
Mutiara berusaha memejamkan matanya, sejak kedatangan Ikhsan tadi pagi membuat dia malas keluar kamarnya. Bahkan untuk makan saja Mutiara tidak berselera, Wulan yang sudah sejak siang tadi kembali lelah memaksanya untuk sekedar mengganjal perut. Gadis itu bingung melihat sikap Mutiara yang tiba-tiba mengurung diri tanpa sebab.
Mutiara mengenal Ikhsan sudah sejak SMA, selain memiliki wajah yang menawan Ikhsan juga sangat menghormati perempuan membuat Ikhsan menjadi sosok pria yang paling dikagumi di sekolahnya. Mutiara tidak terlalu dekat dengan Ikhsan, tapi dia sering memperhatikan Ikhsan. Menjadikan Ikhsan idolanya walau hanya dalam diam, sementara banyak teman-temannya yang dengan terang-terangan mendekati Ikhsan. Entah mengapa walaupun Ikhsan bisa saja memanfaatkan mereka untuk kesenangan tapi dia enggan melakukannya.
Dan sejak kepergian kedua orang tuanya, Mutiara menjadi sosok perempuan yang semakin pendiam. Dia bekerja keras siang dan malam demi ketiga adiknya, tak ada lagi waktu untuk bersantai, bahkan untuk memikirkan pria saja dia tidak punya waktu, mungkin karena rongga hatinya telah diisi oleh Ikhsan meskipun dia tidak tau apakah perasaannya ini disambut Ikhsan atau hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi Mutiara berusaha untuk memendam rasa itu karena dia yakin jarak dia dan Ikhsan begitu jauh. Apalagi ketika dia tidak melanjutkan kuliahnya demi melanjutkan usaha peninggalan kedua orang tuanya.
Perlahan dia mulai melupakan Ikhsan dalam hatinya, hingga beberapa tahun lalu tiba-tiba Ikhsan datang melamarnya. Bagai suatu keajaiban ternyata apa yang dirasakannya tehadap Ikhsan tidak bertepuk sebelah tangan. Mungkin ini jawaban dari doa-doanya selama ini, tapi lagi-lagi Mutiara harus menekan egonya, dia harus memikirkan ketiga adik-adiknya yang masih perlu biaya untuk pendidikan. Dengan sangat terpaksa ditolaknya lamaran Ikhsan kala itu, Meski Mutiara menolaknya tetapi Ikhsan berjanji akan menunggu Mutiara hingga benar-benar siap. Dia sangat berharap bisa menjadikan Mutiara pendampingnya. Mendampingi dalam segala keadaan, baik senang maupun susah dan menjadikan Mutiara Ibu dari anak-anaknya kelak.
Seolah menyiram air di hamparan ladang yang kering, Ikhsan memberikan harapan yang besar untuk Mutiara, meski dia tidak menjanjikan apapun tapi Mutiara yakin jika suatu saat pria itu akan benar-benar melamarnya sehingga diapun menutup hati untuk pria lain. Dan benar saja, penantian panjang itu seolah membuahkan hasil, tadi malam Ikhsan datang dan mengatakan ingin melamarnya kembali.
Mutiara menginginkan pernikahan yang direstui oleh keluarga Ikhsan, sehingga dia meminta Ikhsan untuk datang bersama mamanya dan Ikhsan menyetujuinya. Harapan itu kembali hadir membuat Mutiara semakin mantap bahwa Ikhsan memang jodoh yang disiapkan Allah untuknya. Tapi kedatangannya tadi pagi dengan wajah suram dan tidak ada senyum disana membuat Mutiara kembali kecewa. Ditariknya napas berat, kemudian dia berlalu ke kamar mandi mengambil wudhu dan mengadukan segalanya pada sang Khalik.
Bulir bening seolah enggan berhenti membasahi mukena yang dikenakannya. Mutiara masih terdiam disini, disudut kamarnya. Meratapi segala takdir yang diterimanya, semoga dia ikhlas. Pikirannya kembali menerawang jauh, bukankan poligami tidak dilarang? Dia masih memikirkan Ikhsan. Yah Mutiara tidak keberatan kalau harus menjadi yang kedua meski sulit berbagi suami.
Diraihnya benda pipih diatas meja riasnya, dihubungi sebuah nomor. Dan Mutiara larut dalam pembicaraan yang menguras emosinya. Lama.
***
__ADS_1
Ikhsan masih terduduk di balkon apartemennya. Butuh waktu untuknya menenangkan diri setelah pergolakan hati kemarin. Setelah menenangkan diri akhirnya Ikhsan sudah bisa berdamai dengan hatinya, dia akan berusaha membuka hatinya kembali untuk calon istrinya Salsabila Az Zahra. Akh… kenapa nama merekapun hampir sama. Apakah Allah benar-benar ingin menguji hatinya.
