
Pernikahan itu dilangsungkan sangat meriah, banyak tamu undangan yang turut hadir disana. Senyum manis tak pernah lepas dari bibir Salsa yang memancarkan rona bahagianya. Tubuh imutnya dibalut gaun warna baby pink yang menawan, sementara Ikhsan mengenakan setelah silver yang membuatnya semakin tampan.
Menjelang magrib acara selesai. Salsa merebahkan tubuh lelahnya di kasur yang ditaburi mawar merah, wangi segar aroma mawar membuatnya hampir terlelap. Namun sebuah suara membuatnya bangkit dan menuju ke kamar mandi kemudian melaksanakan sholat magrib dengan khusuk.
Setelah melaksanakan sholat Isya, Salsa meraih ponselnya. Banyak pesan yang masuk mengingat sejak pagi dia tidak memegang ponselnya. Banyak ucapan selamat yang diterimanya dari teman-temannya, termasuk Diana yang kebetulan tidak dapat menghadiri acara pernikahannya ini.
Sebuah ketukan di pintu kamar membuat Salsa menghentikan aktifitasnya. Dibukanya pintu itu perlahan, seorang pria dengan memakai baju koko berwarna marun lengkap dengan kopiah dan sarung senada membuatnya kelihatan semakin mempesona. Diciumnya tangan pria yang kini resmi menjadi suaminya itu. Ikhsan tersenyum, sambil melangkah masuk.
“Sa, mas mau ngomong serius”.
“Ya mas”. Salsa mendekatkan duduknya tepat disamping pria yang telah resmi menjadi suaminya itu.
“Sa, mas menikahi kamu karna mama, jadi mas mau kamu mengerti kalau belum ada cinta diantara kita”.
“Iya mas”. Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir mungilnya sambil menunduk.
“Maafkan mas, mas belum bisa melaksanakan tugas mas sebagai suami”. Ikhsan beranjak ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Hening. Tak ada kata-kata yang mampu Salsa ucapkan lagi. Ikhsan yang kini resmi menjadi suaminya, lelaki yang selalu hadir menghiasi mimpi-mimpinya mengatakan sesuatu yang membuat hatinya teriris. Bagaimana tidak? dia hanya menikahi Salsa atas dasar membahagiakan sang mama, tidak lebih. Sementara benih cinta sudah mulai tumbuh dihati Salsa.
Salsa masih duduk terdiam sementara Ikhsan sudah keluar dari kamar mandi berlalu menuju sofa dipojok kamar, membaringkan tubuh dan tak lama kemudian kedua mata elang itu mulai terpejam. Bulir-bulir bening mulai membasahi mukena yang belum dilepaskan sejak melaksanakan sholat Isya tadi. Malam pengantin yang indah dan romantis hanya khayalan baginya. Dia hanya mampu menangis dalam hati, dia menyadari kalau semua bukan salah Ikhsan, tapi keadaanlah yang membuat dia tak mampu menolak keinginan sang mama. Salsa tak ingin terus larut dalam perasaannya, dia yakin semua akan berubah seiring berjalannya waktu. Cinta bisa tumbuh karena kebersamaan, walau saat ini cinta itu hanya dia yang merasakan, tak tau sampai kapan cintanya tak bertepuk sebelah tangan lagi.
Pukul 3 pagi Salsa terjaga, dia tertidur diatas sajadahnya sejak semalam. Dipandanginya ranjang pengantin yang tak tersentuh sama sekali, taburan kelopak mawar itu masih rapi ditempatnya. Tak tersentuh. Ia beranjak ke kamar mandi, mengambil wudhu dan kembali larut dalam sujud panjang mengadukan segalanya kepada sang pencipta alam.
***
Selesai subuh Salsa bergegas ke dapur, suara berisik membuatnya tak tenang jika tidak ikut menyibukkan diri. Percuma jika terus berada disini, dia hanya akan semakin banyak melamun. Merenungi nasib malam pertama yang tak seindah cerita orang-orang padanya.
__ADS_1
“Lha, pengantin baru kok udah bangun?”. Suara tante Ning membuat Salsa sedikit tersipu. Wanita paruh baya itu tersenyum ke arah ibu yang sedang menyeduh teh dan dibalas senyuman juga olehnya.
“Iya tante”. Aku meraih sayuran dan ingin membantu mengirisnya.
“Kok tante Sa, panggil mama dong. Kan kamu udah resmi jadi menantu mama”.
“Eh iya… Ma… Mama”.
“Nah gitu dong, Ikhsan mana? Udah bangun belum tu anak. Biasanya tunggu mama bangunin baru dia sholat subuh”.
