
Seperti
biasa Salsa terbangun disepertiga malam, ia bangkit menuju kamar mandi. Tak
lama ia sudah khusuk melaksanakan sholat malamnya. Melanjutkan dengan
melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an hingga suara azan subuh terdengar.
Setelah selesai
melaksanakan sholat subuh Salsa kembali terduduk di tepi tempat tidur. Air matanya
mulai luruh. Meski sikap Ikhsan sangat baik padanya, tapi Salsa merasa ada
suatu yang kurang. Dia sangat membutuhkan keberadaan Ikhsan disisinya, namun
semua hanya harapan yang tak kunjung terpenuhi. Ikhsan lebih banyak
menghabiskan waktu diluar, mengurusi kantor cabang yang katanya sangat
membutuhkan perhatian langsung darinya. Dalam seminggu Ikhsan bisa menghabiskan
waktu lima sampai enam untuk bekerja dan sama sekali tidak pulang kerumah. Terkadang
ada rasa ingin mengadu kepada mama mertuanya, tapi Salsa urung melakukannya. Tak
tega membuat wanita paruh baya itu terganggu oleh sikap manjanya. Yah Salsa
menganggap mungkin ini semua karena sikap manjanya yang selalu ingin
diperhatikan suaminya.
Salsa
berjalan perlahan menuju kamar mandi, membawa sebuah benda yang dibelinya dari
apotik tadi malam. Salsa menunggu dengan degupan jantung yang seolah berdetak
tak beraturan. Beberapa menit berlalu, Salsa menutup mata sambil memegang benda
pipih di tangannya. Berjalan perlahan menuju tempat tidur kembali, duduk
disisinya sambil melapalkan doa dalam hati.
Pelan-pelan
Salsa membuka mata, berharap apa yang dilihatnya sesuai dengan harapan. Dan
benar saja, dua buah garis merah terpampang nyata disana. Salsa tak dapat
menahan rasa bahagianya, air matanya mengalir deras, ditutupnya mulutnya sambil
tersenyum bahagia. Akh seandainya suaminya ada di sisinya saat ini, dia pasti
akan langsung memeluknya. Mereka pasti akan sama-sama melihat hasil test
urinenya pagi ini. Tapi nyatanya suaminya tak ada disini.
Meski tak
ada yang kurang bagi Salsa, tapi hatinya mengatakan ada sesuatu yang aneh
dengan suaminya. Ikhsan lebih sering memainkan hanphonenya ketika berada di
dekatnya. Tak jarang Salsa hanya berdiam diri sendirian dikamar dan suaminya
asik di ruang kerjanya.
Salsa
menarik napas panjang, mungkin hormon kehamilannya membuat dia berpikiran
negatif tentang suaminya. Salsa merapikan mukenanya, berjalan menuju halaman
belakang untuk menikmati pagi dengan menyiram bunga-bunga yang tumbuh subur
disana. Hari ini dia akan menghabiskan waktu dengan membesihkan taman belakang
yang sudah mulai ditumbuhi rumput bersama Mbok Nah. Berusaha menghilangkan rasa risau dihati
karena suaminya.
***
Mutiara
merapikan beberapa pasang pakaian bayi yang baru saja dibelinya. Setelah makan
__ADS_1
siang tadi, Ikhsan mengajak Mutiara untuk membeli keperluan bayi mereka yang di
perkirakan dua bulan lagi akan lahir. Ikhsan sangat antusias menyambut
kelahiran bayinya, sejak menerima kabar dari Mutiara bahwa dirinya sedang
mengandung anaknya, Ikhsan sangat memperhatikan segala kebutuhan Mutiara. Mulai
dari asupan gizi yang harus Mutiara makan, konsultasi ke dokter kandungan
setiap bulan hingga menyiapkan segala keperluan bayinya itu.
Ikhsan
benar-benar telah lupa diri, tekadnya yang sudah bulat untuk menceraikan
Mutiara luluh seketika. Entah mengapa sejak Mutiara dinyatakan positif hamil
Ikhsan semakin menyayanginya. Rasa cinta yang sempat tenggelam perlahan timbul
kembali, bahkan kini rasa cintanya itu semakin besar kepadanya. Ia lebih sering
menghabiskan waktu bersama Mutiara, melupakan Salsa yang seharusnya tak pernah
dinikahinya itu.
Ikhsan
semakin tak peduli kepada Salsa, meski begitu dia berusaha bersikap normal jika
sedang bersana istrinya itu. Baginya saat ini adalah menjaga Mutiara dan
bayinya dengan baik, memposisikan Mutiara sebagai istrinya tanpa ada yang lain.
