
Mutiara sedikit terkejut dengan kehadiran Ikhsan siang ini. Tidak biasanya dia akan pulang di saat makan siang. Dihampiri laki-laki yang telah mengisi kekosongan hatinya itu dengan perlahan. Mengajaknya masuk untuk makan siang bersama.
“Aku udah makan Tiara. Kemari cuma mau pamit” ucapan datar Ikhsan membuat Mutiara sedikit terkejut.
Mutiara menatap heran. Entah mengapa kata pamit yang di ucapkan pria itu membuat detak jantungnya seakan terpacu semakin cepat. Mutiara berusaha menahan air matanya, entah mengapa sejak mengandung perasaan sensitifnya semakin bertambah. Ia merasa Ikhsan pasti akan pergi untuk waktu yang lama.
“Ada Wulan yang akan menemanimu. Jadi insya Allah kamu akan baik-baik saja” seolah tau apa yang dipikirkan Mutiara, Ikhsan menjawab dengan tersenyum tak ingin membuat Mutiara berpikir macam-macam “Kalau ada apa-apa secepatnya telepon aku ya”.
Mutiara hanya mengangguk, tak ada keberanian untuk membantah kata-kata suaminya itu. Ia tau ada rasa kekhawatiran dibalik kata-kata Ikhsan yang mencoba memberinya ketenangan.
Ikhsan masuk ke kamar, mengambil beberapa berkas yang ada disana. Setelah pertemuannya dengan Teja tadi Ikhsan memutuskan untuk pulang hari ini.
***
Ikhsan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Mengusap kasar rambutnya, merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa ia seteledor ini. Ikhsan tak dapat membayangkan bagaimana keadaan Salsa saat ini, kehilangan bayi yang bahkan belum mendapat pengakuan dari ayahnya sendiri.
Ikhsan kembali ke kantor setelah pamit pada Mutiara, mengambil Handphone yang tertinggal sejak semalam.
Alangkah terkejutnya dia dengan banyaknya panggilan tak terjawab dari Aldi, ditambah pesan dari sekretarisnya yang menyatakan bahwa saat ini Salsa mengalami keguguran dan dirawat di rumah sakit.
Dengan terburu-buru Ikhsan memarkirkan mobilnya sembarangan. Menyerahkan kunci kepada satpam agar memarkirkan mobilnya dengan benar. Hari sudah hampir sore ketika dia tiba dirumah sakit.
__ADS_1
Langkah kakinya semakin dipercepat ketika dari kejauhan sudah dilihatnya Aldi berdiri mondar-mandir di depan sebuah ruang inap. Aldi menghentikan langkahnya ketika dia mendengar langkah kaki terburu-buru yang mendekat.
Aldi berjalan tergopoh menyambut seseorang yang sudah berjalan ke arahnya. Ditariknya kerah kemeja pria itu dan mendorongnya ke arah dinding. Tangan kanannya terkepal dan dengan emosi dia mengayunkannya persis mengenai rahang sebelah kiri Ikhsan. Ikhsan terdiam, membiarkan Aldi meluapkan kemarahannya, dia tau siapa yang patut dipersalahkan disini.
Setelah puas melampiaskan sebagian amarahnya. Aldi berdiri gontai, mendorong tubuh Ikhsan yang juga sudah lemas lunglai menahan perih di wajahnya. Ia terduduk di lorong rumah sakit yang sedikit sunyi meski ada juga beberapa orang yang berlalu lalang, memperhatikan mereka berdua yang membisu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Aku tak akan pernah terima kamu memperlakukan Salsa seperti itu. Ceraikan dia” Aldi mengacungkan telunjuknya kearah Ikhsan yang masih terduduk. Dia sedikit terperanjat mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan Aldi barusan.
“Keluargaku menyerahkan dia padamu, berharap kamu menjadi laki-laki yang mencintai dan menyayanginya seumur hidupnya. Tapi kamu menjadikannya yang kedua, menjadikannya istri tapi kamu tidak memperlakukannya sebagai seorang istri” masih dengan nada penuh kemarahan Aldi menatap Ikhsan yang hanya membisu.
Dia tak dapat membantah ucapan Aldi, juga tak dapat mengucapkan kata-kata apapun. Dia menundukkan wajahnya, menyadari keadaan dirinya yang sudah berantakan. Kemeja putihnya sudah lusuh dan meninggalkan bercak-bercak darah dari luka mulutnya. Dia menyadari saat ini kehadirannya tak akan membawa dampak apapun untuk Salsa. Bahkan mungkin akan membuatnya semakin terluka.
“Satu lagi, jangan tunjukkan wajahmu dihadapannya untuk saat ini. Aku berbicara sebagai seorang kakak bukan sebagai bawahanmu” Aldi masih menatap tajam kearah Ikhsan.
