
TOK TOK TOK !
“Assalam mualaikum.” Suara ilham di depan pintu yang terbuka. Adab sopan santun bertamu nya sangat baik.
“wa alaikum salam !” jawab beberapa penghuni rumah kompak. Mama seperti biasa menyiapkan makan malam dan ayah sedang berganti pakaian setelah mandi. Alisa ada di ruang tv dengan Ali bermain ponsel. Alisa langsung beranjak menemui ilham di ikuti ali yang kepo.
“hei.” Alisa ber hai sambil tersenyum senyum jahil.
PLETAK ! ilham mendarat kan buku alisa yang di keluarkan dari tas kerja nya.
“Aduuhh !” seru alisa meringis sambil mengusap kepala nya. Kejadian itu langsung membuat ali tertawa ngakak di belakang nya.
“sakit tau.” Kata alisa lagi.
“lagian, siapa suruh kamu pinjemin aku buku begitu.” Sungut ilham. Bukannya merasa bersalah alisa malah terkekeh.
“kan kita udah 17 plus plus.” Jawab nya tanpa rasa berdosa.
“hiiiiiihhhh.” Ilham menampak kan raut wajah greget nya dan langsung menyodorkan buku tersebut.
Alisa justru tertawa melihat ekspresi ilham. Sejak sekolah dulu alisa sering membuat jengkel ilham. Sampai ilham pernah benar benar marah dan mendiamkan nya sampai beberapa hari karena kelakuan alisa. Setiap ketemu entah di sudut sekolah manapun alisa sering sekali mengejutkan dia. Lelah di buat kaget berkali kali.
FLASHBACK ON
Suatu hari alisa mengirim chat pada ilham
[aku telat hari ini, tolong bilang ke temen temen di kelas ku ya. Aku kecelakaan di jalan.] mendapat chat seperti itu ilham tentu panic luar biasa dia sangat khawatir akan sahabat nya. Padahal alisa lagi terkikik sembunyi di balik tembok kelas melihat ilham yang berlari ke kelas nya mengecek. Apakah benar alisa belum sampai ke sekolah.
DUARR !!!
Alisa meledak kan balon persis di depan ilham membuat wajah nya memerah merasa marah. Sadar ia hanya di kerjai, ilham langsung pergi meninggalkan alisa yang masih tergelak di tempat nya sambil memegangi perut nya.
[wajahmu ya. Sulit di jelaskan] chat alisa setelah itu dia menambahkan emot tertawa sambil menangis. Ilham hanya membuka chat nya tanpa minat membalas. Beberapa hari setelah itu, alisa menjalani hari di sekolah seperti biasa. Hanya dia tidak lagi melihat ilham yang marah marah. Ilham lebih sering menghindari nya dan diam saja jika bertemu. Alisa mengerucutkan bibir setiap pertanyaan nya di jawab ketus oleh ilham. Saat berangkat sekolah agak kesiangan, mungkin dasar alisa sedang sial, entah lah. Motornya yang berjalan lurus tiba tiba terserempet oleh mobil milik seseorang sampai ia terjatuh. Untung nya kondisi jalan sedang sepi dan sudah tidak jauh dari sekolah nya. Beberapa bagian tubuh nya terluka. Ia melihat samar samar orang yang keluar dari mobil berlari ke arah nya. Dan gelap……
Saat tersadar alisa merasakan perih di kepala, tangan dan kaki nya. Seperti nya selain memar kaki nya juga sedikit terkilir. Ia melihat perban perban kecil di tangan dan kaki nya serta di kepalanya. Beberapa bercak darah kering masih tertinggal di baju seragam nya.
“bagaimana keadaan mu nak ?” Tanya seorang pria. Usianya mungkin sama dengan ayah alisa, ia memakai setelan kemeja rapi.
“bapak siapa ?” Tanya alisa sambil sesekali meringis kesakitan.
“nama saya hendra, saya tadi tidak sengaja menyerempet motor kamu. Maaf ya, karena bapak kurang hati hati kamu jadi terluka.” Jelas laki laki yang bernama pak hendra itu.
