Cinta Pertama Suamiku

Cinta Pertama Suamiku
Pria yang sama


__ADS_3

Perlahan kubuka mataku, bau minyak angin menyeruak masuk kehidungku membuat aku beranjak. Ibu yang melihatku membuka mata langsung menyodorkan segelas air putih. Kuteguk perlahan, terlihat wajah Ibu sedikit tegang, Rima masih memegang minyak angin dan Melati bergegas berangkat ke sekolah setelah melihat aku siuman. Entah apa yang membuat aku tiba-tiba pingsan di halaman tadi, mungkin raut wajah pria yang ditunjukkan Melati atau karena aku belum sarapan. Bagiamana aku tidak syok, setelah berhari-hari selalu dihantui mimpi tentang sosok pria yang pernah tanpa sengaja menolongku dan tentang sosok calon suamiku tiba-tiba Melati menunjukkan foto pria yang ternyata adalah pria yang selama ini hadir di mimpiku. Rencana Allah begitu indah, dan tiba-tiba aku tersenyum membuat ibu yang sejak tadi memperhatikan sedikit mengernyitkan kening tanda tak mengerti.


“Sa, lain kali sarapan dulu”. Raut ibu yang sedikit khawatir membuat aku merasa bersalah.


Aku mengangguk. Rima yang masih berdiri dihadapanku segera duduk tepat disebelahku, sementara ibu sudah berlalu menuju meja makan mengambil sepiring nasi untukku.


“Kok, malah senyum-senyum”. Rima penasaran dan duduk disebelahku. “Gantengkan calon suami kamu Sa? Kalau aku sich nggak mau nolak”. Seloroh Rima.


“Hm…”. Aku masih senyum-senyum sambil mulai menggodanya.


“Apaan sih, ditanya malah tambah senyum-senyum sendiri. Kayak orang gila tau”. Sungut Rima sambil meraih bantal disebelahnya. Meletakkan di punggungku agar aku bisa lebih nyaman.


“Rima, tau nggak pria yang dimimpiku sama pria yang di poto itu adalah orang yang sama”.


“What! Masa?”. Rima melongo.


Aku kembali mengangguk “Makanya aku sampai pingsan, kok sempit banget dunia ya. Hihihihi…”. Aku mulai terkekeh. Entah mengapa seolah ada kuncup bunga mawar yang mengembang disana.


“Hmmmmm, iya deh yang udah punya calon suami idaman”. Rima melengos seolah cemburu.


“Alhamdulillah, ternyata dia jodoh yang dikirim Allah untuk aku”. Ku peluk erat Rima sambil tersenyum bahagia. Aku merasa segala beban pikirannya hilang begitu saja. Rima ikut terkekeh, dibalasnya pelukanku sambil terus menggodaku.


“Salsa sarapan gih”. Ibuk menyodorkan sepiring nasi goreng kepadaku.


“Iya buk”. Aku menerimanya sembari masih melirik Rima dengan senyum puas. Rima mencibir.


“Alhamdulillah kalau gitu Sa, berarti segala keluh kesah sudah terobatilah ya?”. Rima tersenyum ikut bahagia.

__ADS_1


“Alhamdulillah, mudah-mudahan tampangnya sebaik orangnya ya”. Aku memasukkan sendok berisi nasi goreng ke mulutku. Terasa nikmat sekali.


“Amiin. Oh ya Sa, aku berangkat dulu ya, udah siang ni”.


“Ok sip”. Ku ajungkan jempolku.


Rima beranjak meninggalkanku, kemudian meraih tas dan beberapa buku di atas meja dan pamit pada ibu. Aku kembali tersenyum. Menikmati nasi goreng dengan suasana hati yang begitu bahagia.


***


Malam ini aku kembali mengemas beberapa bajuku, lusa aku akan menghadiri acara wisuda bersama Ibu. Rima masih sibuk dengan skripsinya yang belum selesai, Melati masih mengikuti ujian nasional kelulusannya dan Bapak tidak bisa mengambil cuti lagi karena cuti tahunan bapak tinggal beberapa hari, dan katanya untuk nanti saja ketika aku menikah sehingga tidak bisa ikut menghadiri acara wisudaku. Ada tawa bahagia dihatiku ketika bapak menyebut pernikahan.


Aku berangkat ke ibukota bersama ibu pagi ini, kami berencana akan menginap di apartemen kak Aldi, kebetulan ibu belum pernah kesana.


