
Enam bulan kemudian
“Sa, malam ini mas nggak pulang ya. Mas ada
pekerjaan dikantor cabang, jadi sepulang kantor mas langsung kesana”. Ikhsan
berkata sambil menikmati sarapan paginya.
“Iya mas, Salsa juga hari ini mau menemani kak Aldi
membeli perlengkapan hantaran”. Salsa meletakkan segelas susu di hadapan
suaminya sambil menarik kursi dan mulai menikmati sarapannya.
“Oh ya, jadi kapan rencana acaranya?”.
“Insya Allah minggu depan”.
“Mungkin mas nggak bisa ikut ngantar Sa, kamu aja
yang ikut nggak apa-apakan?”.
“Iya mas nggak apa-apa. Kami ngerti banget kalau
mas pasti sibuk”.
“Makasih ya”. Ikhsan tersenyum sambil mengusap
kasar rambut istrinya.
“Makasih? Buat apa?”. Salsa mengernyitkan keningnya
tak mengerti.
“Karna kamu pengertian sayang”. Ikhsan bangkit
mencium kening istrinya sekilas kemudian mengulurkan tangan kanannya. “Mas
berangkat ya”.
Salsa mengangguk, mencium tangan suaminya sambil
ikut beranjak untuk mengantarkannya ke depan.
Salsa masih berdiri melepas kepergian suaminya
hingga bayangan mobilnya tak nampak lagi. Salsa menutup pintu dan berjalan
kearah meja makan, menyelesaikan sarapannya. Tiba-tiba handphonenya berdering.
“Hallo, Assalamu’alaikum. Iya kak, Oke Salsa tunggu
ya”.
Ditutupnya telepon dari Aldi, dan bergegas masuk ke
kamar mengganti pakaiannya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Aldi memasuki
rumah mewah Salsa. Sejak mama Ikhsan memutuskan untuk menetap di kota
kelahirannya, rumah ini kosong. Ningrum meminta Salsa dan Ikhsan untuk tinggal
disana, dan tentu saja mereka tidak keberatan mengingat tinggal di apartemen
tidak nyaman untuk Salsa, apalagi dia harus tinggal di apartemen seharian tanpa
teman. Meski rumah ini terlalu besar untuk mereka tinggali berdua tapi Salsa
tidak pernah bosan, dia bisa menghilangkan rasa bosannya dengan merawat tanaman
dan membersihkan rumah. Salsa sengaja meminta Ikhsan untuk tidak mencari
asisten rumah tangga, Salsa ingin mengerjakan semuanya sendiri. Mbok Nah juga
terkadang datang kemari, menemani Salsa jika Ikhsan harus pergi keluar kota
atau perjalanan dinas lainnya.
Aldi mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang,
sementara Salsa sibuk membalas pesan Diana. Dia masih tidak menyangka jika
sebentar lagi sahabatnya itu akan menjadi kakak iparnya. Sesekali matanya
melirik Aldi yang masih fokus menyetir.
Salsa tidak terlalu kesulitan ketika harus menemani
__ADS_1
Aldi membeli segala keperluan untuk hantaran, apa yang disukai dan tidak
disukai Diana dia sangat mengetahuinya. Empat tahun tinggal dalam satu kamar
membuat mereka sangat mengenal satu sama lain.
Menjelang zuhur Aldi dan Salsa telah selesai
berbelanja. Aldi mengajak adiknya itu untuk makan disebuah restoran sederhana
yang berada tak jauh dari pusat perbelanjaan.
“Kak, bisa cepetan nggak”. Salsa meringis sambil
memegang mulutnya.
“Iya sebentar, kakak cari tempat parkir”.
Aldi keheranan melihat tingkat Salsa, dia buru-buru
keluar dari mobil dan langsung menuju kamar mandi. Aldi segera menyusul Salsa
yang kelihatan tidak dalam keadaan baik-baik saja, tapi begitu turun dari mobil
dia seperti melihat seseorang yang dikenalnya. Aldi berjalan perlahan mendekati
mobil yang memang tak asing baginya, melihat seorang wanita masuk kemudian
mobil itu segera meluncur sebelum Aldi benar-benar bisa melihat siapa yang
mengemudikan mobil tersebut.
Aldi menggeleng-gelengkan kepala, berusaha
menyangkal. Mungkin ia salah lihat. Aldi kembali berjalan menuju restoran,
dilihatnya Salsa sudah selesai dari kamar mandi dan juga berjalan menuju pintu
masuk.
“Kamu nggak apa-apa Sa?”.
“Nggak kak, belakangan Salsa agak kurang enak
badan. Mungkin Salsa kurang istirahat aja”.
