
Ningrum masih terisak di hadapan makam sang papa, rasa sesalnya tak sempat membahagiakan sang papa membuatnya kian merasa sakit. Menyesali perbuatannya yang sempat tak peduli pada orang yang sangat memanjakannya itu. Sang papa pergi untuk selamanya kehadapan sang khalik setelah bertahun-tahun menanggung beban rasa bersalah kepada putrinya. Berjuang melawan ketidakberdayaannya setelah tertimpa musibah yang seolah menjadi balasan akan perbuatannya mengusir sang anak.
Ikhsan meraih bahu mamanya yang masih terguncang, berusaha memberikan kekuatan pada wanita yang sangat dicintainya itu.
“Ma, kita pulang ya sudah sore”.
Tak ada jawaban, Ningrum hanya mengangguk dan membiarkan sang putra memapahnya keluar dari pemakaman menuju mobil. Dengan sigap Salsa membuka pintu belakang mobil. Ningrum masuk perlahan disusul Salsa, dipeluknya mertuanya itu dengan penuh kasih sayang.
***
Malam kian larut tapi Ningrum masih tak dapat memejamkan kedua matanya, kenangan masa kecil bersama sang papa masih terbayang jelas di ingatannya. Ingin ia kembali ke masa itu, dimana tak ada beban pikiran untuknya. Sejak kecil sang papa sangat memanjakannya, tak pernah ada kata-kata kasar keluar dari mulut lelaki itu. Apa saja yang diinginkan Ningrum pasti dengan segera sang papa mengabulkannya. Sikap inilah yang menjadikan Ningrum tumbuh menjadi gadis manja, tak ada keinginan yang tak bisa didapatkannya.
Hingga saat ia mengenal sosok Handoyo, pria berprilaku lemah lembut itu membuatnya jatuh cinta. Meski waktu perkenalan yang tak lama hal itu sudah cukup membuat Ningrum yakin bahwa Handoyo adalah lelaki yang pantas mendampinginya, membimbingnya menjadi istri menuju jannah. Tapi papanya jelas-jelas menolak kehadiran Handoyo dan hal ini membuat Ningrum kecewa kepada sang papa, sejak kecil tak pernah papanya menolak keinginan apapun darinya.
Ningrum kembali terisak, diusapnya air mata yang tak dapat dibendungnya lagi. Berusaha menghapus segala kenangan pahit masa lalunya. Dia bangkit dari kasurnya menuju teras, duduk menyendiri disana dimalam yang semakin larut.
Ikhsan sedikit tersentak, suara tangisan sang mama terdengar jelas dari kamarnya. Digesernya tubuh mungil Salsa yang tertidur pulas di dada bidangnya. Sejak malam itu, Salsa benar-benar menunjukkan sikap manjanya. Seolah ia takut kehilangan Ikhsan hingga tak sedetikpun Salsa melepaskan pelukannya dari sang suami ketika mereka sedang berdua saja. Tentu saja Ikhsan tak keberatan, bahkan sikap Salsa itu membuatnya semakin nyaman. Semakin memantapkan hatinya bahwa gadis ini telah benar-benar memiliki tempat istimewa dihatinya.
Mamanya sedikit tersentak ketika tiba-tiba kedua bahunya dipegang seseorang. Ikhsan tersenyum, memeluk sang mama yang kian terisak. Untuk beberapa saat hanya suara isakan tangis sang mama yang terdengar.
__ADS_1
“Ma, sudahlah. Mama harus ikhlas. Ini semua kehendak Allah ma. Dahulu ketika Ummu Salamah ditinggal mati Suaminya Abu Salamah Rasulullah SAW pun datang bertakziah agar meredakan lara dihati Ummu Salamah. Rasulullah SAW berpesan agar Ummu Salamah bisa tabah dan tegar dalam menghadapi musibah. “Siapa yang ditimpa suatu musibah, maka ucapkanlah sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun’ (sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan)” Sabda Rasulullah SAW”.
Sang mama sedikit terkejut, dipandanginya putra bungsunya itu. Ia masih tak habis pikir, bagaimana seorang Ikhsan bisa dengan jelas memberikan nasihat seperti itu. Ikhsan tersenyum menyadari keterkejutan sang mama.
“Ikhsan sudah banyak belajar ma”. Jawabnya sambil sedikit terkekeh. “Ikhsan sering ikut pengajian mingguan di masjid dekat apartemen Ikhsan. Kadang kalau ada waktu Ikhsan juga sering ikut pengajian yang diadakan dilingkungan kantor”. Jelasnya membuat sang mama mengangguk.
