
Pagi ini tidak seperti biasa, Ikhsan sarapan sendiri tanpa mamanya. Biasanya mama akan dengan senang hati membuatkan nasi goreng atau roti bakar kesukaannya. Tapi pagi ini hanya ada Mbok Nanik yang menyiapkan sarapan untuknya.
“Mbok, mama disana ketemu sama kakek ya? Kok sikap mama agak aneh gitu?”.
“Nggak Den, Nyonya malah seneng banget disana, dia ketemu sama sahabatnya yang udah puluhan tahun nggak ketemu. Saking senangnya malah Nyonya males pulang katanya”.
“Tapi kok pagi ini mama belum keluar ya Mbok? Tumben”.
“Mungkin capek Den, maklum perjalanan kesana lumayan jauh. Mbok aja sampai ketiduran di mobil”. Mbok Nanik terkekeh geli.
Ikhsan terdiam, mencoba mengerti dengan keadaan mama. Tapi Ikhsan tau pasti ada sesuatu yang disembunyikan mamanya. Tadi malam ketika pertama kali bertemu dengannya mama begitu gembira, tapi kenapa ketika Ikhsan menyampaikan bahwa dia ingin melamar seorang gadis mama malah langsung menghindarinya? Bukankah mama yang selama ini menginginkan dia segera menikah. Atau mama sudah memiliki calon istri untuknya?
“Oh ya Den, Nyonya punya calon istri untuk Aden”. Mbok Nanik berbisik sambil meletakkan secangkir teh hangat disamping Ikhsan.
“Uhuk… Uhuk… Calon istri? Maksudnya Mbok?”. Ikhsan terbatuk
“Iya, sahabat Mama Aden punya anak gadis yang mau dijodohin sama Aden. Mbok denger sih katanya mereka udah janji 20 tahun yang lalu sebelum mama gadis itu meninggal”.
Ikhsan terdiam mendengar kata-kata Mbok Nanik. Dia berusaha berpikir tentang sahabat Mama. Apakah yang dimaksud Mbok Nanik tante Aisyah? Ikhsan masih ingat ketika mereka tinggal dikontrakan yang saling berdampingan. Tante Aisyah memiliki seorang anak perempuan dan Ikhsan sangat menyukainya. Hampir setiap hari Ikhsan bermain dengannya, dan mama akan sangat marah karena Ikhsan sering kali usil kepadanya. Pernah suatu hari anak Tante Aisyah menangis meraung-raung karena kedua pipinya memerah ketika Ikhsan tak berhenti mencubitnya gemas.
Ikhsan berjalan menuju kamar sang mama. Diketuknya pelan kamar wanita yang telah mengisi hari-harinya dengan sejuta cinta yang dimilikinya itu. Tak ada jawaban, Ikhsan mencoba membuka pintu, dan benar saja pintunya tidak terkunci. Dilihatnya mamanya sedang duduk di meja rias menyisir rambut yang sebagian telah berubah warna, tatapannya kosong.
“Mama”.
“Eh, sayang. Udah sarapan”. Dia berbalik melihat putranya, berusaha menyembunyikan perasaannya yang hancur. “Mama lagi siap-siap, sebentar lagi mau keluar sama Mbok Nanik. Mama pengen ikut ke pasar”.
“Ma…”. Ikhsan meraih kedua tangan mamanya dan menggenggamnya erat. “Apakah mama sudah dapat calon istri untuk Ikhsan?”. Ditatapnya kedua mata sang mama.
__ADS_1
Mamanya menggeleng “Sayang, minggu depan kita mau melamar temen SMA kamu itu. Siapa namanya?”. Mama berusaha menetralkan suasana, tapi Ikhsan tau itu hanya pengalihan mamanya saja.
“Ikhsan lebih memilih calon istri dari mama”. Jawabnya mantap, meski hatinya hancur.
“Nggak sayang, lebih baik menikah dengan orang yang kita cintai daripada orang yang sama sekali belum kita kenal”.
“Ikhsan udah kenal kok ma. Anak tante Aisyah kan?”. Ikhsan hanya menebak, karena yang dia tau satu-satunya sahabat mama yang berasal dari kota kecil itu hanya tante Aisyah. “Walaupun Ikhsan udah lama nggak ketemu anaknya, tapi Ikhsan yakin dia cantik sama kayak tante Aisyah. Dan Ikhsan juga yakin kalau pilihan mama pasti yang terbaik untuk Ikhsan”.
“Nggak nak. Mama nggak setuju”.
“Ma, Ikhsan nggak mau melihat mama seperti ini. Siapapun calon istri Ikhsan, Insya Allah itu pilihan terbaik Allah untuk Ikhsan. Lagian Ikhsan nggak mau menikah dengan orang yang Ikhsan cintai, tapi Ikhsan kehilangan mama”. Ada rasa pilu yang mengiris hati, namun melihat sedikit senyum sang mama rasa itu hilang begitu saja.
“Kasian gadis yang telah kau beri harapan itu sayang?”
“Lalu gadis yang sudah mama lamar itu bagaimana? Gadis yang Ikhsan cintai belum Ikhsan lamar ma, jadi masih banyak cara untuk menghentikan semuanya sebelum terlambat. Tapi disana ada seorang gadis yang sudah menutup hatinya untuk orang lain hanya karena telah menerima lamaran mama”. Mama terdiam dan menunduk dalam. “Percaya sama Ikhsan ma, nggak ada hal yang membuat Ikhsan bahagia selain kebahagiaan mama”. Dipeluknya tubuh mamanya membiarkan sang mama menumpahkan bulir bening yang tertahan sejak semalam.