“Masuk yuk, setelah makan siang kakak akan langsung
“Lo, kata kakak tadi kita mau beli cincin. Kan kita
belum membelinya tadi?”.
“Biar kakak aja, kakak kawatir kamu makin sakit
nanti”.
“Nggak apa-apa kak, Salsa bosan dirumah terus.
Malam ini mas Ikhsan juga nggak bakal pulang, jadi Salsa bakal sendirian
dirumah”.
“Nggak pulang? Memang kemana?”. Aldi menarik kursi
kemudian duduk setelah mereka memilih tempat yang bersebelahan dengan mushola.
“Ke kantor cabang”. Jawab Salsa santai sambil
membuka buku menu, memilih beberapa jenis makanan yang menggugah seleranya. Salsa
tak menyadari tatapan tak mengerti Aldi.
***
Pukul sembilan malam Aldi mengantar Salsa pulang,
setelah berbelanja hampir seharian Salsa lebih memilih ikut Aldi ke
apartemennya, beristirahat karena dia sedikit kelelahan.
“Sa, sejak kapan suami kamu sering ke kantor
cabang?”. Aldi membuka percakapan ketika sudah berada di mobil.
“Sejak kami menikah kak. Kata mas Ikhsan dia yang
harus terjun langsung kesana”.
“Oh...”. Aldi terdiam, masih memikirkan kenapa
__ADS_1
Ikhsan membuat alasan itu kepada Salsa. Karna sejak pernikahan mereka Aldi yang
mengerjakan sebagian pekerjaan Ikhsan, termasuk memimpin kantor cabang yang
Salsa maksud. Pikirannya melayang kembali, mengingat wanita yang dilihatnya
tadi. Aldi merasa dia tidak salah liat, itu benar-benar mobil Ikhsan. Tapi
kenapa ada seorang wanita muda yang ikut masuk ke mobilnya juga. Bahkan Aldi
juga mengetahui bahwa wanita tadi kelihatannya sedang hamil. Berbagai pikiran
bekecamuk dibenaknya. Tak mungkin seorang Ikhsan membohongi istrinya, tapi
mengingat perkataan Salsa tadi, Aldi semakin yakin jika memang ada sesuatu yang
tidak diketahui Salsa.
“Kak... Kak Aldi”. Salsa menggoyang-goyangkan
lengan kakaknya yang tak menyadari jika mereka telah lewat jauh dari jalan
rumah Salsa.
“Eh...Eh iya Sa, kenapa?”. Aldi tergugup, menepikan
mobilnya kemudian berhenti.
“Kak, kakak liat kita udah sampai mana sekarang?”.
Aldi sedikit terkejut, dilihatnya sekeliling
jalanan. Benar saja, mereka telah kelewatan jauh dari rumah Salsa.
“Kakak kenapa, kan bahaya banget nyetir sambil
melamun kayak gitu”.
Aldi melingkarkan kedua tangannya disetir mobil,
menjatuhkan kepalanya disana. Dia masih terdiam, pikirannya berkecamuk, Aldi
tak mungkin menceritakan kepada Salsa apa yang sebenarnya dia pikirkan. Dia juga
belum tau pasti siapa wanita yang bersama Ikhsan tadi,.
“Nggak Sa, maafin kakak ya. Mungkin kakak terlalu
capek. Kita putar balik ya”. Aldi berusaha tersenyum dan kembali melajukan
mobilnya.
Salsa mengangguk. “Kak di depan ada apotik, singgah
sebentar ya”.
“Mau beli obat? Kamu sakit?”. Tanya Aldi mulai
cemas.
“Nggak kak, ada sesuatu yang mau Salsa beli”. Salsa
tersenyum, keluar dari mobil dengan sedikit tergesa-gesa.
Aldi mengangguk, memarkirkan mobilnya kemudian
mempersilahkan Salsa untuk segera turun.
Tak butuh waktu lama, Salsa sudah kembali. Senyum sumringah
masih melekat di bibir mungilnya.
“Sudah kak, ayok kita pulang”. Dipasangnya selt bel
setelah dia duduk dengan nyaman.
“Oke”. Aldi mengacungkan jempolnya dan kembali
melajukan mobilnya.
***
Aldi masih belum bisa memejamkan matanya, meski
Salsa adalah adik angkatnya dia tidak rela jika ada seseorang yang
menyakitinya, apalagi suaminya sendiri. Meski Aldi belum tau pasti apa yang
sebenarnya terjadi, tapi Aldi merasa Ikhsan sudah melakukan sesuatu yang akan
__ADS_1
menyakiti Salsa. Aldi akan berusaha mencari tau, tak berlebihan rasanya jika ia
harus menyewa seseorang untuk mematai-matainya Ikhsan atasannya itu.