
Anita ikut menangis mendengar semua cerita putrinya, dia tak menyangka jika Allah telah memberikan hidayah untuk putrinya itu.
Sesekali Anita mengusap lembut rambut panjang Annisa, memberikannya kekuatan bahwa keputusannya saat ini sangat tepat.
Dengan menutup aurat merupakan langkah awal untuk bisa memperbaiki diri.
Hari belum terlalu sore, setelah melaksanakan sholat asar Anita mengajak putrinya untuk membeli pakaian dan jilbab yang akan dikenakan putrinya.
Anita sangat antusias dengan perubahan putrinya, dia sama sekali tak menyangka jika Annisa benar-benar ingin merubah diri.
***
Hari ini seluruh sekolah terlihat heboh.
Mereka membicarakan perubahan yang terjadi dengan diri Annisa, gadis yang banyak dikagumi kaum Adam ini tiba-tiba merubah penampilan yang sebelumnya tomboy menjadi seorang gadis berjilbab panjang.
Tak hanya itu, Annisa juga menjadi agak pendiam, dia tak akan berbicara bila tak diajak berbicara dan selalu menyibukkan diri dengan banyak membaca buku-buku referensi Islam.
Aldi, Tomo dan Azi juga kebingungan melihat perubahan Annisa yang menurut mereka sangat tiba-tiba.
Bagaimana bisa seorang gadis tomboy dan cuek dengan penampilannya selama ini bisa berubahan menjadi gadis peminim.
Meski Annisa tidak langsung menjaga jarak dengan ketiganya tetapi perubahan sikap yang ditunjukkan Annisa membuat ketiganya tidak bisa memperlakukan Annisa seperti biasa.
Mereka mulai menjaga jarak dengan gadis itu.
Annisa menyadari bahwa perubahan yang tiba-tiba ini membuat ketiga sahabatnya terkejut.
Annisa juga tidak mempermasalahkan ketika para sahabatnya itu mulai menjaga jarak dengannya, Annisa menganggap mungkin mereka menghormati hijab yang dikenakannya saat ini sehingga ketiganyapun tak sembarangan menyentuhnya.
***
Hari-hari Annisa kini dihabiskan dengan banyak belajar agama, mengikuti setiap kegiatan yang berhubungan dengan rohis dan mengikuti beberapa kajian yang dilaksanakan di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya.
Anita sangat mendukung putrinya untuk merubah diri ke arah yang lebih baik, dia tak sungkan jika harus menemani putrinya mengikuti kajian remaja yang tentu saja dihadiri oleh anak seusia Annisa tetapi demi putrinya, dia tak menghiraukannya.
Waktu terus bergulir, tak terasa hari kelulusan tiba.
Tentu saja Annisa, Aldi, Tomo, dan Azi sangat antusias menyambut hari kelulusan tersebut.
__ADS_1
Annisa tertunduk menahan air mata ketika dia harus pergi dari kota ini, dia harus kembali kehilangan sahabat yang sudah dianggap seperti saudara.
Papanya kembali ditugaskan di ibukota, dan hal ini membuat mereka sekeluarga juga harus ikut pindah.
Annisa menarik kopernya perlahan, membantu sopir untuk memasukkannya ke dalam mobil.
Siang ini mereka akan pindah.
Di tatapnya kembali rumah yang memberikan kenangan beberapa tahun belakangan ini padanya, tiba-tiba dia
dikejutkan oleh kehadiran ketiga sahabatnya.
“Assalamu’alikum”.
“Walaikum salam. Eh kalian, silahkan masuk. Annisa ada di teras samping” Anita menyambut Aldi dan kedua temannya dengan ramah.
“Iya tante, terima kasih” Aldi masuk disusul oleh Tomo dan Azi.
“Ann. Kenapa nggak kasi kabar ke kami kalau mau pindah?” Aldi bertanya sambil duduk di hadapan Annisa.
“Iya Al, maaf ya. Soalnya mendadak” jawab Annisa sedikit malas. Dia semakin menundukkan wajahnya.
Annisa masih menunduk, tak ada kata yang sanggup ia ucapkan. Aldi mulai tak mengerti, dia berusaha menatap gadis dihadapannya.
“Ada yang mau aku sampaikan Ann.” Aldi menarik napas panjang berusaha menetralkan perasaan yang mulai bergejolak.
