Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
31


__ADS_3

Tidak bisa di pungkiri anisa memang kerap berganti pasangan


saat pacaran meski dia sering memakai pengaman, siapa yang menjamin dia tidak


akan kebobolan.


“jadi, anak itu cowok atau cewek ?” Tanya dimas pada anisa


lagi.


“cewek, gue juga nggak begitu tau, setelah anak itu lahir


temen gue bawa dia langsung ke panti asuhan.” Jawab anisa santai.


“emang sakit lo, nggak pantes lo jadi wanita.” Cibir dimas.


“halah, sok suci lo, bangsat. Lo kira dengan lo menolak


kehadiran dia waktu itu lo lebih baik dari gue ?” balas anisa sinis.


“setidak nya kalo gue jadi lo, gue akan pastikan dulu dia


anak siapa, baru minta tanggung jawab.” Jawab dimas datar, ia lalu meminta


alamat panti asuhan tempat dimana anisa menitipkan anak yang belum jelas siapa


ayah nya itu.


“nggak segampang itu dong dim, seenggak nya kasih lah gue


keuntungan sedikit.” Kata anisa ia melihat ada peluang bagus untuk dirinya


mencapai tujuan hidup. Ponsel dimas berbunyi ia melihat panggilan dari ibu nya.


Ia lalu menjauh dari anisa dan mengangkat telepon ibu nya.


“assalamualaikum, dimas. Kamu dimana nak ?” Tanya seorang


wanita lembut di ujung telepon.


“waalaikum salam, ma. Dimas lagi di luar, ma. Di taman kota.


Ada apa, ma ?” Tanya dimas. Suara dimas terdengar lembut berbeda jauh saat ia


berhadapan dengan anisa.


Terdengar ibu nya menghela napas berat “cepat pulang ya,


nak. Perasaan mama tidak enak dari kemarin, entah ada apa ? mama takut kamu


kenapa-napa.” Ujar ibu nya terdengar khawatir.


“iya, ma. Kalo gitu dimas pulang sekarang.” Jawab dimas, ia


mengerti kekhawatiran mamanya bukan lah sesuatu yang mengada-ada. Selama ini


mereka hidup penuh ketakutan untuk melangkah, Sampai mereka harus mengganti


semua identitas. Tetapi, itu pun sepertinya belum cukup membuat tenang. Dimas


menimang ponsel nya sebentar sebelum memasukkannya ke saku celana nya. Ia


menatap anisa yang masih menatap nya dengan senyum sinis di wajah nya.


“masih jadi anak mami lo ?!” sarkas anisa


“gue bukan elo, yang jahat nya sejati luar dalem. Kecewa itu

__ADS_1


justru membuat gue jauh lebih tau arti menghargai daripada membenci.” Ujar


dimas lalu mulai melangkah pergi.


“dim, dimas ! tunggu !” anisa mengejar langkah dimas.


“gimana, bisa nggak lo tolong gue. Ayolah, kita bisa omongin


masalah ini baik-baik kok.” Rayu anisa bergelayut di lengan kekar dimas. Dimas


berhenti dan menghempas tangan anisa “gue bukan manusia titisan dajjal kayak


lo, yang menghalalkan segala cara demi diri sendiri.” Ucap dimas kesal dan


menatap tajam anisa. lalu menjauh dari anisa.


“oh ya ?? mari kita lihat, seberapa teguh pendapat mu.” Ujar anisa setelah


menatap kepergian dimas. Ia tersenyum meringai. Ia lalu mengeluarkan ponsel


nya, hari ini dia sudah membuat janji temu dengan pelanggan nya, dan sore nanti


dia akan berjumpa dengan riska sahabat nya di dunia malam.


Di rumah alisa, dia sedang tertatih keluar dari kamar nya,


ia merasa bosan terus berdiam di kamar. Kepalanya kini tidak lagi di balut


perban panjang, hanya perban kecil untuk menutupi bekas luka nya.ia masih


berusaha mengingat banyak hal, untuk saat ini, dia sudah mengingat teman-teman


nya, aan, ridho dan ardi dia juga sudah mengingat ilham. namun dia belum ingat


tentang Sam. Ia duduk di garasi rumah nya tempat dia biasa bersantai dulu. Ayah


Dia di rumah dengan ali, namun ali sedang sibuk dengan gadget nya, hingga ia


tidak tahu bahwa alisa sudah keluar kamar dan duduk di garasi.


