
Ikhsan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan restoran yang nampak masih sangat lenggang. Masih pukul sebelas pagi, belum waktunya makan siang jadi belum ada tamu restoran yang datang. Dirogohnya saku celana sebelah kanan, mencari benda pipih disana. Dan kemudian menepuk kepalanya sendiri, merutuki kebodohannya. Sejak semalam dia meninggalkan benda itu di kantor dan rencananya pagi ini dia akan mengambilnya sebelum pulang menemui Salsa.
Sudah hampir tiga hari dia sama sekali tidak menghubungi gadis itu, entah bagaimana kabarnya. Ikhsan menggeleng, melangkahkan kakinya menuju sebuah meja dihadapannya. Baru beberapa langkah dia merasakan tepukan di bahu kirinya, Ikhsan menoleh dan mendapati sosok tinggi jangkung dengan kaca mata meninju perutnya pelan lalu tanpa menunggu aba-aba langsung memeluknya erat.
“Hey bro... apa kabar?”
“Makin kurus aja ni badan ya” Ikhsan membalas pelukan pria kurus itu sambil tersenyum hangat.
“Hahahaha. Susah naikin berat badan disana bro. Rasa masakan nggak sesuai lidah” celotehnya sambil duduk menghadap jendela yang terbuka lebar, membuat angin sepoi-sepoi masuk dengan leluasa.
Kedua sahabat itu banyak bercerita tentang pengalaman hidup masing-masing setelah hampir setahun mereka tidak bertemu. Terkadang keduanya tertawa bersama ketika merasa apa yang mereka bicarakan sedikit lucu.
Teja Kesuma, anak tunggal seorang konglomerat di negeri ini dikirim sang papa keluar negeri mengurus beberapa hotel berbintang yang baru dibuka. Teja adalah sahabat dekat Ikhsan sejak SMA keduanya bahkan nyaris seperti saudara. Kedekatan yang terjalin membuat keduanya tak pernah menyimpan rahasia apapun. Termasuk urusan pribadi.
Setelah kepeluangannya, Teja sengaja mengajak Ikhsan bertemu siang ini. Rasa penasaran membuat ia sangat antusias bertemu sahabatnya itu. Dua hari yang lalu Teja akan membuat beberapa reklame untuk promosi beberapa usaha yang baru dibuka, ia teringat Mutiara teman SMAnya itu adalah pemilik salah satu usaha reklame sehingga tanpa pikir panjang dia menemui gadis itu.
Teja agak terkejut ketika mengetahui bahwa Mutiara sedang mengandung. Teja sangat mengetahui bagaimana usaha Ikhsan untuk menjadikannya istri dulu sehingga dengan gamblang dia bertanya tentang suaminya kepada Mutiara. Gadis itu hanya diam, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya membuat Teja semakin penasaran bahkan ketika Teja memastikan apakah benar suaminya adalah Ikhsan ia hanya menunduk. Berusaha menutupi sesuatu dibalik tatapannya yang sedikit kosong.
Teja ingin memastikan apakah benar kalau Ikhsan suaminya seperti dugaannya saat ini namun hingga menghabiskan banyak waktu untuk bercerita tetapi Ikhsan sama sekali tidak menyinggung tentang pernikahannya, bahkan dia selalu berusaha mengelak ketika Teja sudah membicarakan tentang masa-masa SMA mereka. Teja semakin penasaran, tak biasanya Ikhsan menyembunyikan sesuatu darinya, apalagi tentang kehidupan pribadinya. Tapi memaksanya juga tak mungkin dilakukan, Teja tetap punya batasan jika memang Ikhsan enggan untuk menceritakan tentang kehidupan pribadinya.
Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam lamanya, akhirnya Teja pamit kepada Ikhsan. Dia ada janji dengan mas Bagus.
__ADS_1
***
Hari ini Bagus tidak ada jadwal operasi, hanya jam praktek sore nanti. Tapi dia tetap berada di ruangannya menunggu kehadiran Teja yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu.
Tak lama, pintu diketuk seseorang. Pria jangkung itu masuk dengan membentangkan kedua tangannya, memeluk mas bagus sambil menepuk punggung pria gembul itu.
“Mas, apa kabar? Gimana dua keponakan cantikku?” melepaskan pelukan Bagus dan duduk tepat disofa yang berada di pojok ruangan.