Annisa mengangkat kepalanya, menatap lurus Aldi.
“Aku nggak jujur sama kamu...” Aldi membenarkan posisi duduknya, sedikit tegak mengurangi rasa sesak yang semakin menghimpit.
“Tentang?” potong Annisa tak sabar.
“Perasaanku Ann. Perasaanku selama ini ke kamu” Aldi menatap langit yang cerah. Menarik napas panjang, mengisi paru-paru yang sepertinya sangat kosong. “Aku cinta kamu Ann. Awalnya aku kira ini hanya cinta monyet yang memang dirasakan anak seumuran kita. Tapi sejak kamu merubah penampilanmu rasa itu semakin menguasaiku, merasakan diri tersiksa ketika tak bisa bertemu atau bahkan tak melihatmu. Aku tau terlalu jauh jarak kita”. Aldi menucapkan kata-kata dengan datar, menundukkan kepalanya menatap lurus kebawah.
Annisa terpaku, tak pernah menyangka jika perasaan yang selama ini dipendam mendapat balasan dari si pembawa hatinya.
Tak ada kata yang bisa diucapkannya, air matanya kian deras mengalir.
Hening hingga panggilan Anita membuat mereka tersadar, Aldi dan Annisa sama-sama bangkit.
__ADS_1
Annisa pamit kepada ketiga sahabatnya, tak ada kata terucap.
Annisa berusaha menahan gejolak hatinya, antara bahagia karena perasaannya selama ini mendapat balasan tetapi harus kecewa mengingat kini mereka harus terpisah oleh jarak dan waktu.
Biarlah jarak ini membuyarkan seluruh perasaan dua hati yang mungkin tak akan bisa bersama. Tak ada harapan untuk menyatu, tapi semoga sang pemilik hati yang sesungguhnya memberi jalan terbaik untuk keduanya.
***
Setelah kepindahannya ke ibukota, sang papa mengalami serangan jantung dan meninggal tepat seminggu setelah ia dinyatakan lulus di universitas kedokteran di luar negeri.
Kepergian sang papa membuat sang mama harus siap menjadi tulang punggung untuk putri semata wayangnya itu.
Lulus dari sebuah fakultas farmasi membuat sang mama tidak sulit untuk mencari pekerjaan ditambah dengan banyaknya kenalan di beberapa rumah sakit ternama di ibukota.
Anita berusaha kuat menjalani hidup sendiri tanpa sosok suami disisinya, dia tak ingin membuat putrinya terpuruk dengan kepergian sang papa.
Dengan berat hati Annisa meninggalkan mamanya sendiri, ia harus berjuang untuk bisa lulus dengan hasil terbaik tak ingin mengecewakan sang mama yang telah berjuang untuknya.
Empat tahun menempuh pendidikan akhirnya Annisa lulus dengan predikat terbaik, dia pulang dengan membawa sejuta harapan untuk sang mama.
Belum lama tinggal di ibukota akhirnya Annisa diterima disebuah rumah sakit terbesar di sana.
Dan disini ia bertemu dengan Pandu, dokter muda yang sholeh dan lemah lembut.
Pesonanya membuat Annisa sedikit demi sedikit melupakan sosok Aldi yang tak pernah hilang dari ingatannya.
Setahun saling mengenal membuat mereka sepakat untuk menikah.
Setahun kemudian Andika lahir, dan tepat dihari yang sama Pandu pergi meninggalkan mereka.
Annisa kembali terpukul oleh kepergian suaminya. Kehilangan sosok lelaki yang disayanginya membuat ia harus kembali bangkit setelah lebih dulu ditinggal oleh sang papa.
***
Annisa masih terduduk di ruang kerjanya, mengingat kenangan masa lalu yang sedikit menguras emosinya, diusapnya air mata yang mengalir di kedua pipinya.
Meski Aldi hanya sebagai sebuah kenangan masa lalu, namun tak dipungkiri sosok itu dirindukannya kembali sekarang.
Kembali ia menatap cincin di jari manisnya, mungkin ini saatnya melupakan semuanya.
__ADS_1
Memulai semuanya dari nol, sedikit memperjuangkan orang yang telah mencuri sebagian hati mungkin tidak ada salahnya.