Cinta Pertama Suamiku

Cinta Pertama Suamiku
Hamil


__ADS_3

Seperti


biasa Salsa terbangun disepertiga malam, ia bangkit menuju kamar mandi. Tak


lama ia sudah khusuk melaksanakan sholat malamnya. Melanjutkan dengan


melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an hingga suara azan subuh terdengar.


Setelah selesai


melaksanakan sholat subuh Salsa kembali terduduk di tepi tempat tidur. Air matanya


mulai luruh. Meski sikap Ikhsan sangat baik padanya, tapi Salsa merasa ada


suatu yang kurang. Dia sangat membutuhkan keberadaan Ikhsan disisinya, namun


semua hanya harapan yang tak kunjung terpenuhi. Ikhsan lebih banyak


menghabiskan waktu diluar, mengurusi kantor cabang yang katanya sangat


membutuhkan perhatian langsung darinya. Dalam seminggu Ikhsan bisa menghabiskan


waktu lima sampai enam untuk bekerja dan sama sekali tidak pulang kerumah. Terkadang


ada rasa ingin mengadu kepada mama mertuanya, tapi Salsa urung melakukannya. Tak


tega membuat wanita paruh baya itu terganggu oleh sikap manjanya. Yah Salsa


menganggap mungkin ini semua karena sikap manjanya yang selalu ingin


diperhatikan suaminya.


Salsa


berjalan perlahan menuju kamar mandi, membawa sebuah benda yang dibelinya dari


apotik tadi malam. Salsa menunggu dengan degupan jantung yang seolah berdetak


tak beraturan. Beberapa menit berlalu, Salsa menutup mata sambil memegang benda


pipih di tangannya. Berjalan perlahan menuju tempat tidur kembali, duduk


disisinya sambil melapalkan doa dalam hati.


Pelan-pelan


Salsa membuka mata, berharap apa yang dilihatnya sesuai dengan harapan. Dan


benar saja, dua buah garis merah terpampang nyata disana. Salsa tak dapat


menahan rasa bahagianya, air matanya mengalir deras, ditutupnya mulutnya sambil


tersenyum bahagia. Akh seandainya suaminya ada di sisinya saat ini, dia pasti


akan langsung memeluknya. Mereka pasti akan sama-sama melihat hasil test


urinenya pagi ini. Tapi nyatanya suaminya tak ada disini.


Meski tak


ada yang kurang bagi Salsa, tapi hatinya mengatakan ada sesuatu yang aneh


dengan suaminya. Ikhsan lebih sering memainkan hanphonenya ketika berada di


dekatnya. Tak jarang Salsa hanya berdiam diri sendirian dikamar dan suaminya


asik di ruang kerjanya.


Salsa


menarik napas panjang, mungkin hormon kehamilannya membuat dia berpikiran


negatif tentang suaminya. Salsa merapikan mukenanya, berjalan menuju halaman


belakang untuk menikmati pagi dengan menyiram bunga-bunga yang tumbuh subur


disana. Hari ini dia akan menghabiskan waktu dengan membesihkan taman belakang


yang sudah mulai ditumbuhi rumput bersama Mbok Nah.  Berusaha menghilangkan rasa risau dihati


karena suaminya.


***


Mutiara


merapikan beberapa pasang pakaian bayi yang baru saja dibelinya. Setelah makan

__ADS_1


siang tadi, Ikhsan mengajak Mutiara untuk membeli keperluan bayi mereka yang di


perkirakan dua bulan lagi akan lahir. Ikhsan sangat antusias menyambut


kelahiran bayinya, sejak menerima kabar dari Mutiara bahwa dirinya sedang


mengandung anaknya, Ikhsan sangat memperhatikan segala kebutuhan Mutiara. Mulai


dari asupan gizi yang harus Mutiara makan, konsultasi ke dokter kandungan


setiap bulan hingga menyiapkan segala keperluan bayinya itu.


Ikhsan


benar-benar telah lupa diri, tekadnya yang sudah bulat untuk menceraikan


Mutiara luluh seketika. Entah mengapa sejak Mutiara dinyatakan positif hamil


Ikhsan semakin menyayanginya. Rasa cinta yang sempat tenggelam perlahan timbul


kembali, bahkan kini rasa cintanya itu semakin besar kepadanya. Ia lebih sering


menghabiskan waktu bersama Mutiara, melupakan Salsa yang seharusnya tak pernah


dinikahinya itu.


Ikhsan


semakin tak peduli kepada Salsa, meski begitu dia berusaha bersikap normal jika


sedang bersana istrinya itu. Baginya saat ini adalah menjaga Mutiara dan


bayinya dengan baik, memposisikan Mutiara sebagai istrinya tanpa ada yang lain.


