan sama mbak alisa.” Goda aisah lagi.


“apa perlu


ayah lamar sekarang juga alisa buat kamu ilham ?” Tanya pak hendra tiba tiba


“NGGAK !”


“IYA !”


Alisa dan


ilham menjawab kompak dengan jawaban yang berbeda membuat kedua nya salah


tingkah. Dan aisah sudah tertawa puas melihat ilham yang biasanya pendiam


menjadi sosok yang berbeda saat dengan alisa.


“ehm… ma…


maksudnya.. iya belum sekarang, yah.” Ralat ilham.


“belum ?


berarti akan ?” ibu lidya kini ganti yang bertanya. Alisa semakin meremas ujung


baju nya. Ia melipat bibir bawah nya ke dalam, bingung harus menjelaskan apa.


Selama ini ilham hanya sahabat nya. Jika ada rasa yang berbeda dalam hati nya,


itu mungkin hanya sebuah godaan yang nanti akan hilang seiring waktu.


“ck, ya nggak


gitu bu.” Ilham menggaruk pelipis nya yang amat sangat tidak gatal.


“assalam


mualaikum, bu, assalamualaikum, yah.” Dengan cepat ilham mengambil tangan orang


tua nya untuk di salami dan langsung keluar sesaat setelah orang tua nya


menjawab salam. Alisa meski gugup tapi juga melakukan hal yang sama. Dengan tawa


yang sangat bahagia aisah pun berpamitan. Kmetiga nya langsung menuju lokasi


panti asuhan yang sudah di rencanakan.


Rangkaian acara


selesai sekitar pukul 3 sore, setelah sampai di rumah ilham, alisa segera mohon


diri ke keluarga ilham dengan alasan harus pergi menyusul kakak nya yang sedang


mengunjungi usaha nya di luar kota.


Perjalanan yang


seharus nya bisa di tempuh dalam waktu 2 jam, karena padat nya jalan alisa


sampai mengulur waktu 1 jam lebih lama. Ia sampai di titik lokasi yang di


berikan oleh ridho semalam tepat pukul 7 malam. Ia memasuki halaman berpaving


blok dengan beberapa motor terpakir, 4 di antara motor-motor itu adalah milik


ali dan teman teman nya. Ia memarkir kendaraan nya di sebelah motor ali, lalu


melangkah masuk ke samping rumah yang seperti nya sebuah garasi tempat mereka


memodifikasi motor balap nya untuk lebih tangguh saat di lintasan.


“assalamualaikum.”


Sapa nya dengan hati berdebar.


“wa alaikum


salam.” Jawab mereka serempak, beberapa menoleh dan tersenyum ramah, termasuk


si pemilik rumah. Aan, ardi dan ridho justru melengos, tidak menanggapi


kehadiran alisa sama sekali. Ali langsung membuang kunci yang sedang di gunakan

__ADS_1


nya, ia melemparnya sembarang. Menatap tajam alisa, lalu berjalan keluar sambil


menyenggol pundak alisa dengan sengaja. Sampai alisa tersentak ke belakang.


__ADS_2