Cinta Pertama Suamiku

Cinta Pertama Suamiku
Kenangan masa lalu


__ADS_3

Wanita paruh baya itu masih setia duduk di depan TV yang menyala, meski tatapan matanya menuju kearah TV tapi tidak dengan pikirannya. Ikhsan anak bungsunya selalu punya cara untuk menolak jika diajak berbicara tentang masalah pernikahan. Usianya sudah cukup matang untuk menikah, sebagai seorang ibu ia sangat mengkhawatirkan putranya. Dia ingin sekali menimang cucu dari Ikhsan, entah mengapa kasih sayangnya lebih besar kepada Ikhsan, padahal kedua kakak laki-lakinya sudah memberikannya cucu.


Dihempaskan tubuh yang sudah lelah di sofa, mungkin lebih baik jika dia membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak, walaupun tidak dengan pikirannya. Sudah beberapa bulan belakangan dia tidak bisa tidur nyenyak, selalu memikirkan si bungsu Ikhsan. Dan memikirkan sebuah janji yang pernah diucapkan kepada sahabat terbaiknya Aisyah. Sahabat yang sudah puluhan tahun tak tau kabarnya, pernah beberapa kali dia meminta bantuan beberapa teman untuk menghubungi sahabatnya di kota kelahirannya itu, tapi hasilnya nihil. Keberadaannya seolah hilang ditelan jarak dan waktu.


***


Udara pagi ini terasa lebih sejuk, hujan semalam sore meninggalkan titik-titik air di dedauan talas yang tumbuh subur di halaman samping. Beberapa jenis antorium langka tumbuh subur disudut halaman, ada kolam ikan kecil dengan air mengalir di sebelahnya membuat kita yang berada di sana merasakan seolah berada di daerah sungai yang masih asri. Ditariknya napas perlahan sambil merentangkan kedua tangannya. Setelah hampir setengah jam berolahraga membuat tubuh sedikit lengket oleh keringat.


Sejak ketiga anaknya selesai kuliah dan mendapatkan pekerjaan, wanita paruh baya itu hanya menghabiskan waktunya dirumah. Ketiga anaknya melarang keras ketika dia ingin melakukan suatu, bahkan untuk melakukan pekerjaan rumah mereka juga sudah menyiapkan asisten rumah tangga. Mbok Nanik yang sudah bekerja disini hampir 10 tahun, menemaninya untuk menghabiskan masa tuanya. Pernah ia meminta salah satu anaknya yang sudah menikah untuk tinggal bersamanya tapi keduanya menolak, mereka beralasan bahwa anak bungsulah yang harus tinggal bersama mama karena selain tempat tinggal yang jauh kedua anaknya juga sudah memiliki tanggung jawab atas pekerjaan mereka.


Masih pukul 9 pagi ketika dia melirik jam dinding di ruang tengah. Perlahan dia berjalan menuju meja disamping kolam renang yang lumayan luas, mbok Nanik membawa secangkir teh dan beberapa potong roti untuk sarapan sang nyonya.


“Mbok, mau jalan-jalan ndak?” dia duduk sambil meraih sepotong roti


“Lha, tiap hari mbok udah jalan-jalan terus Nya, ke pasar”. Mbok Nanik terkekeh


“Saya kepengen pulang kampung Mbok. Mau ya? Nggak usah lama-lama, seminggu aja”. Tiba-tiba ajakan untuk kembali ke kota kelahirannya itu terlontar begitu saja, membuat Mbok Nanik geleng-geleng kepala dan keheranan.


“Apa Nya? Disana kan dingin udaranya, takutnya nanti Nyonya nggak tahan lagi kalau sampai seminggu”.

__ADS_1


“Pengen nenangin pikiran mbok”


“Ya, kalau Nyonya mau ya saya siap nemenin Nyonya kesana, jangankan seminggu sebulanpun mbok siap Nya”. Mbok Nanik berdiri siap sambil hormat bak tentara yang siap menerima tugas.


“Ya sudah, Mbok siapin semua ya. Termasuk pakaian saya”. Wanita paruh baya itu beranjak menuju kamar untuk membersihkan diri.


Entah ide dari mana yang membuat dia tiba-tiba ingin kembali ke kota kecil itu, penolakan keluarga atas suaminya membuat dia tak pernah menginjakkan kaki disana. Tapi dia teringat kedua sahabatnya. Mutia dan Aisyah. Sejak kepergian suaminya dan suami Aisyah 20 tahun lalu, Aisyah memilih untuk kembali ke kota itu dan sampai sekarang dia tidak mengetahui kabarnya.


