Cinta Dua Warna

Cinta Dua Warna
25


__ADS_3

Matahari sudah menunjukkan wajah nya, namu seorang gadis


masih terlelap dengan tenang nya.


“permisi, bapak, ibu, visit dulu ya bu.” Seorang dokter


laki-laki yang menangani alisa berkata dengan ramah.


“emmmhh..” alisa melenguh lirih. Dokter masih memeriksa


keadaan nya. Memeriksa respon mata alisa yang sudah terbuka terhadap cahaya.


Semua Nampak baik-baik saja.


“siapa nama kamu ?” Tanya dokter tersebut. Mengingat


benturan di kepala nya cukup keras waktu itu.


“alisa.” Jawab alisa bingung. Ia Nampak berpikir sebentar


sebelum menjawab nya dengan ragu.dokter tersebut menangkap keragu-raguan alisa.


“berapa usia kamu ?” Tanya dokter itu lagi. Alisa kembali


berpikir, lalu menggeleng.


“apa yang kamu ingat terakhir kali ?” dokter itu masih


menggali ingatan alisa.


Tatapan alisa beredar menyapu ruangan lalu ia menggeleng


pelan.


“kamu kenal mereka ?” Tanya dokter menunjukkan semua isi


ruangan.


Alisa kembali mencoba mengingat mereka.


“mama, ayah.” Jawab alisa pelan. Ia menatap ali lama sekali.


Membuat jantung ali berdegup lebih kencang. “plis alisa, ini gue abang lo.”


Jerit ali dalam hati.


“hmmm… abang ?” Tanya alisa mengernyitkan dahi.


“iya, sa, gue abang lo. Abang ali. Gue.” Jawab ali


menitikkan air mata. Bagaimana bisa alisa melupakan abang nya yang setiap hari


selalu menangisi nya.


“tapi air mata abang gue dulu mahal. Kok yang ini cengeng ?”


Tanya alisa polos. Membuat wajah sendu ali berubah cemberut seketika.


“apa yang terakhir kali kamu ingat ?” dokter itu masih


bertanya. Alisa menggeleng pelan membuat dokter itu menarik nafas.


“istirahat ya, jangan di paksa untuk mengingat, pelan-pelan


saja, nanti kamu pasti bisa mengingat semuanya.” Ujar dokter itu lagi. Semua


keterangan alisa sudah di catat oleh suster namira. Iya suster itu yang terus mendampingi


perawatan alisa. Dokter itu lalu berpamitan.


“lo nggak inget gue, sa ?” Tanya ridho. Alisa meneliti wajah


ridho lalu menggeleng.


“kalo kita ?” Tanya aan dan ardi.


“hehe. Kagak. Sorry ya, gue gak inget.” Jawab alisa


tersenyum canggung.


“kok bisa ya, padahal yang hamper tiap hari, tiap ketemu


kita yang di siksa. Kok bisa nggak inget ya.” Kata aan pada ardi.


“boong kali lo ya, sa.” Kata ardi tak percaya. Orang tua

__ADS_1


alisa segera menghampiri, mereka sangat terharu dengan kesembuhan alisa.


“lo, juga pasti nggak inget sama gue.” Sam tersenyum


mendekat alisa yang sedang berada dalam pelukan mama nya. Sam mengulurkan


tangan


“hai, gue sam.” Kata sam memperkenalkan diri.


“alisa.” Sahut alisa. Untuk kedua kali nya mereka


berkenalan.


……………………..


Hari berganti, kini alisa sudah kembali pulang ke rumah


sejak satu minggu lalu. Sesekali ia masih mengeluh sakit kepala, dan ketika


sakit kepala itu datang, sekelebat ingatan nya juga kembali. Hari ini hari


minggu semua orang sedang berada di rumah.


“alisa, sarapan dulu, abis itu kamu minum obat !” seru mama


nya dari ruang makan.


“iya, ma.” Sahut alisa. Ia segera melangkah ke meja makan di


mana seluruh keluarga sudah menanti nya seperti biasa.


“ma, rambut alisa kapan panjang nya ya ?” alisa mengusap


kepala nya yang botak di hiasi jahitan sekitar 7cm. tempat dimana dokter


menjahit luka nya dan menghentikan pendarahannya.


Mama alisa menghela nafas, ia sedikit memaksakan senyum.


“sabar ya sayang, nanti juga rambut kamu tumbuh lagi.” Hibur sang mama.selesai


makan alisa membantu mamanya membereskan meja makan tanpa di minta.lalu


di nakas ponsel nya berbunyi, ada telepon dari teman yang bernama ilham.


“halo.” Sapa alisa.


