
Sudah seminggu mama pergi, tidak ada kabar sama sekali. Tidak ada telepon, sms, chatting ataupun video call seperti yang selama ini sering mamanya lakukan. Ikhsan gusar berulang kali dia ingin menghubungi sang mama, tapi terkadang rasa gengsinya membuat dia urung malakukannya. Dia tidak ingin dianggap mamanya anak manja, dia ingin membuktikan pada mamanya kalau dia bisa sendirian. Padahal tidak demikian yang dirasakannya, dia bingung ketika harus mengurus semua kebutuhannya sendiri. Kalau di apartemennya dia punya asisten rumah tangga yang mengurus keperluannya, dari mulai memasak, mencuci pakaian dan merapikan rumah. Tapi disini Mbok Nanik juga dibawa mamanya sehingga dia harus melakukan semuanya sendirian. Meski jarak apartemen dan kantornya sangat dekat tapi Ikhsan jarang tinggal disana, dia lebih nyaman tinggal bersama mamanya dirumah ini. Rumah yang didesain khusus oleh kakaknya untuk sang mama tercinta.
Sudah hampir pukul 7 malam ketika Ikhsan pulang dari kantor. Hari ini tidak banyak pekerjaan yang harus dilakukannya sehingga dia bisa pulang lebih awal. Duduk merenung di depan TV, tiba-tiba Ikhsan teringat Mutiara. Setelah menimang-nimang kunci mobil beberapa saat Ikhsan lalu bergegas meraih jaketnya dan melajukan mobilnya menyusuri jalanan ibukota.
Diparkirkannya mobilnya tepat didepan sebuah ruko sederhana dengan tulisan “xxx reklame”. Banyak yang berubah, dulu bukan ruko yang ada dihadapannya melainkan sebuah kios kecil sederhana yang selalu ramai oleh para pelanggannya. Mungkin berkat kegigihan perempuan yang selalu dikaguminya membuat usaha itu kini semakin maju. Lama Ikhsan mengamati ruko itu, ketika hendak melajukan mobilnya kembali tiba-tiba keluar seorang gadis menggunakan gamis biru dengan jilbab senada menuju penjual nasi goreng diseberang jalan.
Walau tidak begitu jelas, namun cahaya lampu jalan mampu menampakkan sosok gadis pujaannya itu. Ikhsan keluar dari mobilnya lalu menghampirinya.
“Mutiara….”. dipanggilnya gadis itu sambil sedikit berlari mengejarnya.
Merasa ada orang yang memanggil namanya, gadis itu menoleh. Sedikit mengernyitkan kedua alisnya namun begitu dia melihat dengan jelas siapa yang memanggilnya diapun tersenyum seraya menghentikan langkahnya.
“Ikhsan, beneran Ikhsan kan? Udah malam begini kok kamu bisa ada disini?”. Cecarnya dengan beberapa pertanyaan.
“Iya Mutiara, ini aku Ikhsan”. Ikhsan berhenti tepat dihadapan Mutiara sambil mulai mengatur napas yang sedikit ngos-ngosan ketika berlari mengejar Mutiara tadi. “Ada yang mau aku sampaikan sama kamu Mutiara, boleh?”.
“Penting ya? Soalnya udah malam gini?”.
Ikhsan mengangguk, memasukkan kedua tangannya di kantong celananya. Setelan kemeja putih membuat dia begitu mempesona di malam yang mulai larut ini.
“Hmmmmm….”. Mutiara bergumam sambil sedikit berpikir. “San di rumah nggak ada orang, kebetulan Wulan yang biasa nemenin aku lagi pulang ke rumah orang tuanya karna besokkan libur. Gimana kalau kita ngobrol disana aja”. Ditunjuknya warung nasi goreng yang berada tidak terlalu jauh dari mereka berdiri.
“Boleh”. Ikhsan mengangguk sambil mulai berjalan.
Sebuah warung pinggir jalan yang sederhana, dengan deretan kursi yang sudah ramai dengan pengunjung. Mungkin nasi goreng di sini enak sehingga warung ini kelihatan ramai di tengah malam yang kian larut ini.
__ADS_1
“Kita duduk disana aja ya San, kosong tu”. Mutiara menunjuk sebuah meja kosong yang berada di dekat tembok.
“Iya, ayo silahkan”.
Setelah memesan dua porsi nasi goreng kepada pemilik warung Ikhsan berusaha mengatur napas untuk menyampaikan apa yang telah dipikirkannya selama ini.
“Mutiara, boleh aku ngomong sekarang?”.
Mutiara tersenyum sambil mengangguk.