“Hmmm. Mas Ikhsan udah bangun dari tadi ma, dan kayaknya lagi sibuk tuh dikamar”. Jawab Salsa seadanya, karena tadi dilihatnya mas Ikhsan sedang sibuk didepan laptop.
“Sa, kamu harus membiasakan diri dengan kesibukan suami kamu ya. Tuh anak kalau udah kerja lupa segalanya. Buktinya masih pengantin baru aja udah kayak gini”.
“Iya ma, Salsa bisa ngerti kok”.
Salsa mengangguk seraya meraih teko dari tangan ibu.
“Ma, mas Ikhsan biasa minum apa pagi-pagi gini. Teh atau kopi?”.
“Biasanya dia lebih suka teh Sa, tapi kadang juga nggak mau. Lebih milih nasi goreng plus jus jeruk. Tapi coba ditanya aja dulu”.
“Iya ma”. Aku berjalan menuju kamar.
Ikhsan masih sibuk di depan laptopnya, tanpa menyadari kalau Salsa telah berada dihadapannya.
“Mas, mau sarapan apa?”
__ADS_1
“Eh…”. Ikhsan sedikit terkejut. “Teh aja Sa, kalau ada sekalian roti bakar ya”.
“Iya mas, 15 menit lagi langsung keluar aja ya. Nggak enak sama ibu mas dikamar terus”. Protesnya pada sang suami. Ikhsan meangguk tanpa menoleh. Salsa hanya menarik napas panjang.
“Oh ya Sa, siang ini kita balik ya. Mas ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal lama-lama”.
“Apa? Siang ini mas?”. Salsa melongo menatap suaminya penuh protes.
“Kan nggak mungkin kamu mas tinggal disini sama mamakan?”. Ikhsan berlalu dengan santai tanpa menanggapi Salsa.
***
Dengan perasaan sedikit dongkol, Salsa memasukkan baju-bajunya ke koper. Setelah protesnya kepada Ikhsan tidak digubris Salsa mengadu kepada Ibu. Tapi bukan pembelaan yang didapatnya melainkan nasehat panjang lebar agar Dia harus lebih mengutamakan suaminya.
Tepat setelah selesai melaksanakan sholat zuhur, Ikhsan memasukkan koper-koper milik Salsa ke mobil dan langsung pamit kepada seluruh keluarga. Dengan derai air mata Salsa meninggalkan kota kecil yang menyimpan sejuta kenangan untuknya. Rencana resepsi di ibu kota dibatalkan mengingat kesibukan Ikhsan yang tidak dapat ditinggalkan. Begitu juga dengan rencana bulan madu yang ditolak Ikhsan. Salsa hanya menarik napas mengetahui penolakan Ikhsan, mungkin ini adalah awal langkahnya untuk menjadi istri yang baik. Memaklumi dan mengerti keinginan suami.
Sebenarnya bukan alasan pekerjaan yang membuat Ikhsan ingin segera meninggalkan kota kecil itu. Tapi kerinduannya pada Mutiara yang membuatnya ingin cepat-cepat bertemu dengannya. Mama ingin mengunjungi keluarganya setelah lelah mengumpulkan keberaniannya selama ini sehingga mamanya mungkin akan lebih lama tinggal disini, hal ini membuat Ikhsan bisa dengan leluasa meninggalkan Salsa demi menemui ‘Istri tuanya’.
Perjalanan panjang menuju ibukota terasa membosankan. Masih setengah jam perjalanan Salsa sudah menguap beberapa kali. Rasa lelah setelah acara kemarin membuat Salsa tidak dapat menahan rasa kantuknya. Salsa terlelap. Ikhsan hanya menyengir melirik Salsa yang sudah pulas disampingnya. Tanpa kata Ikhsan kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
***
Ditatapnya wajah polos Salsa yang masih terlelap setelah perjalanan panjang tadi. Ingin rasanya dibangunkan gadis yang sekarang telah menjadi istri sahnya itu, tapi entah mengapa Ikhsan tak tega. Perlahan diraihnya tubuh mungil itu, dengan langkah tegap digendongnya Salsa menuju apartemennya.
Dibaringkannya tubuh mungil itu dikamarnya, kemudian merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan. Tanpa sengaja Ikhsan menyentuh pipi Salsa, tiba-tiba hatinya berdesir. Wajah polos dihadapannya ini membuat dia kembali berpikir, seperti ada yang salah yang telah dilakukannya. Tapi apa.
Setelah memastikan Salsa aman, dia kembali ke mobilnya. Dilajukannya mobilnya membelah jalanan ibu kota. Tentu saja menemui wanitanya.
__ADS_1