
Matahari sudah menunjukkan wajah nya, namu seorang gadis
masih terlelap dengan tenang nya.
“permisi, bapak, ibu, visit dulu ya bu.” Seorang dokter
laki-laki yang menangani alisa berkata dengan ramah.
“emmmhh..” alisa melenguh lirih. Dokter masih memeriksa
keadaan nya. Memeriksa respon mata alisa yang sudah terbuka terhadap cahaya.
Semua Nampak baik-baik saja.
“siapa nama kamu ?” Tanya dokter tersebut. Mengingat
benturan di kepala nya cukup keras waktu itu.
“alisa.” Jawab alisa bingung. Ia Nampak berpikir sebentar
sebelum menjawab nya dengan ragu.dokter tersebut menangkap keragu-raguan alisa.
“berapa usia kamu ?” Tanya dokter itu lagi. Alisa kembali
berpikir, lalu menggeleng.
“apa yang kamu ingat terakhir kali ?” dokter itu masih
menggali ingatan alisa.
Tatapan alisa beredar menyapu ruangan lalu ia menggeleng
pelan.
“kamu kenal mereka ?” Tanya dokter menunjukkan semua isi
ruangan.
Alisa kembali mencoba mengingat mereka.
“mama, ayah.” Jawab alisa pelan. Ia menatap ali lama sekali.
Membuat jantung ali berdegup lebih kencang. “plis alisa, ini gue abang lo.”
Jerit ali dalam hati.
“hmmm… abang ?” Tanya alisa mengernyitkan dahi.
“iya, sa, gue abang lo. Abang ali. Gue.” Jawab ali
menitikkan air mata. Bagaimana bisa alisa melupakan abang nya yang setiap hari
selalu menangisi nya.
“tapi air mata abang gue dulu mahal. Kok yang ini cengeng ?”
Tanya alisa polos. Membuat wajah sendu ali berubah cemberut seketika.
“apa yang terakhir kali kamu ingat ?” dokter itu masih
bertanya. Alisa menggeleng pelan membuat dokter itu menarik nafas.
“istirahat ya, jangan di paksa untuk mengingat, pelan-pelan
saja, nanti kamu pasti bisa mengingat semuanya.” Ujar dokter itu lagi. Semua
keterangan alisa sudah di catat oleh suster namira. Iya suster itu yang terus mendampingi
perawatan alisa. Dokter itu lalu berpamitan.
“lo nggak inget gue, sa ?” Tanya ridho. Alisa meneliti wajah
ridho lalu menggeleng.
“kalo kita ?” Tanya aan dan ardi.
“hehe. Kagak. Sorry ya, gue gak inget.” Jawab alisa
tersenyum canggung.
“kok bisa ya, padahal yang hamper tiap hari, tiap ketemu
kita yang di siksa. Kok bisa nggak inget ya.” Kata aan pada ardi.
“boong kali lo ya, sa.” Kata ardi tak percaya. Orang tua
__ADS_1
alisa segera menghampiri, mereka sangat terharu dengan kesembuhan alisa.
“lo, juga pasti nggak inget sama gue.” Sam tersenyum
mendekat alisa yang sedang berada dalam pelukan mama nya. Sam mengulurkan
tangan
“hai, gue sam.” Kata sam memperkenalkan diri.
“alisa.” Sahut alisa. Untuk kedua kali nya mereka
berkenalan.
……………………..
Hari berganti, kini alisa sudah kembali pulang ke rumah
sejak satu minggu lalu. Sesekali ia masih mengeluh sakit kepala, dan ketika
sakit kepala itu datang, sekelebat ingatan nya juga kembali. Hari ini hari
minggu semua orang sedang berada di rumah.
“alisa, sarapan dulu, abis itu kamu minum obat !” seru mama
nya dari ruang makan.
“iya, ma.” Sahut alisa. Ia segera melangkah ke meja makan di
mana seluruh keluarga sudah menanti nya seperti biasa.
“ma, rambut alisa kapan panjang nya ya ?” alisa mengusap
kepala nya yang botak di hiasi jahitan sekitar 7cm. tempat dimana dokter
menjahit luka nya dan menghentikan pendarahannya.
Mama alisa menghela nafas, ia sedikit memaksakan senyum.
“sabar ya sayang, nanti juga rambut kamu tumbuh lagi.” Hibur sang mama.selesai
makan alisa membantu mamanya membereskan meja makan tanpa di minta.lalu
di nakas ponsel nya berbunyi, ada telepon dari teman yang bernama ilham.
“halo.” Sapa alisa.
“assalamualaikum, sa. Biasanya kamu salam, kok sekarang jadi
halo ?” Tanya ilham. Ilham masih belum tau apa yang terjadi dengan alisa.
