
Tidak bisa di pungkiri anisa memang kerap berganti pasangan
saat pacaran meski dia sering memakai pengaman, siapa yang menjamin dia tidak
akan kebobolan.
“jadi, anak itu cowok atau cewek ?” Tanya dimas pada anisa
lagi.
“cewek, gue juga nggak begitu tau, setelah anak itu lahir
temen gue bawa dia langsung ke panti asuhan.” Jawab anisa santai.
“emang sakit lo, nggak pantes lo jadi wanita.” Cibir dimas.
“halah, sok suci lo, bangsat. Lo kira dengan lo menolak
kehadiran dia waktu itu lo lebih baik dari gue ?” balas anisa sinis.
“setidak nya kalo gue jadi lo, gue akan pastikan dulu dia
anak siapa, baru minta tanggung jawab.” Jawab dimas datar, ia lalu meminta
alamat panti asuhan tempat dimana anisa menitipkan anak yang belum jelas siapa
ayah nya itu.
“nggak segampang itu dong dim, seenggak nya kasih lah gue
keuntungan sedikit.” Kata anisa ia melihat ada peluang bagus untuk dirinya
mencapai tujuan hidup. Ponsel dimas berbunyi ia melihat panggilan dari ibu nya.
Ia lalu menjauh dari anisa dan mengangkat telepon ibu nya.
“assalamualaikum, dimas. Kamu dimana nak ?” Tanya seorang
wanita lembut di ujung telepon.
“waalaikum salam, ma. Dimas lagi di luar, ma. Di taman kota.
Ada apa, ma ?” Tanya dimas. Suara dimas terdengar lembut berbeda jauh saat ia
berhadapan dengan anisa.
Terdengar ibu nya menghela napas berat “cepat pulang ya,
nak. Perasaan mama tidak enak dari kemarin, entah ada apa ? mama takut kamu
kenapa-napa.” Ujar ibu nya terdengar khawatir.
“iya, ma. Kalo gitu dimas pulang sekarang.” Jawab dimas, ia
mengerti kekhawatiran mamanya bukan lah sesuatu yang mengada-ada. Selama ini
mereka hidup penuh ketakutan untuk melangkah, Sampai mereka harus mengganti
semua identitas. Tetapi, itu pun sepertinya belum cukup membuat tenang. Dimas
menimang ponsel nya sebentar sebelum memasukkannya ke saku celana nya. Ia
menatap anisa yang masih menatap nya dengan senyum sinis di wajah nya.
“masih jadi anak mami lo ?!” sarkas anisa
“gue bukan elo, yang jahat nya sejati luar dalem. Kecewa itu
__ADS_1
justru membuat gue jauh lebih tau arti menghargai daripada membenci.” Ujar
dimas lalu mulai melangkah pergi.
“dim, dimas ! tunggu !” anisa mengejar langkah dimas.
“gimana, bisa nggak lo tolong gue. Ayolah, kita bisa omongin
masalah ini baik-baik kok.” Rayu anisa bergelayut di lengan kekar dimas. Dimas
berhenti dan menghempas tangan anisa “gue bukan manusia titisan dajjal kayak
lo, yang menghalalkan segala cara demi diri sendiri.” Ucap dimas kesal dan
menatap tajam anisa. lalu menjauh dari anisa.
“oh ya ?? mari kita lihat, seberapa teguh pendapat mu.” Ujar anisa setelah
menatap kepergian dimas. Ia tersenyum meringai. Ia lalu mengeluarkan ponsel
nya, hari ini dia sudah membuat janji temu dengan pelanggan nya, dan sore nanti
dia akan berjumpa dengan riska sahabat nya di dunia malam.
Di rumah alisa, dia sedang tertatih keluar dari kamar nya,
ia merasa bosan terus berdiam di kamar. Kepalanya kini tidak lagi di balut
perban panjang, hanya perban kecil untuk menutupi bekas luka nya.ia masih
berusaha mengingat banyak hal, untuk saat ini, dia sudah mengingat teman-teman
nya, aan, ridho dan ardi dia juga sudah mengingat ilham. namun dia belum ingat
tentang Sam. Ia duduk di garasi rumah nya tempat dia biasa bersantai dulu. Ayah
Dia di rumah dengan ali, namun ali sedang sibuk dengan gadget nya, hingga ia
tidak tahu bahwa alisa sudah keluar kamar dan duduk di garasi.
