
Roy dan Reni menghabiskan waktu perjalanan udara sekitar 4 jam di dalam pesawat, akhirnya sekitar pukul jam 1 siang waktu setempat, pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat di Kota Labuhan Biru.
Labuhan Biru kota indah yang menyajikan panorama pemandangan menakjubkan, kota dengan sejuta keindahan alam yang menyediakan ketenangan hidup.
Ucapan rasa syukur pun di ucapkan oleh Roy dan Reni karena telah tiba di kota tersebut.
Bandara domestik kota labuhan biru tidak semewah bandara lnternasional, karena bandara ini hanya dikunjungi satu kali penerbangan saja dalam setiap harinya, dan hanya beberapa maskapai perusahaan penerbangan saja yang melayani penerbangan ke kota tersebut.
"Sampai juga kita mba Reni", ucap Roy
"Iya pak Roy, sampai juga kita di kota Labuhan Biru", ucap Reni.
"Mari pak Roy kita ambil bagasi, lalu nanti kita lanjutkan perjalanan memakai taksi ke kantor cabang", ucap Reni.
Roy dan Reni mengambil bagasi tas dan kopernya.
"Mba Reni biar saya saja yang angkat kopernya berat sekali pastinya itu".
"Tahu saja pak Roy, kalau koper saya berat".
"Ya kalau wanita kan Rata-rata bawa pakaian banyak dan alat make up".
"Nah pak Roy memang sedikit bawaanya?".
"Aku itu bu Reni mengemasi barang pribadiku banyak yang lupa terbawa, minyak wangi saja masa aku lupa membawanya, padahal bermerek loh dari Paris.
"Paling pak Roy belinya Online, ya kan!".
"He...he..he..". Roy tertawa.
"Mba Reni buka kartu ku saja, iya...iya online shop, mana mungkin aku beli minyak wangi jauh-jauh ke Paris".
"Eh...Pak Roy katanya kota Labuhan Biru ini lebih indah dari Paris".
"Masa bu Reni?".
"Iya pak Roy, aku sempat membacanya di media sosial, cuma agak jarang sih tentang pemberitaan kota ini.
"Ya mungkin namanya juga kota kecil baru dibentuk hasil pemekaran kota sebelumnya, jadi informasi mengenai kota ini masih sedikit di media sosial".
"Jadi penasaran, mungkin semacam surga tersembunyi!".
Akhirnya Roy dan Reni pun keluar dari pintu kedatangan Bandara.
"Ayo kita pesan taksi pak Roy, mungkin kita langsung menuju kantor cabang", ucap Reni.
"Ok mba Reni, kita cari taksi".
"Wah tidak ada taksi seperti biasanya!", ucap Roy melihat dengan heran.
Lalu ada seseorang bapak-bapak menghampiri Roy dan Reni, yang sedang berdiri di depan pintu kedatangan bandara.
"Mau pesan Armada angkutan bapak ibu?, ucap seseorang menawarkan.
"Iya pak, kita mau pesan taksi!".
"Disini tidak ada taksi seperti di kota-kota besar bapak ibu", ucap seseorang menjelaskan.
"Oh begitu!", ucap Roy dan Reni sambil menganggukan kepalanya.
"Adanya hanya armada angkutan saja bapak ibu dan untuk tiketnya bisa di beli di loket armada angkutan bandara, letaknya disebelah pintu keluar bandara".
__ADS_1
Memang fasilitas antar jemput tidak seperti bandara kota-kota besar yang sangat lengkap, di bandara Labuhan Biru ini hanya tersedia satu perusahaan armada angkutan bandara saja.
"Ayo pak Roy kita ke loket itu saja". Ucap Reni mengajak Roy untuk memesan tiket angkutan tersebut.
Roy dan Reni Pun menuju Loket Armada angkutan bandara itu.
"Ini loket angkutan bandara kah?", ucap Roy.
"Iya betul bapak mau pergi ke mana?", ucap petugas loket.
"Kita mau ke jalan bukit jodoh nomer 2, dekat pusat kota Labuhan Biru pak".
"Baik, biayanya tiga ratus ribu bapak ya", ucap petugas loket.
"Ok ini uangnya pak", ucap Roy.
"Ok pas ya uangnya", ucap petugas loket.
"Bapak dan ibu mohon tunggu sebentar, nanti armada angkutan bandara akan menjemput Bapak Ibu disini", ucap petugas loket menjelaskan.
"Terimakasih pak", ucap Roy dan Reni.
Roy dan Reni duduk bersebelahan menunggu armada angkutan bandara.
"Pak Roy kenapa kita tidak telepon pak Agus saja ya minta untuk di jemput oleh beliau, kan beliau pimpinan cabang di kota ini", ucap Reni.
"Jangan mba Reni, justru maksud bapak pimpinan minta kita supaya kita memberikan bimbingan dan mengawasi kantor cabang itu secara objektif, tidak enak kalau mereka memberikan pelayanan kepada kita, nanti mempengaruhi penilaian kita".
"Oh begitu ya, aku mengerti pak Roy, ucap Reni sambil mengacungkan jempolnya.
"Pintar juga pak Roy ini", ucap Reni dalam hatinya.
