
Ditatapnya punggung kurus lelaki yang sempat memberikan kenangan termanis masa SMAnya dulu.
Annisa tersenyum, menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memandang sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.
Terkadang sempat ada rasa ingin sekali melepas cincin itu dari tanganya, tapi rasa cinta yang terlalu besar membuat ia urung melakukannya.
Belum rela menggantikan posisinya dengan laki-laki lain karena merasa tak sanggup membuka hati lagi.
Suaminya sudah pergi dua tahun lalu, meninggalkan sejuta cerita yang sangat indah untuk dikenang.
Hanya kehadiran Andika yang mampu memberikan kekuatan padanya untuk melanjutkan hidup dengan baik.
Bocah dua tahun itu selalu mampu membuatnya tersenyum, membuatnya tertawa dengan berbagai tingkah khas balita.
Annisa kembali mengingat memori masa SMAnya dulu.
***
“Ann, hari ini aku nggak ikut ya” Aldi berlalu meninggalkan Annisa yang masih sibuk membereskan buku-bukunya. Bunyi bell pulang sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu.
“Yah... Al.... Aldi tunggu. Nggak seru tau kalau kamu nggak ikut” Annisa mengerucutkan bibirnya membuat Aldi terkekeh pelan.
“Aku mau bantu Ibuk Ann. Kasian setiap hari adek-adekku yang bantu, hari ini memang giliran aku yang bantu Ibuk di warung” Aldi mulai melangkah menyusuri lorong kelas yang mulai terlihat sepi.
“Hari ini, aja. Please” Annisa menangkupkan kedua tangannya di depan memohon kepada Aldi.
“Ann, maaf ya aku nggak bisa” Aldi tetap dengan pendiriannya. Mengusap kasar rambut panjang Annisa kemudian mempercepat langkahnya menuju sepeda yang terparkir di dekat gerbang sekolah.
Annisa menarik napas panjang, tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Aldi adalah sosok pria yang sangat menyayangi ibu dan ketiga adiknya.
Jika sudah menyangkut dengan mereka maka apapun kegiatan yang akan Aldi lakukan pasti akan dibatalkannya, termasuk hari ini.
Mereka sudah berjanji untuk pergi ke toko buku dengan Tomo dan Azi, tapi rencana itu dibatalkannya.
Aldi lupa kalau hari ini adalah jadwalnya membantu Ibunya di warung.
Annisa berjalan gontai menuju kelas Tomo dan Azi, dia yakin kedua sahabatnya itu juga akan kecewa ketika mengetahui Aldi batal ikut bersama mereka.
“Ann, mana Aldi?” tanya Tomo sambil meraih tasnya menuju pintu ketika melihat Annisa sudah berdiri disana.
“Hari ini Aldi mau membantu ibunya menjaga warung, jadi dia nggak ikut” Jawab Annisa dengan raut wajah kecewa.
__ADS_1
“Ya udah kalau gitu, berangkat yuk” Azi menjawab enteng sambil berlalu menuju parkiran.
Annisa melongo, dia sama sekali tak menyangka jika kedua sahabatnya akan santai mendengar bahwa Aldi tidak bisa ikut dengan mereka.
Annisa menaikkan bahunya sambil menggeleng, memukul pelan keningnya kemudian berjalan cepat menyusul kedua sahabatnya yang sudah memanggil-manggilnya sejak tadi.
***
Annisa adalah murid baru disekolah ini, tugas sebagai konsultan membuat sang papa harus pindah dari satu kota ke kota lain dan baru enam bulan dia pindah tetapi dia sudah memiliki banyak teman.
Periang, supel, cantik dan sederhana membuat Annisa disukai siapa saja, termasuk Aldi dan kedua temannya.
Annisa dan Aldi juga satu kelas membuat hubungan mereka semakin dekat.
Kedekatan inilah yang membuat Annisa mulai mengagumi Aldi, tidak hanya sebatas seorang sahabat tapi lebih dari itu.
Sosok Aldi yang dewasa membuat dia mulai menaruh hati pada pria itu, Annisa menyadari rasa sukanya itu tak mungkin ia nyatakan.
Tak ingin merenggangkan rasa persahabatan yang sudah terjalin meski baru seumur jagung.
Annisa khawatir rasa sukanya itu akan membuat Aldi menjaga jarak dengannya.