Acara wisudaku berjalan dengan lancar, ibu dan kak Aldi yang menjadi pendampingku saat itu. Sementara itu Diana membawa ayah dan ibunya dari kampung.


Waktu seminggu di ibukota kami habiskan dengan mengunjungi tempat-tempat wisata, aku sengaja mengajak ibu jalan-jalan sebelum aku resmi menjadi seorang istri. Aku ingin benar-benar membalas sedikit kebaikan ibu yang telah merawat dan membesarkanku meskipun mungkin aku tak akan bisa melakukannya. Aku tidak tau apakah setelah menikah suamiku akan mengizinkan aku untuk sering-sering mengunjungi ibu nantinya.


Ketika kami sedang menikmati sore di sebuah taman tak jauh dari apartemen kak Aldi, tiba-tiba hanphoneku berdering. Sebuah nomor baru, aku sedikit mengeryitkan kening, tapi kemudian kuangkat.


“Halo Assalamu’alaikum, bisa bicara dengan ibuk Mutia?”. Terdengar suara seseorang di ujung telepon, suara seorang wanita yang terdengar sangat merdu.


“Waalaikum salam, iya bu, sebentar ya”. Kusodorkan handphoneku kepada ibu. Ibu heran tapi kemudian menerimanya.


“Halo”. Jawab ibu


{……………………..}

__ADS_1


“Oh, iya. Ya ampun sampai lupa”. Ibu kelihatan sedikit merasa bersalah.


{……………………..}


“Besok rencana mau pulang, kasian anak-anak sama suami ditinggal terlalu lama”.


{……………………..}


“IYa, ditunggu lo. Ajak sekalian Ikhsannya, biar bisa langsung kenalan”.


{……………………..}


“Iya, Assalamu’alaikum”.


{……………………..}


Diserahkan kembali handphoneku oleh ibu. Entah siapa yang menelepon. Aku tidak ingin bertanya, tapi kemudian ibu berkata.


“Calon mertua kamu nelpon Sa, Insya Allah minggu depan mereka mau melamar kamu”. Ibu tersenyum manis seraya memelukku. Ada sebuah kelegaan disana.


“Dulu ketika pertama kali kamu diajak mamamu ke rumah ibu, ibu nggak pernah menyangka kalau kamu bakalan tinggal sama ibu sampai sebesar ini. Ibu sangat bahagia Salsa, ternyata sebentar lagi ibu akan menyerahkan kamu sama orang yang tepat. Insya Allah. Tante Ningrum adalah sahabat Ibu dan mama kamu sejak kecil. Dulu mereka tinggal di ibukota dan disana mereka sempat berjanji suatu saat akan menjodohkan kamu dengan salah satu anak tante Ningrum. Dua anak sulung tante Ningrum yang kembar sudah menikah, hanya tinggal Ikhsan si bungsu yang sudah berusia 29 tahun tapi belum menikah. Mungkin Ikhsan masih ingat kamu karena waktu itu usianya sudah 9 tahun waktu kalian terpisah”. Ibu bercerita sambil membelai jilbabku.


“Ibu sangat berharap kamu bisa jadi istri yang baik nantinya Sa, ibu tau mungkin kamu belum mencintainya, tapi ibu yakin kamu akan jatuh cinta seiring berjalannya waktu. Ibu yakin Ikhsan juga akan melakukan hal yang sama denganmu. Mematuhi ibunya”.


Ibu memandang kedua mataku, memegang bahuku sambil menjauhkan pelukanku. “Ibu mau kamu belajar Sa, belajar untuk jadi istri dan ibu yang baik untuk suamimu dan anak-anakmu kelak”. Ada sejuta harapan di mata ibu untukku.


Aku mengangguk kemudian memeluk ibu, wanita yang sudah menjadikanku anaknya tanpa meminta imbalan apapun, wanita yang paling ku kagumi. Semoga apa yang menjadi harapannya bisa kukabulkan. Aku yakin semua ini adalah hal yang terbaik untukku. Aku juta tidak ingin mengecewakan mama yang sudah lebih dulu menghadap sang khalik.

__ADS_1


Malam ini kami packing beberapa kotak kardus oleh-oleh untuk Bapak, Rima dan Melati. Besok pagi kami akan kembali dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan tante Ningrum dan keluarganya. Semoga.


__ADS_2