"Ah lupakan, masa sih aku naksir sama orang ini, ganteng siy iya tapi malu-maluin", ucap Reni dalam hati.
"Bapak-ibu, armada angkutannya sudah sampai", ucap petugas loket.
"Ok terimaksih Pak", ucap Roy dan Reni.
"Terimaksih kembali Bapak ibu, Mari bapak ibu selamat menikmati perjalanannya, semoga selamat sampai tujuan, ucap petugas loket.
Lalu Roy dan Reni menaiki Armada angkutan tersebut. Roy dan Reni duduk bersebelahan dibangku ke 2 penumpang.
Betapa takjubnya penglihatan Roy dan Reni, dengan indahnya pemandangan jalanan di kota Labuhan Biru, banyak disuguhi oleh pemandangan bukit-bukit bergandengan, di seberangnya pantai yang masih membiru.
"Wah indah sekali pemandangannya". Ucap Reni.
"Iya mba Reni, menakjubkan pemandangan di kanan-kiri jalan yang kita lewati, disebelah kiri kita pemandangan bukit dan disebelah kanan kita pemandangan laut membiru, sungguh indah sekali".
"Coba lihat pak Roy lihat ke arah sana, itu lihat".
Reni menunjukan pandangan Roy ke arah bukit-bukit indah dengan tebing-tebing terukir secara alami yang menjulang tinggi.
Memang kala itu mobil angkutan yang ditumpangi Roy dan Reni, akan melewati celah tebing dari bukit-bukit tersebut.
"Wah keren banget!, kita lewat jalan ini pak?", ucap Roy
"Iya betul lewat sini, kita melewati celah bukit ini, ini alami loh bapak ibu tebing sebelah kanan kiri bapak ibu ini bukan buatan tangan manusia ", ucap sang supir.
"Bukan buatan manusia!, Jadi buatan siapa pak?", tanya Roy dengan lugu.
"Ya buatan Sang Pencipta lah, bapak ini bagaimana toh". ucap sopir sambil tertawa mengelengkan kepalanya.
__ADS_1
Reni pun tertawa mendengar pertanyaan itu.
"Pak Roy kamu ada-ada saja".
Aww..aww., suara Roy di cubit.
"Aduh mba Reni !".
Kamu dari tadi membuat aku tertawa terus Pak Roy sudah ah, sudah jangan bercanda terus!
"Mba Reni kalau tertawa manis juga ya!".
"Gombal ya, awas loh Pak Roy tak cubit lagi!".
"Iya mba Reni, sudah...ya...sudah...sudah sakit...sakit aduh..!", ucap Roy yang merasakan sakitnya cubitan Reni.
Sang supir jadi serba salah mau menengahi pembicaraan, sang supir merasa seperti obat nyamuk, mendengarkan obrolan tersebut dan menyaka mereka itu sepasang kekasih yang sedang berbulan madu.
"Bapak ibu, pasangan bulan madu ya, nanti saya antarkan ke tempat yang bagus dan romantis di kota ini, kalau bapak ibu mau bisa menghubungi saya lagi". Ucap sopir angkutan.
Mendengar ucapan sang supir Roy dan Reni pun saling melirik satu sama lain.
"Bukan! bukan Pak, kita kesini mau ada tugas!".
"Iya pak ada tugas". ucap Reni
Berarti bapak ke bukit jodoh mau ke kantor pak ya?
"Iya Pak".
"Bukit jodoh itu terkenal kalau disini pak sebagai tempat rekreasi pemandangan yang baru di kota ini, makannya ada beberapa vila baru dan penginapan berdiri di situ".
Ternyata memang di bukit jodoh ada tempat rekreasi yang indah, dari atas bukit bisa melihat kota Labuhan Biru dan lautnya dari atas Bukit.
"Memang ada kantor berdiri situ?", tanya sang supir.
"Ada pak kantor cabang, kantornya masih kecil karena baru berdiri tahun lalu".
"Oh pantas mungkin saja saya baru tahu, masih baru berdiri toh", ucap sang sopir.
Setelah 1 jam perjalanan menyusuri jalan dari bandara dan melewati pusat kota labuhan Biru, terlihat sebuah bukit menjulang tinggi yang diberi nama bukit jodoh.
"Nah itu bapak ibu bukit jodoh", ucap sang supir.
"Oh bukit itu". Ucap Roy.
"Yang di depan sana pak ya?"' ucap Reni.
"Iya betul, sebentar lagi kita sampai sana sekitar 30 menit kita menaiki bukit itu".
"Ok pak!", ucap Roy dan Reni.
Setelah 30 menit perjalanan menaiki bukit, akhirnya Roy dan Reni pun tiba di kantor cabang yang mereka tuju.
"Kita sudah sampai, ini kantornya pak jalan bukit jodoh no 2, kota labuhan Biru sudah sesuai alamat ya", ucap sang supir.
"Oh iya terimakasih pak sudah mengantarkan kami".
"Sama-sama terimakasih saya ucapkan bapak ibu", ucap sang supir.
Akhirnya Roy dan Reni pun turun dari mobil angkutan itu dan menuju gerbang pintu masuk kantor tersebut.
__ADS_1