“mo.. motor saya gimana pak ?” Tanya alisa dengan mata berkaca kaca. Dia lebih saying motor daripada yang lainnya. Dia gak akan tenang sebelum tau bahwa roda 2 kesayangannya baik baik saja.
“tadi bapak sudah telpon orang bengkel langganan bapak, nanti bapak beri no telepon montir nya. Jadi kamu bias kirim alamat supaya kalo motornya sudah selesai di perbaiki bias langsung di antar kerumah kamu. Bapak juga sudah menghubungi guru kamu, untuk tidak masuk sekolah karena kamu sedang pingsan tadi. Dan memang kondisi kamu yang tidak memungkinkan untuk sekolah hari ini.” Jelas pak hendra dengan ramah. Alisa memperhatikan wajah pak hendra seperti tidak asing tap entah bertemu dimana dan kapan. Mendengar penjelasan pak hendra alisa hanya diam.
“makasih pak.” Ucap nya lagi lalu tersenyum. Karena alisa hanya luka ringan ia di perbolehkan pulang oleh dokter. Pak hendra sudah memaksa hendak mengantar alisa pulang. Tapi alisa bersikeras menolak ia memilih menaiki ojek online saja. Merasa tak tega, pak hendra akhirnya memesankan taksi online untuk alisa dan segera di bayar dengan e wallet yang tersedia di aplikasi tersebut. Ia juga memberi beberapa lembar uang untuk alisa.
“nak, ini bapak ada sedikit rejeki. Mohon di terima ya, sekedar untuk uang jajan kamu.” Ucap nya menyodorkan 5 lembar kertas merah bergambar soekarno hatta. Dengan halus dan tersenyum alisa menolak. “nggak usah pak, makasih. Saya udah cukup di tolong udah bersyukur kok pak.” Ucap nya tapi bapak baik hati itu tetap memberikan ke tangan alisa. Bertepatan dengan dating nya taksi online yang datang akan membawa nya kembali pulang. Darimana pak hendra tau alamat sekolah dan nama alisa untuk mengijinka dia pada gurunya. Tentu saja, dari bet bet yang terpasang di baju seragam nya. Itu lah fungsi nya untuk mempermudah mengenali para pelajar di jalan.
Sesampai dirumah hari sudah menjelang siang. Alisa mengirim chat pada ilham.
[hari ini aku gak masuk. Aku kecelakaan. Untung di tolongin orang.] tulis nya. Ilham hanya membuka tanpa ada niat membalas chat alisa. Alisa menarik nafas melihat centang biru di room chat ilham tanpa ada keterangan ‘sedang mengetik’.
[kan gue udah minta maaf. Masih marah aja sih lo. Ntar kalo lo marah gue minjem novel sama siapa.] sambil merasakan sakit yang pelan pelan mulai mereda. Ia mencoba menghubungi ilham tapi ilham masih belum mau membalas pesan pesan alisa. Beberapa kali alisa juga coba menelepon. Tapi tidak di angkat.
“huh cowok kok kayak cewek lama ngambek nya.” Dengkus alisa.
Hari semakin terik dan akhir nya waktu pulang sekolah pun tiba. Ilham berjalan ke parkiran motornya. Dia tidak melihat alisa. Juga motor nya tidak terparkir di tempat biasanya. “tumben pulang duluan. Gesit banget.” Gumam ilham. Seorang cewek bernama novi menghampiri nya.
“ham, kalo kamu kerumah alisa, aku titip buku ini ya. Aku udah selesai baca.” Ujar nya tersenyum.
“lho emang alisa beneran gak berangkat ?” Tanya ilham terkejut. Tiba tiba perasaannya jadi tidak nyaman.
“nggak lah. Dia aja bundas tadi kirimin foto pas di rumah sakit waktu aku wa dia. Emang alisa gak ngomong ?” novi bertanya balik.
“terus sekarang ?” ilham mulai khawatir. Jantung nya berdebar menimbulkan sedikit rasa nyeri. “ah bodoh banget aku.” Rutuk nya dalam hati.
