
Yanti masih saja betah berada di rumah Roy, mereka berbincang-bincang dengan keluarga Roy di malam hari, minggu itu. Roy sebetulnya senang Yanti berada disisinya walaupun ada jurang penghalang yang memisahkan mereka berdua.
Sore itu Roy ingin duduk di teras rumah bersama Yanti karena bosan berada di dalam rumah seharian, dengan tertatih-tatih Roy di bantu oleh Yanti berjalan menuju teras, sementara yang lain menonton televisi di ruang tengah.
“Roy, andaikan dulu aku tidak memutuskan hubungan kita, mungkin kita masih akan selalu bersama seperti ini”, ucap yanti.
“Apakah kita masih ada harapan seperti dahulu Mas Roy”.
"Sudahlah Yanti, kalau jodoh juga tidak akan kemana".
“Serius amat, obrolannya" ucap ibunya Roy.
"Eh..Ibu, iya bu biasa kita lagi mengobrol tentang masa lalu".
"Oh mengobrol masa lalu, jangan masa lalu terus seharusnya masa depan kalian berdua".
"Ibu ini bisa saja", ucap Roy
"Yanti jadi malu tante", ucap Yanti
"Roy mau makan apa? Sekalian nanti ibu masakan makan malam buat kita makan bersama, bahan makanan ada di kulkas kan?".
"Ayam goreng pastinya bu, Iya bu Roy sudah stok lengkap belanjaan ayam dan sayur mayur di kulkas"
"Oh ya sudah ibu masuk ke dalam lagi ya, nanti ibu masakin buat kamu".
"Kalau begitu Yanti bantu ibu masak ya!".
"Waduh....Gawat, Rasanya bisa enggak karuan kalau Yanti yang masak", ucap Roy dalam hati.
"Tidak usah Yanti biarkan ibuku saja dibantu sama adikku Noya yang memasak ya".
"Kamu kan tamu, lagian sekarang sudah ada ibuku dan Noya jadi aman!".
"Oh baiklah kalau begitu", ucap Yanti.
"Ayo Yanti kita masuk lagi kedalam rumah hari sudah mulai gelap", ucap Roy.
"Iya mas Roy, sini aku bantu kamu mas Roy, aku ranggkul kamu ya, pegangan yang kuat takut jatuh, harusnya kamu itu jangan terlalu banyak bergerak, ini malah sering mondar-mandir, ucap Yanti menasehati Roy sambil membatunya untuk berjalan.
"Aku bosan di dalam rumah terus Yanti!, kamu tidak apa-apa Yanti kalau pulang malam?", tanya Roy.
"Jam segini belum terlalu malam lah Roy, Nanti habis makan bersama juga aku pamit pulang".
"Maaf Yanti, nanti aku tidak bisa mengantarmu pulang".
"Tidak apa-apa nanti aku bisa pesan taksi saja".
"Baik lah kalau begitu".
Mereka pun kembali menuju ke ruang tengah dimana ayah Roy dan Boy adiknya sedang menonton siaran pertandingan sepak bola Tim nasional melawan negara lain.
"Hore...golll.....", ucap Boy adiknya Roy.
"Hebat ya Tim nasional kita ini dapat membalas score ", ucap Ayahnya Roy.
"Roy kemari ini lagi seru keadaan score imbang ini", ucap Ayahnya Roy.
"Tapi ada kemungkinan menang ga ayah?", tanya Roy.
"Dilihat dari pertandingan sih ini kayanya bisa menang", ucap ayahnya Roy.
"Boy kencangkan itu volume televisinya!", perintah Ayahnya Roy.
"Baik ayah", ucap Boy adiknya Boy.
Volume televisi dari siaran pertandingan sepak bola itu pun di perbesar.
"Lihat itu Roy penyerang tim nasional kita, ayo bawa bola terus, gocek lawan ayo.., bagus kan".
__ADS_1
Terdengar suara komentator pertandingan di televisi.
"Penyerang dengan nomer punggung sembilan itu membawa bola, menggocek terus dan Goollll...", ucap sang komentator siaran pertandingan di televisi.
"Goollll", terdengar suara eforia gemuruh di ruangan televisi.
Ayah Roy dan Adik Roy loncat dari kursinya karena kegirangan, sedangkan Roy terbawa reflek menendangkan kakinya yang sakit itu ke meja ruang televisi.
"Wuaaadaaawww, aduh..aduh...aduh... sakitnya", ucap Roy sambil memegang kakinya yang bengkak itu.
Lalu mereka pun melihat ke arah Roy dan tertawa.
"Roy kamu itu ada-ada saja ya kelakuannya", ucap Ayahnya Roy.
"Mas Roy...kamu tidak apa-apa", tanya Yanti.
"Sakit banget ini kakiku!", ucap Roy merasa kesakitan
Aku ambil obat pereda nyeri dan kompresan ya di dapur.
"Iya yanti, terimakasih.
"Kalau ga sembuh-sembuh kita bawa ke alternatif saja biar bisa di pijat itu kakinya Roy".
Boy kamu antar kakamu besok bisa kan, kalau sekarang sudah malam, ucap Ayahnya Roy.
