Cinta Pertama Suamiku

Cinta Pertama Suamiku
Ada yang aneh


__ADS_3

Enam bulan kemudian


“Sa, malam ini mas nggak pulang ya. Mas ada


pekerjaan dikantor cabang, jadi sepulang kantor mas langsung kesana”. Ikhsan


berkata sambil menikmati sarapan paginya.


“Iya mas, Salsa juga hari ini mau menemani kak Aldi


membeli perlengkapan hantaran”. Salsa meletakkan segelas susu di hadapan


suaminya sambil menarik kursi dan mulai menikmati sarapannya.


“Oh ya, jadi kapan rencana acaranya?”.


“Insya Allah minggu depan”.


“Mungkin mas nggak bisa ikut ngantar Sa, kamu aja


yang ikut nggak apa-apakan?”.


“Iya mas nggak apa-apa. Kami ngerti banget kalau


mas pasti sibuk”.


“Makasih ya”. Ikhsan tersenyum sambil mengusap


kasar rambut istrinya.


“Makasih? Buat apa?”. Salsa mengernyitkan keningnya


tak mengerti.


“Karna kamu pengertian sayang”. Ikhsan bangkit


mencium kening istrinya sekilas kemudian mengulurkan tangan kanannya. “Mas


berangkat ya”.


Salsa mengangguk, mencium tangan suaminya sambil


ikut beranjak untuk mengantarkannya ke depan.


Salsa masih berdiri melepas kepergian suaminya


hingga bayangan mobilnya tak nampak lagi. Salsa menutup pintu dan berjalan


kearah meja makan, menyelesaikan sarapannya. Tiba-tiba handphonenya berdering.


“Hallo, Assalamu’alaikum. Iya kak, Oke Salsa tunggu


ya”.


Ditutupnya telepon dari Aldi, dan bergegas masuk ke


kamar mengganti pakaiannya.


Tiga puluh menit kemudian, mobil Aldi memasuki


rumah mewah Salsa. Sejak mama Ikhsan memutuskan untuk menetap di kota


kelahirannya, rumah ini kosong. Ningrum meminta Salsa dan Ikhsan untuk tinggal


disana, dan tentu saja mereka tidak keberatan mengingat tinggal di apartemen


tidak nyaman untuk Salsa, apalagi dia harus tinggal di apartemen seharian tanpa


teman. Meski rumah ini terlalu besar untuk mereka tinggali berdua tapi Salsa


tidak pernah bosan, dia bisa menghilangkan rasa bosannya dengan merawat tanaman


dan membersihkan rumah. Salsa sengaja meminta Ikhsan untuk tidak mencari


asisten rumah tangga, Salsa ingin mengerjakan semuanya sendiri. Mbok Nah juga


terkadang datang kemari, menemani Salsa jika Ikhsan harus pergi keluar kota


atau perjalanan dinas lainnya.


Aldi mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang,


sementara Salsa sibuk membalas pesan Diana. Dia masih tidak menyangka jika


sebentar lagi sahabatnya itu akan menjadi kakak iparnya. Sesekali matanya


melirik Aldi yang masih fokus menyetir.


Salsa tidak terlalu kesulitan ketika harus menemani

__ADS_1


Aldi membeli segala keperluan untuk hantaran, apa yang disukai dan tidak


disukai Diana dia sangat mengetahuinya. Empat tahun tinggal dalam satu kamar


membuat mereka sangat mengenal satu sama lain.


Menjelang zuhur Aldi dan Salsa telah selesai


berbelanja. Aldi mengajak adiknya itu untuk makan disebuah restoran sederhana


yang berada tak jauh dari pusat perbelanjaan.


“Kak, bisa cepetan nggak”. Salsa meringis sambil


memegang mulutnya.


“Iya sebentar, kakak cari tempat parkir”.


Aldi keheranan melihat tingkat Salsa, dia buru-buru


keluar dari mobil dan langsung menuju kamar mandi. Aldi segera menyusul Salsa


yang kelihatan tidak dalam keadaan baik-baik saja, tapi begitu turun dari mobil


dia seperti melihat seseorang yang dikenalnya. Aldi berjalan perlahan mendekati


mobil yang memang tak asing baginya, melihat seorang wanita masuk kemudian


mobil itu segera meluncur sebelum Aldi benar-benar bisa melihat siapa yang


mengemudikan mobil tersebut.


Aldi menggeleng-gelengkan kepala, berusaha


menyangkal. Mungkin ia salah lihat. Aldi kembali berjalan menuju restoran,


dilihatnya Salsa sudah selesai dari kamar mandi dan juga berjalan menuju pintu


masuk.


“Kamu nggak apa-apa Sa?”.


“Nggak kak, belakangan Salsa agak kurang enak


badan. Mungkin Salsa kurang istirahat aja”.