“udah dirumah katanya tadi langsung pulang. Untung aja dia rajin pake helm. Jadi, kepala nya baik baik aja.” Jelas novi.
“ok makasih ya.” Ilham buru buru memasukkan buku dalam tas nya. Dan langsung melesat dengan motor nya ke rumah alisa. Saat di perjalanan ponsel nya berbunyi. Mau tidak mau ia menepi untuk mengangkat ponsel nya.
“assalam mualaikum.” Sapa ibunya saat tersambung dengan ilham.
“wa alaikum salam. Kenapa bu ?” Tanya ilham sopan.
“kamu pulang sekolah langsung jemput aisah ya di sekolah nya. Kan sekolah nya sebelahan sama kamu tapi dia ada les hari ini. Kamu jemput dia jam setengah 4 sore ya. Ibu lagi di rumah sakit nemenin ayah. Tiba tiba darah tinggi nya kumat.” Suara ibu nya tampak khawatir di sana. Ilham mendesah berat. Ia menarik napas.
__ADS_1
“iya bu. Terus gimana ayah sekarang ?” Tanya ilham
“udah di kasih resep obat sama dokter Cuma suruh tunggu dulu sampai tekanan nya kembali normal. Mungkin nanti lepas magrib ayah sama ibu pulang.” Jawab ibu nya lagi.
“yaudah bu, ilham tadi rencana nya mau kerumah temen dulu. Tapi ya udah sekarang ilham balik ke sekolah aisah dulu. Baik baik ya bu. Assalam mualaikum.” Jawab ilham.
“waalaikum salam.” Ibu nya menutup telepon.
Dengan perasaan berkecamuk ilham membelok kan motor kea rah sekolah aisah. Ia menunggu di kantin sekolah aisah. Dia sudah mengirim pesan ke adik nya untuk menemuinya di kantin.adik nya bersekolah di SMP di dekat sekolah ilham
Ilham duduk sambil memesan es jeruk di kantin sekolah. Ia membuka kembali ponsel nya ada beberapa chat dari alisa yang tadi hanya di baca. Bahkan 2 pesan terakhir belum sempat di buka.
[gak usah kerumah ham, gue udah gak apa apa, sekarang mau tidur. Ngantuk abis minum obat. Besok juga gue udah sekolah lagi. Buku dari novi lo bawa aja dulu.] chat terakhir alisa.
[iya. Cepet sembuh ya. Makanya jangan suka ngerjain orang. Kualat itu. Tobat kamu.] balas ilham.
[tumben di bales. Udah gak marah ?] Tanya alisa dengan emot tertawa dan menjulurkan lidah
[CEREWET !] Balas ilham singkat. Hati nya lega melihat sahabat nya yang punya karakter berlawanan dengannya dengan kondisi yang tidak mengkhawatirkan. Ilham sedikit menarik bibir melihat chat terakhir alisa.
“alisa alisa kapan kamu berubah.” Gumam ilham sambil meminum es nya.
Begitu lah alisa dan ilham bersahabat dekat sejak dari SMK karena mempunyai hobi yang sama dan kebetulan ada di ekskul yang sama. Se tomboy itu tapi bias mengikuti ekskul rohis. Ckckck.
Perkumpulan nya seminggu sekali. Dan setiap itulah alisa akan seribu kali tampak lebih cantik dengan hijab nya.
FLASHBACK OFF
“kalo gara gara kamu aku khilaf gimana coba ?” Tanya ilham.
“gara gara gue ? gara gara buku kali.” Alisa tersenyum miring. Membuat ilham seketika salah tingkah.
“kok bisa jadi gara gara alisa sih, aahh…” racau batin nya.
“oh iya, ini siapa nih ? daritadi belum dikenalin.” Alisa tersenyum ramah menanyakan sosok anisa di samping ilham. Daritadi anisa hanya diam saja, memperhatikan bagaimana ilham dan alisa bercanda. Seolah dunia hanya milik mereka. Sedikit ada rasa cemburu di benak anisa saat itu. Namun, ia memendam nya tidak berani mengungkap secara langsung.
“ini anisa. Temen kerja aku.” Ilham memperkenal kan anisa.
