Cinta Pria Pemalu Dan Gadis Cantik

Cinta Pria Pemalu Dan Gadis Cantik
Bab 12


__ADS_3

Hari Selasa pagi Roy dan Reni harus sudah bersiap untuk melaksanakan tugas pekerjaannya pergi ke kantor cabang di daerah yang jauh.


Roy dan Reni pun harus menuju bandara di kotanya untuk berpergian dengan pesawat terbang.


Mereka sudah janjian akan bertemu di bandara sekitar pukul 8.00 WIB, karena pesawat akan tinggal landas jam 9.00 WIB.


Ternyata Roy bangun agak kesiangan iya lihat jam sudah menunjukan pukul 7.00 WIB, iya lupa menghidupkan alarm di jam bekernya, karena kelelahan mempersiapkan bahan dan peralatan kerja untuk dibawa tugasnya.


"Aduh aku kesiangan nih, gawat!", ucap Roy.


Roy pun langsung bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


"Mandi...mandi!, aku harus cepat mandi", ucap Roy.


"Byur..byurr..byurr..!", suara air membasahi tubuh.


Roy lupa mandi pakai sabun dan gosok gigi langsung saja iya pakai handuk untuk mengeringkan badannya.


"Bajuku mana ya tadi?, nah ini dia".


"Sarapan...ah sudahlah nanti saja!", ucap Roy dalam hatinya.


Roy pun bersiap secepat kilat, lalu memesan taksi di jalan untuk menuju bandara.


Berbeda dengan Reni yang lebih telaten dan siap berangkat, karena iya sudah mengemasi barang-barangnya dengan cepat tadi malam, sekitar jam 7.00 WIB Reni sudah siap menuju bandara.


"Ok sudah siap, sarapan sudah juga".


"Ok berangkat", ucap Reni dengan semangat.


Akhirnya Reni pun memesan taksi menuju bandara.


Kondisi bandara hari itu cukup ramai sekali karena aktifitas pengunjungnya, karena bandara di kota itu termasuk kategori bandara Internasional.


Reni pun tiba lebih awal sekitar jam 7.45 WIB, Reni pun duduk di dekat pintu masuk ruang chek in tiket dan bagasi, Menunggu Roy yang belum tiba.


"Dimana pak Roy ya, ko belum kelihatan", ucap Reni.


Lalu Reni mencoba menghubungi Roy, yang saat itu sudah mendekati jam boarding keberangkatan pesawat.


"Ah aku coba telepon dia saja", Ucap Reni sambil memencet nomer panggilan teleponnya.


"Kring...kring....kring...". Suara handphone Roy berbunyi.


Ada telepon dari siapa ini wah jangan-jangan mba Reni, lalu Roy mengangkat handphonenya itu.


"Halo..Pak Roy", ucap mba reni.


"Ya mba Reni", ucap Roy.


"Pak Roy sudah dimana?"


"Aku masih di jalan bentar lagi sampai mba Reni, ini mobil taksi ku baru masuk pintu masuk ke bandara".


"Aku sudah menunggu di terminal 2 keberangkatan domestik ini Pak Roy, di tempat chek in tiket dan bagasi, aku belum chek in tiket dari tadi tunggu Pak Roy", ucap Reni.


"Maaf mba Reni, tunggu sebentar lagi aku sampai", ucap Roy dengan nada bersalah.


"Iya ok, agak cepat ya pak Roy!".


"Pak agak cepat sedikit jalannya, saya turun di terminal 2 keberangkatan domestik", ucap Roy kepada supir taksi

__ADS_1


"Siap mas", ucap supir taksi.


Supir taksi itu pun tancap gas menambah kecepatannya, sesuai permintaan Roy yang takut ketinggalan pesawat.


"Pak..pak...pak, stop..stop...stop", ucap Roy.


"Terminal keberangkatan 2 kan? Ini masih terminal 3 mas penerbangan internasional", ucap supir taksi.


"Oh, saya salah ya?"


"Iya mas", ucap sopir taksi.


"ada-ada saja si masnya", ucap sopir taksi sambil menggelengkan kepalanya.


"Nah ini baru termianal 2 penerbangan domestik".


"Ok pak!, Berapa pak ongkosnya?"


"Jadi seratus empat puluh ribu rupiah"


"Ini uangnya seratus lima puluh ribu rupiah, ambil saja kembaliannya pak".


"Ok terimakasih mas, sudah tidak ada barang yang tertinggal kan!".


"Ok aman, sudah pak"


Roy keluar dari taksi sambil berlari dengan cepat.


"Hati-hati mas jangan lari-lari nanti jatuh", ucap supir taksi sambil tertawa.


Roy pun berlari masuk ke pintu terminal 2 keberangkatan dan menemui mba Reni di tempat chek in tiket dan bagasi.


"Mba Reni, Mba....", Roy memanggil.


Roy pun menghampiri Reni dan melakukan Chek in tiket dan menyimpan bagasi barangnya.


"Aduh Pak Roy, hampir saja kita ketinggalan pesawat".