Di tempat ia biasa rebahan menikmati setiap hari nya, ia
ingin mengingat semua hal yang selama ini hilang. Sekilas kepingan-kepingan
ingatan kembali terlintas, seperti sebuah klise foto jadul silih berganti dalam
kepala nya, membuat nya beberapa kali terpejam merasakan nyeri di kepala nya
sebagai reaksi dari ingatannya yang mulai kembali. “ssshhh, siapa dia ?” gumam
nya. Ia beranjak dari kasur busa dan menghampiri sepeda motor yang sudah di
perbaiki beberapa lalu, mengusap kendaraan kesayangannya yang juga menjadi
saksi kegiatannya selama ini di atas aspal. Bayangannya kembali hadir, Sampai
alisa merasa kaki nya tidak lagi menjejak di tanah, beberapa kali pandangannya
kabur, ia masih berusaha keras mengingat. Ingatannya masih abu-abu, ia merasa
tubuh nya semakin limbung, dan nyeri kepala nya semakin hebat, tepat saat ia
terjatuh tangan kekar seseorang menangkap nya. Alisa masih memegang kepala nya
yang kian berdenyut “Alisa.” Ujar pemilik tangan kekar itu menangkap tubuh
alisa yang terjatuh. “Sam….” Gumam alisa sebelum terpejam dan terkulai.
__ADS_1
“Assalamualaikum!” Sapa sebuah suara yang terdengar
familiar. Sam menoleh di belakang nya ilham sedang menatap datar kea rah nya,
ekspresi tenang terlihat biasa bagi semua orang, siapa yang tau hati nya sedang
terbakar cemburu.
“Maaf.” Ujar ilham beranjak memutar badan meninggalkan
mereka.
“Tunggu, siapa nama lo ? gue lupa. Alisa pingsan waktu gue
kesini. Gue nggak tau, dirumah nya ada orang atau nggak. Tolong, bantu gue.”
Ucap sam menghentikan langkah ilham.
“Alisa bukan muhrim Saya, Saya nggak mungkin sentuh dia.
Biar saya bantu buka pintu aja, mungkin di rumah nya emang sedang nggak ada
orang.” Kata Ilham kemudian. Mereka berjalan ke rumah dengan alisa di gendongan
sam. Ketika handel pintu akan di raih ilham, tiba- tiba pintu nya di buka
seseorang. Ali dengan wajah panic dan ponsel di tangannya langsung terkejut
melihat adik kesayangannya tak sadarkan diri.
“Alisa kenapa ?” Tanya nya panik.
“Berat ini, masuk dulu nanti Gue jawab.” Jawab sam yang
masih menahan bobot alisa, ali segera menyingkir dari pintu dan membiarkan
mereka lewat berikut juga dengan Ilham.
“Waktu gue dating, Alisa udah ambruk. Dia megangin kepala
nya. Gue juga nggak tau kenapa, mungkin sakit lagi.” Jelas Sam.
“thanks ya, Bang Bro, gue nggak tau kalo Alisa keluar kamar.
Gue kira dia masih ada di kamarnya.” Ujar Ali.
“mas di rumah, tapi mas nggak tau kalo Alisa keluar kamar.
Untung Alisa Cuma ke garasi, kalo ilang gimana.” Kata ilham terdengar khawatir.
Mereka berkumpul di ruang tengah di depan pintu kamar Alisa. Mendengar protes
ilham Ali tersenyum, “Susah… susah ngadepin bucin-bucinnya Alisa.” Ucap Ali
dalam hati.
“Iya, iya sorry. Besok-besok gue jagain yang bener deh
princess love nya kalian ini.” Sindir Ali sambil tersenyum menggoda. Sam
meninju pelan pundak Ali sementara ilham menjadi salah tingkah di buat nya.
“Bang ali..” gumam alisa pelan, tak sengaja tangannya
menyenggol gelas di atas meja di samping tempat tidur nya, membuat kaget mereka
yang sedang membicarakan Alisa.
__ADS_1
PRAAAANNGGG!!!!