
Membicarakan tentang kota Metropolitan adalah tentang egoisme, hedonisme dan denyut nadi yang akan terus berdetak cepat selama bumi berputar.
Dari jutaan penduduk yang menggantungkan hidup dalam persaingan kerasnya kota metropolitan, terdapat satu nyawa yang tidak mempedulikannya.
Roy Rona, nama sesosok nyawa berusia mungkin sekitar 29 tahun bila dilihat dari kerutan di dahinya, walaupun usia sebenarnya baru saja menginjak 22 tahun.
Seorang pria yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang spesial darinya, ia hanya seorang pria pemalu yang lugu namun humoris dan berpotensi menjadi buaya penjerat hati setiap wanita yang mengenalnya.
***
Kriing! Kriing!
Suara nyaring dari jam beker yang dibelinya di pedagang loak terus saja berbunyi membangunkan Roy yang masih lelap dalam tidurnya.
Tak berselang lama, kedua bola mata yang begitu merah pupilnya terbuka lebar seakan mau keluar dari tempatnya.
Roy beranjak duduk di atas kasur lantainya, bukan dering jam beker yang membangunkannya, ia terbangun karena hari ini adalah hari pertama ia bekerja di kantor barunya.
Kriing! Kriing!
Jam beker terus saja berbunyi, Roy meliriknya dengan tatapan yang begitu tajam seakan jam beker adalah seorang Bos yang sedang memarahinya.
Roy langsung mengambilnya dan membantingnya dengan keras.
Prak!
Jam beker berhenti berdering, Roy menyeringai dingin melihatnya. Tampak ia begitu puas setelah membantingnya.
"Eh, aku lupa melihat jam" ucapnya baru tersadar.
Roy langsung memunguti jam beker yang tergeletak tak berdaya di pojokan dinding.
"Ya, mati. Mana baru beli" keluhnya memelas.
Roy mengusapi kaca retak jam beker yang tidak berfungsi lagi.
"Penyesalan selalu datang di akhir, kalau di awal namanya pendaftaran" gumamnya lalu meletakkan kembali jam beker di tempatnya semula.
Roy bergegas mandi, sebelumnya ia sudah mengatur alarm di pukul 4.30 pada jam bekernya.
__ADS_1
Roy menyipitkan matanya yang sudah sipit sejak lahir melihat sabun batang yang sudah sisa sepotong.
Tampak terlihat olehnya, handuk yang menggantung pada dinding kamar mandi dalam keadaan basah.
Roy membayangkan andaikan iya memiliki pasangan hidup pasti ada orang yang memperhatikan hidupnya.
"Kasihan sekali aku ini, jika punya istri pasti ada yang memperhatikan hidupku".
Roy kembali tersadar setelah merasakan dingin yang menyeruak menusuk pori-pori kulitnya. Dengan cepat Roy menanggalkan pakaiannya dan menggenggam erat gayung merah berbentuk hati yang dibagian gagangnya begitu kusam.
Roy mulai membasahi bagian kakinya, setahap demi setahap ia mengguyur bagian tubuh dari bawah ke atas, Roy biasa mandi seperti itu untuk menjaga kesehatan tubuhnya dari ancaman stroke yang setiap tahunnya semakin meningkat kasusnya di negeri yang ia cintai.
Beberapa saat kemudian, Roy keluar dari kamar mandi dengan begitu segarnya. Ia langsung memakai pakaian kerjanya. Kemeja putih Alisan berlengan pendek dipadu dengan celana formal Cardinal berwarna hitam. Tak lupa ia memakai parfum dan deodoran favoritnya menambah keharuman di tubuhnya yang kerempeng.
"Sial! Ketampananku begitu maksimal" pujinya sambil memutar badan di depan cermin yang retak.
Roy langsung mengambil handphonenya yang masih polyphonic di era metaverse 2.0 ini, ia memastikan daya batere sudah penuh setelah semalaman ia mengisi dayanya.
Roy terdiam tak percaya melihat jam di layar handphonenya masih menunjukkan pukul 1.30 malam.
