Cinta Pria Pemalu Dan Gadis Cantik

Cinta Pria Pemalu Dan Gadis Cantik
Bab 19


__ADS_3

Hari minggu pagi, Roy bangun dengan kakinya yang masih sakit karena terkilir akibat jatuh di Mall malam minggu kemarin. Roy bermaksud untuk pergi ke kamar kecil untuk mencuci mukanya. Roy mulai melangkahkan kakinya yang terkilir tersebut, betapa kagetnya iya ternyata kakinya yang terkilir itu mulai membengkak.


"Aduh gawat kakiku ini jadi bengkak, aduh...terasa sakit lagi", ucap Roy sambil melangkahkan kakinya.


Lalu Roy pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya itu.


"Sepertinya aku harus pergi ke apotik membeli obat pereda nyeri untuk mengobati kakiku yang terkilir ini", ucap Roy dalam hatinya.


Lalu Roy mengendarai motor tuanya menuju apotik 24 jam terdekat.


"Permisi ada obat pereda nyeri", ucap Roy.


“Oh iya ada pak, butuh berapa?”, ucap pelayan Apotik.


“Satu Saja, kalau obat untuk kompres bagian tubuh yang bengkak ada?”.


“ada pak, butuh berapa?


”Obat kompres pesan satu juga ya!, totalnya jadi berapa?


“Obat pereda nyeri satu dan obat kompres satu, semuanya jadi seratus ribu rupiah pak”.


“Pas ya uangnya”, ucap Roy.


“Iya, terimakasih”, ucap pelayan Apotik.


Roy secara tidak sengaja bertemu dengan Yanti yang sedang membeli vitamin di apotik tersebut.


“Puukkk”, suara punggung Roy di tepuk dari belakang.


"Mas Roy", ucap Yanti


Lalu Roy pun menoleh ke arah belakang.


"Yanti, ko kamu ada disini, aku mau beli vitamin Roy di apotik ini soalnya harganya murah dan lengkap, tadi aku naik angkutan umum yang kebetulan rutenya lewat sini“.


”Oh, iya ya soalnya ini apotik terbesar dan terlengkap di kota ini“.


”Mas Roy kamu beli obat apa? ", ucap Yanti.


"Ini lagi terkilir, jadi beli obat pereda nyeri dan obat kompres".


Lalu yanti melihat ke arah kaki Roy.


“Ya ampun mas Roy, itu kakimu sampai bengkak begitu loh”.


“Iya ini kakiku yang terkilir jadi bengkak”.


“kamu jatuh?”.


“Iya Yanti, kalau di ceritakan panjang ceritanya”.


“Ya sudah aku ikut ke rumahmu ya!, Aku bantu kompres kakimu itu”, ucap Yanti.


“Tidak usah Yanti, nanti ada yang mencarimu Yanti”, ucap Roy.


“Tidak ada yang mencari aku, orangnya juga sudah tidak peduli”.


“Sudah, pokoknya aku ikut pulang ke rumahmu”.


“Ya sudahlah, jika kamu memaksa”.


Akhirnya Roy pun mengajak Yanti ke Rumahnya menaiki sepeda motor tua itu.


“greng....greng...”, suara motor Roy memasuki komplek perumahan yang Roy tempati.


“Kita sudah sampai Yanti”, ucap Roy.


“ini Rumahmu Roy?”.


“Iya Yanti, minimalis ya!, mari masuk, Maaf ini agak berantakan biasa lah bujangan”.

__ADS_1


“Berarti kalau begitu kamu butuh seseorang untuk merapihkannya mas Roy!”.


“Maksudnya?”.


“Asisten Rumah Tangga ya”.


“Aduh Roy, kamu ini lugu atau pura-pura tidak tahu sih!


”Memangnya aku salah menjawabnya?, ucap Roy heran.


”Tapi bukan itu maksudku!“.


”Kamu itu kurang mengerti perasaan wanita!“.


”Aku mengerti perasaanmu“.


”kamu sedang galau kan?“


”Apa siy maksudmu mas Roy, kamu ngeledek aku ya!“, ucap Yanti sambil menginjak kakinya Roy yang bengkak itu.


Saking kesalnya Yanti terhadap Roy, Yanti lupa bahwa kaki Roy yang sedang sakit itu iya injak.


”Aaww....Aduh...aduh kakiku“, Ucap Roy berteriak kesakitan.


”Yanti....kenapa kamu injak kakiku yang bengkak ini“.


”Maaf Mas Roy, aku lupa kakimu sedang sakit, habisnya kamu tega menyindir aku!“.


”Aku tidak bermaksud Yanti, Aduh...kakiku..., ucap Roy merintih kesakitan“.


”Aku kompres ya, dimana obatnya Mas Roy?


“Ada di Plastik putih itu”, ucap Roy sambil menunjuk ke arah bungkusan plastik di atas meja tamu.


