Cinta Pertama Suamiku

Cinta Pertama Suamiku
Belum menjadi istri


__ADS_3

Ditatap lekat wajah polos Salsa yang tertidur nyenyak. Wajah imutnya sejak dulu tak pernah berubah, balita berumur dua tahun yang selalu bermain dengannya dulu kini telah berubah menjadi sosok gadis yang cantik. Kecantikan yang diwarisi dari almarhum mamanya dan gadis itu kini resmi menjadi istrinya, tapi entah mengapa Ikhsan merasa terlalu bersalah padanya. Tak tega jika membiarkan Salsa terus masuk kedalam kehidupannya yang serba membingungkan itu. Mungkin rasa lelahnya seharian menunggu Ikhsan pulang hingga larut membuatnya tak menyadari bahwa orang yang dinanti-nantinya sudah duduk disampingnya. Ikhsan menarik napas berat, diusap kasar wajahnya sambil beranjak menuju kamar mandi, dia harus membersihkan tubuhnya yang sudah sangat lelah seharian dengan setumpuk pekerjaan yang seolah tidak pernah habis.


Dibiarkannya air shower itu mengaliri tubuhnya, dia berharap air ini mampu membersihkan segala kotoran yang melekat ditubuhnya. Ikhsan merasa menjadi orang paling kotor telah melukai hati gadis seperti Salsa, kembali teringat ia akan kenangan masa kanak-kanak dulu. Salsa sering menangis mengadu padanya ketika mas bagas dan mas bagus sengaja mengusilinya. Dialah orang pertama yang didatangi Salsa ketika mamanya melarangnya melakukan sesuatu. Tapi itu dulu, sekarang semua sudah berubah. Mungkin Ikhsan hanya pria asing bagi Salsa.


Terkadang Ikhsan ingin sekali menata hati untuk bisa menerima Salsa dengan ikhlas, tapi nyatanya rasa egoisnya membuat semua beranatakan. Seandainya dia tidak melakukan kesalahan fatal ini mungkin sekarang dia bisa belajar mencintai Salsa, menjadikannya istri dan ibu dari anak-anaknya kelak. Ikhsan tau Salsa pasti telah menaruh harapan besar kepadanya sebagai seorang suami. Gadis yatim piatu itu pasti sangat berharap kepadanya, menjadikannya imam yang bisa membimbing dan mengajarkannya untuk jadi istri yang baik.


Mamanya banyak bercerita kepadanya tentang Salsa, gadis yang terlihat kuat itu ternyata sangat manja. Hanya saja, tinggal dan dibesarkan oleh orang lain membuatnya terpaksa tumbuh menjadi gadis yang kuat, tidak cengeng dan berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Mamanya juga mengatakan kalau Salsa bukanlah tipe gadis yang suka mengadu tentang permasalahan hidupnya kepada ibunya. Meskipun ibu dan saudara-saudaranya akan senang hati membantunya jika dia mengalami masalah.


Semakin banyak mengetahui tentang diri Salsa membuat Ikhsan semakin merasa bersalah. Ikhsan merasa tidak pantas berdampingan dengannya, Ikhsan telah menorehkan luka dihatinya meski Salsa belum mengetahuinya. Dan jika Salsa mengetahuinya itu akan membuatnya sakit. Ikhsan semakin frustasi memikirkan kesalahan yang telah dilakukan.


Hampir setengah jam Ikhsan berada di kamar mandi, ia keluar setelah mengenakan kaos putih oblong dengan celana selutut berwarna senada. Ikhsan sedikit terkejut, tak didapatinya sosok sang istri di tempat tidur, kemanakan dia? Ikhsan terus berjalan menuju dapur karena ia mendengar suara nyaring peralatan masak saling beradu.


“Sa, kamu ngapain malam-malam di dapur?”


“Eh mas, sudah siap mandinya? Salsa minta maaf ya mas. Salsa ketiduran”.


“Kok minta maaf”. Ikhsan sedikit bingung dengan pernyataan Salsa.


“Ya, namanya juga suami pulang, seharusnya disambut gitu”. Salsa tersenyum sambil menaruh nasi goreng ke dalam piring.

__ADS_1


“Mas pulang terlalu malam Sa, nggak apa-apa kok”.


“Tapi tetep aja Salsa salah mas. Mas makan ya, Salsa buatin nasi goreng untuk mas”.