Beberapa hari yang lalu Aldi sempat mengikuti kepergian Ikhsan setelah pulang dari kantor, ternyata ia tidak pulang ke rumahnya. Aldi semakin penasaran ketika ternyata Ikhsan menuju sebuah rumah yang sama sekali asing baginya, hampir semalaman Aldi menunggu diluar rumah tersebut tapi Ikhsan tak kunjung keluar hingga Aldi memutuskan untuk pulang dan kembali keesokan paginya.
Pagi itu Aldi datang dengan harapan bahwa prasangkanya salah tentang Ikhsan, tapi seperti mendapat petunjuk Aldi melihat Ikhsan keluar didampingi oleh seorang wanita dengan perut yang membuncit.
Setelah kepergian Ikhsan, Aldi memanggil seorang driver ojek online. Memberikan sebuah bungkusan untuk diserahkan kepada wanita yang mengantarkan Ikhsan tadi dengan dalih bungkusan itu untuk istri Ikhsan. Dan alangkah terkejutnya Aldi ketika ternyata wanita itu memang benar istri Ikhsan. Wanita itu mengiyakan ketika driver ojol itu bertanya apakah benar dia istri Ikhsan. Aldi berusaha menahan amarah, ternyata selama ini Ikhsan telah menyembunyikan rahasia besar meski dia belum tau pasti sejak kapan Ikhsan menikahinya.
***
__ADS_1
Bagus hampir menjatuhkan map berisi hasil lab ketika tanpa sengaja ia melihat kegaduhan antara Aldi dan Ikhsan. Dia berjalan cepat menghampiri Ikhsan yang sudah seperti orang gila. Menjambak rambutnya yang sudah acak-acakan.
“Mas butuh penjelasan San. Ayo ikut” ucapan dingin dari Bagus membuat Ikhsan sedikit terkejut. Tapi dia harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Dia berdiri dengan susah payah, menahan rasa nyeri di wajah dan perut akibat pukulan Aldi tadi.
Aldi hanya berdiri mematung, membiarkan Ikhsan berlalu tanpa kata mengikuti langkah kaki mas Bagus menuju ke ruangannya.
Ikhsan terkejut ketika melihat Teja sudah duduk menunggu Bagus disana. Teja memandang Ikhsan heran dengan keadaannya yang sudah berantakan, kemudian matanya menatap mas Bagus yang kelihatan sedang menahan amarah. Teja menyadari ada hal yang tak harus diketahuinya, dengan beralasan ingin ke toilet Teja keluar ruangan Bagus. Memberikan waktu bagi mereka berdua untuk saling berbicara.
Teja berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju taman. Mungkin suasana disana bisa membuatnya betah sehingga akan lebih banyak waktu untuk Ikhsan dan mas Bagus menyelesaikan masalah mereka.
Bukkkkk.
Tiba-tiba Teja menabrak tubuh seorang pria yang berjalan menunduk, Teja yang sedang fokus melihat taman disamping membuatnya tidak mengetahui jika ada orang yang juga berjalan menuju kearahnya.
“Ma...maaf, saya nggak liat pak” pria itu mengangkat kepalanya sambil menangkupkan kedua tangan memohon maaf kepada Teja.
“Nggak apa-apa” Teja menggeleng dan tak sengaja keduanya saling menatap. “Aldi... benar kamu Aldi” serunya ketika sudah menyadari siapa orang yang menabraknya tadi.
“Pak Teja, iya pak ini saya. Aduh saya mohon maaf sekali lagi pak” Aldi masih menangkupkan kedua tangannya. Kemudian tersenyum ketika mengetahui orang yang ditabraknya adalah Teja.
Teja adalah pemilik sebuah hotel yang ketika itu menjadi tempat magang Salsa dan Diana, Aldi sering menjemput kedua gadis itu jika mereka harus pulang lembur akibat banyaknya tamu hotel yang menginap. Teja yang sempat menaruh perasaan kepada Salsa awalnya sempat cemburu, tapi ketika mengetahui jika Aldi adalah kakaknya maka diapun berusaha untuk mengenal Aldi lebih dekat lagi.
__ADS_1
Dan benar saja, keduanya akhirnya bisa berteman layaknya dua orang sahabat meskipun terkadang Aldi masih merasa sungkan berteman dengan Teja. Tentu saja Teja tidak keberatan dengan hal itu, ditambah ketika dia mengetahui jika Aldi adalah salah satu karyawan terbaik di perusahaan yang dipimpin oleh Ikhsan. Keduanya semakin dekat, hal ini membuat langkah Teja untuk dekat dengan Salsa semakin terbuka lebar.