
Hari jumat sore, ketika hujan deras telah selesai membasahi kota. Roy pun berniat untuk pulang dari kantornya.
Sebelum Roy menuju rumahnya, Roy bermaksud ingin membeli makanan di warung makan dan dibawa pulang untuk makan malam nanti dirumahnya.
"Tiap sore pastinya hujan, untung saja sudah reda" ucap Roy.
Roy merasa bersyukur turunnya hujan sore itu tidak begitu lama, sehingga iya bisa pulang dengan nyaman.
"Pergi kemana ya cari tempat makan yang enak, bosan juga dengan menu makanan kalau harus beli di warung makan dekat rumah", ucap Roy dalam hati.
"Oh iya ke pasar dekat kantor saja, sepertinya ada warung makan disitu!".
Roy pun mengendarai motornya ke arah pasar itu, disana banyak pedagang sedang berjualan.
Keadaan pasar semakin sore bukan semakin sepi, tetapi sebaliknya semakin ramai pengunjung, karena pasar itu merupakan pasar malam.
Secara tidak sengaja Roy bertemu dengan Suci di warung makan di pasar malam itu.
"Suci", ucap Roy memanggil suci.
"Eh...Mas Roy, mau pesan makanan juga?", tanya Suci
"Iya Suci, aku baru pertama kali mau pesan makanan di warung ini, mau aku bungkus buat makan malam di rumah".
"Oh begitu mas Roy?".
"Kamu sering pesan makanan di sini Suci?".
"Iya mas Roy, kalau aku sudah berlangganan di warung makan ini Mas Roy!, hampir tiap hari aku pesan makanan di sini".
"Rasanya enak kah suci makanan di sini?", tanya Roy penasaran.
"Enak sekali mas Roy dan yang penting harganya terjangkau mas Roy, murah meriah", ucap Suci menjelaskan sambil tertawa.
"Mau pesan apa mas Roy?, Suci pesankan sekalian makanannya".
"Samakan saja dengan pesananmu Suci, kamu yang lebih tau kan menu yang paling enak di sini".
Lalu Suci pun memesan pesanan makanannya.
"Mas aku pesan lima nasi gulai ayam bakar ya", ucap suci ke pedagang warung makan.
"Banyak sekali suci pesanannya, kita kan hanya berdua", ucap Roy
"Ada deh!", ucap Suci
"Oh buat orang rumah ya?".
Suci hanya menanggapi dengan senyuman.
"Ada deh Mas Roy".
"Aku bungkuskan ya, sekalian?".
"Iya Suci".
Roy pun mencari tempat duduk untuk menunggu, sementara Suci berdiri di dekat kasir.
"Ini pesananya sudah, lima nasi gulai ayam", ucap pedagang warung makan.
"Berapa mas, semua?, ucap Suci.
"Seratus ribu rupiah", ucap pedagang warung makanan.
"Ini mas, pas ya uangnya!", ucap suci.
"Ok mba", ucap pedagang warung makanan.
"Sudah mas Roy sudah aku bayar, ya".
Roy yang sedang menunggu di tempat duduk pun, akhirnya terbangun dan memanggil suci.
__ADS_1
"Suci, masa aku yang selalu di teraktir?".
"Sudah lah mas Roy sekalian!, ini pesanannya!", ucap Suci sambil memberikan satu bungkusan nasi gulai ayam itu.
"Aku pergi duluan ya mas Roy?".
"Oh iya, terimakasih suci, hati-hati ya!"
"Ya! Dah...mas Roy", ucap suci sambil melambaikan tangannya.
"Dah... Suci", ucap Roy sambil melambaikan tangannya.
Suci pun akhirnya pergi untuk pulang duluan dengan menyebrang jalan.
Akhirnya Roy pun pergi ke parkiran motor untuk, mengambil motornya.
"Greng...greng...greng"! suara motor Roy dinyalakan".
Akhirnya Roy pun memacu kendaraannya dengan santainya, sambil menikmati suasana sore hari di perjalanannya.
Lalu Roy melihat Suci sedang berjalan kaki menyusuri trotoar sepanjang jalan dengan membawa bungkusan nasi tersebut.
Roy kira bungkusan nasi itu untuk orang tuanya di rumah, ternyata Roy melihat suci sedang memberikan makanan tersebut untuk seorang pemulung dan kedua anaknya di jalanan.
Hati Roy merasa terenyuh dan tersentuh oleh sikap Suci yang sangat memperhatikan orang yang kurang beruntung nasibnya.
Hari itu Roy mengerti bahwa suci bukan sekedar nama dari seorang wanita yang iya kenal hatinya pun suci sama seperti namanya. Roy pun mencoba menghampirinya lagi.
"Suci!", ucap Roy memanggil.
"Eh mas Roy lagi!, ketemu lagi ya?".
"Iya".
"Kamu biasa lewat sini?".
"Memang aku sering lewat sini mas Roy".
"Kan aku pulang kantor, selalu mampir dahulu ke pasar mas Roy".