“anisa.”
“alisa. Nama kita mirip ya.” Ujar alisa sambil tertawa. Anisa tersenyum.
“ck, ah jangan jangan calon istri lo kali, ham.” Celetuk alisa menggoda ilham. Mendengar godaan alisa, wajah anisa memerah. Ia tersipu. Rasanya seperti di beri pelangi di depan wajah nya.
“ngarang aja kalo ngomong.” Ilham menoyor kepala alisa.
“heh, katanya bukan muhrim. Bukan muhrim, bukan muhrim.” Alisa mencebik kan bibir. Menirukan bagaimana setiap kali ilham mengingatkannya soal batasan antara pria dan wanita dalam islam.
“gak yakin aku kalo kamu tu cewek beneran.” Ilham melirik alisa dari atas ke bawah. Anisa tertawa melihat tingkah keduanya.
“ya udah, udah sore. Aku juga mau nganter anisa pulang dulu. Jadi, aku pulang sekorang ya.” Pamit ilham.
“eciyeeee di anter pulang nih.” Goda alisa. Ia mengerjap centil di hadapan ilham. Ilham bergidik
“hih, serem.” Ujar nya tertawa.
“anisa, mau gue anter pulang nggak ?” Tanya alisa sambil memamerkan deretan gigi putih nya.
“oh, nggak, nggak. Jangan. Bahaya. Anisa belum bikin surat wasiat. Belum punya pesan terakhir buat keluarga nya. Lebih aman aku yang anter daripada kamu.” Jawab ilham cepat. Ia teringat bagaimana untuk pertama dan terakhir kali nya ia di bonceng alisa. Dan ia berjanji, apapun keadaannya, tidak akan pernah mau lagi di bonceng alisa.
Alisa terbahak mendengar ilham masih takut dengan kejadian beberapa waktu lalu.
“jagain motor lo. Jangan sampe mogok lagi. Takut nya, pas mogok nanti ketemu gue lagi.” Canda alisa.
“ojek online masih banyak.” Tegas ilham. Dia pun mengajak anisa untuk pulang karena hari semakin sore.
Setelah ilham dan anisa menghilang dari pandangan, alisa membalik kan badan masuk ke dalam rumah. Baru saja ia melangkah kan kaki di ruang tamu, keluarga nya sudah duduk memenuhi ruang tamu dengan santai nya.
“ehem, aduh panas ma, ruang tamu enak kali ya di kasih ac.” Celetuk ali
“uluh uluh kasian anak mama kepanasan. Kenapa nak ?” mamanya menanggapi sambil membelai wajah ali. Dengan ekspresi yang di buat buat.
“ayah gak punya mantu pegawai bank, ali. Nanti aja ya pasang ac nya. Kalo udah deal pegawai bank nya mau jadi mantu ayah.” Ujar sang ayah menahan senyum. Sambil terus menatap layar hp nya.
Alisa mulai memicingkan mata dan mengerutkan kening mendengar obrolan keluarga nya.
“kasian tapi ya yah, kan kita gak punya anak cewek. Dulu pernah punya. Tapi, kayak nya sekarang anak kita jadi cowok semua.” Ucap mama nya berpura pura sedih.
__ADS_1
“huhuhuhuhu…. Alisa, kamu kemana alisa. Kenapa kamu harus berubah jadi pria.” Ali berpura pura menangis. Tangannya menutup wajah sambil sesekali melirik alisa yang mulai mengerti dan sedang menahan kesal di dada nya. Ia menghembuskan nafas kasar beberapa kali.
“ALISA MASIH CEWEK MA !!!” seru nya.
“kayak ada suara ya li ?” Tanya mamanya. Bertingkah seolah tidak melihat alisa di sana.
“iya, ih merinding ayah. Nonton tv aja kali ya.” Ujar ayah nya berhenti mengamati grup whatsapp di ponsel nya. dan beranjak ke ruang tv.
“hemm, mama ambilin gorengan yang tadi kita beli ya yah.” Mama nya mengekor sambil sedikit mencuri pandang ke alisa yang sudah full ekspresi kesal. Melihat kedua orang tua nya meninggal kan nya, Ali menggaruk pelipisnya yang tak gatal sama sekali itu.