Luka itu masih membekas ketika mengingat kematian suami tercinta. Handoyo dan Abduh merantau dari Kalimantan ke kota kecil dan bekerja sebagai kontraktor. Sejak pertemuan yang tidak sengaja benih-benih cinta mereka mulai tumbuh. Aisyah menikah dengan Abduh sebulan sebelum dia dan Handoyo juga menikah. Aisyah yang hanya tinggal dengan neneknya tentu mendapat restu dari sang nenek mengingat neneknya juga sudah mulai menua dan tidak ada yang akan bertanggung jawab dengan kehidupan Aisyah selanjutnya, meskipun usianya masih terlalu muda waktu itu. Namun tidak dengan dirinya, keluarganya yang memang terpandang di kota kecil itu mentah-mentah menolak Handoyo dengan alasan jika Handoyo tidak jelas asal-usulnya, tapi rasa cinta kepada pria itu membuatnya rela meninggalkan keluarganya.


Setelah menikah mereka pindah ke ibu kota, 12 tahun membina rumah tangga dengan Handoyo dia karuniai 3 orang anak laki-laki. Si kembar Bagas dan Bagus yang sudah berumur 11 tahun dan Ikhsan berumur 9 tahun. Sementara Aisyah dikarunia 1 orang gadis cantik bernama Salsabila Az Zahra yang masih berumur 2 tahun, waktu itu Aisyah menderita kangker serviks dan sempat diponis tidak akan memiliki anak. Tapi jika Allah berkehendak maka segala yang mustahil akan menjadi nyata.


Hingga sebuah kejadian pilu membuat mereka harus menelan pil pahit kehidupan. Handoyo dan Abduh tertimpa gedung yang akan dirobohkan dan meninggal. Kabar itu membuat dia dan Aisyah harus hidup mandiri tanpa suami. Aisyah memilih untuk kembali ke kota asal mereka dan merawat neneknya yang sudah lama ditinggalkan, sementara dia harus tetap tinggal di ibukota mengingat keluarganya telah membuangnya. Sebelum kepulangan Aisyah mereka berdua sempat berjanji jika suatu saat mereka akan menjodohkan anak mereka. Jika mengingat janji ini, dia merasa bersalah kepada Aisyah karena sampai detik ini dia belum bisa memenuhi janjinya. Tapi sudah 20 tahun Aisyah tidak pernah memberinya kabar, begitupun dengan Mutia. Entah bagaimana kehidupan mereka sekarang.


Karena Ikhsan sampai sekarang belum memperkenalkan calon istrinya, tiba-tiba kenangan masa lalu itu teringat kembali. Seolah menyadarkannya untuk memenuhi janjinya kepada Aisyah. Kalau sekarang Ikhsan sudah berumur 29 tahun, berarti anak Aisyah sudah berumur 22 tahun dan mudah-mudahan dia belum menikahkan anak gadisnya itu.


Dan entah mengapa pagi ini tiba-tiba dia ingin sekali pulang, menemui kedua sahabatnya. Hal ini seharusnya sudah dilakukan sejak dulu, tapi dia tidak memiliki keberanian. Keberanian untuk bertemu dengan keluarga besarnya. Tapi semoga keberanian yang telah dia kumpulkan untuk kembali pagi ini membawa kebaikan untuk semuanya. Dia berharap bisa bertemu sahabat-sahabat terbaiknya itu.


Diraihnya benda pipih di atas meja riasnya. Sebuah nada panggilan tersembung ketika dia menghubungi sebuah nama.

__ADS_1


"Hallo ma, kok tumben siang-siang gini nelpon?" dari seberang sana terdengar suara anak kesayangannya.


"San, mama mau pulang kampung seminggu. Kamu jaga diri ya, jangan lupa makan!"


"Lho kok tiba-tiba ma? Ada apa?" suara Ikhsan sangat penasaran


"Nggak apa-apa. Kamu jaga rumah ya sayang"


"I... Iya, tapi ma..."


"Udah ya sayang, da...." belum sempat Ikhsan bertanya lebih banyak dia langsung mematikan sambungan telepon.


“Nyonya, semuanya udah Mbok siapin”. Mbok Nanik tiba-tiba masuk


“Yaudah mbok, masukkan ke mobil ya. Bilang sama mang Diman biar dia juga siap-siap. Biar si Sukri aja yang jaga rumah”.


“Iya Nya”. Mbok Nanik berlalu


Pukul 1 siang setelah selesai menunaikan sholat zuhur, dia bersama Mbok Nanik dan Mang Diman berangkat ke kota kecil kelahirannya, kota dimana banyak menyimpan kenangan. Kota yang penuh dengan tawa dan luka memenuhi sebagian kisah hidupnya. Semoga kedatangannya kali ini tidak menimbulkan masalah baru setelah 20 tahun masalah yang lama tak pernah selesai.

__ADS_1


__ADS_2