Di tempat ia biasa rebahan menikmati setiap hari nya, ia


ingin mengingat semua hal yang selama ini hilang. Sekilas kepingan-kepingan


ingatan kembali terlintas, seperti sebuah klise foto jadul silih berganti dalam


kepala nya, membuat nya beberapa kali terpejam merasakan nyeri di kepala nya


sebagai reaksi dari ingatannya yang mulai kembali. “ssshhh, siapa dia ?” gumam


nya. Ia beranjak dari kasur busa dan menghampiri sepeda motor yang sudah di


perbaiki beberapa lalu, mengusap kendaraan kesayangannya yang juga menjadi


saksi kegiatannya selama ini di atas aspal. Bayangannya kembali hadir, Sampai


alisa merasa kaki nya tidak lagi menjejak di tanah, beberapa kali pandangannya


kabur, ia masih berusaha keras mengingat. Ingatannya masih abu-abu, ia merasa


tubuh nya semakin limbung, dan nyeri kepala nya semakin hebat, tepat saat ia


terjatuh tangan kekar seseorang menangkap nya. Alisa masih memegang kepala nya


yang kian berdenyut “Alisa.” Ujar pemilik tangan kekar itu menangkap tubuh


alisa yang terjatuh. “Sam….” Gumam alisa sebelum terpejam dan terkulai.

__ADS_1


“Assalamualaikum!” Sapa sebuah suara yang terdengar


familiar. Sam menoleh di belakang nya ilham sedang menatap datar kea rah nya,


ekspresi tenang terlihat biasa bagi semua orang, siapa yang tau hati nya sedang


terbakar cemburu.


“Maaf.” Ujar ilham beranjak memutar badan meninggalkan


mereka.


“Tunggu, siapa nama lo ? gue lupa. Alisa pingsan waktu gue


kesini. Gue nggak tau, dirumah nya ada orang atau nggak. Tolong, bantu gue.”


Ucap sam menghentikan langkah ilham.


“Alisa bukan muhrim Saya, Saya nggak mungkin sentuh dia.


Biar saya bantu buka pintu aja, mungkin di rumah nya emang sedang nggak ada


orang.” Kata Ilham kemudian. Mereka berjalan ke rumah dengan alisa di gendongan


sam. Ketika handel pintu akan di raih ilham, tiba- tiba pintu nya di buka


seseorang. Ali dengan wajah panic dan ponsel di tangannya langsung terkejut


melihat adik kesayangannya tak sadarkan diri.


“Alisa kenapa ?” Tanya nya panik.


“Berat ini, masuk dulu nanti Gue jawab.” Jawab sam yang


masih menahan bobot alisa, ali segera menyingkir dari pintu dan membiarkan


mereka lewat berikut juga dengan Ilham.


“Waktu gue dating, Alisa udah ambruk. Dia megangin kepala


nya. Gue juga nggak tau kenapa, mungkin sakit lagi.” Jelas Sam.


“thanks ya, Bang Bro, gue nggak tau kalo Alisa keluar kamar.


Gue kira dia masih ada di kamarnya.” Ujar Ali.


“mas di rumah, tapi mas nggak tau kalo Alisa keluar kamar.


Untung Alisa Cuma ke garasi, kalo ilang gimana.” Kata ilham terdengar khawatir.


Mereka berkumpul di ruang tengah di depan pintu kamar Alisa. Mendengar protes


ilham Ali tersenyum, “Susah… susah ngadepin bucin-bucinnya Alisa.” Ucap Ali


dalam hati.


“Iya, iya sorry. Besok-besok gue jagain yang bener deh


princess love nya kalian ini.” Sindir Ali sambil tersenyum menggoda. Sam


meninju pelan pundak Ali sementara ilham menjadi salah tingkah di buat nya.


“Bang ali..” gumam alisa pelan, tak sengaja tangannya


menyenggol gelas di atas meja di samping tempat tidur nya, membuat kaget mereka


yang sedang membicarakan Alisa.

__ADS_1


PRAAAANNGGG!!!!


__ADS_2