Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
bab 7


__ADS_3

POV ANISA


Aku senang sekali saat mas ilham meminjami aku buku. Aku tidak terlalu suka membaca sebenar nya. Ya, hanya beberapa buku yang menurut ku menarik saja yang aku baca. Tapi, melihat mas ilham suka membaca, aku berinisiatif untuk mengikuti apa yang menjadi hobi nya. Aku sudah mengagumi nya sejak saat pertama kali aku di terima kerja. Dia begitu telaten mengajari ku. Tutur kata nya sopan, pembawaannya tenang. Sungguh baik dan sempurna sekali dia di mata ku. Sejauh yang ku tahu, dia adalah seorang bujang yang belum punya pacar. Mungkin, karena kealiman nya tersebut jadi dia akan langsung menikah jika menemukan wanita yang di rasa cocok. Ta’aruf, ya begitulah istilah nya. Buku yang sebenarnya aku pinjam ini sudah di film kan, dan aku sendiri pernah menonton film nya beberapa tahun lalu. Bahkan aku sudah mendownload nya di laptop ku. Dari situ film yang ku dapat di internet. Meski sudah tau jalan cerita nya, aku tetap harus membaca nya. Agar aku puny topik bahasan saat sedang membahas buku dengannya. Nama ku ANISA PUSPA NINGSIH, usia 20 tahun. Lulusan SMA dengan nilai pas pas an. Aku di terima bekerja karena bantuan dari tetangga ku yang menjadi orang dalam di bank tersebut. Memang benar kata orang, selain skill dan pengetahuan, the power of ordal adalah salah satu syarat tidak jadi pengangguran di negeri ini. Aku anak tunggal yang hanya hidup bersama seorang ibu. Usia ibu ku sudah berusia 45 tahun. Ibu ku seorang penjahit. Setiap kali ia di sibukkan dengan menjahit potongan potongan kain milik tetangga. Baik tetangga satu desa maupun dari desa lain.sesekali jika memiliki uang lebih, ia akan membeli beberapa meter bahan untuk di jadikan gaun. Dengan desain nya sendiri. Sebagai seorang penjahit, ibu ku cukup beruntung karena ia juga pandai membuat desain baju . hanya benturan modal adalah kendala nya. Sebagian baju di lemari ku adalah hasil tangannya.


“nak, kamu sudah makan ?” Tanya ibu ku. Dia masuk ke kamar ku yang hanya tertutup gorden warna pink. Rumah kami sederhana. Jauh dari kata besar atau mewah.


“nanti bu, aku masih mau baca buku.” Jawab ku tanpa mengalihkan pandangan.


“ya sudah. Ini tadi ibu jahitkan gaun panjang untuk kamu. Jangan pakai pendek pendek terus. Nanti mengundang kejahatan.” Kata ibu lagi. Ia memberi gamis panjang yang baru saja di jahit nya. Menambah sedikit bordir di bagian lengan dan bawah baju.


“ih, ibu ini kok doain anak nya yang jelek jelek sih bu.” Ucap ku. Aku menatap nya tajam. Aku kesal saat ibu k uterus terusan menyuruh ku untuk memakai baju panjang. Cukup bekerja saja aku memakai baju itu. Itu pun aku sudah tak tahan dengan rasa engap nya.


“ya gak gitu lho sayang. Ibu kan Cuma gak mau kamu kenapa kenapa. Apalagi…”


“apa ?! karena temen ku banyak cowok nya ?!” sahut ku emosi. Satu yang amat sangat aku tidak suka dari ibu ku adalah. Dia suka mengatur ku. Aku benci itu. Untuk apa mengatur ku, sedangkan dia sendiri saja gagal mengatur rumah tangganya sendiri. Sampai sampai ayah ku harus pergi meninggalkan kami. Sejak aku kecil, seharus nya aku merasakan punya kasih sayang lengkap seperti teman taman ku. Tapi yang kudapat hanya hinaan karena tidak punya ayah. Ayah pergi pasti karena ibu yang cerewet suka mengatur nya. Sekarang, aku nggak tahu ayah ku ada dimana.


“jangan urus pergaulan ku bu. Aku bisa urus teman teman ku sendiri. Aku udah capek hidup kita gini gini aja. Aku mau sukses, punya segalanya. Aku capek di pandang sebelah mata terus sama orang.” Ucap ku kesal.


“nggak ada yang pandang kamu sebelah mata, sa. Selama kamu tidak menyalahi norma sosial di masyarakat dan tidak melanggar larangan agama. Tidak akan ada orang yang memandang begitu.” Titik air mata mulai berkumpul di mata ibu. Aku melengos, aku juga benci ketika ibu ku menangis. Bagi ku dia lemah sekali saat menangis.