Terkadang
Mutiara yang tak nyaman dengan perlakuan Ikhsan kepadanya, untuk melakukan
hal-hal kecil saja Ikhsan tak akan mengizinkannya.
Mutiara
tersenyum menatap poto hasil USG bayi mungilnya. Tak sabar rasanya menimang
bayi laki-laki itu. Tiba-tiba Mutiara menitikkan air mata, mengelus lembut
perutnya yang semakin membuncit. Ikhsan terkejut melihat Mutiara yang menangis
“Sayang kamu
kenapa?”. Wajah Ikhsan sedikit khawatir, mengusap lembut pipi istrinya yang
telah basah oleh air mata.
Mutiara
terkejut, menggelengkan kepalanya menggenggam tangan Ikhsan yang masih mengusap
pipinya dengan lembut.
“Kamu nggak
boleh stress sayang, bilang ke aku kamu mau apa? Atau kita jalan-jalan lagi
biar kamu nggak bosan ya”. Ikhsan semakin khawatir melihat istrinya yang
semakin menangis.
“Nggak
apa-apa San, aku baik-baik aja”. Mutiara tersenyum. Menatap lembut suaminya.
“Sayang kamu
harus janji, kamu nggak boleh sedih gini lagi. Aku nggak akan tenang ninggalin
kamu”.
“Iya”.
Mutiara mengangguk, mencoba tersenyum menatap lekat suaminya.
Ikhsan duduk
disebelah Mutiara, mengelus perut buncitnya dan membungkukkan badan.
“Anak papa
__ADS_1
jangan nakal ya, mama sedih tuh”.
Mutiara
kembali tersenyum, mengusap rambut Ikhsan sambil menariknya untuk duduk.
“San, kamu
pulang gih. Kasian Salsa sendirian”.
“Melihatmu
nangis gini aku semakin nggak tega”. Ikhsan menegakkan duduknya, ada rasa
khawatir diwajah tampannya.
“Aku
baik-baik aja kok. Ada Wulan yang akan menemani aku. Lagian tadi kata dokter
kandunganku baik-baik aja”. Mutiara mencoba membujuk Ikhsan.
Ikhsan
menarik napas panjang, kemudian beranjak. Baru beberapa langkah ia menuju pintu
tiba-tiba ia membalikkan badannya, menatap Mutiara kemudian memeluk erat
tubuhnya yang sedikit gemuk.
“Aku janji,
semuanya akan baik-baik aja. Kamu harus sabar ya”. Diusapnya rambut wanitanya
itu.
Mutiara
mengangguk dalam pelukan suaminya mencoba tersenyum, meski bulir bening dari
kedua matanya terus mengalir tanpa henti.
***
Mutiara
melepas kepergian Ikhsan dengan tatapan yang sendu, kembali dibelainya perut
buncitnya dengan linangan air mata. Status istri sirilah yang membuatnya
terus-menerus menitikkan air mata. Bayi mungil ini tidak akan pernah mendapat
perlakuan resmi dari negara mengingat ia hanya istri siri Ikhsan. Meski Ikhsan
terlah berjanji untuk menjadikannya istri sah namun hal itu justru membuat
Mutiara semakin bingung.
Sebagai sesama
perempuan Mutiara sebenarnya sangat memahami perasaan Salsa. Ia sangat merasa
bersalah telah menyakiti hati wanita lain, bahkan seandainya ia tak egois
mungkin hal ini tak akan pernah terjadi. Ia yang memaksa Ikhsan untuk
menikahinya, memaksakan kehendak yang datang sesaat namun menghancurkan. Mutiara
terlalu mengikuti kata hati yang saat itu sedang merasa terpuruk karena merasa
Tuhan tak adil padanya. Kini penyesalan juga tak berguna, dia benar-benar
merasa menjadi wanita paling bodoh.
Mutiara
kembali mengusap pipinya yang semakin basah oleh air mata. Pernah suatu kali ia
sengaja mencari tahu tentang kehidupan Salsa, sungguh sebenarnya ia iri melihat
gadis itu. Salsa seorang gadis yang periang, ramah, dan penuh kasih sayang. Hal
ini terbukti karena dikampus hampir semua orang mengenalnya, meski dia berkecukupan
secara materi tetapi dia tetap menjadi gadis sederhana. Rasa iri itulah yang
kemudian membuatnya juga ingin mempertahankan Ikhsan, dia tak rela pria yang
__ADS_1
selama ini ditunggunya dimiliki oleh wanita lain meskipun Ikhsan juga
menginginkannya.