
Rumah yang puluhan tahun lalu berdiri kokoh, dan menjadi salah satu rumah termegah di kota kecil ini sekarang telah berubah. Pagar karatan dan halaman yang dipenuhi rerumputan membuatnya sedikit kelihatan angker. Bangunan yang tak terawat menambah kesan bahwa rumah ini benar-benar hampir seperti rumah hantu, hanya saja salah satu bangunan masih kelihatan terawat meskipun catnya sudah pudar dan beberapa bagian terlihat sudah rusak.
Wanita paruh baya itu masih enggan keluar dari mobilnya, hanya memandangi dari kejauhan apakah masih ada kehidupan di dalam sana. Perlahan sebuah tangan mengenggam erat tangannya seolah memberinya kekuatan. Dan dengan mengumpulkan tekad dia keluar dari mobil sembari melangkah perlahan mendekati rumah itu. Dia melangkah hati-hati berhubung banyak besi-besi karatan yang berserak diantara semak belukar yang tidak terawat, tapi jalan setapak yang mereka lalui ini menadakan masih ada kehidupan disana.
Langkah Ningrum terhenti ketika dari kejauhan dilihatnya seorang lelaki tua sedang duduk di kursi roda bersama seorang wanita paruh baya yang menyuapinya dengan sabar, terkadang nasi yang ada dimulut tua itu tumpah berhamburan ke lantai, dan dengan sabar wanita tersebut memunguti dan kembali memberikan suapan lagi. Buliran bening mengalir dari pipinya, kenapa dia harus melihat pemandangan memilukan seperti ini, lelaki gagah yang menjadi pengayom dikeluarganya dulu sekarang nasibnya sangat memprihatinkan.
Ningrum mempercepat langkahnya, Mutia dengan agak tergesa berusaha mengimbangi langkah sahabatnya itu. Setelah memantapkan hatinya Ningrum memutuskan untuk melihat keadaan keluarganya, Mutia sebagai sahabat sangat mendukung keinginannya itu. Langkah kaki Ningrum perlahan mulai melambat ketika kedua orang yang sedang diperhatikan tadi ternyata sudah menyadari kehadirannya.
Lelaki tua itu memandang lurus ke arah Ningrum tanpa sepatah katapun, sedikit mengernyitkan alisnya seolah dia sedang mengingat wajah Ningrum yang sudah berdiri terpaku ditempatnya. Sedangkan wanita yang sejak tadi yang menatap mereka segera berlari mendekati Ningrum.
“Ning…. Benarkah kamu Ningrum”. Dipeluknya tubuh adiknya yang masih mematung itu tanpa menunggu jawaban.
__ADS_1
“Mbak Nilam,,, hiks hiks hiks”. Dibalasnya pelukan kakak perempuannya itu sambil mulai terisak melihat keadaan orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
“Ning kamu kemana aja? Kenapa nggak pulang-pulang atau kasi kabar ke Mbak?”. Nilam mulai melepaskan pelukannya dan mengajak Ningrum dan Mutia menuju dipan panjang yang ada di teras. Lelaki tua itu masih menatap Ningrum tanpa kedipan, tatapan yang penuh arti. Tatapan yang sekian lama sangat dirindukan Ningrum, kini dia telah berdiri di hadapan orang yang paling dicintainya itu. Sosok pria lemah lembut yang sangat menyayangi dan memanjakannya dulu.
“Papa… hiks… hiks… hiks”. Ningrum tak kuasa menahan deraian air matanya, dia terduduk bersimpuh dihadapan lelaki tua yang tak berdaya itu. Perlahan ia bangkit, menggenggam kedua tangan sang papa, menatap nanar kedua matanya seolah ia ingin memberitahu kepada sang papa bahwa dia telah kembali, Ningrum telah kembali ke pangkuan sang papa. Tetapi lelaki itu hanya mematung, tak bergeming sedikitpun.
