Cinta Pertama Suamiku

Cinta Pertama Suamiku
Sendiri


__ADS_3

Masih pukul tiga pagi ketika Salsa terjaga, rasa lelah beberapa hari belakangan ini membuat dia tertidur pulas semalaman hingga ia tidak sadar jika posisinya telah berpindah dari mobil ke kasur yang nyaman. Dia sedikit tersenyum membayangkan Ikhsan menggendongnya menuju tempat tidur ini, ah… seperti adegan film-film romantis itu gumamnya sambil menggigit bibir bawahnya. Dilihatnya sekeliling ruangan, terasa asing. Tak ditemukan sosok sang suami disana, kemana suaminya itu pergi selarut ini? Atau mungkin dia tidur dikamar yang berbeda. Salsa menaikkan bahunya sambil menggelengkan kepala, seolah menjawab pertanyaannya sendiri.


Sebuah kamar bernuansa putih dengan sebuah sofa terdapat dibawah jendela, sebuah lemari yang cukup besar dan meja rias terdapat disudut kanan kamar. Ada sebuah kamar mandi dan sebuah pintu lagi yang sedikit terbuka. Salsa bangkit dan berjalan kearah pintu tersebut. Sebuah ruang kerja yang didominasi warna coklat muda yang nyaman dipandang mata, lagi-lagi terdapat sebuah sofa yang berukuran lebih besar di pojok kiri, berhadapan langsung dengan meja kerja. Disisinya ada sebuah rak buku yang berukuran sangat besar. Di dekat pintu sebelah kanan ada sepasang kursi dengan meja mungil ditengah.


Salsa keluar kamar, memperhatikan sekeliling. Sebuah ruang tamu dengan seperangkat sofa dan sebuah layar televisi berukuran cukup besar, Salsa kembali berjalan menuju ke dapur, meraih gelas dan menuangkan air kedalamnya. Salsa duduk di meja makan yang terdapat disisi dapur berbatasan dengan ruang tamu. Selarut ini dia tak menemukan suaminya dimanapun, tapi mungkin salsa melewatkan sebuah ruangan lagi. Dia kembali berjalan kearah pintu yang tertutup rapat dibukanya perlahan. Sebuah kamar yang masih bernuansa putih tapi kosong dia tetap tak menemukan suaminya disana.


Salsa kembali ke kamar, meraih handuk dan menuju ke kamar mandi. Mungkin setelah melaksanakan sholat malam pikirannya lebih jernih sehingga dia tidak akan berpikir macam-macam tentang suaminya.


***


Suara langkah kaki membuat Salsa beranjak, dia masih mengenakan mukena setelah selesai melaksanakan sholat subuh dan membaca Al-Qur’an. Dia berjalan keluar kamar untuk memastikan apakah suaminya yang datang.


“Mas… mas Ikhsan..”. panggilnya sambil keluar kamar. Tak ada jawaban, namun terdengar suara gaduh di dapur. “Maaf siapa ya?”. Dipandanginya seorang wanita berdiri mematung karena terkejut dengan kehadirannya.


“Eh… anu Nya, saya Mbok Nah”. Wanita yang kira-kira berusia 60 tahun itu tergopoh menuju kearahnya sambil membungkukkan badannya.


Salsa masih berdiri di depan pintu kamarnya, dia sedikit mengernyitkan kedua alisnya membuat wajah imutnya terlihat sangat manis ditambah ia tersenyum kearah wanita itu.

__ADS_1


“Saya yang biasa beres-beres rumah ini Nya, Nyonya pasti istrinya mas Ikhsan kan? Kemaren mas Ikhsan sempet telpon Mbok dan kasi tau kalau hari ini Mbok disuruh masuk kerja. Biasanya kalau mas Ikhsan nggak disini paling Mbok tiga hari sekali kemari”. Jelasnya.


“Ooooo… panggil Salsa aja Mbok, nggak usah panggil nyonya. Saya geli”. Salsa terkekeh sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri. “Mbok saya masuk dulu ya”. Pamitnya pada Mbok Nah.


“Iya Nya, eh… Mbak Salsa”. Mbok Nah menunduk sambil berlalu kembali ke dapur.


“Oh ya Mbok Nah kalau boleh minta tolong. Saya minta buatkan nasi goreng ya Mbok, saya lapar”. Salsa tersenyum sambil mengelus perutnya.


