
Kembali teringat bagaimana pertama kali dia bertemu dengan gadis itu, gadis itu lari ketakutan dan Ikhsan hampir menabraknya. Ikhsan tak menyangka, jika gadis itu adalah gadis yang sama yang dijodohkan sang mama kepadanya. Ikhsan tak menampik pesona yang dimiliki Salsa ketika pertama kali melihatnya di rumah Mutia, orang tua angkatnya.
Ikhsan kembali menarik napas, kembali merutuki kebodohannya. Sesungguhnya bukan hal itu yang harus dipikirkannya sekarang, sekarang waktunya baginya untuk bisa menyelesaikan segala permasalahannya. Dia akan berusaha untuk mengambil keputusan terbaik.
Angin malam semakin dingin, membuat Ikhsan beranjak masuk ke kamarnya. Perlahan direbahkan tubuhnya disamping Salsa, berusaha memejamkan matanya meski masih enggan untuk terpejam. Ikhsan harus mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Demi kedua wanita yang amat dicintainya kini.
***
Ikhsan berangkat pagi-pagi sekali, mengingat sudah beberapa hari ia meninggalkan pekerjaanya. Banyak jadwal rapat yang terpaksa ditunda karena tidak bisa diwakili oleh bawahannya, akan tetapi beberapa pekerjaan sudah dapat diselesaikan dengan baik oleh Aldi.
Sejak mengetahui bahwa Aldi adalah kakak Salsa, Ikhsan memberikan kepercayaan kepada Aldi untuk menggantikannya melaksanakan pekerjaannya. Aldi merupakan sosok pekerja keras yang pantas diberikan tanggung jawab, bukan hanya karna dia saudara Salsa.
Hampir pukul 1 siang pekerjaannya sudah hampir selesai, hanya tinggal beberapa dokumen yang belum diperiksa. Ikhsan beranjak dari duduknya, meregangkan sebagaian otot-otot yang terasa lelah. Berjalan perlahan menuju mushola untuk melaksanakan sholat zuhur setelah makan siang tadi.
***
Ikhsan mengemudikan mobilnya perlahan, hatinya telah mantap. Memilih meninggalkan Mutiara, dia tau wanita itu pasti akan membencinya, mengecapnya sebagai laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Tapi Ikhsan tak peduli, dia harus tegas kali ini. Tak ingin lagi hidup dalam bayang-bayang kesalahan yang dibuatnya sendiri.
Ikhsan keluar dari mobil dengan tergesa, berharap semua masalahnya akan cepat selesai. Mutiara tergopoh menyambutnya datang, wajahnya sumringah meraih tangan Ikhsan menggandengnya masuk ke dalam rumah. Sebelum kemari Ikhsan lebih dulu mengiriminya pesan sehingga ia langsung pulang.
“San, ada yang mau aku sampaikan”. Mutiara berjalan sambil terus menggandeng Ikhsan dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
Ikhsan mengernyit. Kemudian duduk disebelah Mutiara dengan berbagai pertanyaan yang muncul. Tidak biasanya sikap Mutiara seperti ini, belakangan ini dia lebih sering marah-marah atau cuek dengan kedatangannya. Tapi untuk hari ini, Mutiara begitu bersemangat menyambut kedatangannya.
__ADS_1
“Tapi, kamu dulu deh. Katanya ada hal penting yang mau kamu sampaikan”. Mutiara terlihat sedikit serius sambil menggenggam kedua tangan Ikhsan.
“Kamu dulu, nggak apa-apa aku bisa menunggu”. Jawab Ikhsan berusaha menahan gejolak di dadanya saat ini.
“Nih...”. Mutiara menyerahkan sebuah benda kepada Ikhsan. Ikhsan masih tak mengerti, diperhatikan benda yang ada ditangannya itu. Sebuah benda pipih dengan dua buah garis merah sejajar terpampang disana.
“Apa ini?”. Ikhsan mengernyitkan keningnya. Memandang Mutiara seolah meminta penjelasan.
Mutiara masih terus tersenyum, sambil meraih benda tadi dari tangan Ikhsan kini ia kembali menyerahkan sebuah poto poscard kepada Ikhsan. Ikhsan semakin mengernyitkan keningnya, ia semakin tak mengerti. Sebuah poto mirip negatif film yang tak jelas, hanya warna hitam yang mendominasi gambar tersebut.
“Trus ini apa lagi?”. Ikhsan semakin melongo, tak mengerti apapun.
Mutiara menarik napas panjang. Meraih foto itu kembali dan meletakkan diatas meja sejajar dengan benda pipih tadi.