"Maaf mba Reni, aku tadi kesiangan bangun tidurnya" Roy sambil menghela napasnya karena sudah berlari-lari.


"Ini tiket boarding pesawatnya dan bagasinya sudah ya, tidak ada lagi yang akan disimpan dibagasi?", ucap petugas chek in tiket bandara.


"Sudah mba tidak ada lagi, ok terimakasih!"


Akhirnya Roy dan Reni pun langsung menuju pintu gate 2 untuk masuk ke dalam pesawat.


"Akhirnya kita sampai juga di pesawat", ucap Roy.


Roy dan Reni kebetulan duduk bersebelahan di pesawat.


"Hampir saja, pak Roy ini suka ada-ada saja", ucap Reni sambil menggelengkan kepalanya.


Roy hanya bisa tersenyum dan menahan malu karena sudah membuat Reni jantungan.


Akhirnya pesawat itu pun tinggal landas dari bandara menuju kota labuhan biru.


Di dalam pesawat Reni mengajak Roy berbincang tentang kota tujuannya, ternyata mereka berdua belum pernah sekalipun ke sana, memang kantor cabang baru di buka di kota tersebut.


Tapi ada yang mengganggu perbincangan mereka yang mengasikkan itu, yaitu suatu aroma bau yang tercium oleh indra penciuman Reni.


"Pak Roy mencium bau aroma sesuatu?, bau sekali !", ucap Reni sambil menutup hidungnya.

__ADS_1


"Iya bu saya juga seperti mencium aroma bau tersebut!", ucap Roy sambil mengendus aroma tubuhnya.


"Tercium kan baunya pak Roy!", ucap Reni.


"Waduh ini kan bau badan aku", ucap Roy dalam hatinya.


Ternyata aroma bau itu disebabkan waktu ketika mandi pagi Roy lupa memakai sabun, lupa memakai minyak wangi ditambah lagi berkeringat ketika lari tergesa-gesa di bandara, komplit sudah menciptakan aroma bau badan yang sangat dahsyat.....!!!


Lalu Reni pun melirik ke arah pakaian Roy yang agak basah karena mandi keringat akibat berlari-lari tadi.


"Bau ini sepertinya dari pak Roy, Ganteng-ganteng ko bau banget ya badannya", ucap Reni dalam hati sambil menutup hidungnya.


"Mba Reni maaf, sepertinya aku yang bau!", ucap Roy jujur kepada Reni.


"Masa pak Roy?",ucap Reni heran.


"Iya mba Reni, saya tadi telat bangun pagi, karena tergesa-gesa mandi lupa tidak pakai sabun dan minyak wangi, di tambah berkeringat karena berlari-lari tadi di bandara", ucap Roy memberi penjelasan kepada Reni.


"Ya sudah pak Roy pakai parfum ini punyaku saja, supaya agak wangi tidak terlalu tercium baunya", ucap Reni sambil menawarkan parfum aroma bunga melati.


"Ini wangi parfumnya wanita bu!", ucap Roy.


"Sudahlah pak Roy pakai saja, dari pada aku pingsan nanti di perjalanan kita", ucap Reni memaksa.


"Maaf bu Reni, baiklah kalau begitu saya pakai ya parfumya".


Roy pun menyemprotkan parfumnya terlalu banyak yang membuat penumpang lain protes.


"Heh...mas kira-kira donk kalau pakai parfum bau melati ini satu pesawat", kata penumpang lain di sebelah lorong pesawat".


"Maaf bapak ibu, Maaf ya, mohon maaf", ucap Roy berulang-ulang minta maaf.


Reni yang sudah tutup hidung, akhirnya di tambah dengan menutup mata dan telinganya, karena malu dengan ulah Roy.


"Kruekkk....kruek...kruekkkk", suara perut Roy keroncongan karena belum sarapan tadi pagi.


"Aduh lapar lagi ", ucap Roy dalam hati sambil memegang perutnya.


Pramugari yang membawa makanan pun lewat, penumpang di persilahkan untuk membuka meja kecil di belakang kursi penumpang.


Roy pun merasa bersyukur akhirnya makananpun tiba.


"Silahkan bapak ibu untuk makannya!", ucap pramugari.


"Minumnya mau apa bapak ibu".


"Saya air putih saja", ucap Roy.


"Kalau ibu?", ucap pramugari


"Saya orange jus", ucap Reni.


"Ini silahkan dinikmati bapak ibu", ucap pramugari sambil tersenyum manis.


Roy dan Reni pun langsung menikmati makanannya.


"Pak Roy", ucap Reni memanggil.


"Ya mba Reni".


"Untung saja pak Roy sudah pakai minyak wangi, kalau tidak bisa-bisa saya tidak berselera makan", ucap Reni sambil tertawa.

__ADS_1


Roy yang sedang makan pun langsung tersedak karena ucapan mba Reni itu.


Perjalanan dengan pesawat hari itu, menjadi perjalanan yang sangat memalukan bagi Roy, karena kesalahan Roy bangun terlambat dan tergesa-gesa.


__ADS_2