Ia melirik takut takut pada alisa. Alisa memperhatikan mereka dengan sorot mata tajam.
“misi mbah numpang lewat..” ucap ali pelan dan langsung berlari ke ruang tengah.
Alisa berjalan dengan menghentak kaki menuju ke kamar.
BRAKK !!!!
Alisa membanting pintu. Ia meletak kan buku nya di nakas. Lalu bercermin. Ia menatap pantulan diri nya. Rambut panjang nya yang di ikat, dengan highlight cokelat. Memperhatikan wajah. Lalu beranjak memperhatikan bagian yang menonjol di dada nya. Ia kembali menghembuskan napas. Lau, ia melihat pakaian yang di pakai nya, kaos oblong kebesaran warna maroon, celana jeans standar pendek sebatas lutut.
“apa yang salah.” Gumam nya pada diri sendiri.
Ia melihat diri nya polos tanpa aksesoris apa pun yang menempel. Ia lalu membuka lemari baju nya. Melihat baju di lemari dengan rak yang di susun. Di rancang untuk pakaian yang di lipat. Ia meneliti mulai dari atas. Semua isi nya sama. Kaos, celana jeans pendek, celana kain pendek, celana jeans panjang standard an pensil, celana kain panjang. Lalu membuka pintu lemari kedua, kembali memindai isinya. Kemeja dan sweater. Alisa berhenti, ia menatap ragu pintu lemari ketiga, yang merupakan pintu lemari terakhir. Menarik napas sebentar lalu memutar kunci untuk membuka.
TOK TOK !
“Sa, makan malem dulu yok abis ini mama sama ayah mau ngomong serius sama kamu !” ajak mama alisa dari luar.
“iya ma !” alisa memutar lagi pintu lemari yang hampir di buka nya. Dan menutup dua lemari lainnya. Lalu keluar kamar untuk makan malam. Ia diam saja saat makan malam berlangsung, pikirannya menerawang memikirkan beberapa kalimatyang sudah ia dengar hari ini.
Ali menyenggol kaki mama nya di bawah meja lalu menunjuk alisa dengan alis nya. Mama nya mengangkat bahu sambil melanjutkan makan. Suasana berbeda Nampak jelas malam ini. Biasa nya di sela makan bersama seperti ini, ada saja candaan alisa dan ali. Atau, sekedar obrolan mereka tentang aktifitas dan dunia mereka yang sering menjadi topic bahasan. Tapi usia alisa bukan lagi 15 atau 16 tahun, ia sudah harus mulai menata masa depannya.
“uang jajan kamu masih, sa ?” Tanya mama nya.
“masih cukup kok ma, sampai 2 mingguan lagi. Tabungan alisa juga masih ada. Utuh.” Jelas alisa.
“nanti ayah tambahin. Tapi ayah mau lihat perubahan kamu besok. Minimal penampilan kamu lah.” Kata ayah nya.
“p.. perubahan apa yah ?” gugup alisa. Selama ini penampilannya tidak pernah menjadi masalah sama sekali. Baru kali ini ayah nya mengeluarkan tindakan protes.
“ya penampilan kamu ini.” Ayah nya menunjuk alisa dengan sendok di tangannya.
“kamu gak akan selamanya jadi anak gadis ayah, sa. Gak akan selamanya kamu minta uang jajan sama ayah, mama atau abang kamu. Kamu sudah 21 tahun. Harus nya, kamu mulai menata masa depan kamu. Ayah suka kamu jago bela diri, pintar akademis meski nggak kuliah. Bisa bongkar dan dandan mesin seperti hal nya lelaki. Ayah suka. Itu nilai plus kamu. Tapi, kamu juga jangan lupa, kamu punya kewajiban dengan kodrat mu sebagai perempuan.” Lanjut ayah nya.
Alisa diam, ia mencerna kata kata ayah nya. Selesai makan malam mereka berpindah duduk di ruang tv. Kembali membahas tentang alisa. Sejauh ini, mama dan ali hanya diam.