“Alhamdulillah, mereka makin cantik” senyum mas bagus sambil meraih dua botol minuman dingin dari kulkas yang berada tepat disebelah meja kerjanya.
“Mas, Ikhsan kok nggak ngabari kalau dia udah nikah ya” rasa penasaran membuat Teja buru-buru menanyakannya kepada Bagus.
Bagus tersenyum, menyerahkan sebotol minuman dingin kepada Teja.
“Eh enggak mas, ya bahas mama dong” Teja tertawa sambil membuka botol air dingin yang diserahkan Bagus tadi.
“Nggak ada masalah dengan mama kamu, cuma batuk biasa. Mungkin sedikit alergi atau karena terlalu banyak menghisap debu, itu aja” Bagus merentangkan kedua tanganya, berusaha mengatakan bahwa memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Tuh kan, papa yang terlalu lebay ni” Teja menepuk kakinya kesal, dia sudah menebak kalau kekhawatiran papanya agak berlebihan kali ini.
“Hahahaha, namanya juga suami cinta istri Ja. Nanti sore hasil labnya keluar, kamu bisa ambilkan?”
__ADS_1
“Tentu dong mas. Akukan anak mama” membusungkan dadanya sambil menepuknya pelan.
“Iya ya... sampai nggak mau nikah takut nggak disayang mama”
Teja terkekeh dengan ucapankan Bagus tadi, meski hatinya sedikit tergelitik ketika harus disinggung soal pernikahan.
“Ikhsan dijodohkan mama dengan anak sahabatnya. Dia tinggal di kampung mama jadi acara pernikahan dilaksanakan disana. Rencananya kemarin mau buat acara disini untuk mengundang teman dan juga kolega tapi Ikhsan menolak. Makanya banyak yang tidak tahu kalau Ikhsan sudah nikah” Bagus sedikit menjelaskan kepada Teja.
“Anak sahabat tante?” Teja mengernyitkan keningnya. Bukankan Mutiara yang menikah dengan Ikhsan? Tapi mengapa kenyataannya berbeda? Atau mungkin ada yang disembunyikan Ikhsan.
“Iya” Bagus menjawab singkat “Oh ya? Kamu udah makan Ja? Kita pulang yuk. Winda sama Windi pasti senang ketemu kamu. Nanti sore mas ada jadwal praktek lagi, jadi nanti kita bisa balik barengan” Bagus beranjak dari tempat duduknya.
“Ok” Teja bangkit mengikuti Bagus, banyak pertanyaan yang muncul dikepalanya tapi entah kepada siapa pertanyaan itu akan ia utarakan.
***
Setelah puas mengobrol dengan mas Bagus dan kedua bocah kembarnya, Teja pamit. Ia harus menemui sang papa yang sudah tidak sabar mendengar hasi chek up mamanya, meski Teja sudah menjelaskan bahwa hasil labnya baru akan keluar sore ini tapi sepertinya papanya tidak puas. Dia memaksa Teja untuk segera menemuinya dikantornya.
Teja tak dapat menolak keinginan papanya, karena percuma menjelaskan sesuatu kepada pria yang sudah beruban itu. Dia pasti akan lebih puas bila bicara langsung dengan anaknya. Hari ini jadwal meeting sang papa sangat padat sehingga dia tidak bisa menemui Bagus untuk mengetahui hasi chek up istrinya.
Teja melajukan mobilnya perlahan, berbagai pertanyaan muncul dibenaknya. Jika memang Mutiara adalah istri Ikhsan lalu kenapa tadi mas Bagus mengatakan jika istri Ikhsan adalah anak sahabat mamanya. Lalu jika memang bukan Ikhsan yang menjadi suami Mutiara mengapa gadis itu enggan menjawab pertanyaannya tentang siapa sebenarnya suami Mutiara.
__ADS_1
Teja mengusap kasar rambutnya, ia pusing sendiri. Kenapa begitu banyak pertanyaan yang membuatnya semakin penasaran dengan sosok istri Ikhsan sebenarnya.
Meski ia tau tak pantas rasanya ikut campur urusan pribadi Ikhsan, tapi rasa penasarn membuat ia merasa harus mengetahui semuanya.