
Sebuah apartemen sederhana dengan dua buah kamar tidur, ruang tamu dan dapur. Cukup nyaman untuk ditempati oleh seorang Aldi. Dia terbiasa hidup sederhana jadi untuk ukuran apartemen seperti ini sudah mewah baginya. Dia tidak terlalu kerepotan ketika pindah karena dia sengaja tidak membeli terlalu banyak barang ketika kos dulu. Hidup jauh dari keluarga membuat Aldi terbiasa melakukan pekerjaan rumah sendiri. Mulai dari memasak sampai mencuci pakaian dilakukannya sendiri. Aldi berusaha meminimalkan pengeluarannya untuk bisa menabung, dan berkat usahanya itu sekarang Aldi sudah bisa membeli apartemen yang harganya sangat pantastis untuk ukuran kota besar seperti ini.
Sebenarnya dia ingin mengajak Salsa untuk tinggal disini, mengingat apartemen ini memiliki dua kamar tidur tapi Salsa menolak. Dia beralasan bahwa sebentar lagi kuliahnya akan berakhir dan dia juga sudah membayar biaya kos sehingga sayang jika harus meninggalkannya apalagi ada Diana sahabatnya yang akan kesepian bila dia pindah. Meskipun Diana tidak akan keberatan jika Salsa memang ingin tinggal bersama kakaknya itu.
Salsa dan Diana berada di dapur untuk menyusun beberapa perlengkapan masak yang baru saja dibeli Aldi. Kemudian merapikan barang-barang yang lain dan membersihkan apartemen. Pukul 3 semua sudah rapi. Salsa beranjak menuju kamar mandi, dia ingin membersihkan diri sekaligus bersiap untuk melaksanakan sholat ashar. Ketika masuk ke kamar mandi ternyata peralatan mandi belum ada, Salsa keluar dan pamit untuk membelinya ke minimarket yang terletak dilantai bawah.
“Kak mau Diana buatkan teh?”
Aldi yang sedang duduk di sofa sambil memainkan benda pipih di tangannya menoleh dan mengangguk pada Diana tanpa bersuara. Diana bergegas ke dapur dan baru beberapa saat Diana menjerit. Aldi terkejut dan langsung menghampiri Diana ke dapur.
“Ada apa Di?” Aldi tergopoh menemui Diana
Tidak ada jawaban dari Diana, hanya tangan kanannya mengenggam tangan kirinya dan menangis.
“Lho kok malah nangis?” Aldi masih bingung
“Tangan Diana kena air panas kak”. Suara Diana yang penuh kesakitan
“Ya ampun, kok nggak hati-hati si. Sini kakak obati”.
__ADS_1
Diraihnya tangan Diana yang sudah berwarna merah, dan mengajaknnya ke washtafel dan menghidupkan airnya. Perlahan disiramnya tangan Diana dengan air mengalir dan mengajaknya kembali duduk di sofa dan meraih obat di kotak P3K. Dengan telaten Aldi mengoleskan krim ke tangan Diana, Diana hanya meringis menahan rasa sakit. Tapi entah mengapa tiba-tiba ada perasaan aneh ketika tak sengaja mereka saling bertatapan.
Memiliki tinggi 170 cm membuat tubuh kak Aldi begitu sempurna dengan bentuk tubuh ideal, meski tubuhnya tidak atletis tapi cukup membuat Diana terpaku ketika pertama kali Salsa mengenalkan kakaknya itu. Memiliki kulit sawo matang dengan lesung pipit dikedua pipinya membuat kak Aldi semakin mempesona, tatapan teduh dan tutur kata yang lemah lembut membuat banyak wanita mengaguminya termasuk Diana.
“Assalamu’alikum”. Tiba-tiba Salsa masuk ketika baru pulang membeli peralatan mandinya. Melihat kakaknya dan Diana tidak membalas salamnya karena keduanya saling bertatapan membuat Salsa mengernyitkan keningnya.
“Ekhm… ekhm…”. Salsa mendekati keduanya sambil pura-pura batuk.
“Eh…… kamu udah balik Sa”. Diana salah tingkah dan langsung berdiri, sementara kak Aldi yang masih memegang tangan Diana juga terkejut dan menjatuhkan obat krim sehingga mengenai pakaian Diana.