Dilajukan mobilnya perlahan, tak tau harus kemana tiba-tiba dia teringat Winda dan Windi, dua keponakan yang sudah hampir sebulan tak ditemuinya. Diparkirkannya mobilnya disebuah toko mainan, sekedar memberikan boneka untuk oleh-oleh sikembar.
Sebuah rumah mewah dengan beberapa mobil berjejer di garasi. Perlahan diparkirkannya mobilnya kemudian keluar dengan menjinjing bungkusan. Masih pukul 8 malam tapi kelihatannya rumah agak sunyi, diketuknya pintu sambil mengucap salam. Pintu dibuka oleh Mas Bagus, kebetulan dia sudah pulang.
“Ikhsan, sama siapa?”. Diulurkannya tanganya sambil melihat kiri dan kanan mencari-cari seseorang.
“Sendiri mas, tadi Ikhsan baru dari apartemen jadi nggak sama mama”. Diciumnya punggung kakak laki-lakinya itu. “Winda sama Windi mana mas?”. Disapunya pandangan keseluruh penjuru rumah tapi tak menemukan dua orang balita umur 4 tahun itu.
“Mereka jalan-jalan sama opa dan omanya”. Sahut mas Bagus
“Iya, tadi mas ada jadwal operasi malam ini tapi batal karena pasiennya sudah meninggal”. Sahutnya santai sambil duduk disofa.
“Hmmmm… sunyi gini, Ikhsan pulang aja ya mas”. Ikhsan beranjak tapi urung karena Bagus menghentikannya.
“San, mama sudah cerita sama mas semuanya. Kamu yakin dengan keputusan kamu?”. Ditatapnya mata adik lelakinya itu. “Jangan sampai keputusanmu membuat salah satu pihak merasa terdzolimi San. Yang sakit hati pasti ada, tapi ingat harus bijak dalam mengambil keputusan”.
__ADS_1
Ikhsan mengusap wajahnya, terlihat jelas wajahnya menjadi agak kacau.
“Maskan tau Ikhsan bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta, Ikhsan takut kalau nggak bisa menerima Salsa mas”.
“Kalau kamu ikhlas, insya Allah bisa San”.
“Masalahnya masih ada Mutiara dihati Ikhsan mas”.
“Makanya mas bilang kamu harus ikhlas”. Mas Bagus tersenyum sambil menepuk bahu adik kesayangannya itu.
Ikhsan mengangguk. “Iya mas, Ikhsan pamit ya. Ini untuk si kembar”. Dia beranjak sambil menyodorkan bungkusan yang dibawanya tadi. Mas Bagus mengangguk dan mengantarkan adiknya ke pintu depan.
***
Diparkirkannya mobil hitamnya di sebuah pinggiran taman kota, memperhatikan beberapa remaja yang lalu lalang disana, taman ini cukup ramai. Disudut banyak balita yang bermain-main ditemani orang tuanya. Ikhsan enggan keluar dari mobilnya sekedar untuk duduk atau memesan minuman di pinggiran taman itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, sebuah nomor asing. Agak terkejut ketika mengetahui siapa yang menelepon, tapi kemudian Ikhsan mulai berbicara dengan serius.
Malam sudah kian larut ketika dia selesai berbicara dengan seseorang diujung telepon, dibukanya aplikasi Wh*t**p ada beberapa chat dari sang mama, menanyakan keberadaannya. Dibalasnya pesan sang mama agar wanita itu tidak khawatir memikirkan keadaanya.
__ADS_1
Kini kembali dia harus memikirkan jalan terbaik yang harus diambilnya, mengorbankan cintanya dan membahagiakan sang mama? Atau mempertahankan keduanya. Entahlah.
Dilajukan perlahan mobilnya ditengah jalanan yang sudah mulai sepi, tiba-tiba dilihatnya seseorang berlari kejalanan tepat dihadapan mobilnya membuat dia panik, beruntung dia sempat menginjak rem. Suara deritan rem membuat orang itu berjongkok sambil memegang kedua telinganya tepat beberapa cm dihadapan mobil Ikhsan. Ikhsan menarik napas panjang, agak lega karena dia tidak menabrak orang itu. Dipeluknya setir mobil sambil menjatuhkan kepalanya dan mengatur napas yang masih memburu karena keterkejutannya. Dia keluar dari mobil dan melihat orang yang hampir ditabraknya, ternyata seorang gadis.