"Oh...begitu!"
Suci memang hampir tiap hari memberikan bungkusan kepada orang yang sangat membutuhkan.
"Baik sekali hati wanita ini", ucap Roy dalam hati.
"Ayo ikut bareng pulang Suci?"
"Kamu mau pulang ke mana, aku antarkan ya?".
"Tidak usah Mas Roy, kebetulan nanti aku ada yang jemput oleh seseorang disana?".
Suci sudah ada janji dengan seseorang, untuk menjemputnya di sebuah toko di depan jalan.
"Oh ya sudah suci, aku pulang ya".
"Ok mas Roy, dah...".
"Dah....."
Akhirnya Roy pun melanjutkan perjalanan pulangnya.
"Kira-kira siapa orang yg menjemput nya ya?, ah mungkin orang tuanya Suci, sudahlah ngapain aku memikirkan dia terus", ucap Roy dalam hati.
"Aduh.....", ucap Roy kaget.
"Yah ban motorku kenapa bocor, ada-ada saja mana perut sudah keroncongan".
Mau buru-buru makan malam di rumah malah dorong motor ke tempat tambal ban.
Lalu Roy pun akhirnya terpaksa mendorong motornya untuk mencari bengkel tambal ban terdekat, kebetulan tidak jauh di depan jalan, ada sebuah bengkel tambal ban.
__ADS_1
Roy mendorong motor itu dengan sekuat tenaga tersisa, karena Roy sudah merasa perutnya sudah lapar dan merasa tenggorokannya haus.
"Akhirnya, sampai juga", ucap Roy sambil bersyukur.
Bang tambal ban nya ya?"
"Ok siap bos saya periksa dulu, ditunggu ya?", ucap tukang tambal ban.
Tidak berselang waktu lama, Suci pun akhirya melewati tempat Roy menambal ban motornya, karena kondisinya sudah malam jadi Roy tidak memperhatikan dengan jelas siapa pria yang membonceng Suci itu.
"Eh itu kan Suci!, dengan siapa ya iya berboncengan?", ucap Roy dalam hati.
"Aduh gara-gara mataku kurang jelas kalau malam hari, ucap roy sambil menoleh ke arah jalan.
Lalu Roy memperhatikan si tukang tambal ban yang memeriksa ban motornya, akhirnya tukang tambal ban itu menemukan ada beberapa lubang yang terkena paku yang menancap di ban motornya.
"Bos ini ban motornya kena paku dua", ucap tukang tambal ban.
"Dua yang bener bang?". tanya Roy
"Iya bos, masa saya bohong bos".
"Saya aja sendirian ini bang, paku malah sepasang", ucap Roy bernada kesal karena sudah merasa lelah mendorong motornya.
"ha...ha..ha..". Siabangnya pun tertawa.
"Nasib..nasib", ucap Roy sambil menepukan tangan ke jidatnya.
"Aduh...mana perut sudah lapar banget lagi", ucap Roy dalam hati.
Karena Roy sudah tidak tahan dengan perutnya yang lapar dan haus, maka bungkusan makanan isi nasi gulai ayam itu Roy makan.
"Bang maaf saya numpang makan disini, aduh engga enak nih maaf tidak nawarin bang soalnya cuman bawa nasi bungkus satu, gak kaya paku ada dua". Ucap Roy sambil tertawa menunjuk ke arah ban yang bocor.
"Santai saja bos menikmati makannya, kan sambil nunggu pekerjaan tambal ban motor ini selesai!".
"Iya bang", jawab roy sambil menyantap makanan nasi bungkusnya.
"Kalau lagi pusing begini bawaannya suka lapar", ucap roy.
"Tenggorokan haus lagi", celetuk Roy.
"Klo mau minum ada warung seberang jalan bos ya!", ucap tukang tambal ban.
"Iya ga mungkin juga mau minta minum disini, nanti malah dikasih Oli", ucap roy sambil tertawa.
Roy segera membereskan makannanya dan pergi untuk membeli minum ke warung di seberang jalan.
Sementara itu si tukang tambal ban sudah membereskan pekerjaannya ketika Roy kembali lagi ke tempat tersebut.
"Sudah beres bang tambal bannya?".
"Sudah bos, beres!".
"Berapa bang?
"Dua puluh ribu saja".
"Nih bang uangnya, ini juga minumanya buat abang juga satu!", ucap Roy sambil memberikan minuman teh dingin dalam kemasan botol plastik.
"Beli dua minumannya?", tanya abang tukang tambal ban.
"Iya biar tidak seperti saya sendirian, paku di ban aja sepasang".
"Bos bisa saja becandanya", ucap tukang tambal ban.
"Terimakasih ya bos", ucap tukang tambal ban.
"Ok, sama-sama", ucap roy sambil mengacungkan jari jempolnya.
Akhirnya Roy pun melanjutkan perjalanan dengan motor tua itu menuju rumahnya.
__ADS_1