“udah lah bu, gak usah nangis. Air mata tu gak akan merubah apapun. Gak akan bikin ayah balik lagi sama kita.” Ujar ku menutup buku dari mas ilham dan meletak kannya di kasur begitu saja. Aku beranjak menuju meja makan.


Hari ini aku akan mengembalikan buku mas ilham yang sudah beberapa hari ku pinjam. Aku berjalan dengan riang sejak turun dari ojek online yang mengantar ku. Entah hanya perasaan ku atau memang benar, aku merasa ada seorang yang memantau ku saat aku memasuki kantor.


“assalam mualaikum.” Sapa ku saat masuk ruangan. Mata ku langsung tertuju pada meja si tampan, mas ilham. Yang selalu ku impikan selama ini. Aku mengembalikan buku dan sedikit berbasa basi dengannya. Seperti biasa, dia ramah sekali. Aku ingin sikap lembut nya hanya untuk ku saja saat ini. Aku berjalan ke meja ku setelah nya. Risma mencandai ku yang membuat wajah ku tersipu.


“nama nya juga usaha.” Gumam ku pelan. Aku menatap layar laptop dengan deretan angka di sana. Aku sedang mengecek mutasi beberapa orang nasabah.


Belum saat nya aku terang terangan menunjukkan perasaan ku. Aku harus memastikan mas ilham benar benar seorang single tanpa kekasih. Berkali kali ku curi pandang kearah nya. Dia masih sibuk dengan teman teman lelaki nya. Dia memang ramah dengan semua orang baik laki laki dan perempuan. Meski menjaga jarak dengan lawan jenis tapi dia tetap bisa jadi teman yang menyenangkan untuk semua orang.


Hari semakin sore. Sudah waktu nya pulang. Aku benci waktu kerja ku berakhir. Seperti film kartun dengan tokoh utama berwarna kuning. Aku benci di pisahkan oleh waktu dari mas ilham. “Tunggu saja suatu hari nanti, saat waktu tidak lagi menjadi jarak.” Batinnya.


Kembali aku merasa was was saat di halaman menuju gerbang pintu keluar yang mengarah ke jalan. Aku melewati parkiran mobil, mas ilham sudah berbelok ke kanan ke tempat dimana ia memarkir kendaraan roda dua nya.


Tiba tiba seorang lelaki menghentikan langkah ku. Jantung ku berdegup kencang. Wajah ku, aku yakin saat ini sudah sangat pucat. Hampir aku menangis melihat nya. Aku berjalan mundur menjauhi nya, sedangkan dia semakin melangkah mendekati ku. Di tengah ketakutan ku yang teramat sangat mas ilham menghampiri ku, menawarkan tumpangan. Tentu saja, aku langsung menyetujui nya.


“terimakasih mas.” Ucap ku dalam hati.


“yang tadi siapa nis ?” pertanyaan mas ilham membuat ku tersentak.


“a… aku gak tau mas.” Ucap ku tercekat. Untung dia tidak memperpanjang pertanyaannya.


Mas ilham mengajak aku untuk mampir ke rumah temannya. Entah ada keperluan apa dia disana. Tapi kulihat ada senyum kecil yang memantul dari kaca spion. Hati ku gelisah, terlebih saat mas ilham bilang temannya seorang wanita. Aku diam sepanjang perjalanan. Kami berhenti di depan gerbang sebuah rumah dengan halaman asri yang cukup luas untuk bersantai. Aku melihat ada 2 garasi dengan kendaraan roda 4 dan roda 2 yang bertengger. Aku mengikuti mas ilham sambil memperhatikan “sepertinya circle mas ilham adalah orang dengan kelas ekonomi menengah ke atas. Ah..” aku merasa minder dengan apa yang ada di depan ku. Mas ilham mengucap salam dengan sopan. Dan seorang wanita keluar, penampilannya membuat ku sangat terkejut, ku piker yang akan keluar dari rumah adalah sosok perempuan cantik, anggun dengan penampilan yang menunjukkan kasta nya yang setara dengan mas ilham. Namun ternyata, astaga. Jauh sekali dari angan ku. Wajah nya memang cantik tapi dia bukan seperti wanita anggun yang cocok dengan mas ilham. Rasa percaya diri ku kembali bangkit.


“bersaing dengannya ? siapa takut !. mas ilham gak akan mencari calon istri bentuk urakan begini. Dia bukan ancaman. Lagian seperti nya dia tidak tertarik dengan mas ilham. Jauh…. Jauh…”  sorak batin ku.


