Cinta Pertama Suamiku

Cinta Pertama Suamiku
Malam pertama


__ADS_3

(21+)


Sedikit terkejut ketika Ikhsan keluar dari kamar mandi, setelah selesai melaksanakan sholat subuh Ikhsan sedikit berolahraga dengan jogging disekitaran apartemen. Udaranya kurang segar, membuat Ikhsan enggan berlama-lama. Ikhsan bergegas membersihkan diri sebelum berangkat ke kantor dan didapatinya sepasang pakaian kerja sudah tertata rapi di atas tempat tidur, lengkap dengan dasi dan kaus kakinya. Masih mengenakan handuk dan rambut yang masih agak basah Ikhsan menggeleng, menyadari akan kesalahan yang telah dilakukannya.


Tak seharusnya gadis sebaik Salsa disakitinya. Menjadikan Salsa istrinya, meninggalkan keluarga yang begitu sangat menyayanginya dan kemudian Ikhsan menyakitinya dengan menduakannya. Seandainya semua dapat diulang, mungkin Ikhsan tidak akan menikahi Mutiara, terkadang rasa sesal selalu menghantuinya. Perubahan sikap Mutiara membuatnya tak henti merutuki kebodohannya sendiri.


Setelah rapi dengan pakaian yang sudah dipilih Salsa, Ikhsan bergegas ke meja makan. Memperhatikan Salsa yang masih sibuk memasak tanpa menyadari kehadirannya. Sedikit menyunggingkan senyum, mengagumi wajah mungil Salsa.


“Sa, masak apa? Kok serius banget?”.


“Eh mas, sudah siap ya?”. Salsa sedikit terkejut tak menyadari kehadiran sang suami. “Salsa masak nasi gurih, dirumah semua suka sama masakan Salsa. Mudah-mudahan mas suka juga”.


“Kalau enak mas pasti suka”. Ikhsan beranjak meraih gelas sambil menuang air putih.


“Hehehe…. Insya Allah enak”. Salsa percaya diri sambil membawa sepiring nasi beserta lauk pauknya. Menyodorkan ke hadapan Ikhsan dan berlalu mengambil secangkir susu.


“Kok susu Sa, kopi aja ya”.


“Nggak mas, susu itu sehat. Jadi mas harus minum susu”.


“Ish kok udah kayak mama gitu kamunya”.

__ADS_1


Salsa tertawa kecil kemudian duduk disebelah Ikhsan, aroma segar tubuh Ikhsan membuatnya sedikit memejamkan mata menikmati sensasi yang mengusik hatinya.


***


Sudah hampir dua bulan pernikahan itu dilaksanakan, menatap wajah polos Salsa ketika sudah terlelap menjadi candu bagi Ikhsan. Meski lelah mendera tubuh setelah seharian berhadapan dengan berkas-berkas dikantor tak membuat Ikhsan langsung beranjak tidur ketika tiba dirumah. Ikhsan mulai menyadari sosok Salsa yang periang telah menepati sebagian hatinya, menciptakan sensasi aneh ketika menatap gadis itu. Membuat Ikhsan semakin merasa bersalah karna belum benar-benar menjadikannya istri.


Masih ditatap lekat wajah itu, perlahan tangan kokoh Ikhsan menyentuh pipi Salsa dengan lembut. Merapikan sedikit rambut yang keluar dari celah jilbab yang dikenakan. Terkadang Ikhsan geli melihat istrinya, meski dalam keadaan tidur Salsa enggan membuka jilbabnya. Dia akan tertidur dengan pakaian gamis lengkap. Padahal sebelum menikah mamanya telah mengisi lemari Salsa dengan berbagai warna lingerie yang indah. Mamanya sengaja, katanya biar cepat punya cucu. Ikhsan tersenyum, rasa rindu akan wanita paruh baya itu tiba-tiba hadir.


Tiba-tiba Salsa bergerak, merubah posisi tidurnya sedikit membelakangi Ikhsan. Ikhsan sedikit terkejut karena tidak biasanya gadis ini terjaga, jika sudah tertidur dia akan lelap sekali. Pernah sekali waktu Ikhsan usil mengerjainya dengan mencubit pipinya kuat, tapi tetap saja Salsa tidak terbangun. Ikhsan semakin penasaran dengan istrinya, dibalikkan kembali posisi tubuh Salsa dan tiba-tiba dia ikut terjatuh ke tempat tidur. Tanpa sengaja dia menimpa tubuh mungil itu, sehingga Salsa terbangun.


