
Meski sempat keberatan akhirnya Ikhsan menuruti keinginannya untuk menikah secara siri. Mutiara kembali menghapus air matanya, mungkin inilah akibat yang harus ditanggungnya. Meski sikap Ikhsan baik padanya namun Mutiara juga merasa khawatir, ia takut kalau sikap Ikhsan hanyalah karena bayi yang sedang dikandungnya.
Mutiara beranjak dari duduknya ketika didengarnya suara bel pintu berbunyi. Dibukanya pintu dan mendapati seorang kurir membawa sebuah kotak yang berukuran sedang.
“Maaf bu, dengan istrinya pak Ikhsan?”. Sapanya sopan.
“Iya, saya”. Balas Mutiara dengan wajah heran. Bagaimana ada orang lain yang bisa mengetahui kalau ini rumah istrinya Ikhsan, bukankan mereka berdua sepakat kalau tidak memberi tahu kepada orang lain tentang status pernikahan mereka.
“Ini ada paket bu, mohon tanda tangan disini ya”. Disodorkannya smartphone untuk ditanda tangani oleh Mutiara.
Mutiara tak banyak bertanya lagi. Dia melakukan apa yang diperintahkan oleh kurir tersebut kemudian menutup pintu dengan membawa kotak yang masih terbungkus rapi itu. Dibukanya dengan hati-hati kotak yang tidak terlalu berat. Mutiara sangat penasaran apa sebenarnya isi kotak itu mengingat tak ada nama pengirimnya tertera disana.
Mutiara sedikit mengernyitkan keningnya ketika mengetahui isi kotak tersebut. Sepasang pakaian bayi lengkap dengan topi dan sepatunya. Sangat lucu dengan warna biru dihiasi dengan renda putih yang sangat menggemaskan, mirip pakaian bayi perempuan sebenarnya. Mutiara menghela napas, siapa kira-kira yang mengiriminya hadiah seperti ini.
***
“Ini mas, terima kasih banyak ya”. Aldimenyerahkan beberapa lembar uang merah kepada pria berbadan gembul di depannya. Setelah mengucapkan terima kasih diapun berlalu meninggalkan Aldi yang masih duduk dibelakang kemudi memperhatikan sebuah rumah sejak tadi pagi.
Aldi menarik napas berat, diusapnya rambutnya kasar. Tak tega rasanya jika dia harus memberitahukan semuanya kepada Salsa. Kecurigaannya benar, ternyata Ikhsan yang selama ini dianggapnya pria yang bertanggung jawab telah menyakiti hati adiknya yang sangat disayanginya seperti adik kandungnya sendiri itu. Dilajukannya perlahan mobilnya menuju apartemannya. Dia harus istirahat, sulit baginya untuk kembali bekerja dengan perasaan yang sedang kesal saat ini.
***
Mbok Nah dan Salsa sedang asyik membersihkan beberapa pot bunga yang sedikit ditumbuhi rumput. Sudah
dua hari ini mereka membersihkan taman belakang, hampir dua jam mereka berdua asyik dengan pekerjaannya masing-masing. Tiba-tiba Salsa menjerit, melihat darah segar mengalir dari kedua kaki putihnya.
“Mbok.... Mbok Nah. Salsa kenapa ini?”. Jeritnya kepada Mbok Nah sambil memegang kakinya, Salsa tak dapat berdiri lagi. Dia terduduk di taman yang ditumbuhi rumput.
“Ada apa Mbak, Mbak Salsa kenapa?”. Mbok Nah tergopoh menghampiri Salsa yang sudah terduduk lemas sambil menangis.
__ADS_1
“Mbok tolong telpon mas Aldi Mbok”. Pinta Salsa kepada Mbok Nah.
“Mbok telpon mas Ikhsan aja ya Mbak”. Seru mbok Nah dengan suara gemetaran menahan rasa khawatirnya melihat keadaan Salsa.
“Nggak usah Mbok, mas Ikhsan lagi diluar kota”.
Tanpa pikir panjang mbok Nah masuk ke dalam rumah dan kembali setelah beberapa saat.
“Udah Mbak, sebentar lagi mas Aldi kemari”. Mbok Nah berjalan terburu-buru, berusaha memapah Salsa menuju ruang tamu menunggu kedatangan Aldi.
***
Aldi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung dia baru saja selesai rapat sehingga dia bisa langsung menuju rumah Salsa. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya, dia benar-benar frustasi memikirkan nasib adiknya itu.
