
Keseharian ku kini lebih ceria karena kehadiran amira, betapa bahagianya akhirnya aku pun bisa merasakan jadi ibu walau anak ini tidak lahir dari rahim ku.
Waktu terus berlalu, kami bertiga hidup bahagia layaknya sebuah keluarga, Alhamdulillah Allah melimpah kan rezekinya kepada keluarga kami, sehingga kami bisa merawat amira tanpa kekurangan apapun.Mas dika pun kini sibuk mengembangkan usaha nya, tak lagi ku dengar nama dewi tersebut di hubungan ini, mas dika tak pernah lagi keluar diam-diam tanpa sepengetahuan ku, aku bersyukur dewi telah pergi dari kehidupan kami.
Seiring waktu berlalu, Amira kecilku kini tumbuh menjadi gadis yang cantik dan soleha, sedari kecil aku mengajar kan untuk menutup aurat, hingga kini ia telah dewasa senantiasa sangat menjaga auratnya karena amira juga kami bekali ilmu agama agar pintar menjaga marwahnya dan tidak salah jalan.
Amira juga pernah mondok selama beberapa tahun, amira mondok sambil bersekolah di salah satu pondok pesantren terkenal di kota kami, kini amira telah menyelesaikan pendidikannya dan akan kembali ke pelukan kami.
"Mas bergegaslah, nanti kita terlambat ke wisudanya amira" ucapku.
"Iya sayang, sebentar" jawab mas dika.
Mas dika merapikan pakaiannya lalu bergegas ke mobil.
"Kita berangkat sekarang" tutur mas dika.
"Bismillah".
Hari ini kami akan menghadiri hari wisudanya amira sekalian menjemputnya pulang, hatiku sangat bahagia akhirnya bisa berkumpul kembali dengan putri ku tercinta. Walaupun selama amira di ponpes aku sering kali datang menjenguk, tetap saja tidak bisa mengobati rinduku ini pada amira.
"Assalamu'alaikum ayah, bunda"
amira mencium tangan juga memeluk erat kami, momen mengharukan ini sangat menyentuh hatiku,walau amira bukan darah daging kuda, namun aku sungguh sangat menyayangi nya.
"Bunda rindu sayang", lirih ku.
" mira juga rindu bunda", ucap amira sambil memelukku.
__ADS_1
"Ayo kita masuk dulu ayah bunda, acaranya mau mulai" ajak amira.
Kami pun masuk, acaranya berjalan lancar, lalu setelah itu kami mengabadikan momen ini sambil berfoto bersama, hanya kami berdua yang menemani amira, karena aku dan mas dika sama-sama yatim piatu. sedangkan sanak saudara kami pun sama-sama tak begitu peduli dengan kami sejak dulu. Bisa di bilang, nasib ku dan mas dika sama.
Hari ini segala sesuatu nya berjalan khidmat dan lancar, setelah acaranya selesai dan berpamitan, kami memutuskan untuk langsung pulang, karena amira juga sudah sangat kelelahan.
...****************...
Keesokannya. .
"Bunda boleh mira ikut bunda ke salon? ".
" Eh.. tiba-tiba mira mau ikut bunda, nanti mira bosan lho".
"Memangnya gak boleh ya bunda".
" Kalau di rumah malah mira bosan bunda, bunda ga ada, ayah juga ke toko, mira sendirian"
"Baiklah sayang, sekalian nanti mira bisa perawatan di salon, yuk siap-siap".
" Mira ke kamar dulu bun".
Aku hanya bisa tersenyum geleng-geleng.Mira sudah tumbuh dewasa namun masih seperti gadis kecil masih menempel sama bundanya, tidak seperti gadis lain yang memilih nongkrong di luar dengan teman-temannya.
"Yuk bun, mira sudah siap".
"Yuk sayang".
__ADS_1
Kami berangkat berdua menuju salon, sedangkan mas dika sejak tadi sudah keluar lebih dulu menuju toko.
Akhirnya kami tiba di salon.Aku langsung masuk menuju ruangan kantor ku, diikuti oleh anak gadisku.
Di kursi tunggu aku melihat sosok yang tidak asing.
"Assalamu'alaikum tante".
"Waalaikumsalam salam nak heru", jawab ku.
Heru adalah anak dari teman ku risma, heru seringkali ke salon menemani mama nya perawatan, kalau heru ada disini pasti risma lagi memanjakan diri di ruang perawatan.
" Kenalkan, ini anak tante, namanya amira", sambungku
"Salam kenal amira, saya heru anak temannya tante Nanda".ucap heru santun.
" Udah lama her?", tanyaku.
"Hampir satu jam tan", jawab heru.
" Yang betah her, tante masuk dulu, salam sama mama ya", ucapku.
"Iya tan, buat mama heru pasti betah betahin, hehe", ucap heru cengengesan.
Amira hanya berdiri mematung di sampingku, ku lihat heru sesekali melirik ke arah mira, namun putri ku nampak malu-malu. terbersit niat dalam hatiku ingin ku jodohkan saja mereka berdua.
"
__ADS_1