Perlahan wanita paruh baya itu melepaskan pelukan anak bungsunya.
“Ketika tiba dirumah tante Aisyah ternyata dia telah meninggal beberapa bulan setelah kembali kesana, Salsa kecil hidup dengan tante Mutia yang juga sahabat mama di sana. Meski tidak kurang kasih sayang dan perhatian dari tante Mutia tapi mama merasa bertanggung jawab pada gadis itu nak, mama ingin menjadikannya menantu mama sesuai dengan janji kami dulu. Mama ingin membuatnya merasa memiliki mamanya kembali. Mama ingin Salsa merasakan kasih sayang mamanya yang selama ini hilang”. Mama terdiam dan menunduk.
“Ikhsan ngerti ma, mama tenang aja ya. Insya Allah dia jodoh terbaik untuk Ikhsan. Kalau masalah teman SMA Ikhsan, biar Ikhsan yang selesaikan Ma”.
“Kamu nggak keberatan sayang?”. Diusapnya pipi anak kesayangnnya itu.
Ikhsan menggeleng. “Tidak ada yang memberatkan jika itu untuk mama”. Ikhsan berusaha tersenyum demi sang mama. “Yaudah Ikhsan pamit dulu ya Ma, ada seseorang yang mau Ikhsan temui”. Diciumnya punggung tangan mamanya seraya beranjak keluar kamar mamanya.
“Terima kasih ya sayang”. Senyum mama kembali mengembang membuat Ikhsan yakin akan keputusannya dan tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat kebahagiaan mama.
__ADS_1
***
Dilajukan perlahan mobilnya membelah jalanan yang mulai ramai, masih memikirkan cara untuk menemui Mutiara. Ikhsan bingung apa yang akan disampaikannya pada gadis itu, setelah bertahun-tahun mengunggu saat indah itu tiba tapi harapan itu sirna setelah melihat cahaya redup di kedua mata sang mama.
Diparkirkannya mobil tepat di depan ruko Mutiara, hari libur jadi sepertinya Mutiara tidak membuka tokonya. Ia berjalan kearah pintu, belum sempat Ikhsan mengetuk pintu tiba-tiba Mutiara muncul.
“Eh… San, kok pagi-pagi sudah sampai sini?”. Mutiara sedikit terkejut melihat kehadiran Ikhsan di depan rukonya.
“Iya Mutiara, maaf. Ada hal penting yang ingin kusampaikan”. Ikhsan menata perasaan yang mulai kacau.
“Dari semalam ada aja hal penting ya. Hehehehe”. Mutiara mencairkan suasana dengan bercanda membuat Ikhsan ikut terkekeh geli. “Ya sudah, disana ada taman kecil. Kita duduk dan ngomong disana aja ya”. Mutiara menunjuk ujung jalan sebelah taman yang dimaksud.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di taman kecil itu, ada sebuah kursi panjang disisi taman menghadap ke jalan dan mereka memilih duduk disana. Mutiara tersenyum, meski tidak terlalu dekat mengenal Ikhsan, tapi dia tau lelaki itu sedang gelisah.
“Apa yang penting San? Kamu bisa ngomong sekarang”.
Ikhsan menarik napasnya berat, seolah ada beban disana. “Mutiara, aku minta maaf”. Ikhsan tidak dapat meneruskan kata-katanya, dia menunduk kembali menetralkan irama napasnya dan menenangkan diri untuk bisa melanjutkan kata-katanya.
“San, terkadang tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan”. Seolah mengerti akan kegelisahan Ikhsan, Mutiara langsung mengucapkan kata-kata yang membuat Ikhsan sedikit terkejut.
“Mutiara, aku tidak ingin menyakitimu. Tapi aku tidak bisa membawa mama menemuimu. Maaf”. Ikhsan semakin menunduk, tidak ingin memperlihatkan kekecewaannya kepada gadis pujaannya. Ada sebongkah batu besar yang seakan menghimpit dadanya, membuat dia sulit bernapas.
Mutiara tersenyum. “Ada banyak jarak diantara kita San, mungkin ini yang terbaik”. Mutiara beranjak ingin kembali, dia berusaha menahan bulir bening di kedua matanya.
“Mutiara…. Tunggu. Aku mohon, maafkan aku”.
“Kamu nggak salah San, aku yang salah yang tidak bisa menahan perasaan ini”.
__ADS_1
Mutiara berlari secepat mungkin, dia ingin meninggalkan pria yang sempat memberinya keindahan cahaya pelangi ditengah hujan. Dia tidak ingin mendengar lebih banyak apa yang akan Ikhsan bicarakan, tapi yang pasti dia tau bahwa Ikhsan akan membatalkan keinginan untuk kembali melamarnya. Mutiara berusaha menahan segala perih yang dirasakannya. Bertahun-tahun dipendamnya rasa yang memenuhi seluruh relung hatinya hanya untuk pria yang dikaguminya sejak dulu, hingga ia tak pernah membuka hati untuk orang lain.
Mutiara sadar bahwa semua bukan salah Ikhsan, dia pernah menolak lamaran Ikhsan beberapa tahun yang lalu. Walau mulutnya menolak sebenarnya hatinya sangat ingin mengatakan “Iya” tapi dia harus menahan diri, dia harus memikirkan adik-adiknya. Perlahan rasa sukanya terhadap pria itu memudar seiring berjalannya waktu, namun kehadirannya malam tadi membuatnya kembali menanam benih cinta yang hampir mati. Dan sekarng setelah benih itu tumbuh tiba-tiba harus mati kembali. Mutiara tau ada sebuah dinding yang memisahkan mereka. Bukankah cinta tak selamanya harus memiliki.