Gemeretak suara gigi gerahamnya merasakan kekesalan di hati, Roy yang sudah begitu rapi kini menjadi sosok menyeramkan di sudut kamarnya itu dengan tangan kiri terkepal dan tangan kanannya mencengkeram kuat handphone yang tidak memiliki kesalahan apa pun.
Bruk!
Meong! Meong!
"Kucing sialan! Hampir saja jantungku copot" kutuk Roy langsung menghempaskan napasnya.
Dengan langkah sedikit gontai, Roy menghampiri kasurnya yang masih berantakan, ia duduk bersila di pinggiran kasurnya lalu terdiam memandangi sebuah bingkai tanpa foto yang menggantung pada dinding kamar kostnya.
Ia begitu dilema menyikapi waktu yang cukup lama menuju pagi hari. Seiring waktu berjalan, tanpa sadar Roy terlelap tidur dalam lamunannya.
Tok, tok, tok!
"Mas Roy" panggil seorang wanita di luar kamarnya.
Roy terperanjat dalam tidurnya, ia langsung melihat layar handphone yang menunjukkan pukul 8 pagi. Dengan tergesa, ia langsung saja mengambil tas ransel dan menjinjing sepatu hitam yang bagian depannya mengerucut seperti mulut buaya.
"Kamu kesiangan Mas Roy?" Tanya mba pengantar catring heran.
__ADS_1
"Iya, mba. Terima kasih sudah membangunkan" jawab Roy tanpa meliriknya.
Kepalanya terus menunduk dengan kesibukannya memakai kaos kaki dan sepatunya, Roy berdiri memaksakan senyum menatap mba pengantar catring yang terus berdiri memperhatikannya.
Roy seloroh mengeluarkan motor butut kesayangannya dari teras rumahnya.
Grung! Grung!
Roy menarik handel gas motor dengan kencang, ia tidak mempedulikan seseorang yang batuk menghirup kepulan asap dari knalpot racing motornya.
"Mas Roy, tidak sarapan dulu?" Tanya mba pengantar catring.
"Nanti di kantor saja mba, itu buat mba saja, mari mba" sahut Roy berpamitan.
Ia melajukan motornya begitu cepat menghilang dari pandangan seorang mba pengantar catring yang terus saja melihat kepergian Roy, seorang pria muda yang masih jomblo.
"Eh, Mas Roy ketinggal helmnya. Semoga saja tidak kena tilang" celetuk mba pengantar catring melihat sebuah helm KYT hitam tergeletak di meja teras rumah.
Roy yang sedang memburu waktu tidak menyadari helmnya tertinggal, tiba-tiba saja sebuah motor 500cc menyalipnya dan memintanya untuk berhenti di pinggir jalan.
Sontak saja hal itu membuat Roy terkejut, ia langsung meminggirkan motornya ke pinggir jalan.
Seorang polisi turun menghampirinya dengan wajah yang tampak garang menatapnya.
"Selamat pagi, tunjukkan surat-surat kendaraan" sapanya dengan begitu tegas.
Roy langsung merogoh saku celananya, raut wajahnha berubah panik tatkala ia lupa membawa dompet Eigernya.
"Maaf, Pak. Ketinggalan" ucap Roy memelas.
"Kenapa Bapak tidak memakai helm?" Tegur polisi memberitahunya.
Roy langsung meraba kepalanya, ia menjadi semakin panik baru menyadarinya. Tampak butiran keringat mengalir dari kulit wajahnya.
"Astaga Aku lupa pakai helem, maaf pak helem saya ketinggalan di rumah?".
"Iya kalau begitu Bapak saya tilang karena tidak memakai helem dan lupa membawa surat-surat kendaraan, Bapak nanti tolong untuk dapat hadir di sidang pelanggaran lalu lintas dan dapat membayar dendanya".
"Baik Pak nanti saya akan hadir".
__ADS_1
"Kalau begitu Bapak silahkan lanjutkan perjalanan".
Akhirnya Roy melanjutkan perjalanannya menuju kantornya dengan tergesa-gesa.