Ku lirik mas ilham memberikan buku dengan judul  TERDAMPAR DI DESA SERIBU WANITA. Aku terkejut, mungkinkah mas ilham yang alim membaca buku se vulgar itu. Tapi sikap nya sudah memberikan aku jawaban. Dia di kerjai temannya. Aku masih menunggu mas ilham mengenalkan ku pada nya. Saat aku menjabat tangannya, aku merasa… dia memang bukan ancaman. Aku tersenyum penuh arti.


…………


Saat sampai dirumah, ibu yang melihat ku pulang dengan seorang laki laki. Langsung menghentikan aktifitasnya dan keluar rumah menyambut ku. Aku menyalami ibu ku seperti biasa, ku lihat mas ilham juga turut menyalami ibu ku. Berbunga sudah hati ku, serasa melayang. Ah… andai saja.


“mari mampir nak.” Ibu tersenyum berbasa basi dengan mas ilham.


“terimakasih bu, mungkin lain kali. Sudah sore, ilham langsung pamit ya bu.” Mas ilham menolak dengan sopan ajakan ibu.


“oh iya. Terimakasih nak ilham, sudah mengantar anisa pulang.” Sahut ibu lagi.


“sama sama bu, mari.” Setelah mas ilham pulang. Aku melangkah masuk dengan riang sekali. Senyum ku tak pernah terlepas untuk hari ini.

__ADS_1


“bu, yang tadi nganter aku pulang namanya ilham. Ganteng nggak bu ?” Tanya ku pada ibu saat kami sedang makan malam dengan menu sederhana. Ibu ku tersenyum.


“kamu ketemu ilham dimana, anisa ?” Tanya ibu


“dia temen kerja ku bu, di kantor. Orang nya baik dan supel. Kayak nya sih dia belum punya pasangan. Aku mau deketin dia ah bu.” Kata ku dengan senyum optimis.


“pastikan dulu nak, dia belum ada yang punya. Jangan jadi pagar makan tanaman.” Ibu ku kembali ber nasihat.


“ck, ibu ini. Punya temen cowok gak enak di liat, salah. punya temen cowok baik, di curigain. Mau nya apa sih bu ?!” aku kembali ketus dengannya. Tidak habis piker, ibu ku ini sulit sekali berpikir positif terhadap orang lain, sulit sekali menerima kedatangan orang lain. Andai aja aku tau ayah dimana, aku rasa, mungkin aku lebih baik ikut ayah. Siapa tau aja keadaan ekonomi nya juga jauh lebih baik.


“bukannya gitu nak, ibu Cuma gak mau kamu sakit hati. Ibu gak mau kamu jadi orang jahat. Siapa tau dia sudah punya pasangan, pacar, istri atau tunangan. Nah, kamu gimana.” Lanjut ibu lagi semakin membuat ku panas mendengar nya.


“tau apa ibu soal sakit hati ? aku sudah sakit hati sejak aku di hina anak tanpa ayah bu.” Ujar ku sinis. Aku pergi meninggalkan meja makan dan ibu yang menangis.


“akan ku kejar diri mu , mas. Aku pasti akan dapatkan kamu.” Tekad ku dalam hati.


POV AUTHOR


Ali masuk ke kamar alisa dengan wajah sumringah di hari minggu pagi menjelang siang. Ia membawa kardus besar yang bersih. Alisa mendelik melihat wajah kakak nya Nampak begitu senang.


“dududududu… “ ali bersenandung sambil menepuk dan mengusap kardus seolah membersihkan sisa debu yang tidak tampak di sana.


“bahagia banget lo.” Ujar alisa mencebik kan bibir nya.


“wooo ya jelaassss ! hari minggu ini. Hari yang saaaaaaaannnnngggaaaaaaaaaaaaaattttt indaaaahhhh sekali. Mmuach.” Sangking bahagia nya ali mencium pipi adik nya dengan cepat dan tersenyum lebar. Alisa langsung mengusap pipi yang bekas di cium ali dengan kasar. Ia mengangkat sebelah alis nya.


“seneng amat lo, Cuma mau dapet baju bekas gue aja.” Cibir alisa


“ya gak pa pa. bekas juga masih bisa di pakek. Muehehe. Ayo dong alisa cantik. Kardus abang sudah menanti nih.” Ali meletak kan kardus. Menggeser nya sampai mepet di kaki alisa. Ia terus menggoda alisa yang sebentar lagi akan mengganti isi lemari nya secara bertahap.


“cih.” Alisa menendang sedikit kardus ali hingga kardus kosong tersebut bergeser beberapa centi dari kaki nya. Ali tersenyum penuh kemenangan. Satu persatu tumpukan kaos pindah ke kardus ukuran kurang lebih 3x kardus mi instan.