“assalamualaikum, sa. Biasanya kamu salam, kok sekarang jadi


halo ?” Tanya ilham. Ilham masih belum tau apa yang terjadi dengan alisa.


“oh, iya. Sorry, gue lupa.” Jawab alisa bingung.


“kamu kemana aja sih, ngilang lama banget. Nggak ada kabar


lagi. Aku jemput mau nggak ? aisah mau ke panti asuhan, dia mau baca cerita


buat anak-anak di sana.” Ajak ilham. Alisa menggigit bibir nya ia ragu


sekaligus malu dengan kondisi nya saat ini.


“emm, gue…. Gue…. Gue di rumah aja deh.” Jawab alisa.


“kenapa mbak ?”suara aisah terdengar kecewa di ujung


telepon.


“aduh…!” alisa tiba-tiba kembali mengaduh. mama alisa yang


mendengar langsung berlari menghampiri, sesegera mungkin ia menjauhkan ponsel


dari telinga alisa.


“kamu, jangan main hp dulu, sa. Kondisi kamu belum terlalu


sehat. Sini ponsel nya. Jangan telepon dulu, chat aja, sa.” Ujar mama nya


sambil mengambil ponsel yang belum sempat di matikan. Melempar pelan ke atas


kasur dan segera mendudukan alisa di tepi tempat tidur.


“kamu udah minum obat nya ?” Tanya mama nya lagi.


“udah, ma” jawab alisa.

__ADS_1


“kenapa, ma ?” Tanya ayah alisa yang baru saja membersihkan


diri setelah berkebun di belakang rumah.


“alisa sakit lagi kepala nya.” Jawab mama alisa


“apa kita bawa berobat lagi aja ya, yah ?” Tanya mama alisa.


“tapi kata dokter kan emang begitu reaksi nya, ma setiap


alisa mengingat sesuatu, atau memaksakan diri mengingat sesuatu, pasti kepala


nya akan terasa sedikit nyeri.” Jelas ayah alisa mengingatkan.


“bawa istirahat aja dulu. Kalo sampai habis obat yang ini


belum sembuh juga, kita bawa ke rumah sakit lagi, ya.” Sambung nya lagi. Mama


alisa hanya mengangguk.


“ali aja, ma yang nemenin alisa.” kata ali yang ikut masuk


ke dalam kamar alisa. Akhir nya orang tua alisa keluar dari kamar alisa, baru


saja mereka hendak menutup pintu ruang tamu, ibu-ibu rombongan rasan-rasan


komplek yang waktu itu rujak bareng sudah datang. Tidak lupa, buah tangan yang


mereka bawa untuk menjenguk alisa.


“assalamualaikum.” Suara nya terdengar kompak seperti paduan


suara.


“waalaikum salam. Eh ada mamak-mamak pengajian lokal garis


keras.” Canda pak suwardi terkekeh.


“alah, pak wardi ini, bisa aja nyindir nya.” Jeng amira


mencebik kan bibir.


“gimana bu rosa, keadaan alisa nya ?” Tanya mak intan tidak


sabar.


“Alhamdulillah sudah lebih baik, mari bu, ayok silahkan


masuk, alisa lagi di kamar sama ali.” Bu rosa, mama alisa mempersilahkan mereka


dengan ramah. Mak intan, jeng amira dan the anis yang malu-malu karena bertemu


ayah alisa pun segera melangkahkan kaki ke kamar alisa.


“sa, ini ada tetangga kita yang jenguk kamu.” Kata mama nya,


alisa lalu duduk dengan bersandar pada bantal. Melihat yang dating rombongan


ibu-ibu, ali pun segera keluar kamar dengan alasan ngecek motor di garasi.


Malas sekali rasanya melihat ibu-ibu nyinyir komplek rumah nya, sayang nya,


ibu-ibu lambe turah itu adalah kawan akrab mama nya sendiri.


“huhuhuhuhuhu…!!! Oalah alisaaa….” Mak intan langsung


meratap dengan lebai nya. Membuat alisa langsung mengerjap kaget dengan suara


menggelegar mak intan.


“astaghfirullah.” Ujar nya dalm hati.


Hai-hai readers. Kondisi author lagi kurang fit nih, maklum


di daerah autho sedang hujan deras sampai banjir-banjir di beberapa jalanan.


Maafkan ya, kalo update nya mungkin belum banyak atau belum menarik, karena


cari ide saat sakit lumayan sulit bestie. Tapi lebih begitu syulit lupakan


reyhan, apalagi reyhan baik. Hehe, canda reyhan. Berkali-kali author sampaikan


terimakasih author kepada kalian yang sudah sudi meluangkan waktu untuk membaca


karya tulis author ini. Terimakasih semua nya.

__ADS_1


__ADS_2