
Tepat pukul delapan pagi wanita paruh baya itu sudah rapi dan langsung mengajak Mang Diman untuk mengunjungi sahabatnya. Perlahan mobil itu merayap memasuki wilayah selatan. Ingatan dua puluh tahun yang lalu tentang seluk beluk kota ini masih tersimpan rapi dilubuk hati yang paling dalam hingga tak sulit baginya untuk menemukan rumah sahabatnya itu. Meskipun banyak bangunan-bangunan baru dan suasana yang sangat berbeda.
Tiba disebuah rumah yang sederhana dengan tatanan bunga berjejer rapi dipekarangan membuat rumah itu sangat indah. Kelihatan sekali kalau si empu rumah sangat merawat bunga-bunga itu, tak ditemukan sedikitpun daun-daun yang berserakan disana. Bunga-bunga aneka warna bermekaran menyambut pagi yang cukup cerah. Kicauan burung menambah suasana semakin asri, membuat Ningrum seolah kembali ke masa lalunya, menikmati pagi bersama sang papa di teras belakang rumah yang dipenuhi bunga aneka warna.
“Asslamu’alaikum”. diucapkannya salam ketika dia sudah berada di depan pintu.
Seorang gadis berusia belasan tahun keluar dengan wajah penasaran menatap sosok asing di depannya. “Waalaikum salam. Maaf bu, cari siapa ya?” tanyanya sopan.
“Maaf dik, mau nanya apa benar ini rumah bu Aisyah?”
“Bu Aisyah?”. Gadis itu mengernyitkan keningnya. Sedikit bingung.
“Siapa nak, kok nggak disuruh masuk tamunya”. Terdengar teriakan dari dalam rumah. Kemudian siempunya suara berjalan keluar.
“Maaf bu, cari siapa ya?” pertanyaan yang sama dilontarkan wanita itu
“Ini bu, saya temannya Aisyah. Dulu dia tinggal disini, apakah Aisyahnya ada?”
“Aisyah? Ooo… pemilik rumah ini dulu ya? Maaf bu, bu Aisyahnya sudah lama meninggal”. Jawabnya datar.
“Apa? Me… meninggal?” tubuhnya sedikit terhuyung mendengar kabar itu. Untung saja kedua orang pemilik rumah itu sigap dan menuntunnya untuk duduk di kursi teras.
“Iya bu, bu Aisyah meninggal beberapa bulan setelah neneknya meninggal. Kalau nggak salah kena kanker serviks”.
“Kanker serviks?”.
“Iya”. Wanita pemilik rumah itu mengangguk. “Setelah dia meninggal, anaknya dibawa oleh sahabatnya Mutia, dan rumah ini dijual”. Terangnya
__ADS_1
“Jadi sekarang Mutianya dimana?”
“Ibu tau rumahnya yang lama bukan? Dia masih tinggal disana bu”.
“Oh kalau begitu baiklah. Terima kasih banyak ya bu?” diulurkannya tangannya kepada kedua orang tersebut dan beranjak menuju mobilnya.
Tidak butuh waktu lama untuk mencari alamat Mutia, seluruh sudut kota ini masih terekam di pikirannya. Sebuah rumah dengan pekarangan penuh bunga mawar di kanan dan kirinya serta sebuah air mancur tepat di tengah-tengah halaman itu memberikan kesan sejuk memandang. Banyak yang berubah dari rumah ini, dulu rumah ini sangat sederhana dengan dinding kayu. Perlahan mobil berhenti di depan pagar dan terlihat seorang wanita yang sudah puluhan tahun tak dilihatnya sedang menyirami bunga-bunga di halaman itu. Bergegas keluar dari mobil sambil sedikit berlari.
“Mutia…..” serunya sambil menahan air mata kerinduan dan sesak dada ketika mengetahui salah satu sahabatnya telah berpulang.
Wanita yang dipanggil menoleh mencari sumber suara, begitu melihat kehadiaran orang yang tak asing baginya diapun langsung berlari kearah sahabatnya itu dan mereka berdua berpelukan untuk waktu yang lama. Melepaskan kerinduan yang bertahun-tahun dipendam.
“Ningrum, apa kabarmu? Sudah lama sekali aku mencari keberadaanmu di ibukota tapi tak pernah membuahkan hasil. Sekarang kau disini sungguh aku masih nggak percaya”.
“Hiks… hiks… hiks… iya Mutia. Aku terlalu takut untuk kembali kesini. Apa kabarmu?”