“Boleh, kayaknya enak”. Ikhsan duduk sambil tersenyum. Salsa meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas susu dihadapan Ikhsan.


“Lho kok Cuma satu, kamu nggak makan Sa?”.


“Salsa udah makan mas”. Dia tersenyum kemudian duduk dihadapan Ikhsan. Senyuman manja yang membuat Ikhsan menunduk. Tak kuasa menahan gejolak kelaki-lakiannya ketika menatap wajah imut dihadapannya itu.


“Sa, mas minta maaf ya. Mas belum bisa jadi suami yang baik buat kamu”.


“Mas… mas… kita baru nikah beberapa hari. Kok mas udah ngomong gitu, lagian mas itu nggak salah apa-apa sama Salsa. Buat apa minta maaf terus?”. Salsa kembali terkekeh sambil memainkan ujung jilbabnya. Meskipun sudah resmi menikah, Salsa belum berani melepas jilbabnya dihadapan Ikhsan. Bukankan Ikhsan juga belum menginginkannya.


Ikhsan tersenyum. Senyuman terpaksa yang harus ditampakkannya dihadapan istrinya. Seandainya Salsa tau apa yang telah dia lakukan, mungkin salsa tidak akan tersenyum semanis itu padanya.


“Oh ya Sa, mama tadi pagi nelpon mas. Katanya bakalan tinggal di kampung lebih lama, soalnya mama sudah bertemu dengan kakek dan ingin mengurus kakek katanya”.


“Kakek?”. Salsa sedikit mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


“Hm…. Iya, papanya mama. Mungkin kamu nggak tau ya cerita masa lalu mama mas dan mama kamu”.


“Salsa nggak tau apa-apa mas”. Salsa sedikit menunduk, ada duka yang disembunyikannya jika sudah menyangkut dengan almarhumah mamanya. Wanita yang tak pernah bisa ditemuinya lagi. Salsa sama sekali tidak memiliki kenangan tentang mamanya. Usianya masih terlalu kecil untuk mengingat semuanya, bahkan dengan Ikhsanpun dia tidak ingat sama sekali.


“Nanti kalau mama sudah kembali kesini, lebih baik kamu dengar dari mama ya”. Suara lembut Ikhsan membuat Salsa kembali tersenyum.


“Iya mas, nggak apa-apa kok. Dihabisi gih nasinya”.


“Masakan kamu enak juga sa, Cuma ini banyak banget, kamu mau mas gendut”. Seloroh Ikhsan membuat gadis itu kembali tersenyum manis sekali membuat Ikhsan harus kembali menundukkan kepalanya, pesona gadis dihadapannya sangat menggoda.


Setelah selesai makan malam Ikhsan kembali ke ruang kerjanya, sementara Salsa membersihkan peralatan masaknya. Tak butuh waktu lama akhirnya Salsa selesai dengan pekerjaannya dan bergegas menuju kamar. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya Salsa menyusul Ikhsan ke ruang kerjanya.


“Mas, nggak ngantuk? Tidur yuk”.


“Kamu tidur duluan ya, nanti mas nyusul”. Ikhsan tidak menoleh, masih pokus pada layar laptopnya. Memeriksa beberapa laporan dari bawahannya yang tak sempat dilakukan di kantor tadi.


“Iya”. Hanya menjawab singkat Salsa sangat kecewa, bagaimana dia akan melewati malam ini lagi. Ikhsan memang telah menikahinya, tapi belum benar-benar menjadikan Salsa istrinya.


Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit Ikhsan tak kunjung kembali dari ruang kerjanya. Hingga akhirnya Salsa terlelap tak kuasa menahan kantuk. Salsa selalu membiasakan diri untuk bangun disepertiga malam mengadukan kepada sang khalik segala keluh kesahnya. Kebiasaannya ini membuat dia tak pernah mampu terjaga hingga larut malam, bahkan sering setelah melaksanakan sholat Isya dia akan langsung terlelap.

__ADS_1


Malam semakin larut, Ikhsan melirik jam yang terletak disudut mejanya. Tepat pukul 12 malam, rasa kantuknya semakin menjadi. Ia menguap berkali-kali namun pekerjaanya masih memaksanya untuk tetap terjaga. Hingga rasa kantuknya tak dapat ditahan lagi, Ikhsan beranjak menuju sofa dan membaringkan tubuh lelahnya disana hingga ia terlelap. Melupakan istrinya yang menunggunya sejak tadi.


__ADS_2