Iya Ayah nanti Boy antar ka Roy besok, ucap Boy.
Roy kamu jangan masuk kantor dulu lah, tunggu kakimu membaik dulu, kamu telepon ke Staf bagian kepegawaianmu untuk minta izin ya.
Iya pak ini mau Roy telepon bagian kepegawaian mau minta izin sakit untuk hari senin besok.
"Yanti bantu ambilkan ya handphonenya?", ucap Yanti.
"Iya yanti, Itu ada di meja sebelah televisi".
"Terimakasih Yanti".
Lalu Roy mencoba menghubungi nomer handphone seorang staf kepegawaian di kantornya.
Halo, bisa bicara dengan mba Dina
"Ya saya sendiri", ucap Dina.
"Ini mba dina saya Roy, maaf mengganggu hari liburnya".
"Oh iya tidak apa-apa pak", ucap mba Dina staf bagian kepegawaian.
"Ini saya mau minta izin besok tidak masuk kerja karena sakit".
"Oh iya pak, begini nanti bapak buat surat sakit saja pak ya, bisa dikirim scanannya lewat email, nanti kita sampaikan ke pimpinan kantor!", ucap mba dina menjelaskan.
"Oh iya mba Dina, terimakasih atas informasinya".
"Sama-sama pak Roy".
Setelah Roy selesai menelepon bagian staf bagian kepegawaian, Lalu Roy memanggil Boy.
"Boy, kesini", ucap Roy memanggil.
"Ya, bagaimana Kak Roy?", tanya Boy.
"Boy berarti besok jadi untuk berangkat mengantarkan Kak Roy ke pengobatan alternatif ya".
"Ok siap kak Roy kalau begitu!"
"Naik mobil saja ya?, kalau naik motor nanti takut hujan, kan jadi repot kita!".
"Ok kakak Roy, kita nanti pakai mobil saja", ucap Boy.
__ADS_1
Kemudian Yanti berkata kepada Roy ingin membantu ibunya Roy dan Noya di dapur mempersiapkan makan malam.
"Roy masa aku tidak bantu ibu dan adikmu memasak".
"Masa tamu ikut repot, ibuku kan memasak sudah di bantu Noya".
"Ya sudah nanti aku bantu membawanya saja ke meja makan", ucap Yanti.
Sementara itu di ruangan dapur ibunya Roy dan Noya sibuk memasak.
"Noya ambil ayam di kulkas ya sama sayuranya"
"Baik ibu".
Noya membuka kulkas yang penuh bahan makanan yang belum di masak, karena sudah diisi oleh Yanti ketika belanja pagi hari.
"Tumben Kakak Roy, stok sayuran banyak begini dan bahan makanan belum jadi, biasanya kan dia malas masak, cuma beli saja".
"Ketemu ayamnya, Noya?".
"Ada ibu, ayamnya sudah di bumbui".
"Berarti tinggal di goreng saja itu", ucap ibunya Roy.
"Bantu ibu goreng ayamnya saja ya, jangan sampai gosong", ucap ibunya Roy.
"Baik ibuku", ucap Noya.
"Ibu lagi buat tumis sayur kangkung dan sambel terasi ini.
"Tempe mendoan yang barusan di goreng sudah di taruh di menja makan?, tanya ibunya Roy.
"Sudah ibu, sama Mba Yanti barusan di bawa ke meja makan", ucap Noya.
Selang beberapa lama ibunya Roy dan Noya telah selesai memasak dan dibantu oleh Yanti mempersiapkannya di meja makan.
"Ayah, Roy dan Boy kesini, makan malam sudah siap", ucap ibunya Roy.
"Wah mantap sekali ini, kita makan malam bersama", ucap Ayahnya Roy.
"Iya Ayah", ucap Roy dan Boy.
"Terimakasih ibu-ibu sekalian yang sudah mempersiapkan makan malamnya"
Mereka pun sudah duduk bersama di meja makan bersiap untuk makan malam.
"Mari-mari silahkan dinikmati makan malamnya".
Roy lalu memakan ayam goreng itu, iya lupa bahwa ayam yang di kulkas itu sudah dibumbui oleh Yanti tadi pagi.
Kemudian mereka pun saling melirik satu sama lain.
"Aduh....rasanya super Asin, gawat ini semuanya", ucap Roy dalam hati sambil menjulurkan lidahnya.
"Waw..gila asin banget ini", ucap boy.
"Aduh..ayam ini asin banget sih rasanya", kata Noya
"Ibu ini ayamnya ko rasanya Asin ya?", ucap Ayah.
"Iya ayah, ko asin banget", ucap ibunya Roy.
Lalu mereka pun melihat ke arah Yanti.
"Aku ga sanggup makan ayam ini", ucap Yanti.
"Roy kenapa kamu tidak bilang dari tadi pagi", ucap Yanti berteriak Kesal kepada Roy.
Mereka semua ikut terkejut karena ayam goreng yang asin tersebut. Akhirnya mereka makan malam bersama hanya dengan tempe mendoan dan tumis kangkung.
__ADS_1