“Mama menyesal nak, mama belum sempat berbuat baik kepada Kakek kamu”.
“Ma, sudahlah. Tidak baik menyesali dan menyalah diri sendiri. Akan lebih baik kalau sekarang kita banyak berdoa untuk kakek”. Ikhsan mengeratkan pelukannya kepada sang mama.
“Iya sayang kamu benar”.
“Nggak usah sayang Salsa pasti kelelahan, kasian dia”.
Ikhsan tersenyum kemudian mengantar sang mama ke kamarnya. Menemani hingga sang mama tertidur pulas.
Dengan hati-hati Ikhsan beranjak menuju kamarnya, ia tak ingin membuat suara sekecil apapun. Takut kalau sang mama akan terbangun lagi. Perlahan dimasuk ke kamarnya, sejak tadi Ikhsan sengaja tidak menutup pintu itu, dia tidak ingin membangunkan bidadarinya yang sedang tertidur pulas.
Dengan lembut dikecupnya kening Salsa yang masih tertidur pulas, gadis itu menggeliat merasakan sentuhan di keningnya, Ikhsan semakin geli melihat ekspresinya. Kejailan Ikhsan kambuh, dicubitnya pipi putih Salsa dengan gemas membuat siempunya kembali menggeliat. Ikhsan semakin tak tahan melihat istrinya dengan gemas diciumi kedua pipi Salsa membuat dia membuka kedua matanya.
__ADS_1
“Ish mas, usil banget”. Gerutunya masih mencoba memejamkan mata, tak mempedulikan tangan sang suami yang perlahan mulai nakal.
“Sayang… kok nyenyak banget sih boboknya. Temeni mas ya”. Suara lembut Ikhsan terdengar manja membuat Salsa tak dapat melanjutkan tidurnya. Dicubitnya hidung Ikhsan sambil mendaratkan ciuman dibibir seksi suaminya itu. Sedikit terkejut Ikhsan tersenyum nakal. Menarik selimut dan membenamkan tubuh mungil istrinya bersamanya. Melewati malam yang dingin sebagai suami istri.
***
Sudah tiga hari setelah kepergian sang Kakek. Ikhsan masih enggan pulang ke ibukota, tak tega ia membiarkan mamanya yang masih terpuruk dalam kesedihan seorang diri. Udara pagi masih sangat menyegarkan di kota kecil ini, setelah sholat subuh Ikhsan berlari mengelilingi rumah besar peninggalan keluarga mamanya itu. Rupanya sejak tinggal disini mama merenovasi bangunan yang sudah sangat tua itu. Rumah utama yang memang masih berdiri kokoh meski banyak bagian yang sudah hancur karena kebakaran itu sudah disulap mama menjadi sebuah rumah bergaya klasik dengan sentuhan seni Yunani dan Roma. Dengan pilar-pilar kolom yang ditonjolkan, jendela yang ditata lebih teratur dan pintu yang cukup lebar nan kokoh. Pantas saja sang mama betah tinggal disini.
Setelah cukup lama keliling rumah yang cukup luas itu Ikhsan kembali, dia berjalan dari samping rumah yang langsung berhadapan dengan dapur. Dilihatnya Salsa sibuk menyiapkan sarapan pagi, dipeluknya tubuh mungil itu dari belakang. Mencium leher jenjangnya membuat Salsa sedikit terkejut.
“Mas ni apa-apaan sih”. Omel Salsa disambut tawa riang dari Ikhsan.
“Kamu ngegemisin sayang”. Ikhsan masih enggan melepaskan pelukannya.
“Ekhm… ekhm… ada mama ni”. Tiba-tiba sang mama muncul membawa beberapa ikat sayuran segar.
“Eh mama…”. Salsa terkejut, melepaskan pelukan Ikhsan dengan paksa meski sang suami tak ingin melepaskannya.
“Mama, ganggu aja”. Ikhsan memonyongkan bibirnya seolah sedang ngambek.
__ADS_1
Ningrum mengeryitkan alisnya bingung. Ternyata Salsa berhasil membuat anak kesayangannya jatuh kepelukannya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ia kembali tersenyum penuh makna, meletakkan sayuran yang dibawanya tadi diatas meja makan kemudian berlalu tanpa sepatah katapun membuat Ikhsan dan Salsa bingung.