
Tepat pukul 3 sore dua buah mobil memasuki pekarangan rumah kami, ibu bersiap-siap menyambut kedatangan tamu yang sudah sejak pagi ditunggu. Seorang wanita paruh baya turun dari mobil, mengenakan gamis berwarna nude dan jilbab senada membuat usianya kelihatan sedikit muda, sebuah tas dengan warna senada dijinjingnya membuat tampilannya sangat elegan. Tak lama seorang pria tampan ikut turun dan menggandeng tangan wanita paruh baya tersebut. Senyum tak lepas dari wajah sang wanita yang terlihat sangat bahagia.
Sementara dari mobil yang lain seorang pria yang memiliki paras serupa turun diringi dua balita yang menggemaskan disusul oleh seorang wanita dengan gamis pink muda anggun sekali. Sangat enak dipandang mata melihat kekompakan keluarga kecil itu.
Ibu tersenyum ramah kepada keluarga tante Ningrum, dipeluk erat sahabatnya itu. Suasana sore dirumah kami terasa sangat menyenangkan suara gaduh dua orang balita yang lucu itu menambah semarak, setelah selesai membicarakan rencana pernikahan kami maka ibu menghidangkan berbagai macam masakan yang telah kami persiapkan sejak subuh tadi. Maklum kata ibu tamu istimewa jadi ibu tidak mau kalau tamunya tidak puas dengan hidangan yang kami suguhkan.
Selesai magrib tante Ningrum dan keluarganya pamit, mereka akan langsung kembali ke kota mengingat kesibukan dua putranya yang tidak bisa ditinggalkan. Ibu pasrah, mengingat ibu sudah mempersiapkan beberapa kamar untuk mereka tinggali malam ini, tapi tante Ningrum beserta keluarganya memilih untuk bermalam diperjalanan.
Sepeninggalan keluarga tante Ningrum rumah ini kembali sepi, hanya suara beberapa peralatan makan yang sedang dibersihkan memecah kesunyian. Setelah selesai beres-beres aku memutuskan untuk langsung istirahat, kurebahkan tubuhku sambil menatap langit kamar membiarkan segala pikiran menari-nari disana. Entah bayangan siapa yang hadir, tapi hal itu berhasil membuat aku senyum-senyum sendiri hingga aku terlelap.
***
Hari pernikahan kami tinggal menghitung hari, segala persiapan hampir semua telah dipersiapkan ibu. Dari dekorasi pelaminan, catering, undangan dan berbagai embel-embelnya semua dipersiapkan ibu dengan baik, tentu saja dibantu oleh Rima dan Melati. Sementara aku hanya duduk manis di kamar dengan setumpuk buku-buku referensi mulai dari buku-buku tentang pernikahan, menjadi istri yang baik, menjadi ibu yang baik, bagaimana membahagiakan suami, hingga buku segala jenis resep masakan. Terdengar agak konyol, tapi kata ibu ini untuk bekal supaya aku bisa jadi istri yang baik untuk suamiku.
Ibu juga mulai sedikit cerewet dengan nasihat dan wejangan-wejangannya untukku. Ibu tidak ingin aku menjadi wanita yang gagal jadi istri, karena menurutnya jantung rumah tangga itu adalah istri. Jika istri baik maka akan baiklah seluruh keluarga, tapi jika tidak sudah dapat dipastikan apa yang akan terjadi. Sebenarnya sudah sejak kami kecil ibu selalu mengajarkan kepada kami bagaimana menjadi wanita yang baik, menjadi istri, dan menjadi ibu. Namun karena hari pernikahanku sudah semakin dekat maka nasihat-nasihat itu kembali ibu ulang untukku.
***
__ADS_1
Dua minggu menjelang hari pernikahannya Ikhsan kembali dilanda kegundahan, telpon dari Mutiara beberapa waktu yang lalu berhasil meluluhlantakkan hatinya, bagaimana Mutiara bisa berpikir untuk dimadu? Sanggupkan dia membagi hati untuk kedua wanita itu?
Ikhsan berjalan dengan buru-buru. Dilajukannya mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Mutiara, dia butuh penjelasan dari gadis pujaannya itu.
“Aku nggak keberatan kalau harus jadi yang kedua San”. Ucapannya datar, tanpa menatap Ikhsan yang duduk dihadapannya.
“Mutiara, tapi nggak mungkin aku melakukan hal itu?”
“Kenapa?. San aku terlanjur jatuh cinta”.