“oh, iya. Sorry, gue lupa.” Jawab alisa bingung.
“kamu kemana aja sih, ngilang lama banget. Nggak ada kabar
lagi. Aku jemput mau nggak ? aisah mau ke panti asuhan, dia mau baca cerita
buat anak-anak di sana.” Ajak ilham. Alisa menggigit bibir nya ia ragu
sekaligus malu dengan kondisi nya saat ini.
“emm, gue…. Gue…. Gue di rumah aja deh.” Jawab alisa.
“kenapa mbak ?”suara aisah terdengar kecewa di ujung
telepon.
“aduh…!” alisa tiba-tiba kembali mengaduh. mama alisa yang
mendengar langsung berlari menghampiri, sesegera mungkin ia menjauhkan ponsel
dari telinga alisa.
“kamu, jangan main hp dulu, sa. Kondisi kamu belum terlalu
sehat. Sini ponsel nya. Jangan telepon dulu, chat aja, sa.” Ujar mama nya
sambil mengambil ponsel yang belum sempat di matikan. Melempar pelan ke atas
kasur dan segera mendudukan alisa di tepi tempat tidur.
“kamu udah minum obat nya ?” Tanya mama nya lagi.
“udah, ma” jawab alisa.
__ADS_1
“kenapa, ma ?” Tanya ayah alisa yang baru saja membersihkan
diri setelah berkebun di belakang rumah.
“alisa sakit lagi kepala nya.” Jawab mama alisa
“apa kita bawa berobat lagi aja ya, yah ?” Tanya mama alisa.
“tapi kata dokter kan emang begitu reaksi nya, ma setiap
alisa mengingat sesuatu, atau memaksakan diri mengingat sesuatu, pasti kepala
nya akan terasa sedikit nyeri.” Jelas ayah alisa mengingatkan.
“bawa istirahat aja dulu. Kalo sampai habis obat yang ini
belum sembuh juga, kita bawa ke rumah sakit lagi, ya.” Sambung nya lagi. Mama
alisa hanya mengangguk.
“ali aja, ma yang nemenin alisa.” kata ali yang ikut masuk
ke dalam kamar alisa. Akhir nya orang tua alisa keluar dari kamar alisa, baru
saja mereka hendak menutup pintu ruang tamu, ibu-ibu rombongan rasan-rasan
komplek yang waktu itu rujak bareng sudah datang. Tidak lupa, buah tangan yang
mereka bawa untuk menjenguk alisa.
“assalamualaikum.” Suara nya terdengar kompak seperti paduan
suara.
“waalaikum salam. Eh ada mamak-mamak pengajian lokal garis
keras.” Canda pak suwardi terkekeh.
“alah, pak wardi ini, bisa aja nyindir nya.” Jeng amira
mencebik kan bibir.
“gimana bu rosa, keadaan alisa nya ?” Tanya mak intan tidak
sabar.
“Alhamdulillah sudah lebih baik, mari bu, ayok silahkan
masuk, alisa lagi di kamar sama ali.” Bu rosa, mama alisa mempersilahkan mereka
dengan ramah. Mak intan, jeng amira dan the anis yang malu-malu karena bertemu
ayah alisa pun segera melangkahkan kaki ke kamar alisa.
“sa, ini ada tetangga kita yang jenguk kamu.” Kata mama nya,
alisa lalu duduk dengan bersandar pada bantal. Melihat yang dating rombongan
ibu-ibu, ali pun segera keluar kamar dengan alasan ngecek motor di garasi.
Malas sekali rasanya melihat ibu-ibu nyinyir komplek rumah nya, sayang nya,
ibu-ibu lambe turah itu adalah kawan akrab mama nya sendiri.
“huhuhuhuhuhu…!!! Oalah alisaaa….” Mak intan langsung
meratap dengan lebai nya. Membuat alisa langsung mengerjap kaget dengan suara
menggelegar mak intan.
“astaghfirullah.” Ujar nya dalm hati.
Hai-hai readers. Kondisi author lagi kurang fit nih, maklum
di daerah autho sedang hujan deras sampai banjir-banjir di beberapa jalanan.
Maafkan ya, kalo update nya mungkin belum banyak atau belum menarik, karena
cari ide saat sakit lumayan sulit bestie. Tapi lebih begitu syulit lupakan
reyhan, apalagi reyhan baik. Hehe, canda reyhan. Berkali-kali author sampaikan
terimakasih author kepada kalian yang sudah sudi meluangkan waktu untuk membaca
karya tulis author ini. Terimakasih semua nya.
__ADS_1