“Kita sudah lama kenal, kamu juga sudah sangat mengetahui bagaimana perasaanku terhadapmu Mutiara. Jadi aku nggak mau menunggu lebih lama lagi, aku ingin melamarmu”. Kata-kata itu terlalu lancar diucapkan Ikhsan hingga dia sendiripun agak terkejut, tapi tidak dengan Mutiara. Senyumnya mengembang, wajah teduhnya yang sedikit memperlihatkan gurat kedewasaan itu memperbaiki posisi duduknya. Mata mereka saling beradu seolah mencoba mencari kebenaran dari apa yang dikatakan Ikhsan tadi.
“Bawalah mamamu kepadaku San, insya Allah aku akan jawab nanti”. Jawabannya begitu santai, ada cahaya kebagiaan di kedua matanya.
Tak ada kalimat lain yang diucapkan oleh Mutiara. Ikhsan menganggap ini adalah lampu hijau yang memang telah Mutiara berikan kepadanya. Senyumnya mengembang, tak ada kata yang bisa diucapkannya lagi. Hingga pesanan mereka datang. Menikmati malam sambil makan nasi goreng, entah mengapa membuat Ikhsan makan dengan lahap. Ada sebongkah batu yang telah terangkat dari pundak yang selama ini membebaninya.
Malam itu dilalui dua insan muda ini dengan senyum mengembang. Bahasa tubuh keduanya sudah menjelaskan apa yang mereka rasakan. Seolah sama-sama terlepas dari kekangan perasaan yang selama ini mereka tahan. Semoga malam ini menjadi awal dari perasaan cinta yang mulai tumbuh.
***
Begitu mobil hitam memasuki pekarangan rumahnya, Ikhsan sudah melihat mobil sedan silver milik mamanya terparkir rapi di pojok garasi. Ikhsan tersenyum kemudian melangkah ringan masuk ke rumah.
“Lho ma, udah malam gini kok nggak langsung tidur. Mama pasti capek kan?”.
Dilihatnya sang mama masih duduk di sofa ruang tamu, wajahnya memperlihatkan keletihan setelah menempuh perjalanan panjang tadi, tapi ada semburat kebahagiaan disana yang dapat Ikhsan lihat dari binar kedua mata mamanya.
__ADS_1
“Mama ada kabar baik buat kamu sayang”. Senyumnya merekah sambil merentangkan kedua tangannya.
Ikhsan berjalan mendekati sang mama sambil memeluk manja mamanya. Disandarkannya kepalanya dibahu mamanya.
“Ikhsan juga punya kabar gembira buat mama”.
“Oh ya”. Mamanya beranjak membetulkan posisi duduknya, ia terlalu antusias mendengar kata-kata dari putra bungsunya itu. “Yaudah mama mau dengar”.
“Mama duluan deh, soalnya mama udah semangat banget tu. Sampai bela-belain nggak tidur nunggu Ikhsan”.
“Iya nanti sayang, setelah mama mendengar kabar dari kamu”. Senyumnya masih mengembang.
“Oke kalau mama maksa. Minggu depan Ikhsan mau ajak mama melamar seorang gadis”. Ikhsan berkata sambil melepaskan pelukan mamanya, dia ingin melihat ekspresi wajah cantik mamanya.
“Melamar?”. Ekspresi wajah mama datar, tak ada senyum indah yang diharapkan Ikhsan.
“Iya ma, gadis yang selama ini Ikhsan tunggu. Temen Ikhsan dari SMA, karena dialah Ikhsan nggak pernah membuka hati untuk gadis lain. Dan Alhmdulillah dia nyuruh Ikhsan bawa mama untuk ketemu sama dia”.
“Kamu mencintainya sayang?”. Mama menatap Ikhsan sambil menggenggam kedua tangan putranya itu,
“Iya ma, Insya Allah”. Ikhsan mengangguk mantap. Tapi entah mengapa ada cahaya yang redup dibalik kedua mata indah mamanya.
“Yaudah nak, besok mama sama Mbok Nanik akan belanja keperluan untuk calon istri kamu ya”. Mama berkata sambil beranjak menuju kamarnya.
“Ma…. Tadi katanya mau kasi kabar gembira buat Ikhsan, kok malah masuk?”. Ikhsan berdiri tak mengerti melihat perubahan sikap mamanya.
__ADS_1
“Besok pagi aja ya sayang”. Mamanya sedikit berteriak sambil menutup pintu kamarnya.
Ikhsan masih berdiri tak mengerti, ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba sikap mamanya berubah? Perlahan didekatinya kamar mamanya, sayup didengarnya isakan tangis wanita yang telah membesarkannya itu. Ikhsan tau ada semburat kekecewaan dan kesedihan dikedua mata mamanya ketika mendengar dia ingin melamar seorang gadis yang dicintainya.