Kedua sahabat itu berjalan bergandengan tangan memasuki rumah dan mereka mencurahkan rindu yang puluhan tahun tertahan dengan berbincang di ruang tamu hingga tak ingat waktu. Terkadang ekspresi keduanya terlihat lucu, terkadang terlihat sedih, namun terkadang menitikkan air mata. Sungguh waktu dua puluh tahun membuat banyak hal yang ingin mereka bagi satu sama lain.
“Aku nggak menyangka kalau penyakit Aisyah kambuh lagi Muti”. Ningrum menunduk seolah merasakan kesedihan sambil sesekali menyeka buliran bening yang masih tersisa di pipinya.
“Iya, setelah kembali dari kota neneknya Aisyah sakit dan beberapa minggu setelahnya meninggal. Aisyah semakin terpuruk dan dia juga jatuh sakit, mungkin penyakitnya sudah lama kambuh tapi tak pernah dirasakannya hingga kankernya memasuki stadium empat. beberapa bulan setelah neneknya meninggal diapun meninggal. Sebelum meninggal dia sempat menitipkan Salsa kepadaku dan menyuruh untuk menjual rumah peninggalan neneknya untuk biaya pendidikan Salsa. Waktu itu kehidupanku juga teramat sederhana sehingga aku terpaksa menjual rumah itu”. Ditariknya napas dalam seolah melepaskan beban yang ada di dadanya.
“Lalu sekarang Salsa dimana?”
“Dia sedang kuliah di ibukota dan insya Allah beberapa bulan lagi dia akan menyelesaikan pendidikannya”.
“Jadi menurutmu apakah salah jika aku melaksanakan janjiku pada Aisyah?”
__ADS_1
“Tidak Ning, kalau Salsa mau aku sama sekali tidak keberatan. Apalagi Salsa anaknya baik, lemah lembut. Dia tidak akan menolak permintaanku”.
Ada senyum yang mengembang ketika Mutia mengucapkan kata-kata itu. Ada harapan yang selama ini dinantikannya untuk menjadikan Salsa sebagai menantunya sekaligus memenuhi janjinya kepada sahabatnya yang sudah lama tiada. Ia yakin Ikhsan akan dengan senang hati menerima Salsa menjadi istrinya. Ikhsan tak pernah menolak keinginannya dari dulu. Dan Ningrum sangat berharap Salsapun akan melakukan hal yang sama, menerima Ikhsan menjadi suaminya.
“Eh ning kamu nginap dimana?”.
“Di hotel xxx”.
“Ya ampun kenapa harus dihotel si, kenapa nggak langsung kemari aja. Banyak kamar kosong disini, kamu bisa tidur dikamar Salsa dan supirmu bisa tidar di kamar Aldi”.
“Nggak Muti, aku nggak mau ngerepoti kamu”.
“Kok repot, aku malah senang sudah lama kita tidak bertemukan? Lagian kamu Cuma seminggu disini”.
“Iya aku bakal nginep disini”. Dia tersenyum
“Nah begitu dong. Oh ya nanti aku akan menghubungi Salsa dan memberitahunya semua ini
“Jangan Muti, itu terlalu cepat”.
“Lho, bukankah sesuatu yang baik itu harus disegerakan. Biar dia siap. Lagian 2 bulan bukan waktu yang lama untuk memikirkannya”.
“Baiklah, semoga dia mau ya”.
“Aamiin”. Jawab Mutia.
Ningrum menghabiskan waktu liburannya kali ini dirumah Mutia, kehadirannya memberikan kebahagiaan tersendiri untuk Mutia dan keluarganya. Rima dan Melati sangat menyukai Ningrum mengingat dia adalah sosok seorang ibu yang hangat dan mudah akrab dengan siapa saja ditambah dia tidak memiliki anak perempuan, jadi diapun sangat menyukai Rima dan Melati. Rima dan Melati tidak sungkan mengajak Ningrum untuk jalan-jalan sore mengelilingi kota kecil ini, mengajak Ningrum untuk kembali mengingat masa kecilnya dulu.
__ADS_1
Waktu seminggu terasa singkat baginya, tapi perasaanya sudah tenang. Tidak ada lagi pemikiran yang menggangu tidur malamnya lagi. Beban yang selama ini seolah menghimpitnya hilang sudah bersama pertemuannya dengan Mutia sahabat masa kecilnya. Kini dia memiliki oleh-oleh yang akan dibawanya pulang ke kota. Oleh-oleh untuk anak bungsunya. Calon istri.