Aldi turun dari mobil dengan tergesa-gesa hingga pintu mobilnya tak ditutupnya. Dia berlari dan mendorong pintu dengan kasar, dia hanya ingin segera membawa Salsa ke rumah sakit.
Dipapahnya tubuh lemah Salsa yang sudah tak sadarkan diri, meletakkannya dibangku belakang disusul Mbok Nah yang membawa sebuah tas berisi beberapa pakaian Salsa. Aldi tak banyak bertanya, dikemudikannya mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Aldi mondar-mandir menunggu dokter yang sedang memeriksa Salsa. Dia sangat gusar, beberapa kali mencoba menghubungi Ikhsan. Tapi hasilnya nihil, adik ipar sekaligus bosnya itu tak mengangkat teleponnya sama sekali. Aldi semakin marah, mengepalkan tangannya erat-erat mengeluarkan sumpah serapah kepada Ikhsan.
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya seorang perawat keluar.
“Maaf pak, apakah anda suami pasien?”. Tanya perawat itu dengan ramah.
“Bukan Mbak, saya kakaknya. Suaminya sedang berada diluar kota”.
Perawat itu tampak ragu, namun kemudian Aldi berkata kepada perawat itu.
“Katakan kepada saya saja mbak apa yang terjadi dengan adik saya”. Aldi menyakinkan kepada perawat yang kelihatan ragu-ragu itu.
__ADS_1
“Baiklah silahkan ikut saya”. Akhirnya perawat itu mengajak Aldi ke ruang dokter yang menangani Salsa tadi.
Aldi duduk setelah dipersilahkan oleh perawat yang sudah berlalu keluar ruangan. Selang beberapa saat seorang dokter masuk. Dan betapa terkejutnya Aldi ketika mengetahui siapa sosok wanita yang ada dibalik jas putih itu.
“Aldi?”. Dokter muda itu tak kalah terkejut melihat Aldi.
“Annisa? Masya Allah. Apa kabar?”. Aldi berdiri menyambut kedatangan Annisa teman SMAnya dulu.
“Alhamdulillah aku baik”. Annisa kembali mempersilahkan Aldi duduk sambil memperlihatkan senyum manisnya. “Jadi, kamu sudah menikah Al? Nggak nyangka banget bakal ketemu disini ya”. Annisa duduk dikursinya sambil membuka jas yang melekat ditubuh rampingnya.
“Dia adikku Ann, dan alhamdulillah minggu depan aku masih mau melamar seorang gadis”. Jawab Aldi sambil tersenyum.
“Wah, berita bagus dong”. Jawabnya dengan sumringah. Aldi menunduk, tertawa kecil.
“Apa yang terjadi dengan Salsa Ann?”.
“Al, sepertinya adik kamu mengalami keguguran. Kandungannya memiliki kelainan kromoson. Kromosom merupakan unit pembentuk DNA, dimana materi yang mengatur struktur genetik. Pada masa pembuahan dan awal kehamilan, dapat terjadi berbagai kelainan kromosom, misalnya jumlah yang terlalu banyak atau terlalu sedikit. Kelainan kromosom ini juga umumnya menyebabkan janin gagal berkembang hingga terjadi keguguran seperti yang dialaminya sekarang”. Annisa sedikit menjelaskan.
“Trus bagaimana keadaan Salsa sekarang?”. Tanya Aldi dengan nada khawatir.
“Alhamdulilah pendarahannya sudah berhenti, usia kandungannya masih delapan minggu, dan usia ini memang rentan mengalami keguguran”.
Aldi mengangguk, berusaha memahami segala penjelasan Annisa.
“Tapi nggak perlu terlalu khawatir Al, peluang untuk hamil lagi masih besar”. Lanjut Annisa masih dengan senyum manisnya.
“Alhamdulillah, semoga dia baik-baik saja”. Aldi beranjak. “Ann, terima kasih banyak ya, aku pamit mau melihat keadaan Salsa”.
“Silahkan”. Annisa mengangguk dan beranjak membalas uluran tangan Aldi dengan menangkupkan kedua tangan di dadanya.
__ADS_1
Aldi tersenyum, menarik tangannya dan melakukan hal sama seperti Annisa.
Aldi berjalan menuju ruang perawatan Salsa, setelah keluar dari ruangan Annisa tadi seorang perawat langsung memberi tahukan kepadanya bahwa Salsa telah dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Aldi mempercepat langkahnya, tak sabar melihat keadaan adiknya sekarang. Aldi menghentikan langkahnya didepan pintu ruang perawatan Salsa. Wajah mungil Salsa terlihat putih pucat, berbaring lemah ditemani Mbok Nah disisinya.