Terkadang


Mutiara yang tak nyaman dengan perlakuan Ikhsan kepadanya, untuk melakukan


hal-hal kecil saja Ikhsan tak akan mengizinkannya.


Mutiara


tersenyum menatap poto hasil USG bayi mungilnya. Tak sabar rasanya menimang


bayi laki-laki itu. Tiba-tiba Mutiara menitikkan air mata, mengelus lembut


perutnya yang semakin membuncit. Ikhsan terkejut melihat Mutiara yang menangis


“Sayang kamu


kenapa?”. Wajah Ikhsan sedikit khawatir, mengusap lembut pipi istrinya yang


telah basah oleh air mata.


Mutiara


terkejut, menggelengkan kepalanya menggenggam tangan Ikhsan yang masih mengusap


pipinya dengan lembut.


“Kamu nggak


boleh stress sayang, bilang ke aku kamu mau apa? Atau kita jalan-jalan lagi


biar kamu nggak bosan ya”. Ikhsan semakin khawatir melihat istrinya yang


semakin menangis.


“Nggak


apa-apa San, aku baik-baik aja”. Mutiara tersenyum. Menatap lembut suaminya.


“Sayang kamu


harus janji, kamu nggak boleh sedih gini lagi. Aku nggak akan tenang ninggalin


kamu”.


“Iya”.


Mutiara mengangguk, mencoba tersenyum menatap lekat suaminya.


Ikhsan duduk


disebelah Mutiara, mengelus perut buncitnya dan membungkukkan badan.


“Anak papa

__ADS_1


jangan nakal ya, mama sedih tuh”.


Mutiara


kembali tersenyum, mengusap rambut Ikhsan sambil menariknya untuk duduk.


“San, kamu


pulang gih. Kasian Salsa sendirian”.


“Melihatmu


nangis gini aku semakin nggak tega”. Ikhsan menegakkan duduknya, ada rasa


khawatir diwajah tampannya.


“Aku


baik-baik aja kok. Ada Wulan yang akan menemani aku. Lagian tadi kata dokter


kandunganku baik-baik aja”. Mutiara mencoba membujuk Ikhsan.


Ikhsan


menarik napas panjang, kemudian beranjak. Baru beberapa langkah ia menuju pintu


tiba-tiba ia membalikkan badannya, menatap Mutiara kemudian memeluk erat


tubuhnya yang sedikit gemuk.


“Aku janji,


semuanya akan baik-baik aja. Kamu harus sabar ya”. Diusapnya rambut wanitanya


itu.


Mutiara


mengangguk dalam pelukan suaminya mencoba tersenyum, meski bulir bening dari


kedua matanya terus mengalir tanpa henti.


***


Mutiara


melepas kepergian Ikhsan dengan tatapan yang sendu, kembali dibelainya perut


buncitnya dengan linangan air mata. Status istri sirilah yang membuatnya


terus-menerus menitikkan air mata. Bayi mungil ini tidak akan pernah mendapat


perlakuan resmi dari negara mengingat ia hanya istri siri Ikhsan. Meski Ikhsan


terlah berjanji untuk menjadikannya istri sah namun hal itu justru membuat


Mutiara semakin bingung.


Sebagai sesama


perempuan Mutiara sebenarnya sangat memahami perasaan Salsa. Ia sangat merasa


bersalah telah menyakiti hati wanita lain, bahkan seandainya ia tak egois


mungkin hal ini tak akan pernah terjadi. Ia yang memaksa Ikhsan untuk


menikahinya, memaksakan kehendak yang datang sesaat namun menghancurkan. Mutiara


terlalu mengikuti kata hati yang saat itu sedang merasa terpuruk karena merasa


Tuhan tak adil padanya. Kini penyesalan juga tak berguna, dia benar-benar


merasa menjadi wanita paling bodoh.


Mutiara


kembali mengusap pipinya yang semakin basah oleh air mata. Pernah suatu kali ia


sengaja mencari tahu tentang kehidupan Salsa, sungguh sebenarnya ia iri melihat


gadis itu. Salsa seorang gadis yang periang, ramah, dan penuh kasih sayang. Hal


ini terbukti karena dikampus hampir semua orang mengenalnya, meski dia berkecukupan


secara materi tetapi dia tetap menjadi gadis sederhana. Rasa iri itulah yang


kemudian membuatnya juga ingin mempertahankan Ikhsan, dia tak rela pria yang

__ADS_1


selama ini ditunggunya dimiliki oleh wanita lain meskipun Ikhsan juga


menginginkannya.


__ADS_2