Ikhsan menggeleng “Serius aku nggak tau itu apa. Emang apaan?”. Jawab Ikhsan polos.
“San, ini namanya tespack, alat tes kehamilan”. Mutiara mengangkat benda pipih tadi kemudian meraih benda yang satu lagi. “Kalau ini hasil USG”. Mutiara tersenyum, meletakkan kembali dua benda tersebut diatas meja. “Sudah tau apa maksudnya?”. Mutiara duduk tegak sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
“Tiara udah jangan main tebak-tebakan gini”. Ikhsan mulai gusar melilhat tingkat Mutiara yang menurutnya berlebihan.
“Ikhsan, aku hamil. Hamil anak kamu. Anak kita”. Mutiara meraih tangan kekar Ikhsan, meletakkan diatas perutnya yang sama sekali belum menunjukkan perubahan apapun.
“Apa?”. Ikhsan terkejut. Spontan ia menarik tangannya dari perut Mutiara dan berdiri.
__ADS_1
“Kok kamu terkejut? kan wajar kalau aku hamil”. Mutiara tak kalah terkejut dengan sikap Ikhsan, dia juga beranjak berdiri berhadapan dengan Ikhsan.
Ikhsan tersadar, sikapnya salah. Napasnya memburu menahan gejolak yang ditahannya. Harusnya dia bahagia mendapat kabar ini, bukan marah apalagi menyalahkan ketentuan sang pencipta yang telah memberikan rezeki berupa keturunan kepadanya. Ikhsan berusaha menenangkan diri, kembali duduk dan meraih kedua tangan Mutiara untuk ikut duduk didekatnya.
Ditatapnya kedua mata Mutiara, Mata yang selalu dirindukannya dulu mata yang selalu ingin ditatapnya. Entah mengapa sekarang semua terasa hampa, Ikhsan berusaha mencari keberadaan Mutiara dihatinya dan nihil. Dia tak menemukan apapun lagi disana, tempatnya tak ada lagi. Salsa berhasil menempati hatinya, memenuhi dengan sikap manja dan jiwa seorang istri yang membuat Ikhsan sulit menolak.
Mutiara duduk, mengikuti Ikhsan. Dia kembali tersenyum manis, dia menyadari bahwa sikap kasarnya kepada Ikhsan akhir-akhir ini adalah salahnya. Dia yang memaksa pria didepannya untuk menikahinya, dia berjanji untuk jadi istri yang baik tak menuntut apapun. Tapi seolah tak mengingat semua janjinya, Mutiara merasa kecewa dengan pernikahan Ikhsan dengan Salsa, dia seolah tak rela Ikhsan dimiliki wanita lain, meskipun posisi Mutiara dan Salsa sama. Sama-sama istri Ikhsan, hanya status istri siri dan istri sah dimata negara yang membedakannya.
“San, aku nggak akan menuntut apapun darimu. Tap ini anakmu, darah dagingmu. Jadi tidak salah kalau suatu saat dia menuntut haknya sebagai seorang anak”. Mutiara terlihat mulai serius.
“Iya aku tau, aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuknya”. Ikhsan berusaha tersenyum, menutupi segala kegundahan hatinya.
“San, maafkan aku yang selama ini tak bisa menjadi istri yang baik untukmu. Maafkan aku atas sikap kasarku yang seharusnya tak kulakukan. Seharusnya aku sadar akan posisiku”. Mutiara tertunduk, berusaha menahan air mata.
Ikhsan tak menjawab, pikirannya kacau. Harapannya pupus, tak mungkin ia menyakiti Mutiara kali ini. Apalagi harus menyakiti bayi tak berdosa yang sedang dikandung istrinya. Ikhsan menarik napas, kemudian akan beranjak pergi. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri.
“Mau kemana San?”. Mutiara bangkit ketika Ikhsan sudah hampir melangkahkan kaki.
“Tiara, banyak pekerjaan dikantor. Aku tidak bisa lama-lama disini. Kamu jaga kesehatan ya”. Ikhsan mencoba berdamai dengan hatinya, bagaimanapun sekarang Mutiara tengah mengandung anaknya. Tak pantas rasanya menyakiti hati wanita yang sedang hamil. Ikhsan sudah memutuskan tidak akan menceraikan Mutiara untuk waktu dekat ini, setidaknya dia harus menunggu sampai bayi itu lahir.
“San tunggu, kamu bilang tadi kesini ada yang mau disampaikan”.
“Sekarang itu tidak penting lagi”. Ikhsan tersenyum. Mengulurkan tanganya yang disambut Mutiara dengan senyuman manis, mencium takjim tangan suaminya. “Hati-hati ya”.
__ADS_1