“kaos gue….” Alisa meratapi kaos kaos yang sudah pindah ke kardus ali.


“apa nya yang lagi ? udah abis tau. Mata lo gak liat, abis tuh tumpukan baju baju kesayangan gue.” Alisa menunjuk lemari bagian atas yang sudah bersih tinggal beberapa baju yang ukuran nya memang sesuai untuk alisa. Mungkin hanya sekitar 4 atau 5 baju. Ali mengeryit kan dahi hingga alis tebal nya bertaut.


“masa sih ?” ujar nya tak percaya.


“maksud ?” alisa bertanya balik curiga. Ali yang tadi nya jongkok di dekat kardus langsung berdiri. Ia mendekati alisa yang masih berdiri di depan pintu lemari no 2 yang masih tertutup.


“kaos dikit, kemeja dikit banget hoodie juga Cuma berapa biji. Koleksi lo kan banyak banget. Kayak nya masih ada yang ketinggalan di sini deh.” Ali berkata dingin.


“ng… nggak ada. Ngadi ngadi deh lo bang. Kan semua udah di situ.” Tunjuk alisa. Ia melihat ke sembarang arah mengusir kegugupan dalam hati nya.


“buka.” Perintah ali. Alisa menggeleng.


“ali ramadhan bin suwardi, ganteng, tinggi cakep, keren. Baju gue udah abis. Hari ini lo sita semua.” Ujar alisa kemudian dengan senyum yang di paksa kan.


Ali nyengir “gak percaya gue. Buka.” Lanjut nya lagi. Ia berusaha meraih gagang lemari di belakang tubuh alisa. Spontan alisa berbalik dan langsung mendekap pintu nya dengan erat. Terjadilah yang terjadi pemirsah..


“NGGAAAAAAKKKK !!! TIDAK AKAN KU SERAHKAN PADA KAMPRET YANG DURHAKA ! DENGAR ITU ALI TOPAN !” seru alisa.


“HEH ! LO TUH CEWEK. NORMAL DIKIT ! BALIKIN SEMUA BAJU GUE ! DAN SERAHKAN SEMUA BAJU LO, ALISA MAHARANI BINTI SUWARDI !!” ali menarik narik lengan dan kepala alisa. Tapi tenaga alisa sama besar nya dengan ali meskipun badan nya kecil.


“ENYAH KAU BANG DARI KAMAR KU !!”


“NGGAK ! MAMA UDAH BILANG ITU HAK MILIK GUE !”


“NGGAK BAKAL.”

__ADS_1


“DURHAKA LO LAWAN MAMA.”


“MAMA TOLOOONNGG !!!!”


Mendengar keributan di kamar alisa, mama nya yang sedang membuka satu persatu baju dari dalam kardus yang di bawa nya dari toko terkejut.


Dengan buru buru mama datang ke kamar alisa. Ayah yang baru selesai mencuci mobil pun masuk langsung ke kamar alisa.


“ya ampuuunnn ! alisa ! ali ! udah berhenti. Kalo nggak, mama bakar semua baju yang kalian ributin !” ancam mama nya. Reflek mereka langsung brenti.


“mama kan udah bilang, ganti semua isi lemari kamu. Itu mama lagi siapin baju baju buat di isi ke lemari kamu. Ngapain sih ribut ribut terus !” hardik mama nya. Alisa dan ali menunduk. Ali kembali memasuk kan beberapa baju yang terserak saat rebut dengan alisa tadi. Ayah nya hanya berdiri di dekat pintu kamar memperhatikan keluarga nya.


“ali, cepet kalo kamu mau ambil kaos yang bias di pake, gak usah pake ngeledek alisa.”


“iya. Tapi itu di lemari masih ada ma. Pasti di umpetin sama alisa.” Ucap ali


“nggak ya. Mana ada. Boong lo bang !” sentak alisa sengit.


“kalo gak ada, kenapa gak boleh buka ?!” balas ali


“ya gak boleh lah. Kan lemari gue.”


“alah pasti yang lo umpetin masih banyak kan ?!”


“nggak ada, ali ramadhan !”


“boong !”


“nggak !”


“bo..”


“DIAM !” hardik ayah nya. Wajah nya tegang menahan kesal.


“buka lemari kamu.” Perintah ayah alisa pelan. Dengan kesal alisa membuka pintu lemari. Dan semua baju yang dia sembunyikan tersusun di bawah kemeja dan hoodie yang di gantung. Semua itu adalah pakaian yang sudah di aman kan alisa dari ali.