“Ada hati yang harus sakit karena ini Mutiara. Aku nggak mau kalau aku penyebabnya”.
***
Malam belum terlalu larut, kini Ikhsan sudah duduk menghadap seorang wali nikah yang telah berada disana setengah jam yang lalu. Ikhsan sedikit gugup, dieratkannya jas hitam yang dikenakannya. Beberapa saat kemudian dijabatnya tangan Yudo, adik kandung Mutiara, diucapknnya ijab qabul dengan lancar sekali tarikan napas.
“Sah”. Ucap kedua saksi bersamaan.
__ADS_1
Ikhsan tau, apa yang dilakukannya salah. Tapi dia tidak bisa melihat wanita yang dicintainya menderita. Dengan menikahi Mutiara secara diam-diam dia akan tetap bisa menikah dengan Salsa dan hal itu tidak akan membuat kedua wanita ini kecewa.
Diulurkannya tangan kanannya ke arah Mutiara yang telah resmi menjadi istrinya. Dengan khidmat Mutiara mencium punggung tangan suaminya itu. Ada tangis haru yang terdengar, pernikahan yang diadakan secara sederhana yang hanya dihadiri oleh ketiga adik Mutiara dan seorang wali nikah. Tidak ada tamu undangan, ucapan selamat juga hanya diterima dari ketiga adik Mutiara yang hanya bisa pasrah ketika sang kakak ingin menikah dengan pria idamannya, meskipun Mutiara hanya dinikahi secara siri.
Malam kian beranjak ketika suasana rumah sudah sepi, hanya tinggal Mutiara dan Ikhsan disana. Tidak ada kamar pengantin. Hanya sebuah kamar sederhana dengan sebuah tempat tidur dan meja rias yang terletak disudut kamar.
Mutiara duduk dipinggir tempat tidur dengan perasaan campur aduk, ada kebahagiaan disudut hatinya meski dia harus tak bisa mengumbar pernikahan ini. Entah pernikahan apa yang diinginkannya kali ini, dia hanya ingin melewati sedikit waktu dengan pria yang dicintainya itu.
Ikhsan keluar dari kamar mandi, tubuh atletisnya hanya dibalut dengan handuk. Mutiara merasa malu, ditundukkannya pandangannya. Ikhsan menghampirinya sambil tersenyum.
“Mutiara, aku tau mungkin apa yang kita lakukan salah, tapi percayalah kita akan berjuang bersama untuk kebahagiaan kita”. Diraihnya tubuh semampai Mutiara ke dalam pelukannya.
Ada kedamaian yang dirasakan Mutiara ketika sebuah tangan kekar membelai rambutnya yang masih tertutup hijab. Perlahan ditutupnya kedua matanya, membiarkan nafsu liar pria dihadapannya meneguk madu yang selama ini dimilikinya. Malam ini menjadi malam panjang bagi kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu, seakan ada kerinduan mendalam yang sama-sama dipendam dan saling melepaskan dengan gelora cinta yang membuncah.
Pagi itu Ikhsan harus meninggalkan ‘istrinya’ dalam kesendirian, tidak ada bulan madu untuk mereka. Setelah melepas kepergian sang suami Mutiara beberes rumah yang agak berdebu karena belum sempat dibersihkan.
Setelah menyetujui untuk menikahinya, Ikhsan kemudian membeli sebuah rumah tidak jauh dari tempat usaha Mutiara, sebuah rumah yang tidak terlalu mewah tapi cukup membuat Mutiara menjadi nyonya di rumah ini. Permintaan Mutiara tidaklah muluk-muluk, dia hanya ingin dinikahi oleh Ikhsan, dia tidak menuntut apapun dari Ikhsan. Dia rela meskipun mungkin dia akan menjadi istri siri seumur hidup, bahkan dia juga rela menyembunyikan pernikahan ini dari siapapun. Mutiara tidak peduli, dia sudah merasa bahagia dengan keadaannya saat ini.
__ADS_1
Ikhsan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, berbagai perasaan rumit yang dipikirkannya beberapa waktu yang lalu seolah telah hilang. Kini ia hanya akan menjalani hidupnya dengan tenang. Pernikahan resminya dengan Salsa akan digelar di kota kelahiran ibunya, jadi butuh waktu cuti yang lumayan lama. Hari ini setelah berpamitan dengan Mutiara dia bermaksud akan menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum dia cuti nanti.