Salsa terkejut mendapati posisi suaminya tepat diatas tubuhnya, aroma tubuh suaminya membuat iya memejamkan mata, menolak gairah yang mulai bangkit. Tak dipungkiri, ia seorang wanita dewasa. Seorang istri yang belum pernah disentuh suaminya sendiri meskipun dia menginginkan hal itu dan malam ini melihat posisi Ikhsan yang begitu dekat dengannya membuat harapan itu kembali muncul.


Tapi tidak untuk malam ini, perlahan wajah Ikhsan mendekati wajah istrinya yang sejak tadi hanya memejamkan mata tak mampu menatap mata elang suaminya. Ikhsan begitu larut dalam rasa yang belum pernah dinikmatinya, darahnya memanas ketika kulitnya menyentuh lembut bagian-bagian sensitif sang istri. Salsa menikmati setiap sensasi rasa yang membuatnya tak mampu berpikir normal lagi. Dibiarkannya suaminya melaksanakan tugasnya, tugas yang tertunda. Mereka menikmati malam panjang dengan rasa yang semakin menggelora, membuat perasaan saling memiliki itu semakin menggebu seolah tak ingin kehilangan mereka saling mendekap erat hingga rembulanpun tersenyum malu, mengintip dari balik jendela yang sedikit terbuka.


***


Salsa menepuk lembut pipi Ikhsan yang tak kunjung terbangun, suara azan subuh sudah berkumandang sejak tadi. Perlahan diberanikannya mengecup lembut kening suaminya itu membuat sang empunya membuka mata perlahan, tersenyum melihat Salsa yang masih mengenakan mukena setelah sholat subuh.


“Mas, bangun gih. Mandi terus sholat ya”.


Ikhsan masih tersenyum ditariknya tubuh mungil itu kedalam pelukannya. “Sa, makasih ya”.

__ADS_1


Salsa mengernyitkan keningnya. “Buat apa mas?”.


Ikhsan kembali tersenyum, membuat Salsa sedikit gemas dan mencubit perut suaminya itu. Diapun membalas pelukan suaminya. Terasa nyaman dan tak ingin beranjak dari dada bidang lelaki itu.


Ikhsan menepuk-nepuk bahu istrinya, ia masih enggak bangkit untuk membersihkan diri. Ikhsan masih tak habis pikir, ternyata seorang gadis seperti Salsa mampu melunakkan hatinya hanya dalam waktu dua bulan. Semula dia tak akan menyangka jika bisa jatuh cinta secepat ini pada gadis masa kecilnya dulu. Salsa tumbuh menjadi gadis yang lemah lembut, sopan, dan penurut. Sejak menikah tak sedikitpun dia membantah Ikhsan meski Ikhsan juga tak pernah membatasi ruang gerak Salsa, ia tetap memberi kebebasan kepada Salsa jika akan bepergian atau melakukan hal-hal positif untuk dirinya.


Rasa sayang sebagai adik dulu kini berubah menjadi rasa cinta kepada seorang gadis dewasa. Ikhsan kembali tersenyum kecut mengingat pernikahannya itu, juga pernikahan dengan Mutiara. Pernikahan yang tak pernah terbayangkan olehnya. Dia telah berpikir matang untuk mengakhiri hubungannya dengan Mutiara, baginya itu tak akan sulit meski setelah itu Mutiara pasti akan membencinya dan mengecapnya sebagai lelaki biadap yang hanya mau enaknya saja. Ikhsan tak peduli, baginya sekarang adalah bagaimana bisa membahagiakan istrinya yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Dan mengambil pelajaran dari apa yang telah dilakukannya.


“Mas, mandi ya”. Suara Salsa tiba-tiba membuyarkan lamunan Ikhsan. Dilepaskannya pelukan Salsa dan beranjak menuju kamar mandi. Tapi baru saja dia beranjak benda pipih disampingnya bordering.


“Hallo… Assalamu’alaikum”.


“………………………….”. Suara sang mama terasa pilu.


“Iya, ma. Ikhsan kesana”. Ditutupnya telepon dari sang mama dan langsung masuk ke kamar mandi tanpa lebih dahulu memberitahu Salsa apa yang telah terjadi.


Salsa heran, terkejut melihat tingkat suaminya. “Ada apa mas?”.


“Sa, kakek meninggal. Kamu siap-siap ya pagi ini kita langsung berangkat kesana”. Suara Ikhsan sedikit berteriak dari kamar mandi.


“Innalilahi wainnailahi roziun”. Gumam Salsa diiringi buliran bening di pipi.

__ADS_1


__ADS_2