Hingga Annisa memilih untuk memendam rasa itu, membiarkan persahabatan mereka mengalir begitu saja.
Annisa memilih beberapa judul buku yang memang ingin dibelinya, selain buku pelajaran yang belum dimilikinya dia juga mengambil sebuah buku yang berjudul “Hijrah”.
Annisa membaca sinopsis buku yang menarik perhatiannya itu.
Menceritakan seorang gadis remaja yang belajar mengenal agama setelah terpuruk dalam lembah dosa yang diciptakannya sendiri.
Kehidupan yang serba berkecukupan membuat dia lupa diri, hidup sesuka hati tanpa perhatian kedua orang tua menjadi pemicu hancurnya masa remaja yang kata sebagian orang sangat indah.
Menghabiskan waktu dengan pergi ke club-club malam sambil menenggak minumal beralkohol hingga akhirnya harus hamil karena melakukan s*x bebas.
Tak hanya sampai disitu, ditinggalkan oleh pacar yang telah menghamilinya membuat dia nekat menggugurkan kandungannya.
Kehilangan banyak darah membuatnya harus menghadapi masa kritis berhari-hari.
Tak ada keluarga, saudara bahkan teman yang memberinya dukungan.
Dia terbaring lemah tak berdaya seperti mayat hidup yang sama sekali tak dipedulikan.
__ADS_1
Hingga mimpi-mimpinya selama menjalani masa kritis membuat dia tersadar akan kesalahannya.
Dan pertemuannya dengan seorang dokter cantik yang sholeha membawa jalan kebenaran dalam hidupnya.
Annisa menitikkan air mata, membaca sedikit bagian buku itu telah menguras emosinya.
Air matanya mengalir begitu saja.
Teringat akan keadaan dirinya yang jauh dari kata soleha, janganya untuk sholat lima waktu, menutup aurat saja belum sanggup dilakukannya.
Tomo dan Azi menepuk pelan pundak Annisa.
Mereka berdua bingung melihat Annisa yang menangis di depan rak buku.
Melihat sekeliling kira-kira siapa orang yang telah membuat sahabatnya itu menangis.
Annisa tersadar dari lamunannya, menoleh Tomo dan Azi sambil tersenyum membuat kedua sahabatnya itu semakin melongo.
“Aku baca buku ini, sedih banget” Annisa mengangkat buku ditangannya sambil menghapus air mata yang telah membasahi pipinya. “Pulang yuk”. Annisa berlalu menuju kasir tanpa mempedulikan kedua sahabatnya yang semakin melongo.
***
Annisa membongkar seluruh isi lemari pakaiannya, mencari pakaian yang kira-kira tidak ketat ditubuh rampingnya.
Tapi tak ada satupun pakaian yang layak, dia kesal. Membanting tubuhnya ditempat tidur yang penuh dengan pakaiannya tadi.
“Annisa, kenapa nak? Kok diberantakin semua gini pakaiannya?” Mamanya masuk, heran melihat kamar putrinya yang berantakan.
“Ma, Annisa boleh pakai gamis mama?” Annisa menggenggam tangan mamanya sambil sedikit memohon.
“Annisa mau pakai hijab?” Sang mama melongo sambil menatap intens putrinya.
“Iya ma, boleh ya?”.
“Kamu yakin sayang?” Anita berusaha meredam keterkejutannya. Annisa mengangguk, menundukkan wajahnya menahan bulir bening yang mulai mengalir di kedua pipinya.
“Tentu boleh sayang” Anita menarik putri semata wayangnya kedalam pelukannya, dia menangis bahagia melihat perubahan putrinya. Sudah lelah rasanya selama ini mengajak putrinya itu untuk berhijab tapi selalu tidak berhasil, dan sekarang Annisa malah memintanya sendiri.
“Tapi Annisa bisa cerita dulu ke mama, kenapa tiba-tiba mau pake hijab?” Anita melepaskan pelukan putrinya, duduk disamping tempat tidur sambil menyingkirkan beberapa baju yang berada di sana.
Annisa menunduk, sesaat mengatur irama napasnya. Kemudian secara pelahan menceritakan kepada sang mama tentang buku yang dibacanya. Annisa benar-benar merasa dirinya sangat bersalah, menyia-yiakan kesempatan yang sebenarnya dimilikinya untuk merubah hidup yang lebih baik.
__ADS_1