“kamu masih boleh kok ngurusin motor kamu di garasi atau kalo kamu mau dandan motor sama temen temen kamu, ayah Cuma minta coba sedikit berubah dengan tampilan kamu. Kalo di rumah boleh lah pakek yang longgar gini. Tapi kalo keluar rumah, coba lah pake yangagak feminism dikit gitu. Tapi, yang sewajar nya. Jangan kayak kemaren parfum 1 liter kali ya, kamu guyur. Sampe takut masuk kena paru paru, ayah.” Ayah nya terkekeh.
“tapi alisa nyaman yah kayak gini. Selama ini bahkan gak ada yang berani macem macem sama alisa.” Ujar nya.
“iya lah satu macem aja langsung patah tulang siapa juga orang gubluk yang mau ilang nyawa Cuma gara gara godain lo.” Celetuk ali.
“ya berarti bagus dong. Alisa bukan cewek murahan kayak riska. Emang abang mau, adek nya pulang pagi, cowok nya ganti ganti terus pakek baju kurang kurang bahan gitu.” Cibir alisa
Ali langsung menjewer adeknya “gue bakar semua alat bengkel lo, buku buku kesayangan lo. Gue gantung lo di tiang lomba burung hias.” Ujar ali.
Alisa menepis tangan ali yang membuat telinga nya memerah. Ia mengusap nya. ”sakit, bego.” Ketus nya.
“ya makanya gak usah macem macem tingkah lo.” Ancam ali. Untuk kehormatan adek nya dia akan selalu tegas dan tidak berlunak lunak untuk hal itu.
“coba pakek anting anting aja dulu. Asesoris yang biasa di pakek cewek lah. Sama coba ganti kaos nya jadi yang seukuran kamu. Jangan kaos nya ali terus yang kamu pake. Kedodoran kemana mana. Kaos kaos atau baju yang ukuran nya se ali, kasih aja ke dia.” Ujar ayah nya
“yess !” teriak sang kakak. Alisa mendelik. Bagaimana mungkin meyerahkan barang barang kesayangannya begitu aja. Sedangkan beberapa kaos adalah hasil rebutan nya sama ali.
“alisa pikir dulu ya yah.” Ujar alisa. Ayah nya tersenyum.
“jadi cewek feminism tapi jangan kayak riska lho sa, bisa jantungan mama kalo kamu begitu.” Ingat mamanya. Alisa nyengir.
“besok mama ambilin beberapa aksesoris dari toko mama sekalian beberapa baju untuk kamu. Sekalian juga kamu pilih pilih tuh baju kamu, yang kira kira cukup buat ali. Lagian mama heran tinggi kamu Cuma se pundak ali tapi baju nya ali sebagian kamu rampok.” Mamanya menggeleng gelengkan kepala.
“tau tu, bilang nya pinjem eh baju nya lupa pemilik.” Gerutu ali. Alisa menjulurkan lidah menggoda ali.
“nih gue belanjain lo baju baju cewek. Sebagai gantinya lo balikin baju gue, plus baju lo yang muat di gue.” Ali tersenyum penuh kemenangan.
“mending kamu bayarin baju di toko mama li, daripada di online gitu. Itung itung nambah pemasukan mama.” Gurau mama nya.
“huu mama kurang aja perasaan.” Cibir ali. Mereka tertawa. Alisa memikirkan apa kata ayah nya. Mungkin memang benar dia harus merubah diri nya ke arah yang lebih baik. Tapi untuk berpenampilan seperti perempuan… sejauh ini yang dia lakukan jika harus bergaya ala perempuan adalah memakai kaos yang sesuai ukuran dia, pakai jeans pensil dan sepatu kets.tidak aksesoris juga tidak make up. Mentok ya Cuma minya wangi itu pun pakai punya ali, kayak kemarin.
__ADS_1
Hai readers yang budiman. Terimakasih untuk kalian yang sudah mau membaca karya ku ya hehe. Semoga aku bisa terus memperbaiki karya tulis aku. Maafkan jika terkadang masih suka banyak yang typo. Harap maklum ya masih belajar.