“dadah baju kesayangan.” Ucap alisa dalam hati. Bahu nya melorot seketika.


“ckckckck..” mama dan ali berdecak kompak sambil menggeleng kan kepala. Dengan sigap, segera ali memindahkan semua kaos itu ke dalam kardus. Beserta hoodie dan kemeja nya.


Satu kemeja masih di pegang erat oleh alisa saat hendak di bawa ali. Sedikit tarik menarik sebelum akhirnya alisa relakan juga semua pakaian kedodoran nya.


“mama siapin baju baju kamu dulu. Sebentar.” Ucap mama nya dan berbalik ke kamar.


“ayah masuk ya.” Ujar ayah nya lembut. Pak suwardi tidak pernah berlama lama memarahi anak anak nya. Dia akan mengajari nya dengan lembut dan tegas. Bukan dengan marah marah dan egois. Karena itulah, jika ia sudah berteriak, maka semua isi rumah akan diam menurutinya. Tidak aka nada yang berani membantah.


Ia duduk di tepi kasur alisa yang empuk dan nyaman, dengan sprei biru tua yang tidak tertata rapi.


“ayah kan sudah bilang dek, alisa boleh bergaul dengan siapa aja. Silahkan. Ayah gak larang. Alisa boleh bergaya seperti cowok sesekali. Nggak apa apa. Alisa belajar bela diri sampai dapet medali dan piala. Ayah bangga. Ayah bangga punya alisa. Alisa bias mengerjakan pekerjaan laki laki, bahkan lebih baik. Ayah nggak masalah juga. Alisa bebas mau gimana aja. Tapi, alisa juga harus sadar diri. Alisa tetep anak gadis ayah. Alisa punya kodrat sebagai perempuan. Suatu hari nanti kamu akan bertambah usia, ayah juga. Alisa pasti akan bertemu dengan seseorang yang alisa anggap bisa menggantikan ayah menjaga kamu. Ilham anak yang baik, tapi ayah gak akan memaksa kamu dengan dia. Kamu bebas memilih. Asal dia benar benar baik dan saying dengan kamu, bertanggung jawab. Pasti, ayah izinkan.” Ayah nya menarik nafas dalam. Pandangannya menjadi sendu. Alisa masih duduk di lantai di depan lemari nya.


“setelah itu, kamu pasti akan menikah. Kamu akan meninggalkan ayah dan mama. Entah akan tinggal dengan mertua mu, atau kalian akan punya rumah sendiri. Dan saat itu terjadi, kamu juga sudah harus menjalankan kewajiban sebagai perempuan, membersihkan rumah, mengurus suami dan anak. Kamu akan mengandung dan melahirkan. Lalu bagaimana jika kamu tidak mulai belajar dari sekarang. Usia orang gak ada yang tau, sekarang kamu masih ada mama, ada ayah, ada abang. Kalo nanti ayah atau mama nggak ada, dan kamu belum bisa apa apa. Gimana ? sedangkan bang ali juga suatu hari nanti pasti akan menikah, membuat keluarga baru sendiri.” Ujar ayah nya panjang lebar. Alisa yang mendengar itu langsung menunduk. Ia menangis. Ia tidak pernah berani berpikir sejauh itu. Dia takut untuk kehilangan keluarga nya yang di rasa sudah sangat sempurna.


Tak terbayang kan jika dia harus sendiri, sebatang kara. Nggak, alisa gak mau itu terjadi.


“iya yah.” Ucap nya pelan. Bersamaan dengan itu mama nya masuk membawa 1 kardus besar  baju dan gaun untuk nya. Yang akan di simpan di lemari nya.


“nih tetep mama bawain kemeja buat kamu. Cuma, motif sama warna nya yang cewek. Ini ada tas, sepatu juga. Dress juga. Ini ada baju panjang baju pendek.” Kata mama nya tersenyum.


Ayah nya bangkit, ia berjalan keluar. Saat melewati alisa dia mengelus kepala alisa. Pak suwardi sangat menyayangi anak anak nya. Alisa dan mama nya langsung menata seluruh pakaian itu di lemari. Sedangkan di kamar sebelah alisa. Dengan penuh senyum kemenangan, ali menata seluruh baju yang di ambil dari lemari alisa. Beberapa di antara nya adalah baju baju milik nya yang di pinjam alisa tapi gak balik balik.

__ADS_1


“yesss, this mine.” Ucap nya memegang hoodie bergambar iwan fals. Lengkap dengan tanda tangan sang penyanyi yang di dapatkan dari konser nya waktu itu.


“say bye bye for your hoodie.” Senyum nya semakin lebar.


__ADS_2