“Tuh kan, ngelamun mulu berdua ni. Liat jadi berantakan”. Salsa mencibir sambil menggoda keduanya
Kak Aldi mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum.
“Sa, malam ini kalian nginep disini ya”. Pinta Kak Aldi
“Iya kak, kebetulan besok Salsa nggak ada jadwal apapun jadi bisa. Tapi Salsa Tanya Diana dulu ya?” kak Aldi mengangguk.
“Di, kita nginep disini ya malam ini” seru Salsa ketika Diana keluar dari kamar mandi
__ADS_1
“Boleh”. Sahut Diana masih kikuk. Tapi ada sebongkah senyum yang mengembang di dua hati yang belum bersatu itu.
***
Hampir menjelang malam ketika mobil yang dikemudikan mang Diman memasuki kota kecil sejuta kenangan bagi majikannya itu. Kota yang banyak menyimpan cerita kehidupan masa kecil bersama keluarga dan sahabatnya. Kakak perempuannya Nilam yang sangat menyayanginya entah bagaimana kabarnya sekarang. Dialah satu-satunya orang yang menentang mama dan papa ketika mengusir Ningrum dari kota ini, tetapi apalah dayanya sebagai seorang anak. Dia hanya bisa menangis ketika melihat Ningrum dipaksa keluar meninggalkan kota kelahirannya itu. Tak terasa bulir-bulir bening mulai membasahi pipinya yang sudah memperlihatkan gurat-gurat usia yang sudah mulai senja itu.
Papanya sosok pria yang tegas dan berwibawa sebenarnya sangat menyayangi Ningrum. Dia terlalu kecewa ketika mengetahui Ningrum lebih memilih pergi meninggalkan keluarganya hanya demi laki-laki pilihannya. Rasa sayang yang terlalu besar membuat sang papa tidak rela mhelepaskan anak perempuannya itu kepada laki-laki asing yang menurutnya tidak jelas asal-usulnya. Meski sebenarnya Handoyo adalah pria baik, tapi rasa egois sang papa membuatnya menutup mata untuk sekedar mengenal pria pilihan anaknya itu.
“Mang Diman kita cari penginapan aja ya!”
“Iya Nya”. mang Diman mengangguk sambil matanya melirik rambu-rambu lalu lintas, siapa tau ada petunjuk tempat penginapan disana.
Tidak butuh waktu lama mobil itu memasuki sebuah penginapan yang kelihatannya nyaman. Sesampainya di parkiran dia lalu membangunkan Mbok Nanik yang tidur pulas akibat perjalanan jauh yang mereka tempuh. Dia tersenyum melihat tingkat asistennya tersebut.
“Mbok, sudah sampe ayo bangun”. Diguncangnya tubuh gembul Mbok Nanik
“Hah… apa Nya… sudah sampai?” Mbok Nanik terkejut sampai tubuhnya sedikit terlonjak
“Iya udah nyampe”. Dia hanya tersenyum sambil melepas seat belt dan langsung turun menuju resepsionis memesan dua buah kamar yang akan mereka tempati mala mini.
__ADS_1
Sebenarnya Ningrum tau Aisyah pasti akan sangat kecewa jika mengetahui dia memilih menginap dihotel daripada dirumahnya. Tapi dua puluh tahun tidak bertemu membuat Ningrum sedikit ragu jika harus langsung menuju ke rumahnya. Dia harus memastikan terlebih dahulu keadaan Aisyah. Dia juga belum tau bagaimana keadaan keluarga Aisyah sekarang. Apakah dia masih hidup sendiri dengan putrinya atau sudah menikah dengan orang lain dan telah memiliki anak lagi. Semua masih menjadi misteri bagi Ningrum, bayangan dua puluh tahun lalu masih lekat diingatannya. Tumbuh bersama di kota kecil ini dan kemudian tinggal bersebelahan dikontrakan sederhana, menikah dengan orang yang memiliki asal-usul yang sama dan ditinggal pergi secara bersamaan pula. Tapi sayang, setelah kepergian suaminya Aisyah memilih kembali tidak ingin hidup berdampingan lagi bersamanya di ibukota. Dan sejak saat ini Ningrum tidak pernah tau bagaimana keadaan Aisyah. Semoga dia bisa bertemu dengan Aisyah, menumpahkan segala keluh kesahnya kepada sahabatnya itu.