“Ning, seminggu setelah kamu meninggalkan kami, rumah ini terbakar. Hanya papa yang selamat dan sekarang keadaan papa seperti ini. Sekujur tubuh papa terkena luka bakar yang cukup parah sehingga selama dua puluh tahun ini papa hanya bisa duduk di kursi roda. Kebetulan waktu itu mbak sedang menghadiri pernikahan Sita anaknya pakde Rudi sehingga mbak nggak ikut jadi korban. Setelah kebakaran itu papa masih bisa bicara, tapi beberapa tahun belakangan ini papa sudah nggak bisa apa-apa lagi Ning. Cuma bisa gitu doang”. Mbak Nilam menceritakan secara singkat apa yang telah menimpa papa.
“Papa…. Ning minta maaf ya”. Diciumnya tangan tua itu. Air matanya kian deras mengalir, ada rasa sesal dihatinya. Kenapa tidak pernah terpikirkan olehnya untuk sekedar bertanya kabar tentang keluarganya. Setidaknya dia bisa memastikan kalau papa dan mamanya baik-baik saja. Diusapnya tangan tua yang sangat kurus itu. Tiba-tiba mata tua itu mengeluarkan butiran-butiran bening, menangis.
“Sudahlah Ning, semua sudah terjadi. Sekarang kita perbaiki kesalahan kita masing-masing. Oh ya, kamu tinggal dimana sekarang?”
__ADS_1
“Ning masih di ibukota mbak, suami Ning meninggal dua puluh yang tahun karena sebuah kecelakaan kerja saat ini Ning tinggal di rumah Mutia. Beberapa hari yang lalu anak bungsu Ning menikah dengan Salsa anak Aisyah yang tinggal sama Mutia. Aisyah sudah meninggal juga mbak?”. Air mata Ningrum kembali mengalir mengenang masa lalu yang pahit.
Mata sendu Nilam memandang Ningrum lekat sambil menggenggam tangan adiknya itu “Kamu punya anak berapa Ning? Kenapa nggak kemari sekalian?”.
“Anak sulung Ning si kembar Bagas dan Bagus mbak, kemarin mereka langsung pulang setelah resepsi karena pekerjaan mereka tidak bisa ditinggal terlalu lama, sementara Ikhsan anak bungsu Ning juga langsung balik ke ibukota karena pekerjaanya juga banyak. Ning memutuskan untuk nemuin mbak karena dikotapun Ning pasti nanti bosan karena nggak ada temen. Sekarang Ning lega, bisa liat papa dan mbak lagi”.
Nilam tersenyum, diraihnya tubuh adinya itu. Memeluknya sekali lagi, rasa rindu yang sudah puluhan tahun tak bertemu membuat dia begitu bahagia bisa melihat adiknya baik-baik saja. Dilepasnya pelukan itu perlahan, kemudian menatap sang papa yang memperhatikan mereka berdua sejak tadi, seolah mengatakan bahwa dia bahagia telah bertemu kembali dengan anak kesayangannya.
“Maaf mbak, mbak Nilam belum menikah? Atau?”. Pertanyaan Ningrum menggantung.
Nilam tersenyum. “Melihat kondisi papa seperti ini, mbak nggak ada niat buat nikah Ning. Siapa yang akan merawat papa kalau mbak harus pergi? Mbak ikhlas kalau seumur hidup mbak gunakan untuk merawat papa”. Mbak Nilam kembali tersenyum, ada semburat kesedihan dibalik senyumnya itu. “Mbak juga ikut bantu-bantu jaga toko pakde Rudi. Mbak nggak mau nerima uang begitu saja dari Pakde untuk papa”. Kembali dilihatnya sang papa sambil mulai terisak.
__ADS_1
“Ya ampun mbak, Ning nggak tau kalau begini keadaan kalian sepeninggal Ning. Ning benar-benar menyesal mbak”. Kembali bulir-bulir bening itu tak dapat dibendung.
“Sudahlah Ning, semua sudah takdir Allah kita sebagai manusia wajib bersyukur karena kita termasuk orang-orang pilihan yang mendapat cobaanNya. Yaudah kalau gitu kita masuk saja yuk, kita lanjutin ngobrolnya di dalam di sini mulai panas matahari sudah mulai terik”. Nilam melangkah menuju kursi roda sang papa lalu mendorongnya menuju ruang tamu diiringi Ningrum dan Mutia. Segala keluh kesah yang selama ini dipendam telah ditumpahkan kepada orang-orang tersayang. Ningrum merasa lega, bongkahan batu besar yang menimpanya selama ini telah berhasil disingkirkannya.