“Iya Mbak Salsa, beres”.


Salsa kembali masuk ke kamarnya, pandanganya terhenti pada meja kecil disebelah tempat tidurnya ada secarik kertas disana. Diraihnya, ternyata pesan dari Ikhsan.


Salsa menepuk jidadnya, bagaimana bisa sepasang suami istri tidak saling menyimpan nomor kontak. Dia sama sekali tidak pernah berpikir meminta nomor Ikhsan atau memberikan nomor kontaknya kepada Ikhsan. Salsa hanya geleng-geleng dan merapikan mukenanya kemudian menuju dapur menemani Mbok Nah masak sambil berbincang.


***


Ikhsan keluar dari kamar, ia telah rapi dengan setelan kemeja marun lengkap dengan dasinya. Dia sengaja meninggalkan beberapa stel pakaiannya disini untuk mempermudah jika dia akan langsung menuju kantor. Ia berjalan menuju meja makan dan mulai menikmati sarapannya.

__ADS_1


“Tiara, mungkin aku nggak bisa sering-sering kemari dalam waktu dekat”.


“Iya aku mengerti”. Mutiara menunduk, sambil mengoleskan selai diatas roti. Dia nampak murung, sulit baginya berbagi suami. Tapi ini keputusannya, tak ada yang patut disalahkan.


“Kok kamu kelihatan nggak suka gitu”.


“Aku cuma istri sirimu, jadi nggak ada alasan untuk tidak menyukai semua keputusanmu”.


“Tiara, kenapa kamu bicara seperti itu?”


“Aku cemburu San”. Seharusnya kamu mengerti itu.


“Bukankan ini semua keinginan kamu Tiara? Kenapa harus cemburu? Kamu yang meminta aku tetap menikahi Salsa. Kamu yang menyakinkan aku kalau semua akan baik-baik saja”. Ikhsan mulai gerah melihat perubahan sikap Mutiara.


Mutiara berdiri, membanting roti yang belum sempat masuk kemulut. Mendorong kursinya dengan kasar dan meninggalkan Ikhsan yang menatap tak mengerti.


Ikhsan menyelesaikan sarapannya, kemudian meraih tas dan berjalan menuju mobilnya. Dia akan berangkat kerja hari ini, pusing memikirkan Mutiara yang tiba-tiba berubah 180 derajat setelah pernikahannya dengan Salsa dilangsungkan. Beda dengan sikapnya beberapa minggu yang lalu ketika mereka baru menikah. Ikhsan menarik napas berat, entah mengapa dia sangat kecewa melihat perubahan Mutiara. Sosok wanita dewasa yang selama ini dikaguminya seolah hilang begitu saja. Mutiara tidak lebih dari seorang wanita yang keras kepala yang sulit untuk diajak bicara dari hati ke hati. Bukankan pernikahan ini dia yang menginginkan, tapi kenapa baru beberapa minggu mereka menikah Mutiara sudah berubah.

__ADS_1


Sebenarnya Ikhsan tidak setuju dengan ide gila Mutiara untuk menikahnya. Tapi kesungguhan Mutiara kala itu membuat Ikhsan yakin bahwa keinginan Mutiara bukan hal yang mustahil baginya. Mutiara tidak keberatan kalau ia hanya jadi istri siri Ikhsan selama Ikhsan tetap mengunjunginya. Mengakuinya sebagai istri walaupun mereka harus merahasiakan semua ini dari dunia. Tapi seolah lupa akan perkataannya tersebut, sekarang Mutiara bertingkah seolah Ikhsan telah menyakitinya. Mengesampingkannya karena telah memiliki Salsa sebagai istri sahnya.


Ikhsan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sebenarnya tak ada rapat di kantor cabang pagi ini. Itu Cuma alasan yang digunakan agar Salsa tidak curiga padanya, kasihan gadis itu mendapat perlakuan yang tak adil dari suaminya sendiri. Bahkan rencana bulan madu yang sudah dipersiapkan mama, dengan enteng ditolaknya. Ikhsan benar-benar tidak memikirkan perasaan istrinya. Sekarang Ikhsan seolah menjadi pria paling egois, entah hilang kemana sikap lemah lembutnya. Membiarkan begitu saja sang istri tinggal di apartemen yang tentunya sangat asing baginya.


__ADS_2