Cinta Pertama Suamiku

Cinta Pertama Suamiku
Menua bersama


__ADS_3

Ningrum masih tersenyum dan berjalan menuju teras belakang, ada Nilam disana yang sedang merangkai bunga. Pagi ini mereka berjalan-jalan ke kebun bunga krisan yang terletak di pinggir kota, memetik langsung bunga-bunga itu dipagi hari sungguh memberikan kesan yang berbeda. Kebun bunga itu milik Pakde Rudi, satu-satunya saudara kandung papa yang masih hidup. Melihat Ningrum yang senyum-senyum sendiri membuat Nilam menggelengkan kepala sambil memotong beberapa tangkai bunga yang agak panjang.


“Senyum-senyum sendiri, nggak kesambet kan Ning?”. Candanya kepada Ningrum yang langsung dibalas gelak tawa sang adik.


“Lagi seneng mbak, liat Ikhsan sama Salsa. Ning nggak nyangka kalau bakal secepat ini Ikhsan takluk oleh pesona Salsa”.


“Alhamdulillah kalau gitu”.


“Iya mbak Alhamdulillah banget, Ning agak lega sekarang”.


“Kan kamu jadi cepat dapat cucu”. Nilam tertawa sambil menutup kedua mulutnya.


“Iya Mbak, nggak sabar banget rasanya. Padahal Ning sempat ragu, takut kalau Ikhsan butuh waktu lama untuk bisa mencintai Salsa”.


“Ning, kalau niatnya baik, Insya Allah hasilnya baik pula”.


“Masalahnya mbak, sebelum Ning jodohin Ikhsan sama Salsa. Ikhsan ngaku kalau dia lagi jatuh cinta sama kawan SMAnya dulu”.


“Maksud kamu?”. Nilam menghentikan pergerakan tangannya sambil menatap Ningrum.


“Iya, sebelum Ning cerita tentang Salsa. Ikhsan pernah bilang kalau dia akan menikahi cinta pertamanya di SMAnya dulu. Katanya Ikhsan udah lama memendam rasa itu kepadanya, tapi berhubung gadis itu masih membiayai ketiga adiknya dia sempat menolak lamaran Ikhsan. Ning juga hampir membatalkan niat Ning buat jodohin IKhsan sama Salsa. Tapi itulah rencana Allah. Selalu ada jalan terbaik yang ditunjukkannya”.


Nilam tersenyum, meletakkan hasil rangkaian bunganya di meja sudut dan membersihkan sisa tangkai bunga yang tidak terpakai.


“Kita memang harus banyak-banyak bersyukur Ning, biar bagaimanapun segala sesuatu yang kita jalani pasti ada hikmahnya. Dibalik musibahpun pasti ada kemudahan yang diberikan Allah kepada kita”.


“Iya mbak”.

__ADS_1


“Ya sudah, mbak mau masak nih. Kamu mau sarapan apa? Mbak buatin ya?”. Nilam beranjak menuju dapur tapi buru-buru ditahan oleh Ningrum.


“Mbak, jangan kedapur dulu”.


“Lha… udah hampir siang gini. Mbak laper, emang kenapa?”.


“Mungkin Ikhsan dan Salsa masih disana, nggak enak merusak keromantisan mereka?”.


“Itu Ikhsan sama Salsa di taman belakang”. Tunjuk Nilam kearah taman yang terdapat beraneka ragam jenis mawar.


“Ya ampun. Kirain masih mesra-mesraan di dapur. Taunya udah pindah aja tuh anak-anak”. Ningrum memukul jidad pelan sambil berlalu kedapur menyusul Nilam yang sudah berjalan lebih dulu.


***


Menikmati pagi di depan hamparan taman bunga mawar berwarna-warni membuat Salsa dan Ikhsan betah berlama-lama duduk di taman belakang ini. Sudah hampir satu jam mereka duduk disana menikmati secangkir teh dan sepiring pisang goreng yang baru diantar sang mama.


Salsa menarik napas panjang, enggan rasanya kembali lagi ke kota yang penuh hiruk pikuk kesibukan dunia. Ingin sekali dia mengatakan pada suaminya kalau dia masih ingin tinggal disini, menemani mamanya yang terkadang masih sering menangis mengingat kepergian kakeknya.


“Atau kamu mau tinggal disini sementara menemani mama”. Seolah mengerti kegundahan Salsa, Ikhsan memberikan jawaban atas pertanyaannya sendiri.


“Emang boleh?”. Salsa bangkit dengan senyum semringah.