“Masuk yuk, setelah makan siang kakak akan langsung


“Lo, kata kakak tadi kita mau beli cincin. Kan kita


belum membelinya tadi?”.


“Biar kakak aja, kakak kawatir kamu makin sakit


nanti”.


“Nggak apa-apa kak, Salsa bosan dirumah terus.


Malam ini mas Ikhsan juga nggak bakal pulang, jadi Salsa bakal sendirian


dirumah”.


“Nggak pulang? Memang kemana?”. Aldi menarik kursi


kemudian duduk setelah mereka memilih tempat yang bersebelahan dengan mushola.


“Ke kantor cabang”. Jawab Salsa santai sambil


membuka buku menu, memilih beberapa jenis makanan yang menggugah seleranya. Salsa


tak menyadari tatapan tak mengerti Aldi.


***


Pukul sembilan malam Aldi mengantar Salsa pulang,


setelah berbelanja hampir seharian Salsa lebih memilih ikut Aldi ke


apartemennya, beristirahat karena dia sedikit kelelahan.


“Sa, sejak kapan suami kamu sering ke kantor


cabang?”. Aldi membuka percakapan ketika sudah berada di mobil.


“Sejak kami menikah kak. Kata mas Ikhsan dia yang


harus terjun langsung kesana”.


“Oh...”. Aldi terdiam, masih memikirkan kenapa

__ADS_1


Ikhsan membuat alasan itu kepada Salsa. Karna sejak pernikahan mereka Aldi yang


mengerjakan sebagian pekerjaan Ikhsan, termasuk memimpin kantor cabang yang


Salsa maksud. Pikirannya melayang kembali, mengingat wanita yang dilihatnya


tadi. Aldi merasa dia tidak salah liat, itu benar-benar mobil Ikhsan. Tapi


kenapa ada seorang wanita muda yang ikut masuk ke mobilnya juga. Bahkan Aldi


juga mengetahui bahwa wanita tadi kelihatannya sedang hamil. Berbagai pikiran


bekecamuk dibenaknya. Tak mungkin seorang Ikhsan membohongi istrinya, tapi


mengingat perkataan Salsa tadi, Aldi semakin yakin jika memang ada sesuatu yang


tidak diketahui Salsa.


“Kak... Kak Aldi”. Salsa menggoyang-goyangkan


lengan kakaknya yang tak menyadari jika mereka telah lewat jauh dari jalan


rumah Salsa.


“Eh...Eh iya Sa, kenapa?”. Aldi tergugup, menepikan


mobilnya kemudian berhenti.


“Kak, kakak liat kita udah sampai mana sekarang?”.


Aldi sedikit terkejut, dilihatnya sekeliling


jalanan. Benar saja, mereka telah kelewatan jauh dari rumah Salsa.


“Kakak kenapa, kan bahaya banget nyetir sambil


melamun kayak gitu”.


Aldi melingkarkan kedua tangannya disetir mobil,


menjatuhkan kepalanya disana. Dia masih terdiam, pikirannya berkecamuk, Aldi


tak mungkin menceritakan kepada Salsa apa yang sebenarnya dia pikirkan. Dia juga


belum tau pasti siapa wanita yang bersama Ikhsan tadi,.


“Nggak Sa, maafin kakak ya. Mungkin kakak terlalu


capek. Kita putar balik ya”. Aldi berusaha tersenyum dan kembali melajukan


mobilnya.


Salsa mengangguk. “Kak di depan ada apotik, singgah


sebentar ya”.


“Mau beli obat? Kamu sakit?”. Tanya Aldi mulai


cemas.


“Nggak kak, ada sesuatu yang mau Salsa beli”. Salsa


tersenyum, keluar dari mobil dengan sedikit tergesa-gesa.


Aldi mengangguk, memarkirkan mobilnya kemudian


mempersilahkan Salsa untuk segera turun.


Tak butuh waktu lama, Salsa sudah kembali. Senyum sumringah


masih melekat di bibir mungilnya.


“Sudah kak, ayok kita pulang”. Dipasangnya selt bel


setelah dia duduk dengan nyaman.


“Oke”. Aldi mengacungkan jempolnya dan kembali


melajukan mobilnya.


***


Aldi masih belum bisa memejamkan matanya, meski


Salsa adalah adik angkatnya dia tidak rela jika ada seseorang yang


menyakitinya, apalagi suaminya sendiri. Meski Aldi belum tau pasti apa yang


sebenarnya terjadi, tapi Aldi merasa Ikhsan sudah melakukan sesuatu yang akan

__ADS_1


menyakiti Salsa. Aldi akan berusaha mencari tau, tak berlebihan rasanya jika ia


harus menyewa seseorang untuk mematai-matainya Ikhsan atasannya itu.


__ADS_2