“Berbaring di sofa dulu ya, aku ambil air panas dan obat kompres bengkaknya, ucap Yanti.


“Kamu punya Kain lap Roy?”.


“Ada di dapur Yanti, ambil saja!”.


“Ini obatnya kan mas Roy, aku kompres dulu ya dengan air panas dan obat ini”.


“Iya yanti, terimakasih!”


“Sudah membaik kah mas Roy?”.


“Masih terasa ”senat-senut“ Yanti”.


“Mungkin Akibat terinjak tadi Mas Roy”.


“Iya Yanti”.


“Maafkan aku ya mas Roy, kakimu menjadi tambah sakit”.


“Sudahlah, sudah terjadi Yanti”.


“Kamu sudah sarapan belum mas Roy


”Belum Yanti, mandi saja aku belum!“.


”Pantas saja dari tadi aku mencium bau aroma apa ya ini!, ucap Yanti sambil tertawa.


“Kamu mandi dulu sana mas Roy, nanti aku akan memasak makanan kesukaanmu, dekat sini ada warung sayur kan?”.


“Ada Yanti di persimpangan, arah ke rumahku ya tempatnya".


"Oh iya warung penjual sayur yang tadi kita lewati".


"Aku kesana dulu ya".


"Iya yanti hati-hati".

__ADS_1


Lalu yanti pun pergi ke tempat penjual sayur, karena yanti ingin sekali memasakan makanan kesukaan Roy, sementara itu Roy berusaha untuk berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah bau asem itu.


"Aduh aku susah kalau mandi berdiri takut terpeleset".


Akhirnya Roy duduk di kloset sambil mandi.


"Nah mandi sambil dudukan disini saja".


Roy pun mengarahkan sabun ke arah kakinya.


"Wah parah ini, tambah membesar bengkaknya mungkin akibat terinjak yanti tadi", ucap Roy dalam hati.


Akhirnya Roy pun berganti pakaian, iya memakai sarung, sepertinya iya merasa kakinya agak susah masuk ketika mengenakan celana. Roy pun lalu duduk di sofa ruang tamu.


Tidak berselang lama Yanti pun sampai ke rumah Roy dengan membawa belanjaan yang telah iya beli di warung sayur.


"Mas Roy, aku sudah belanja ini, aku langsung pergi ke dapur ya, mau memasakan makan kesukaanmu".


"Iya Yanti silahkan saja".


"Ha...ha..ha...", Yanti pun tertawa melihat Roy hanya mengenakan kaos singlet dan sarung.


"Mas Roy kamu kaya orang abis di sunat", ucap yanti sambil tertawa.


"Kamu ini orang lagi sakit malah di ketawain!".


"Iya, iya Maaf", ucap Yanti.


Yanti pun langsung pergi kedapur sambil tertawa.


”Hari minggu ini aku dirumah saja lah, istirahat menunggu kakiku sembuh dari terkilir“, ucap Roy dalam hatinya.


”Mas Roy“, Ucap yanti


”Iya Yanti“.


”Makanan Sudah siap, aku taruh di meja makan, ayo kita makan bersama mas Roy!“.


” Terimakasih Yanti, sudah repot-repot memasak buat aku“.


”Aku kasihan sama kamu, Kan kamu lagi sakit mas Roy“.


”Sini aku bantu kamu bangun ya dari sofa“.


Lalu Yanti pun merangkul Roy membantunya untuk berjalan ke arah meja makan.


”Wah banyak sekali makanannya“, ucap Roy.


”Aku masakin kamu ayam goreng, tempe mendoan dan sambal terasi“.


”Kamu masih ingat saja makanan kesukaan aku Yanti“.


”Ya aku inget lah jaman kuliah kan kamu suka beli nasi bungkus Ayam goreng di warteg dekat kampus“.


”Sini piringnya mas Roy, aku ambilkan nasinya, atau mau sepiring berdua“.


”Aku suapin kamu saja ya mas Roy?“, ucap Yanti.


”Jangan Yanti, tidak usah aku bisa sendiri".


”Sini aku suapin!“ ucap Yanti memaksa.


”Mana mulutnya buka donk mas Roy, ayo Aaa...aa...a...“.


Lalu Roy pun membuka mulutnya lebar-lebar untuk menerima suapan nasi ayam dari Yanti.


”Aammmm...ammmm“, suara dikunyah makanannya.


”Astaga asin sekali makanan ini!“, ucap Roy dalam hatinya


”Ayo tambah lagi mas Roy, Yanti suapin lagi ya“.

__ADS_1


”Aduh kacau ini, sudah sakit kaki bisa-bisa tambah penyakit darah tinggi aku kalau dikasih makanan asin begini“.


Akhirnya Roy terpaksa menghabiskan makanan ayam goreng yang asin tersebut, karena menghargai Yanti yang susah payah memasakan makanan untuknya.


__ADS_2