Ikhsan mengangguk “Nih.. bunga cantik untuk istriku yag paling cantik”. Ikhsan menyerahkan setangkai mawar yang dipetiknya tadi sambil tersenyum nakal menatap istrinya yang menunduk malu.


“Apaan sih mas ni”. Salsa masih menunduk sambil mengulurkan tangannya menerima mawar merah dari tangan Ikhsan.


“Tuh kan makin cantik”. Goda Ikhsan sambil menarik Salsa kedalam pelukannya.

__ADS_1


“Sa, mending kamu ikut Ikhsan aja nak”. Tiba-tiba mama muncul membuat Ikhsan refleks melepaskan pelukannya dari Salsa.


“Tapi Salsa pengen nemenin mama disini”.


“Nggk apa-apa sayang, ada tante Nilam disini yang nemeni mama”. Dibelainya rambut Salsa yang tertutup hijab sambil mengajaknya duduk di bangku taman.


“Mama juga mau kalian tinggal dirumah mama, sudah lama mama meninggalkan rumah itu. Mang Diman sama Mbok Nanik jugakan sudah tinggal disini, jadi kalian bisa tinggal disana. Mama berencana mau tinggal disini, menikmati masa tua mama”. Ningrum menunduk berusaha menahan bulir bening yang hampir saja membasahi pipinya.


“Tapi Ikhsan nggak suka kalau harus jauh dari mama”. Ikhsan mendengus kesal sambil duduk disamping mamanya, menggenggam kedua tangan yang mulai keriput itu.


“San, kamu sudah dewasa nak. Ada Salsa istrimu yang akan menemani kamu. Mama yakin nggak akan butuh waktu lama untuk membuat kamu terbiasa”. Mamanya tersenyum menggoda Ikhsan sambil membelai rambut putranya itu.


“Mama suka gitu deh”. Ikhsan makin memajukan bibirnya, pura-pura ngambek.


Salsa dan Ningrum tertawa melihat tingkat Ikhsan, lelaki tinggi tegap itu terlihat begitu manja kepada mamanya membuat mereka geleng-geleng kepala.


***


Menjelang sore Salsa dan Ikhsan berangkat ke kota, menginggalkan sama mama yang ingin menetap disana. Ikhsan tak dapat berbuat banyak, dia tak ingin memaksakan keinginannya. Ikhsan mengerti jika sekarang mamanya ingin hidup tenang setelah melalui hidup yang penuh penderitaan selama ini, membesarkan mereka sendirian tanpa sosok suami atau keluarga yang mendukungnya.


Hampir tengah malam mereka tiba disebuah rumah mewah, Salsa sudah tertidur sejak tadi. Perlahan diangkatnya tubuh mungil Salsa, menidurkannya dengan hati-hati.


Meski malam semakin larut, Ikhsan masih tak dapat memejamkan matanya, memandangi Salsa yang tertidur pulas seolah menjadi candunya sekarang. Dia beranjak ke kamar mandi, membersihkan dirinya yang sudah lelah dengan perjalanan panjang malam ini.


Ikhsan menyeduh secangkir teh didapur, berjalan menuju teras belakang. Duduk menyendiri sambil memandang langit malam yang cerah, cahaya rembulan yang bersinar terang seolah ikut berusaha menerangi hati dan pikiran Ikhsan yang mulai gelap, tak menemukan jalan keluar dari permasalahan rumit yang dihadapinya. Memilih salah satu wanita yang kini telah menjadi istrinya bukan sebuah pilihan yang mudah.


Mutiara adalah cinta pertamanya sejak dulu, yang selalu berusaha dipertahankan bahkan dia selalu berusaha mendapatkannya untuk dimilikinya seumur hidup. Tapi harapannya itu pupus setelah dia mengetahui bahwa sang mama juga sudah menemukan jodoh terbaik untuknya. Sempat berpikir untuk menolak pilihan sang mama, tapi Ikhsan tak ingin mengecewakan wanita yang paling dicintainya itu. Hingga dengan terpaksa Ikhsan harus menerima Salsa, gadis yang diyakininya tak akan mampu menempati relung hati terdalamnya. Tapi Ikhsan salah, Salsa mampu membuatnya jatuh cinta dalam waktu singkat. Entah mengapa Ikhsan menjadi pria lemah ketika berhadapan dengan gadis itu, daya tarik yang dimilikinya membuat Ikhsan akhirnya bertekuk lutut. Ikhsan tak tau alasan apa yang membuat dia jatuh cinta pada Salsa. Saat ini dia hanya ingin melindungi dan hidup berdampingan dengan Salsa, menua bersama dan melihat anak cucu mereka tumbuh.

__ADS_1


__ADS_2